
"Abang mandi dulu nak."
Teriakan itu menggema di rumah besar berlantai dua milik keluarga kecil Ara. Bak ibu-ibu pada umumnya yang sedang rempong dengan urusan rumah, Ara berteriak memanggil putra semata wayangnya yang entah kemana sejak pulang dari kantor ayahnya.
Ara yang baru saja beres merapikan isi lemari esnya keluar dari dapur dan mencari putranya itu.
"Abang," panggilnya lagi karena Argi sama sekali tak terlihat bahkan tak menyaut. Tumben sekali.
"Bang," Ara celingukan mencari jagoan kecilnya itu, dia sudah memeriksa ruang bermain Argi namun anak itu tidak ada. Di taman belakang juga tidak ada bahkan ditaman depan pun tidak ada.
"Kenapa sayang?" tanya Gio yang muncul dari arah tangga hendak menuju lantai satu dengan handuk kecil yang dia gunakan untuk mengeringkan rambut.
Ara yang berdiri di tengah-tengah ruang tamu sambil berkacak pinggang melihat suaminya turun hanya menghela nafas.
"Argi dimana?" tanya Ara.
"Lohhh bukannya sama kamu tadi"
"Engga ada tadi aku beres-beres di dapur, dipanggil-panggil nyaut,"
Gio tersenyum tipis, menyampirkan handuk kecil di pundaknya lalu memeluk Ara dari belakang.
"Ngomel-ngomel mulu ibunya," kekeh Gio sambil mencium pipi Ara dari samping.
"Anak mu tuh, suka banget ilang-ilangan," sahut Ara jutek.
"Paling main sama miko didepan, sayang."
Miko, kucing berjenis kelamin laki-laki yang menjadi kucing kesayangan putranya itu. Argi jika sudah bersama dengan kucing itu sama sekali tidak mau diganggu. Ara menghela nafas pelan, dia sudah memeriksa dan tidak ada putranya disana.
"Gak ada."
"Masa sih?"
Gio melepas pelukannya pada Ara hendak melangkah ikut mencari putranya kedepan. Namun belum sempat melanjutkan langkahnya, Gio dan Ara dibuat melotot dengan kehadiran Argi yang sudah seperti baru saja selesai berendam di lumpur bersama dengan kucing yang dia gendong. Mata anak laki-laki itu tampak sembab habis menangis.
"Ya Allah abang." pekik Ara.
Perempuan dengan balutan baju rumahan itu mendekati putranya diikuti Gio dari belakang. Ara langsung berjongkok didepan Argi menatap putranya dari atas sampai bawah.
__ADS_1
"Mama jangan malah," ujar Argi masih dengan sisa tangisnya.
"Abang kenapa bisa jadi basah kuyup dan kotor gini?" tanya Ara teramat lembut. Sedangkan Gio hanya menatap bergantian pada putra dan juga istrinya. Ini yang paling Gio suka dari cara Ara mendidik anaknya. Tidak keras tapi tidak juga memanjakan Argi hingga anak laki-lakinya itu tumbuh jadi anak yang pintar dan hormat pada orang tuanya juga pada orang lain. Gio diam mengamati interaksi Ara dan juga Argi.
"Kecebul got depan pos om satpam, ma," jawab Argi jujur.
"Kok bisa?" tanya Ara lagi.
"Miko tenggelam mama, Abang mau selamatin Miko malah kecebul. Tadi ditolongin om satpam," jelas Argi membuat Gio mati-matian menahan tawanya. Wajah lugu putranya yang sedang menjelaskan, muka Miko yang seperti trauma dan wajah kaget Ara benar-benar membuatnya hampir meledakkan tawanya.
"Astaga nak," Ara tidak habis pikir. Perempuan itu tanpa basa basi menggendong anaknya beserta kucing kesayangan anaknya menuju kamar mandi meninggalkan Gio yang sudah tertawa melihat putranya.
"Papa, ndak boleh ketawa," teriak Argi kesal mendengar tawa sang papa. Seketika Gio membungkam mulutnya saat melihat lirikan tajam dari istrinya.
...❤❤❤...
Setelah cukup lama menunggu Ara dan Argi bersiap, tepat pukul 8 malam keluarga kecil itu kini sudah dalam perjalanan menuju rumah orang tua mereka. Argi yang duduk di bangku belakang sibuk dengan mainannya tak menghiraukan kedua orang tuanya yang juga sibuk bercerita. Sesekali Ara menoleh memastikan putranya di kursi belakang.
"Pa." panggil Argi membuat Gio melirik anaknya dari kaca tengah mobilnya.
"Bang Al datang gak?" tanya Argi menanyakan sepupunya.
Tak lama, mobil putih yang mereka tumpangi masuk ke pelataran rumah besar yang menjadi tempat tinggal ayah dan bundanya. Tak menunggu lama, Ara dan Gio keluar dari mobil dan tak lupa membantu Argi untuk keluar. Anak laki-laki dengan balutan sweater hitam itu langsung berlari ke pintu utama yang sudah terbuka.
