
Ara yang sore ini berjalan-jalan di sekitar kebun teh milik warga dikejutkan dengan kehadiran Aldi yang tiba-tiba ada dibelakangnya. Niatnya hari ini untuk menghabis sore sendiri harus gagal.
"Kok sendirian, kenapa gak ngabarin kalau mau keluar," tanya Aldi.
"Gak papa, mau sendiri aja," jawab Ara.
"Jadi aku ganggu nih?" tanya Aldi mengejek.
Ara menggeleng cepat. Bukan, bukan itu yang dia maksud. Dia tidak merasa terganggu dengan kehadiran Aldi, lagipula ini tempat umum kan, semua orang bisa datang kapan saja di sini.
"Becanda doang, kok serius banget sih," ujar Aldi mengacak rambut Ara pelan. Perempuan itu mencebikkan bibirnya kesal. Aldi suka sekali membuat rambutnya berantakan.
"Kamu kok bisa disini?" tanya Ara merapikan kembali rambutnya.
"Lagi jalan-jalan eh gak sengaja liat kamu," jawab Aldi.
"Ra.."
"Hmm,"
"Aku mau ngomong tapi jangan disini, duduk disitu yuk," ajak Aldi menarik tangan Ara duduk di bangku sebuah taman kecil didekat kebun teh tersebut.
Ara menurut saja dan duduk disamping laki-laki itu, menatap hamparan matahari tenggelam. Lagi dan lagi keduanya terjebak di sore hari yang menampakkan keindahannya. Langit berwarna jingga dengan mata hari yang perlahan turun semakin memanjakan mata. Ara suka sekali dengan senja, entah apa alasannya. Yang jelas, senja itu bisa sedikit meredakan rasa rindunya pada orang-orang yang sudah dia tinggalkan termasuk laki-laki yang sudah membuat hatinya hancur berkeping-keping. Ara benci ketika dia masih mengingatnya dan Ara benci ketika hatinya masih merindukan laki-laki itu. Dia ingin segera melupakan Gio, namun sekeras apapun dia mencoba tetap saja akan selalu sulit menghilangkan nama itu dari hatinya.
"Ara."
"Apa?"
Ara bertanya tanpa mengalihkan tatapannya dari keindahan langit sore yang Tuhan ciptakan hari ini. Saat sebuah tangan tiba-tiba menggenggam tangannya, Ara menoleh menatap Aldi yang sedang memainkan jemarinya. Ara bingung dengan sikap Aldi yang tiba-tiba gugup.
"Ada apa?" tanya Ara lagi.
"Hadap sini coba," perintah Aldi.
Ara menggeser sedikit duduknya sampai dia bisa menghadap Aldi dan menatap laki-laki yang juga menatapnya itu.
"Ra, aku udah mikirin ini dari lama," ujar Aldi memulai.
Ara diam menunggu kelanjutan ucapan Aldi. Dia tidak tau arah pembicaraan Aldi dan jujur sangat bingung dengan apa yang akan di lakukan laki-laki tampan di hadapannya ini.
"Ara, dari awal kita ketemu di klinik dan lebih dua minggu ini kita dekat, aku udah mutusin dan aku yakin kalau aku benar-benar suka sama kamu, aku mau kamu, aku sayang kamu dan aku cinta kamu. Mau gak Ra, kita sama-sama dan bangun hubungan. Kalau kamu belum mau ke jenjang yang lebih serius, kita jalani aja dulu sebagai pasangan kekasih," tutur Aldi lembut menatap kedua bola mata cantik milik Ara.
__ADS_1
Ara terkejut dan refleks menarik tangannya dari genggaman Aldi. Dia tidak menyangka Aldi akan mengatakan itu dan dia tidak menyangka jika ternyata Aldi menyukainya. Jika boleh jujur, Ara memang nyaman bersama Aldi. Laki-laki itu memperlakukannya dengan baik, tapi Ara sama sekali tidak memiliki rasa lebih dari seorang teman. Ara hanya menganggap Aldi sebagai teman baik tidak lebih dan tidak kurang.
"Jangan suka sama aku," kata Ara sangat pelan.
Aldi menatap Ara yang memalingkan wajahnya. Dia sudah tebak jawaban Ara akan seperti itu. Meski begitu, dia tetap sedikit kecewa dengan jawaban Ara. Aldi pikir dengan berjalannya waktu dan kebersamaan mereka, Aldi dapat merubah hati Ara namun nyatanya tidak sama sekali.
