
...---Happy reading---...
Hari berganti hari, kehidupan Ara sama saja seperti sebelumnya, kuliah dan bekerja. Hanya saja pekerjannya sedikit terbilang lebih ringan, hanya mengajar adik dari bosnya. Ini sudah seminggu lebih, namun Gio belum juga kembali padahal laki-laki itu mengatakan hanya beberapa hari kedepan begitupun ibunya beberapa hari yang lalu ibu laki-laki itu mengatakan hanya tinggal tiga sampai empat hari kedepan tapi laki-laki itu belum juga kembali.
Ara menghela nafas pelan menatap ponselnya berharap ada kabar dari seseorang. Tidak munafik, Ara merindukan laki-laki itu tapi juga gengsi untuk menghubunginya lebih dulu.
"Apa yang kau harapkan, Ra", gumam Ara menatap layar ponselnya dengan lesu.
Satu minggu lebih ini Ara menyadari satu hal, dia menyukai laki-laki itu, harapan Ara untuk menjadi lebih dari teman dengan laki-laki itu tumbuh dengan kurang ajarnya. Kadang dia berfikir apa yang harus dia lakukan agar perasaan itu hilang atau setidaknya tak tumbuh terlalu besar. Dia takut rasa itu akan menyakitinya nanti.
Ara mendongak menatap seseorang yang baru saja duduk tepat dihadapannya. Seketika Ara mendengus kesal menatap laki-laki yang selalu mengganggunya ini.
"Ngapain ?", tanya Ara tak bersahabat.
"Duduk kan", sahut laki-laki itu santai.
Ara menghela nafas pelan, dia tidak ada hak melarang atau mengusir laki-laki ini karena ini di kantin, tempat umum. Ara kembali fokus pada layar ponselnya yang masih menampilkan room chat dengan Gio.
"Nungguin kabar siapa sih ?", tanya Ken. Laki-laki yang selalu menganggu Ara dengan tenangnya duduk didepan Ara mengabaikan semua mata yang kini menyorot mereka. Jujur Ara sedikit risih, terlebih lagi saat melihat gadis dipojok sana tengah memandang mereka dengan tatapan penuh kebencian.
Ara hanya diam tak merespon pertanyaan Ken, terlebih saat last seen pada kontak yang sedari tadi dia lihat berubah jadi online lalu beberapa detik berubah menjadi mengetik. Senyum Ara mengembang menunggu apa yang akan laki-laki itu katakan padanya.
"Temui aku di taman xxx nanti sore", itulah isi pesan yang dikirim Gio membuat senyum Ara mengembang seketika. Jika seperti itu berarti Gio sudah pulang, ya ampun Ara begitu senang sekarang.
Setiap gerak-gerik Ara tak pernah lepas dari pantauan Ken membuat hatinya sedikit berdenyut nyeri saat melihat senyum manis Ara yang tak pernah dia tunjukkan untuknya.
"Ra, nanti jalan yuk", ajak Ken yang berhasil mengalihkan pandangan Ara dari layar ponselnya setelah membalas pesan tadi.
__ADS_1
"Aku kerja", sahut Ara dengan muka datar membuat Ken tersenyum masam.
"Gue bisa pakai cara paksaan lo, Ra", sahut Ken tersenyum miring.
"Aku kerja, Ken. Jangan memaksaku", sahut Ara beranjak meninggalkan Ken yang masih mematung menatap punggungnya.
Senyum kecil terbit dibibir Ken sebelum dia bergumam, "gue masih diam, Ra. Kalau lo masih gak mau, jangan salahin gue pake cara kasar",
Lain dengan Ara yang melangkahkan kakinya hendak pergi ke perpustakaan namun dicekal dan ditarik dengan kasar membuatnya terkejut.
"Lepas", kata Ara berusaha melepas cekalan tangannya.
Setelah sampai di samping toliet wanita yang sepi, seseorang yang mencekal tangannya melepas cekalannya dengan kasar.
"Gue udah bilang jangan pernah dekatin Ken, lo benar-benar yah", kesal orang itu lalu menarik rambut Ara keras.
Dia, Veronica Herald. Gadis yang katanya salah satu pacar Ken. Gadis terpopuler dikampusnya, dikenal banyak orang karena kecantikan dan kekuasaan gadis itu. Jika dibandingkan dengan Ara, gadis itu jauh diatasnya.
Veronica dan dua temannya sebut saja Gina dan Anggun tertawa kencang mendengar penuturan Ara. Tarikan pada rambut Ara semakin keras.
"Secantik apa lo sampai dia yang dekatin lo", kata Veronica lalu mendorong tubuh Ara sampai membentur tembok.
"Makanya lo suruh pacar lo itu jangan deketin gue terus", sahut Ara berani.
