Perjalanan Cinta CEO Muda

Perjalanan Cinta CEO Muda
Part 13. Jalan-jalan (2)


__ADS_3

Dua orang berbeda gender sekarang sudah berada tepat ditengah pasar malam. Didepan mereka begitu banyak permainan yang pada umumnya ada di pasar malam sedangkan samping kiri kanan mereka terdapat stan yang menjual berbagai makanan dan minuman.


Gio berdehem pelan menatap keramaian disekitarnya, dia agak sedikit kurang nyaman disini, suara bising dan dentuman musik dari beberapa stan penjual makanan begitu menganggunya, namun saat menoleh pada gadis yang tengah berdiri dihadapannya, senyum Gio mengembang. Gadis yang menatap keramaian dengan mata berbinar membuatnya lebih nyaman dari sebelumnya. Cahaya dari beberapa lampu dihadapan mereka begitu terlihat bersinar dimata gadis itu.


Dengan senyum mengembang, Ara menatap sekeliling dengan raut yang luar biasa bahagia. Ini untuk yang pertama kalinya lagi dia ke tempat seperti ini setelah beberapa tahun. Sungguh, Ara merindukan suasana seperti ini.


Gadis itu menoleh pada laki-laki yang sedari tadi menggenggam tangannya erat.


"Boleh naik biang lala ?", tanya Ara sedikit malu.


Dia sebenarnya sungkan untuk meminta sesuatu tapi karena keinginannya yang begitu ingin menaiki wahana itu membuatnya membulatkan keberanian untuk bertanya pada Gio.


Gio mengulas senyum manis lalu mengangguk, setelah itu laki-laki tampan itu berujar, "Apapun yang kamu mau bilang aja, aku pasti turutin. Tapi dengan satu syarat...", kata Gio menggantung ucapannya.


Ara mengerutkan keningnya, matanya mengerjap beberapa kali membuat Gio dengan sekuat tenaga menahan untuk tidak mencubit pipi gadis cantik dihadapannya ini.


"Apa ?", tanya Ara.


Gio terkekeh pelan melihat wajah dan tatapan polos Ara saat bertanya.


"Ini gak boleh terlepas, yang artinya kamu gak boleh jauh-jauh dari aku", jawab Gio seraya mengangkat tangannya yang menggenggam erat tangan Ara.


"Kenapa memangnya?", tanya Ara polos.


"Nanti kalau kamu hilang, gimana ?. Antisipasi aja, aku gak bakal bisa nemuin kamu nanti kalau kamu lepas dan hilang disini", sahut Gio.


Oke Ara paham sekarang. Dengan senyum manis, Ara mengangguk semangat dan menyetujui syarat dari Gio.


"Ya udah ayo, tapi naik biang lalanya nanti aja", kata Ara menarik tangan Gio dengan semangat.


"Mau apa dulu ?", tanya Gio berusaha menyamankan dirinya disini.


"Itu", tunjuk Ara pada mesin capit boneka dan game menembak.


"Ayo", ajak Gio.


 


Setelah beberap jam menjelajahi wahana pasar malam, keduanya tengah duduk disebuah bangku yang tidak jauh dari stan penjual telur gulung, salah satu makanan kesukaan Ara.


Karena Ara yang mengeluh lapar dan lelah sampai akhirnya disinilah mereka sekarang, sebuah bangku dan tengah menikmati makanan.


Disebelah kanan gadis itu sudah ada Gio duduk dengan tenang sembari terus menatap wajah Ara yang tengah sibuk memakan makanannya, sedangkan disamping kiri sudah ada boneka beruang besar berwarna putih dengan pita berwarna hitam di lehernya, itu hasil dari Gio yang selalu menang saat bermain game.


"Kamu gak makan ?", tanya Ara yang menyadari Gio belum menyentuh makanannya sama sekali.


Gio hanya menggeleng sebagai jawaban, dia sama sekali tidak lapar.


"Buat kamu aja", sahutnya.


"Enggak. Kamu juga harus makan", kata Ara.