"Tapi kenapa?" tanya Aldi.
"Aku gak akan pernah bisa, sejauh ini aku cuma anggap kamu teman. Maaf," jawab jujur Ara.
"Aku mau bantu kamu beranjak dari masa lalu kamu, aku mau bantu kamu hilangin rasa sakit itu,"
"Tapi aku gak bisa, Al. Benar-benar gak bisa. Hati aku udah milik dia dan bakal susah buka hati lagi sama orang lain,"
Aldi meraih kedua tangan Ara lalu menggenggamnya erat membuat Ara menoleh menatap Aldi yang juga menatapnya, menyakinkan bahwa Ara pasti bisa beranjak dari masa lalunya.
"Kita jalani pelan-pelan, Ra. Aku gak masalah kalau kamu masih cinta dan sering ingat dia. Aku bantu kamu bukan buat lupain dia tapi belajar ikhlasin dia," kata Aldi lagi berusaha meyakinkan.
"Tapi gak bisa" sahut Ara keras kepala.
"Ya alasannya apa?" tanya Aldi lalu menarik nafas pelan.
Ara juga mau melupakan Gio, Ara juga mau beranjak dari masa lalunya, Ara juga mau ikhlas dan tak lagi memikirkan Gio tapi selalu ada hal yang mengingatkan Ara pada laki-laki itu. Bukan selalu sengaja mengingat tapi karena hal itu yang selalu mengingatkan Ara padanya. Yah, dia adalah anaknya. Setiap kali berinteraksi dengan anak dalam kandungannya, saat itu juga dia mengingat laki-laki yang sudah memberikannya malaikat kecil. Jika seperti ini, bagaimana Ara bisa lupa dengan Gio?
"Dan itu kamu," sahut Aldi.
"Bukan aku tapi orang lain. Apa kamu akan tahan menjalin hubungan dengan orang yang selalu mengingat masa lalunya? Enggak Al, semua itu salah. Kita jalani pelan-pelan?" tanya Ara membuat Aldi mengangguk.
"Gak akan bisa, karena selalu ada hal yang bikin aku ingat sama dia. Dan itu bukan hal sepeleh yang bisa dihilangin gitu aja," jawab Ara.
"Iya tapi apa?"
"Bukan saatnya aku kasi tau kamu, cepat atau lambat kamu pasti tau itu semua," jawab Ara.
"Dan sejauh ini aku cuma anggap kamu teman. Makasih karena udah suka sama aku dan baik sama aku, tapi aku mohon lupain perasaan kamu itu ke aku. Aku minta maaf gak bisa menerima kamu," lanjutnya.
"Kamu pantas dapat yang lebih baik dari aku," ujar Ara lirih.
Aldi menghela nafas pelan lalu menatap Ara dengan tatapan sendunya. "Oke kalau gitu, tapi kita masih bisa jadi teman kan"? tanya Aldi kemudian. Mengalah untuk sementara. Dia akan mencoba lagi nanti, dia yakin bisa merubah kerasnya hati Ara, dia yakin itu.
Ara mengangguk sekali. Berteman? Tidak ada yang salah dari itu. Aldi baik maka dari itu, dia juga harus mendapat yang terbaik. Bukan seperti dirinya yang bahkan hamil diluar nikah. Meski itu bukan keinginannya tapi semua sudah terjadi. Seperti kata Aldi, ikhlas juga perlu dan dia sedang berada ditahap berusaha mengikhlaskan semua yang pernah terjadi padanya di masa lalu.
__ADS_1
"Mau pulang?" tanya Aldi setelah melirik jam tangannya yang menunjukkan hampir masuk waktu magrib.
Ara mengangguk dan beranjak diikuti Aldi. Keduanya pulang dengan menaiki motor matic milik Aldi. Laki-laki itu mengantar Ara sebelum kembali kerumahnya.
Disisi lain, setelah Ara membersihkan diri dan melaksanakan kewajibannya, perempuan itu duduk termenung dimeja makan setelah menyelesaikan makan malamnya. Suasana sepi begitu dirasakan Ara. Makan sendiri, tidur dan tinggal sendiri. Segala apapun dia lakukan sendirian. Dulu, dia tak sesepi ini karena masih ada Gio yang sering menemaninya meski tidak setiap hari tapi itu cukup membuang rasa sepinya.
