Perjalanan Cinta CEO Muda

Perjalanan Cinta CEO Muda
Part 43. rusuh (2)


__ADS_3

...---Happy reading---...


Setelah selesai mandi, Gio menyusul yang lain ke meja makan. Kebetulan cacing diperutnya sudah mengamuk minta jatah sedari tadi.


"Lama lo", kata Arsal saat melihat Gio sudah duduk disamping Ara. Mereka belum makan sedari tadi karena menunggu Gio.


"Diam", sahut Gio ketus dengan tatapan permusuhannya. Gio masih begitu dendam dengan Arsal yang mengadakan ini tanpa sepengetahuannya.


"Ketus banget sih bapaknya", cicit Arsal lagi.


"Jomblo diam aja deh. Liat cuma lo yang gak ada pasangan. Adek gue dua-duanya udah punya, lo kapan ?", tanya Gio mengejek.


"Wahh, ngejek. Gak baik gitu bos", sahut Arsal kesal. Bisa-bisanya statusnya dibahas disini.


"Kan emang gitu", kata Gio lagi mengedarkan pandangannya. Didepannya Arsal sedang duduk sendiri sedangkan sebelah kanannya ada Gea dan Zian, lalu disebelah kirinya ada Dara dan Reyhan.


"Kak Arsal jomblo", ejek Gea dengan tertawa ngakak. Dia juga baru sadar ternyata hanya Arsal yang tidak punya pasangan disini.


"Sadboy", celetuk Dara.


"Mana ada sadboy", bela Arsal tidak terima dikatakan sadboy.


"Yap bener, bukan sadboy. Mana ada kakak gue sadboy, ya kan kak ?", kata Gea tersenyum manis menatap Arsal.


"Cuma adek gue yang paling pengertian", kata Arsal menepuk pelan puncak kepala Gea. Padahal tadi Gea juga ikut-ikutan mengejeknya.


"Tapi playboy", lanjut Gea tertawa.


"Ku ajak kau melayang tinggi dan ku hempaskan kebumi", celetuk Dara tertawa.


"Mampus lo bang", kali ini Reyhan yang angkat bicara.


"Diam deh lo. Gak usah ikut nistain gue", sahut Arsal kesal.


"Nista-able sih bang", kata Zian dengan santainya justru membuat semua orang tertawa.


"Makanya kak, punya muka yang cakep dikit, kayak abang, kak Zian sama kak Reyhan biar bisa dimanfaatkan dikit. Jangan kayak kak Al, udah pas-pasan sok-sokan jadi playboy. Dinistakan kan, tau rasa. Mana gak ada yang mau lagi", kata Gea tanpa beban sama sekali. Jika Gio memanggil Arsal dengan sebutan 'Ar', berbeda dengan Gea yang memanggil dengan sebutan 'Al", akhiran namanya. Gio sebenarnya tidak suka Gea berucap seperti itu ke orang yang lebih tua tapi karena dendam membaranya pada Arsal membuatnya tak menegur Gea sama sekali. 'biar tau rasa' kalau kata Gea.


"Anjir adek gue nih bos", kata Arsal dengan wajah yang dipaksa tersenyum.


"Pintar banget sih dek", sahut Arsal.


"Siapa dulu dong, yang ngajar kan bang Gio, jelas pintarlah", sahutnya cuek.


"Wah Abang pintar ya", kata Arsal melirik Gio tajam.


"Wajah kayak gini masih dibilang jelek", lanjutnya. Padahal mukanya tidak jelek kok tapi memang sih kalau dibandingkan dengan Gio, tetap dia yang kalah.


"Udah, udah. Makan dulu, bertengkarnya lanjut nanti aja", kata Ara melerai. Semuanya mengangguk setuju lalu memulai mengambil makanan masing-masing, beda dengan Gio yang justru menunggu Ara mengambilkannya.


"Nanti setelah wisudahan abang sama kakak, malamnya ayah mau bikin acara kecil-kecilan", kata Gea memberitahu.


"Siapa yang bilang ?", tanya Gio.


"Ayah tadi, katanya sekalian kumpul-kumpul gitu. Katanya ayah udah lama gak kumpul-kumpul sama kita", jawab Gea.


"Yang datang siapa aja ?", tanya Gio lagi sambil memakan makanannya yang diberikan Ara tadi.


"Kita semua lah", jawabnya.


"Kakak diundang gak ?", tanya Arsal dengan mulut penuh dengan makanan.