Setelah mengatakan itu, pipi Ara terasa panas akibat tamparan yang baru saja Veronica layangkan. Sekarang bukan hanya punggungnya yang sakit tapi juga pipinya. Sebisa mungkin Ara menahan air matanya agar tidak mengalir. Ini salah satu yang tidak dia suka jika Ken selalu mendekatinya, gadis dihadapannya ini selalu berbuat kasar padanya jika mengetahui itu, bahkan jika jelas-jelas Ken yang mendekati Ara tetap saja Ara yang akan jadi bulan-bulanannya.
"Berani ya lo sekarang", kesal Veronica. Dia paling tidak suka jika ada orang lain yang membantah atau bertindak seberani itu dihadapannya.
__ADS_1
"Berdiri lo", sentak Gina menarik paksa Ara berdiri dengan benar.
"Pegang", perintah Veronica.
Refleks Gina dan Anggun, teman Veronica memegang tangan Ara sampai Ara tidak bisa melepaskan diri, bahkan ketika gadis itu memberontak rasanya akan percuma.
"Lepas, kalian mau apa", kata Ara panik saat melihat Veronica mengangkat ember yang berisi air kotor.
Byurrr
Veronica menyiram Ara dengan air membuat sekujur tubuh gadis itu basah. Kembali, tamparan Veronica kembali membuat pipinya panas. Belum cukup sampai disana, Veronica kembali menarik rambut Ara. Gadis itu menatap Ara dengan tatapan kebencian.
"Gue udah bilang, lo bakal tau akibatnya kalau lo masih nekat dekatin Ken. Dan lo benar-benar gak dengerin gue ya", kesal Veronica.
"Sekali lagi gue liat lo deket sama dia, lo bakal dapat yang lebih parah dari ini", kata gadis berambut cokelat itu lalu menghempaskan dengan kasar tubuh Ara. Setelah itu, tiga gadis yang sudah menyiksa Ara melenggang pergi meninggalkan Ara tanpa peduli.
Ara terdiam menahan tangis dan ringisannya. Bagaiamana ini, dia harus pulang tidak mungkin dia masuk kelas hari ini. Dengan menahan sakit pada tubuhnya, Ara bangkit secara perlahan lalu membasuh mukanya di wastafel kamar mandi. Dia menatap lama pada pantulan wajahnya di cermin. Keadaannya sekarang sangat mengenaskan, baju basah dengan rambut acak-acakan dan mata memerah menahan air mata.
"Bundaa...", gumam Ara. Tanpa setetes air matanya mengalir juga.
"Ara salah apa ?, Ara capek",
Ara menghapus air matanya kasar dan menghela nafas pelan. Dia tidak boleh lemah. Gadis berambut panjang itu memperbaiki tatanan rambutnya lalu melangkahkan kakinya meninggalkan toilet, dia harus pulang. Dengan fikiran yang kacau, Ara melangkahkan kakinya menyusuri trotoar jalan. Dia tidak mengerti kenapa Veronica selalu tidak suka padanya, kenapa selalu saja seperti ini. Jujur saja, kekerasan seperti ini tidak hanya dia dapat dari keluarganya sendiri tapi juga teman-temannya seperti tadi dan itu berlangsung tidak dalam waktu yang singkat tapi sudah bertahun-tahun bahkan bisa dikatakan saat pertama kalinya dia menginjakkan kaki didunia kampus, mereka sudah tidak menyukainya alasannya sederhana, hanya karena seorang laki-laki. Dia, Ken. Laki-laki itu alasan kenapa Veronica selalu berbuat kasar padanya.
Ara menghela nafas pelan berusaha meredam rasa sesak di dadanya, sungguh demi apapun dia lelah. Dia lelah hidup seperti ini. Kenapa harus dirinya yang menjalani ini semua. Apa salahnya, apa yang sudah dia lakukan dimasa lalu sampai diperlakukan tidak baik seperti ini. Dia harus berjuang sendirian di tengah kejamnya dunia, tak ada yang mengerti dan tak ada yang peduli. Ara rasanya benar-benar ingin menyusul bunda dan ayahnya tapi jika dia pergi siapa yang akan menjaga neneknya. Ara tak pernah mengeluh jika dipaksa bekerja untuk menghidupi dirinya dan neneknya, dia hanya lelah akan perlakuan orang-orang yang begitu membencinya tanpa dia tau kesalahannya.
Suara notifikasi dari ponselnya membuyarkan lamunan Ara. Gadis itu mengusap air matanya dan merogoh totebagnya mengambil benda pipi itu. Satu pesan masuk dari seseorang membuatnya menarik senyum tipisnya.
__ADS_1
"Aku tunggu, jangan lama-lama kalau kamu gak mau aku jamuran disini"
...---To Be Continued---...