Ara menghela nafas pelan saat lagi dan lagi ingatannya kembali mengingat laki-laki itu. Ara menyenderkan punggungnya pada sandaran kursi, mengusap perutnya lembut. Banyak sekali pertanyaan yang muncul dalam benaknya, mengenai kejadian kemarin dan apa yang akan terjadi setelah anaknya lahir. Apa yang harus Ara katakan pada anaknya nanti dan apakah Ara akan selamanya sanggup menyembunyikan anaknya dari ayahnya? Apa Ara sanggup terus-terusan memisahkan seorang anak dan ayah?.
Ara lagi-lagi menghela nafas pelan, selama kehamilannya ini, anaknya seolah mengerti dengan kondisinya yang harus menghadapi semuanya sendiri. Selama kehamilannya, Ara hampir tak pernah merasakan mual atau muntah di pagi hari, dia juga tidak pernah ngidam yang aneh-aneh. Hanya saja, kadang Ara tiba-tiba rindu dengan laki-laki yang masih memenuhi seluruh hatinya, dan hal yang dilakukan Ara hanyalah memakai hoodie Gio yang sempat dia bawa.
Ara tersenyum miris, hidupnya begitu sulit sekarang. Tidak ada Gio yang selalu menjadi penguatnya. Sekarang, dia harus menguatkan diri sendiri demi anaknya. Ara menyeka sudut matanya yang mengeluarkan cairan. Apa semenyedikan ini hidupnya sekarang?. Ara tidak tahu jika penghianatan Gio begitu berpengaruh besar pada hidupnya.
"Ayah, bunda... Sekarang Ara benar-benar sendirian," ujar Ara lirih menutup matanya, menikmati rasa sesak yang menghujamnya.
"Sendirian menghadapi dunia dan menjaga anak Ara,"
"Ayah, putri kecil ayah sebentar lagi punya dede bayi. Ayah seneng gak?"
Dari matanya yang terpejam itu, setetes air mata mengalir. Ini kali pertamanya dia menangis setelah memilih meninggalkan segalanya. Hati Ara sakit mengingat Gio yang mengkhianatinya, mengingat anaknya kelak akan tumbuh tanpa seorang ayah. Bukan hanya itu, Ara merindukan kedua orang tuanya. Jika saja orang-orang yang paling Ara cintai masih ada mungkin hidupnya tak sekacau dan semenyedikan ini.
"Bunda, Ara belum mengerti ngurus bayi. Ara belum paham tapi sebentar lagi Ara bakal punya dede bayi. Gimana kalau Ara gak bisa jaga dan ngurus dia?"
"Ayah sama bunda jangan benci dia ya, dia papa dari bayinya Ara. Mungkin Ara ada salah sama dia atau Ara gak bisa kasi yang terbaik makanya dia cari yang terbaik,"
"Anak ayah kuat kok. Ara harus kuatkan, untuk anak Ara nanti?"
Ara mengusap lembut perutnya. Tanpa orang tahu, banyak ketakutan yang Ara pendam sendirian. Air matanya mengalir. Dadanya ikut sesak menahan semua rasa yang ada dalam dirinya. Ara ingin berteriak bahwa dia lelah, hatinya sakit, dia tidak kuat dan dia tidak sanggup. Tapi apa semua itu berguna?
"Nak, Terima kasih karena udah mengerti kondisi mama. Terima kasih karena gak pernah mengeluh dan selalu pengertian sama mama. Mama sayang sama kamu, sehat-sehat ya sampai kita ketemu nanti, mama gak sabar," kata Ara sambil terus mengusap perutnya.
Ara membuka matanya, menegakkan duduknya dan menghapus air mata yang mengalir di pipinya. Benar, dia harus kuat, untuk anaknya. Hanya dirinya yang anaknya punya sekarang dan jika dia lemah, maka anaknya juga akan sedih. Sama seperti kata Aura kemarin.
...-To be continued-...
Kangen Gio gak sih??
Dia apa kabar ya? udah mati atau masih hidup sih?
Aaaaa Author kangen Gio.
Btw thnks untuk yang masih baca sampai sekarang, jangan lupa like dan coment yaaa. Tunggu teruussss.
__ADS_1
Love kalian ❤🤍