"Ya enggak lah", teriak Gea dan Dara kompak, membuat Arsal tersedak karena terkejut. Tidak main-main, dua gadis itu berteriak cukup keras.


"Gak usah ngegas juga", sahut Arsal setelah meminum air putih.

__ADS_1


"Keselek kan", lanjutnya kesal.


"Kok kakak gak diajak dek ?", tanya Arsal dengan wajah sedih yang dibuat-buat.


"Gak diajak pun bakal datang sendiri", sahut Gea membuat Arsal mengangguk membenarkan. Rumah keluarga Ananda sudah seperti rumahnya sendiri.


"Minta minum dek", kata Arsal meminta tolong pada Gea yang langsung dikerjakan gadis itu.


"Kasian, gak ada yang ngambilin air", celetuk Gea memulai.


"Makanya jangan jomblo, cari pacar sana", Dara ikut memanasi.


"Diam lo berdua, lama-lama gue pulang juga ya", kesal Arsal.


"Ya udah sana pulang, perlu diantar sampai pintu depan?", tanya Gio santai membuat Arsal terbelalak.


"Gak punya hati kalian", sahut Arsal mendramatis.


"Mati dong", celetuk Gea.


"Ya iya juga sih. Tapi kalian itu seperti manusia pisang, punya jantung tapi tak punya hati", ucap Arsal memelaskan wajahnya.


"Kak Arsal", panggil Gea begitu serius menoleh pada Arsal.


"Kenapa dek ?", tanya Arsal masih dengan raut tengilnya.


"Peluk dulu, sini", kata Gea meletakkan sendoknya lalu merentangkan tangan menyambut Arsal. Sedangkan laki-laki itu sedikit was-was dengan tingkah Gea. Bukan hanya takut karena Zian yang sudah menatapnya tajam tapi jika seperti ini pasti gadis yang sudah dia anggap adiknya sendiri ini ada maunya.


"Kenapa ?", tanya Arsal was-was.


"Peluk adek dulu", kata Gea lagi. Dengan menelan ludah susah paya dan was-was yang belum juga hilang, Arsal menatap Gea berusaha meminta agar keinginan gadis itu dia urungkan. Sedangkan yang lain hanya diam memperhatikan sekaligus bingung.


"Ah lama", kata Gea lalu berhambur memeluk laki-laki itu.


"Kenapa sih dek?", tanya Arsal masih dengan ketakutannya.


"Boleh gak Gea minta sesuatu?", tanya Gea pelan dengan puppy eyes, jurus andalannya. Kan benar firasatnya.


"Adek mau minta apa ?", tanya Arsal pelan.


"Kayaknya ginjal kakak kalau dijual bakal mahal deh", sahut Gea membuat yang lain menahan tawa dan Arsal yang melotot terkejut lalu dengan segera menjauhkan tubuh Gea darinya.


"Kok nyeremin ya dek?", tanya Arsal kikuk.


"Boleh si Ar. Jual aja, kan lo juga yang kaya", sahut Gio.


"Wah anjing. Enak aja, gak mau. Gue belum nikah, jangankan nikah punya pacar aja gak ada", ketus Arsal.


"Ya udah sih kalau gak mau", kata Gea membuat Arsal bernafas lega. Bukannya apa, dia pernah berjanji pada gadis itu jika dia akan menuruti semua keinginannya dan lagi pula Gio juga pasti akan seperti itu. Ini sedikit menakutkan untuknya.


"Nanti diculik aja, terus di ambil paksa", sahut Dara yang kali ini angkat bicara.


"Astagfirullah, kuatkan hamba ya Allah", kata Arsal mengelus dadanya.


Ara, Zian dan Reyhan hanya tersenyum kecil melihat tingkah keempat manusia dihadapan mereka.


"Gii, mau nanya dong ?", tanya Arsal tiba-tiba, bahkan wajah yang tadi tengil berubah jadi serius.


"Apa ?", tanya Gio meletakkan sendok ya karena makannya sudah habis. Laki-laki itu lalu meraih gelas berisi air minum dan meminumnya.


Sedangkan yang lain masih asik dengan makanannya tapi telinga mereka masih mendengar dan juga ikut menunggu apa yang akan Arsal tanyakan.


"Masih sering mimpi buruk ?", tanya Arsal hati-hati takut Gio akan marah.


"Masih", jawabnya santai.

__ADS_1


"Emm bukan masih sih, lebih tepatnya tiap hari", sahut Gio lagi.