"Aku gak lapar, nanti aja", sahut Gio lagi.


Ara mendengus melihat Gio yang keras kepala. Gadis cantik itu mendongak dan menatap Gio hendak memaksa laki-laki itu untuk makan, namun ucapan Gio langsung mengurungkan niatnya.


"Jangan maksa, kalau kamu maksa aku beli semua telur gulung itu sekalian sama gerobaknya buat kamu dan harus habis sekarang juga", peringat Gio membuat Ara bungkam.


Sesuka-sukanya dia dengan telur gulung tapi bukan berarti dia sanggup menghabiskan itu.


Ara kembali sibuk dengan makanannya, sedangkan Gio mengalihkan pandangannya menatap seluruh penjuru pasar malam yang bisa dijangkau matanya.


Pikirnya dia tidak akan sanggup bertahan lama ditempat bising seperti ini tapi karena Ara, dia sama sekali tidak pernah merasa kurang nyaman.


Gio menoleh dan menatap Ara. Tangannya terulur mengusap sisa saus yang ada di sudut bibir Ara membuat gadis itu sedikit tersentak.

__ADS_1


"Mau naik biang lalanya sekarang ?", tanya Gio.


"Ah,, ehmm.. iya deh boleh", jawab Ara gelagapan.


Gio terkekeh pelan menatap reaksi Ara barusan.


"Nanti setelah naik biang lala kita nonton pentas seni didepan sebentar setelah itu aku antar kamu pulang", kata Gio sambil mengacak rambut Ara.


Lagi dan lagi Ara tersentak dengan perlakuan kecil Gio. Gadis itu menatap Gio yang tersenyum kearahnya. Tampan, satu kata yang menggambarkan laki-laki dihadapannya ini, munafik jika Ara bilang tidak karena pada kenyataannya memang laki-laki itu tampan, dan sepertinya Ara sudah mulai menyukai laki-laki ini apalagi sikap manisnya selalu berhasil membuat Ara baper sendiri. Dia berharap bisa selalu dekat dengan laki-laki ini, tapi----


Ara menghela nafas pelan dan kembali ke kenyataan. Tidak mungkin dia bisa bersama, itu hanya akan ada dalam mimpi Ara saja. Kehidupan dan status sosial yang bertolak belakang jelas menampar Ara dan menjatuhkannya. Dia tidak boleh menggantungkan harapan pada siapapun sekarang, termasuk Gio.


"Ayo", ajak Gio sambil menarik tangan Ara.


Ara bangkit lalu menyambar boneka beruangnya, keduanya berjalan menuju biang lala yang sedari tadi Ara ingin naiki.


Namun, kekecewaan harus dia telan karena katanya ada sedikit kesalahan teknis sampai biang lalanya tidak beroperasi beberapa jam kedepan.


"Gak papa. Kapan-kapan kita kesini lagi", bujuk Gio yang melihat wajah murung Ara


"Benar ?", tanyanya dengan wajah berbinar.


"Iya. Apapun buat kamu",


-----————


Sesuai dengan perkataan Gio tadi, laki-laki itu membawa Ara menuju pentas seni yang diadakan tidak jauh dari kawasan pasar malam.


Keduanya duduk berdampingan pada kursi bagian belakang. Tak lama setelah mereka duduk, lagu dari Virgoun dengan judul orang yang sama mengalun dengan lembut diiringi gitar akustik


Orang yang sama-virgoun.


Teringat lagi hal yang buat hati ku


Jatuh cinta dengan hebatnya padamu


Kau milik ku slamanya.


Ku temukan arti cinta


Diwaktu hidup dengan mu yang tak terduga


Seperti nadi mu yang slalu denyutkan setia


Aku bahagia menjadi pemiliknya


Bagaimana bisa aku jatuh cinta


Berulang kali, berulang kali pada orang yang sama


Tepat setelah lirik itu, Gio menoleh pada Ara yang dengan antusias ikut bernyanyi kecil. Ara merasakan genggaman pada tangannya semakin erat serta ada elusan lembut dipunggung tangannya, lalu tangan yang masih saling menggenggam itu Gio masukkan kedalam saku hoodienya.