"Nenek," dengan teriakan nyaring Argi masuk kedalam rumah.
"Salam yang benar sayang," tegur Ara halus.
Argi langsung menghentikan langkahnya lalu berbalik ke arah pintu utama. "Assalamu'alaikum kakek nenek." salam Argi begitu manis membuat kakek dan neneknya tersenyum tipis begitu juga dengan Gio dan Ara.
"Waalaikumsalam kesayangan nenek. Ayok sayang abang Al ada didalam," ajak bunda Vio sambil menggendong cucunya masuk tanpa mempedulikan Gio dan Ara. Hal itu membuat Gio tersenyum tipis sambil menggeleng pelan.
"Ayah," sapa Ara lalu menyalimi tangan ayah mertuanya diikuti Gio.
"Ayo masuk. Maklumi saja bunda mu, setelah ada Argi dan Al dia lupa sama anak-anaknya," ucap ayah sambil tertawa dan mengajak Gio juga Ara masuk kedalam menuju ruang makan. Disana sudah berkumpul keluarga kecil Gea, adik Gio. Di sisi lain, ada Vio dan kedua cucunya yang sedang sibuk bercerita sambil memilih makanan yang ada di meja makan.
"Sehat dek?" tanya Gio pada adiknya yang sedang duduk di depannya bersama Zian sang suami.
"Sehat, alhamdulilah. Abang dan kak Ara gimana kabarnya?" tanya Gea balik.
__ADS_1
"Seperti yang kamu liat." jawab Gio singkat.
"Abang Al sama Argi hari ini ngapain aja?"
Pertanyaan yang berasal dari bunda Vio itu berhasil mengalihkan fokus semua orang yang ada dimeja makan. Semuanya memperhatikan interaksi nenek dan cucu kesayangannya itu.
"Abang Al ke kantor ayah tadi siang, sendiri. Al hebat kan nek, udah bisa pergi sendiri?" tanya Al dengan antusias.
"Waah cucu nenek hebat. Tapi abang gak boleh gitu, gak boleh pergi sendiri-sendiri lagi, abang masih kecil loh. Dengerin apa kata bunda sama ayah ya," tutur Vio lembut lalu beralih pada Argi.
"Kalau abang Argi ngapain tadi?" tanyanya sambil memperhatikan dua cucunya yang sedang makan dan sesekali menjawab pertanyaannya.
Argi meletakkan sendok lalu menatap neneknya sendu, membuat bunda Vio mengerutkan keningnya bingung.
"Nyelamatin Miko nek. Tadi Miko kecebul got, abang belenang baut celamatin Miko." jawab Argi pelan. Dia masih sedih mengingat kucing kesayangannya tenggelam.
"Kok bisa tenggelam, sayang?" tanya Vio.
"Main kejal-kejalan sama abang, eh kecebul." jawabnya santai membuat bunda Vio menahan tawanya.
"Lain kali jangan main kejar-kejaran dipinggir jalan sayang. Di halaman rumah aja ya," peringat bunda Vio dengan lembut.
"Siap nek," jawab Argi antusias.
"Ya udah sekarang habisin dulu makanannya." perintah Vio, sang nenek. Keduanya mengangguk patuh dan melanjutkan acara makan mereka.
Kehangatan keluarga besar itu tampak begitu kentara dan kehadiran kedua anak kecil itu berhasil menambah kehangatan keluarga itu setelah begitu banyak masalah yang dialami selama ini. Tentang kepergian, kedatangan, kesedihan, kebahagiaan, kesusahan dan kemudahan dalam hidup manusia tidak punya kuasa untuk mengaturnya. Semua sudah menjadi jalan hidup masing-masing yang sudah diatur sangat pencipta.
Gio dan Ara kompak mengedarkan pandangannya ke semua orang yang ada disana lalu pandangan keduanya saling bertemu dan tersenyum kecil. Gio menggenggam tangan Ara lebih erat. Sungguh, Gio bersyukur atas jalan hidup yang dilaluinya. Kehidupan selanjutnya akan terus berlanjut dan dia ingin tetap Ara menemaninya. Melihat Argi tumbuh dewasa, menikah lalu memiliki keluarga sendiri. Gio sekali saja ingin egois, dia ingin setiap masa dihidupnya, hanya Ara yang selalu ada disampingnya sampai dia tak lagi memliki waktu dan kesempatan untuk bernafas.
"I love you." bisik Gio pada Ara.
...-The End-...
Perjalanan Gio dan Ara akhirnya selesai dengan happy ending.
Aku akan membuat cerita baru yang jauh lebih menantang. Tunggu yaaa...
Terimakasih sudah menemani Aku, Gio dan Ara menyelesaikan kisah mereka. sampai bertemu di cerita ku yang lain
__ADS_1
see you again, love you ❤