Kini semua mata menatap kearah Gio,, tatapan bertanya-tanya Zian, Reyhan dan Dara layangkan pada Gio. Sedangkan Gea dan Ara hanya diam menatap Gio dengan pikiran yang entah sudah kemana.


"Semuanya masih terlalu nyata buat gue", kata Gio lagi.


"Udah berapa tahun loh. Masa gak bisa ?", tanya Arsal berusaha memancing. Setidaknya Gio sedikit mau bercerita, apalagi disini dia bersama orang-orang yang Arsal percaya mampu memberi Gio dukungan dan masukan.


"Gak semudah itu Ar", sahut Gio.


"Tapi lo harus bisa, lawan Gii. Jangan mau kalah", kata Arsal lagi.


Gio menatap satu persatu orang yang juga menatapnya bingung lalu beberapa detik kemudia dia menghela nafas pelan. Dia ingin sekali bercerita, tapi dia belum siap untuk sekarang.


"Jangan bahas itu dulu",


...--💗💗💗--...


Rania menarik tangan Ken yang sedang duduk bersama dengan Veronica, kekasihnya. Sedikit cerita, sebenarnya Veronica tau jika Ken memacarinya bukan karena rasa tapi sebagai teman sepi saja, meskipun begitu Veronica tidak masalah, bersama Ken dia bisa meminta apapun. Lumayankan bisa memenuhi kebutuhannya. Meskipun begitu, dia masih berusaha merebut hati Ken. Tidak dipungkiri jika di sudah jatuh cinta pada laki-laki itu.


Rania menarik Ken sampai laki-laki itu bangkit dari duduknya dan menatapnya datar. Rania sengaja mendatangi Ken yang sedang berada di club karena sudah muak dengan laki-laki itu.


"Ngapain sih lo, datang-datang langsung narik gitu", tanya Veronica kesal.


"Pinjam pacar lo dulu", sahut Rania menatap Ken tajam.


"Gak boleh, enak aja lo", kata Veronica tidak setuju.


"Gue cuma pinjam, bukan rebut. Nanti gue balikin", ketus Rania. Gadis itu sudah tidak ingin lama-lama disini, tempat ini begitu bising.


Ken mengusap kepala Veronica lembut dan memberi senyum tipis.


"Bentar ya sayang. Kamu tunggu disini", kata Ken. Ini yang Veronica suka dari Ken. Meski tidak memiliki rasa tapi Ken begitu lembut padanya.


"Ya udah deh", sahut Veronica mengalah.


Tanpa kata lagi, Rania menarik paksa Ken keluar dari tempat pengap itu. Rania menghentikan langkahnya saat keduanya berada diparkiran club malam itu.


"Ada apa sih ?", tanya Ken santai bersandar di kap mobil entah mobil siapa.


"Kapan ?", tanya Rania kesal.


"Sabar...."


"Sabar mulu, sedangkan lo santai-santai aja. Gak tau apa mereka berdua udah makin dekat, udah makin susah dipisahinnya", kesat Rania. Entahlah, dia merasa Ken sedang mengulur-ulur waktu saja.


"Karena ini emang gak mudah, salah dikit kita yang kena. Lo mau gak dapat apa-apa" tanya Ken bersedekap dada.


"Ya tapi kapan ?" tanya Rania lagi.


"Lo selalu aja bilang sabar, sabar, dan sabar. Bahkan gak pernah mau kalau gue maju duluan tapi lo sendiri ngulur waktu mulu", demi apapun, dia ingin segera menyelesaikan ini semua. Dia tidak ingin Ara merebut apa yang dia punya. Jika semakin lama Gio akan semakin jatuh lebih dalam pada Ara dan dia takut tidak bisa merebut Gio kembali.


"Tunggu aja. Lo bakal liat, sekali gue bergerak semuanya bakal sesuai dengan apa yang kita inginkan", sahut Ken santai.


"Kapan ?", tanya Rania lagi.


"Paling cepat minggu depan, setelah wisudahan gue, kita mulai gerak", jawab Ken yang kini menegakkan tubuhnya menatap Rania dengan senyum miringnya.


"Gue pegang kata-kata lo", ucap Rania.


"Oke",


Setelah Ken mengatakan itu, tanpa pamit Rania langsu melangkahkan kakinya menjauh dari Ken. Sedangkan laki-laki itu hanya menatap Raniasampai gadis itu menghilang.


"Permainan kita mulai, Gio",

__ADS_1


...---To Be Continued---...


__ADS_2