Perjalanan Cinta CEO Muda

Perjalanan Cinta CEO Muda
Part 72. Mencoba ikhlas


__ADS_3

"Apa setelah ini kamu bakal ninggalin aku?"


Dengan gerakan cepat, Gio mendongak menatap Ara yang kini menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Gio menggeleng cepat sebagai jawaban.


"Kalau tadi malam gak terjadi apa-apa, kamu bakal ninggalin aku kalau aku ada salah?"


"Enggak, sayang. Jangan bilang gitu," sahut Gio cepat.


"Gii,"


"Hmm,"


"Jangan nangis,"


Tangan mungil Ara terangkat mengusap lembut air mata Gio. Laki-laki itu memejamkan mata menikmati sentuhan lembut Ara di pipinya.


"Aku salah, Ra. Aku minta maaf," sahut Gio setelah membuka matanya lagi.


"Ada atau tidak ada kejadian semalam, aku tetap akan sama kamu terus. Masa bodoh dengan orang-orang yang gak suka kita sama-sama, aku bakal lawan. Aku bakal lakuin apa aja biar bisa sama kamu terus," lanjutnya.


Ara menghela nafas panjang, dia tahu semalam Gio tidak sengaja melakukan itu, dia tahu Gio dalam pengaruh obat itu sebabnya dia berani melakukan hal diluar batas pada Ara. Seenggaknya dia tenang karena Gio tak akan meninggalkannya, dia tahu Gio tidak akan bohong, dia bisa lihat tidak ada kebohongan di mata laki-laki itu.


"Kamu jangan mati, jangan bunuh diri," ujar Ara.


Gio diam menunggu Ara melanjutkan ucapannya.


"Kalau kamu mati bunuh diri gara-gara benci sama diri sendiri, nanti aku sama siapa. Aku udah gak punya siap-siapa, Gii. Aku cuma punya kamu," lanjutnya. Air matanya sudah kembali mengalir.


"Kalau kamu ninggalin aku juga, terus nanti aku sama siapa?"


"Gak ada lagi yang tenangin aku, gak ada lagi yang sayang sama aku, gak ada lagi yang ingatin aku, gak ada lagi yang kuatin aku, gak ada lagi yang......"


Ucapan Ara terhenti saat tiba-tiba Gio menerjang tubuhnya, memeluknya erat sambil menenggelamkan wajahnya diceruk leher Ara.


"Maaf sayang, maaf," pinta Gio disela isakannya.


Hari ini entah sudah berapa banyak dia mengeluarkan air mata. Hatinya sakit setiap kali mengingat bagaimana dia memperlakukan Ara tadi malam, dia hanya dikuasai nafsu bukan mabuk sampai tak mengingat apa-apa.


"Maaf," lirihnya.


Keduanya berpelukan, sambil menangis menumpahkan segala sakit yang mereka rasakan. Ini kali pertamanya Gio memeluk Ara dengan rasa sakit dan sesak yang menghantam dadanya. Ini lebih sakit saat melihat Ara menangis karena kehilangan neneknya. Mereka berpelukan berusaha meredam rasa sakit namun seolah ada pisau yang menusuk dada dua orang itu. Ruangan besar yang menjadi saksi bagaimana malam itu terjadi kini hanya dihiasi suara tangis yang begitu menyakitkan.


...--🍂🍂🍂--...


Mata Ken membulat sempurna saat melihat apa yang diberikan Veronica untuknya. Tangannya bergetar dengan mata yang berkaca-kaca, dia menatap Veronica yang duduk dengan perasaan campur aduk.

__ADS_1


"Ini beneran," tanyanya lagi. Entah sudah berapa kali pertanyaan itu terlontar dari mulutnya. Matanya terus menatap bergantian pada sebuh foto dan benda kecil yang ada ditangannya.


Veronica hanya mengangguk kaku, ada rasa takut yang kini bersarang dihatinya. Apalagi melihat reaksi Ken yang membuatnya tak tahu harus menebak apakah laki-laki itu terima atau tidak.


"Seriusan?" tanyanya lagi.


Veronica lagi-lagi hanya mengangguk mendengar pertanyaan Ken yang entah sampai kapan akan berhenti.


"Aku udah cek dan hasilnya beneran kok, gak bohong," ujar Veronica.


"Kalau kamu gak suka...."


"Siapa yang bilang gak suka?" potong Ken cepat.


"Reaksi kamu yang bikin aku nyimpulin itu," jawab Veronica.


Perempuan itu menghela nafas pelan lalu menatap Ken dengan wajah seriusnya.


"Aku gak minta pertanggung jawaban kamu kok, tenang aja. Aku cuma mau minta selama anak ini belum lahir, aku boleh ya tinggal disini, seenggaknya sampai dia lahir dan bisa dapat rumah sendiri. Kalau kamu gak izinin tinggal disini aku bakal tinggal dimana, keluarga aku udah ngusir aku dan mereka tidak akan nerima aku apalagi dalam keadaan aku yang kayak gini," jelas Veronica panjang lebar.


