Perjalanan Cinta CEO Muda

Perjalanan Cinta CEO Muda
Part 64. Bangkit


__ADS_3

Pagi ini, Gio sudah siap dengan baju olahraganya. Laki-laki dengan balutan pakaian serba hitam itu duduk menunggu Ara diruang tamu. Setelah kemarin berhasil membujuk Ara, gadis itu akhirnya mau kembali beraktivitas. Gio dan Gea pun sudah kembali ke rumahnya karena tidak enak jika harus selalu tinggal dirumah Ara.


"Udah lama?" tanya Ara yang sudah berdiri disamping Gio. Gadis itu terlihat cantik dengan balutan baju olahraga berwarna abu-abu dan rambut yang dikuncir kebelakang.


"Belum, baru aja sampai." sahut Gio.


"Let's go." ajak Gio dengan semangat.


Keduanya berjalan beriringan keluar dari rumah Ara.


Mata gadis itu berbinar menatap kendaraan yang Gio bawa. Hari ini laki-laki itu memilih menggunakan motor besarnya, hal itu yang membuat Ara girang bukan main. Selama ini, Gio jarang sekali menggunakan motor jika menjemputnya.


"Aku yang bawa, boleh gak?" tanya Ara menatap Gio dengan tatapan memohon.


Gio mengerjap menatap Ara, yang benar saja. Apa kata orang di taman nantinya.


"Nanti aja yaa kalau kita udah pulang dari taman," kata Gio membuat Ara cemberut.


"Mau atau gak sama sekali?" tanya Gio lagi.


Dengan wajah kesalnya, Ara mengangguk saja. Lebih baik seperti itu daripada tidak sama sekali.


"Mukanya jangan cemberut gitu dong, makin tambah cantik tau." ucap Gio mencubit hidung mancung gadis itu dengan gemas.


"Iiisssh" Ara berusaha menutupi salah tingkahnya namun gagal karena raut merah pada pipinya tak bisa bekerja sama.


"Kok pipinya merah?" ejek Gio gemas.


"Jadi pergi gak ni?"


"Pergi sayang, ayoooo."


Keduanya berjalan mendekat dan langsung naik keatas motor. Dirasa Ara sudah duduk dengan tenang dan nyaman, Gio melajukan motornya menuju taman tempat mereka akan lari pagi.


Setelah beberapa menit mengendari motor, keduanya sampai ditaman yang ternyata hari ini lumayan ramai. Perkiraan Gio kali ini salah. Dia mengira taman akan sepi karena ini bukanlah hari libur, tapi ternyata tidak. Taman ini sedikit lebih ramai dari biasanya, entah apa alasannya.


"Kamu mau lari juga?" tanya Gio lembut setelah keduanya sampai di bangku taman yang tersedia disitu.


"Enggak deh, tunggu kamu aja disini. boleh gak?" tanya Ara, badannya masih begitu malas dia gerakkan.


"Ya udah, tunggu bentar," Gio beralih menuju stan makanan yang ada disitu, membeli beberapa makanan ringan juga air mineral untuk gadisnya.


"Duduk sini, tunggu aku. Larinya bentar doang kok." uhar Gio setelah kembali dan meletakkan makanan di samping Ara.


"Siap captain," ujar gadis itu sambil tersenyum manis.


Gio mengacak rambut Ara gemas, ini yang Gio rindukan. Dia tidak suka Ara selalu merenung dan sedih.


"Tunggu disini, jangan kemana-mana." titah Gio tak terbantahkan.


Setelahnya, laki-laki itu beranjak dan melakukan aktivasinya pagi ini, joging dan meninggalkan Ara dibangku taman yang sibuk memperhatikan ke setiap sudut taman. Banyak juga anak muda yang ada disana.


"Hai," sapa seseorang mengalihkan perhatian Ara.


Gadis itu mengerutkan kening bingung melihat siapa yang menyapanya. Bukan apa-apa, dia hanya bingung karena tidak mengenal orang itu.


"Ya, ada yang bisa saya bantu?" tanya Ara berusaha ramah.