Terima kasih kau tetap disamping ku


Ditengah kencang badai hidup menerpa


Saat dunia memaksamu tuk pergi


Kau tetap setia


Ku temukan arti cinta


Diwaktu hidup dengan mu yang tak terduga


Bila waktu izinkan kita menua bersama

__ADS_1


Dimata ku indah mu tetaplah sama


Bagaimana bisa aku jatuh cinta


Berulang kali, berulang kali pada orang yang sama.


Ku temukan arti cinta


Diwaktu hidup dengan mu yang tak terduga


Seperti nadi mu yang slalu denyutkan setia


Aku bahagia menjadi pemiliknya


Bagaimana bisa kau titipkan cinta


Pada aku yang jauh dari sempurna


Bila waktu izinkan kita menua bersama


Dimata ku indah mu tetaplah sama


Bagaimana bisa aku jatuh cinta


Berulang kali, berulang kali, berulang kali pada orang yang sama.


Ara menoleh saat sesekali merasakan elusan lembut pada tangannya. Ara dapat lihat, dengan santainya Gio melakukan itu. Apa dia tidak tahu jika jantung Ara sudah tidak bisa dikondisikan sekarang.


Gio dan Ara menikmati pertunjukan malam ini. Lagu yang menggambarkan perasaan Gio. Pertemuan tak sengaja mereka sampai membuatnya begitu menyukai gadis ini. Munafik jika Gio mengatakan dia tidak suka. Dia suka bahkan sangat sangat suka, entah sudah yang keberapa kalinya dia dibuat jatuh dengan pesona gadis ini. Sederhana namun itu yang Gio suka, itu yang membuat Gio jatuh cinta.


Ingin mengatakannya tapi dia rasa ini masih terlalu cepat untuk mengungkapkan perasaannya. Dia akan menunggu waktu yang tepat dan untuk sekarang, tujuannya hanya ingin membuat gadis ini juga menyukainya. Jika bisa Gio langsung menikahinya saja--ehh.


Gio melirik jam tangannya, lalu menoleh pada Ara yang masih setia menatap panggung dengan satu tangan yang memeluk erat boneka besarnya.


"Ayo pulang", ajak Gio beranjak membuat Ara memperhatikannya.


"Sekarang ?", tanya Ara polos.


"Iya, ini sudah jam 9", jawab Gio.


"Tapi pertunjukannya belum selesai", kata Ara dengan bibir mengerucut lucu.


"Nanti nenek nyariin, besok-besok lagi, oke. Aku janji", kata Gio sambil mengacak pelan rambut Ara.


"Ya sudah, ayo", kata Ara mengalah.


Keduanya berjalan beriringan menuju tempat mereka parkir tadi. Melihat boneka besar yang ada ditangan Ara, laki-laki menghela nafas


"Harusnya tadi bawa mobil aja", decak Gio.


Sekarang bagaimana mereka membawa boneka besar itu, sedangkan mereka hanya naik motor kesini.


"Gak papa", kata Ara yang sempat mendengar keluhan Gio.


"Aku suka kalau naik motor. Aku pegang bonekanya dibelakang kok", kata Ara lagi.


Gio menghela nafas pelan, kenapa dia tidak kepikiran tadi. Kalau sepeti ini Ara yang bakal repot.


"Ya sudah, aku minta maaf. Lain kali kita bawa mobil", sahut Gio membuat Ara mengangguk saja.


Tangan Gio terulur memakaikan helm pada kepala Ara. Setelah dirasa cukup, Gio dan Ara naik keatas motor berniat untuk segera pergi dari sana.


"Pegangan", kata Gio.


Dengan ragu, Ara menggenggam erat hoodie Gio membuat Gio berdecak kesal dan langsung menarik tangan Ara yang tidak memegang apa-apa untuk melingkar di pinggangnya.

__ADS_1


"Peluk juga gak papa".


...--To be continued--...


__ADS_2