Perempuan itu menunduk takut menatap Ken yang sedari tadi menatapnya datar. Yah, Veronica hamil. Usia kandungannya baru menginjak tiga minggu dan itu adalah hasilnya bersama Ken. Karena setelah kejadian malam itu di parkiran club, Ken dan Veronica beberapa kali mengulangnya di apartemen dan Ken selalu mengeluarkannya didalam. Ken menyadari itu dan Ken pun tak mengelak akan hal itu.


Ken menarik sudut bibirnya membentuk senyum tipis lalu menarik Veronica kedalam pelukannya. Entahlah, dia begitu bahagia kali ini. Anak? dia akan kembali memiliki anak? ah rasanya benar-benar seperti mimpi.


"Aku takut kamu gak terima aku sama anak aku," jawab Veronica.


"Aku adalah anak yang dibuang, Ken. Dibuang sama keluarganya sendiri. Aku takut anak aku ngalamin hal yang sama. Kalau kamu emang gak mau anak ini gak papa, aku gak masalahin, seenggaknya aku bisa nerima dia tapi aku bingung kalau kamu usir aku dari sini aku sama anak aku tinggal dimana," lanjut perempuan itu sambil terisak pelan.


Ken mengusap lembut rambut dan punggung wanitanya itu. Kenapa pikirannya bisa sampai sana, bahkan Ken sama sekali tidak berfikir kesana. Ken melonggarkan pelukannya dan mengecup mata Veronica bergantian dan mengusap sisa air mata diwajah perempuan itu.


"Aku gak akan setega itu, dia anak aku juga,"


"Minggu depan kita nikah ya," ujar Ken membuat Veronica membulatkan matanya terkejut.


"Hah?"


"Kamu gak mau?", tanya Ken melihat reaksi Veronica.


Veronica menggeleng lemah sebagai jawaban. Gadis itu menunduk malu.


"Kenapa?" tanya Ken.


"Apa keluarga kamu bisa nerima aku?" bukannya menjawab, Veronica justru balik bertanya.


"Emangnya kenapa?" tanya Ken mengerutkan keningnya bingung.

__ADS_1


"Kamu tau sendiri aku gimana," jawab Veronica.


Ken tersenyum tipis lalu menangkup pipi wanitanya itu.


"Kenapa sih suka banget bandingin diri sendiri sama orang lain?" tanya Ken gemas.


"Kamu keluarga terpandang, Ken. Sedangkan aku?"


"Terserah, sayang! terserah. Terserah kamu mau bilang apa yang jelas hari ini kita ketemu mama dan minggu depan kita nikah," sahut Ken cepat.


"Kamu yakin mama kamu bisa terima aku?" tanya Veronica.


"Yakin," jawabnya pasti. Oh ayolah! mamanya itu bukan orang yang memandang status sosial orang lain. Apalagi jika itu pilihan anak-anaknya. Selagi anak-anaknya bahagia dia juga akan ikut bahagia. Jangankan Veronica, Kekasih Arsal saja yang merupakan yatim-piatu itu begitu dia yang oleh mamanya.


"Terima kasih karena memberi kesempatan malaikat kecilku berkembang ditubuh mu," ujar Ken memeluk Veronica dengan sayang.


...--🍁🍁🍁--...


Prankkkk


Suara benda pecah mengisi kekosongan sebuah ruangan luas bernuansa hitam itu. Seorang laki-laki dengan balutan jas kantornya sudah setengah jam yang lalu mengamuk dikamarnya dengan memecahkan barang-barang yang ada didepannya. Tak ada satu barang pun yang tersisa, semua habis dia hancurkan.


"Sialan," pekiknya begitu marah.


Hari ini dia mendengar dua kabar yang begitu membuatnya emosi. Hari ini dia tahu bahwa Gio melakukan hal itu bukan dengan orang lain melainkan dengan calon istrinya sendiri dan yang kedua adalah kabar kehamilan Veronica yang ternyata anak Ken, bahkan Ken sudah merencanakan pernikahannya minggu depan. Kenapa harus seperti ini?.


Laki-laki itu mendudukkan dirinya disofa sembari memejamkan mata untuk meredam emosinya sesat.


"Kalau seperti ini, keduanya akan bahagia dan selamanya gue akan menderita," ucapnya begitu frustasi. Vas bunga yang ada didepannya lagi-lagi dia lempar mengenai dinding dan hancur berserakan di lantai.


Laki-laki itu sudah dari dulu selalu membayar orang untuk mencari tahu kehidupan Gio dan juga Ken, itu sebabnya kabar terbaru tentang dua orang itu dia pasti akan tahu dengan cepat.


"Anj*ng," umpatnya menjambak rambutnya sendiri.


"Apa yang harus gue lakukan. Kalau gini caranya, Ken akan melupakan dendamnya pada Gio dan Gio akan hidup dengan tenang," ujarnya.


"Bangs*t," lagi dan lagi, umpatan kasar keluar dari mulutnya.


Dia diam sejenak mengatur nafas dan emosinya yang kian memuncak. Tidak, dia tidak boleh seperti ini. Dia harus memikirkan cara agar keduanya hancur dan setelah itu dia akan hidup dengan tenang karena dendamnya akan terbalaskan.


Setelah beberapa menit terdiam, laki-laki itu menyeringai licik. Dia tahu apa yang harus dia lakukan kali ini.


"Baiklah, permainan kita mulai,"


...--To be continued--...

__ADS_1


__ADS_2