"Kenalin, nama gue Axel." sapa orang itu mengulurkan tangannya.


Ara menatap sekilas uluran tangan itu lalu membalasnya, "Ara." sahutnya.


"Disini sama siapa?" tanya Axel yang langsung duduk disamping Ara.

__ADS_1


"Sendiri ya, iya sih. Pasti" kata Axel menjawab sendiri pertanyaannya.


"Enggak kok, sama pacar. tuh." tunjuk Ara pada Gio yang berada sedikit jauh dari posisinya, tapi dia bisa mengenali kekasihnya itu.


"Oh itu pacar lo?" tanya Axel membuat Ara mengerutkan keningnya makin bingung dan menatap Axel dengan tatapan bertanya.


"Kalian kenal?" tanya Ara


Axel menggeleng pelan lalu berujar, "Bisa iya, bisa tidak"


Ara semakin dibuat bingung dengan respon Axel, laki-laki itu benar-benar tidak jelas.


"Gue pergi dulu. Pesan gue hati-hati sama dia." setelah mengatakan itu, Axel beranjak meninggalkan Ara dengan kebingungannya.


"Tadi siapa?" tanya Gio yang tau-tau sudah berdiri didepannya.


"Gak tau, namanya Axel. Datang tiba-tiba ngajak ngobrol." jawab Ara apa adanya.


"Oh." sahut Gio cuek lalu duduk disamping Ara.


Ara menatap Gio dari samping, dia bisa merasakan perubahan raut dan mood Gio. "Cemburu yaa." ujar Ara.


"Biasa aja," sahut Gio cuek membuka botol air mineralnya lalu meneguknya sampai habis.


"Benar nih? aku pergi sama dia gak papa? tadi dia minta ditemenin loh," kata Ara memancing.


Dengan gerakan cepat, Gio menatap Ara dengan tatapan tajamnya. Membuat Ara tertawa keras, demi apapun wajah Gio bukannya seram malah terlihat menggemaskan.


"Ahhh gemes banget sih, enggak kok sayang." kata Ara memeluk Gio dari samping.


Gio menghela nafas pelan, mengangkat tangannya membalas pelukan Ara lebih erat, mencium puncak kepala gadis itu.


"Gak mau liat kamu sama orang lain," rengek Gio.


"Enggak sayang." sahut Ara.


"Kan, kan kasar lagi."


"Habisnya kamu bikin kesel."


"Ihh kok aku sih, kan bukan aku yang ngajak kenalan."


Ara mendongak menatap Gio dan langsung dihadiahi kecupan singkat didahinya.


"Makanya jangan diladenin." sahut Gio.


"Masa orang nanya aku diam aja, Gii. Gak enak tau."


"Ah kamu mah sama aja kayak adek, gak enakan,"


"Udah ah, mau masuk kerja gak?" tanya Ara hendak melepas pelukannya namun ditahan Gio. Laki-laki itu masih tenang memeluk Ara tanpa peduli orang sekitar.


"Gak mau, minggu depan aja. Lagian, acara perusahaan juga mulainya minggu depan," jawab Gio.


"Loh, bukannya kamu bilang minggu ini?" tanya Ara bingung, pasalnya rencana acara itu kan minggu ini.


"Ayah gak biarin, sayang. Katanya tunggu kamu siap dulu," jawab Gio.


Laki-laki itu melepas pelukannya dan beralih membukakan minuman untuk Ara.


"Kok aku?" tanya Ara bingung.


"Kan kamu anaknya." jawab Gio enteng.

__ADS_1


"Dah, jangan banyak nanya, minum dulu." perintah Gio memberikan minuman pada Ara yang langsung diterima gadis itu meski dengan muka cemberutnya.


Keduanya menghabiskan pagi mereka ditaman tak menyadari sedari tadi mereka selalu diperhatikan seseorang yang berdiri diujung taman menatap keduanya dengan senyum miring.


...---🍓🍓🍓---...


Gio duduk di kursi kerjanya dengan mata yang fokus menatap layar laptopnya. Jika bukan karena meeting dadakan, Gio tidak akan sudi masuk bekerja dan meninggalkan Ara. Saking fokusnya tuan muda itu, bahkan kehadiran Jack, sekertaris pengganti Ara beberapa hari ini tak dia sadari.


"P-permisi t-tuan," sapanya takut-takut.


"Ck, ada apa?" decak Gio kesal, pasalnya dia sedang fokus malah diganggu.


"Aku mau bicara," suara itu membuat Gio seketika mengalihkan tatapannya dari laptop dan menatap seorang gadis yang kini berdiri didepannya.


"Ngapain?" tanya Gio ketus.


"M-maaf tuan, saya sudah melarangnya masuk tapi...."


Gio mengangguk membuat ucapan sekertarisnya itu terpotong dan segera pergi setelah mendapat kode dari Gio.


"Gio, lepasin Ara." pinta gadis itu tanpa basa basi dan langsung duduk di kursi berhadapan dengan Gio.


Hanya kata itu, tapi sekarang Gio sudah mati-matian menahan emosinya agar tidak kelepasan.


"Hubungannya sama lo?" tanya Gio dingin.


"Please, aku mohon Gii. Kapan sih kamu bisa lihat aku?" tanya Rania lagi. Siapa lagi gadis yang berani memerintahnya seperti ini jika bukan Rania.


"Gue gak mau dan gak akan pernah mau." jawab Gio lantang.


"Siapa lo berani nyuruh-nyuruh gue?" tanya Gio tajam.


"Gue selalu bilang, berhenti usik kehidupan Gue. Bahkan lo lebih dari tau siapa gue, Rania." kata Gio menekankan setiap ucapannya.


"Gue gak suka sama lo. Gue cinta matinya sama kakak lo, Ara. Terus masalahnya dimana?" tanya Gio.


"Aku udah berjuang Gio, tapi sama sekali gak lo hargai." teriak Rania tertahan.


"Mau gue hargai seperti apa? lo aja gak bisa menghargai orang lain, terutama gue." sahut Gio datar.


Gio berdecak kesal, jika berhadapan dengan gadis ini dia selalu dibuat mengeluarkan kata-kata panjang yang intinya dari dulu sampai sekarang sama saja "jangan mengusiknya". Entah bagaimana lagi caranya Gio memberitahu Rania jika dia benar-benar terganggu karena kehadiran gadis itu.


"Oke, kamu tinggalin dia atau aku buat dia menderita?" tanya Rania mulai melunjak.


"JANGAN PERNAH SENTUH ORANG-ORANG TERDEKAT GUE," bentak Gio keras.


"MAU SAMPAI KAPAN PUN LO BERUSAHA, MAU GIMANA PUN USAHA LO, GUE TETAP GAK MAU SAMA LO,"


"DAN INGAT RANIA, GUE GAK PERNAH MAIN-MAIN SAMA UCAPAN GUE,"


"Kalau aku gak bisa milikin kamu, Ara juga gak akan bisa." balas Rania santai. Gadis itu sepertinya tidak mengerti dengan kalimat 'perasaan seseorang tidak bisa dipaksan'


"Cara lo murahan," Gio berani bersumpah, ini kali pertamanya dia mengucapkan kata sekasar itu pada perempuan.


"Terserah," balas Rania acuh.


Gio mengacak rambutnya frustasi, demi apapun Rania selalu mampu memancing emosinya seperti ini. Jika tak mengingat yang didepannya adalah perempuan, Gio pasti sudah menghajarnya habis-habisan.


"Mau sampai kapan lo bisa mengerti, mau sampai kapan lo paham bahasa gue? HAH?"


Rania hanya diam menatap Gio yang sudah sangat emosi, sebenarnya dia takut tapi dia tahu semarah apapun Gio, dia tidak akan pernah main tangan dengan perempuan.


"KELUAR," bentak Gio.

__ADS_1


"Kita liat aja, Gio. Aku, Ara atau kamu yang bakal hancur setelah ini."


...--To be Countinued---...


__ADS_2