Perjalanan Cinta CEO Muda

Perjalanan Cinta CEO Muda
Part 82. Teman


__ADS_3

Sudah dua minggu ini Ara dan Aldi saling mengenal dan 2 minggu ini juga hubungan keduanya semakin dekat. Namun sejauh ini, Aldi belum mengetahui jika Ara sudah mengandung. Yang dia tahu hanya Ara gadis dari kota yang pulang ke kampung halaman kakeknya untuk hidup mandiri.


Kini keduanya sedang berjalan-jalan di sekitar kebun teh milik warga. Udara sore ini benar-benar menyejukkan.


"Suka gak?" tanya Aldi.


Sejauh ini Aldi juga selalu memperlakukan Ara dengan baik. Meskipun begitu, Ara tak memiliki perasaan lebih selain sebagai teman baik. Bersama Aldi, Ara bida melupakan sejenak kesedihannya tapi bukan berarti dia dengan mudah menggantik posisi Gio dengan orang lain. Di hati Ara, Gio masih oemegang tahta tertinggi. Bahkan Ara tidak yakin bisa menggantikan Gio dengan orang lain nantinya.


Ara sedikit kecewa karena Gio tak mencarinya tapi dia juga sadar, dia yang sudah menutup semua akses untuk orang-orang terdekatnya dulu. Ara mengganti nomor ponsel, menonaktifkan semua media sosialnya bahkan pergi tengah malam untuk menghindari adanya orang yang mengetahui keberadaannya. Ara sadar dan tidak seharusnya dia kecewa. Lagipula, Gio pasti sudah bahagia dengan gadis yang malam itu dia tiduri bukan?.


"Kok bengong?" tanya Aldi menyentil kening Ara membuat gadis itu tersentak kaget.


"Iih jail banget sih," kata Ara mengusap keningnya.


"Lagian dari tadi bengong mulu, aku tanyain malah diam terus," sahut Aldi.


"Emang kamu nanya apa?" tanyanya.


"Suka gak aku bawa kesini?" tanya Aldi lagi.


"Suka tapi aku capek jalan terus," jawab Ara.


Aldi terkekeh mendengar jawaban Ara. Laki-laki itu mendekat dan mengusap keringat di wajah Ara dengan tangannya. Ara hanya diam memperhatikan wajah tampan yang begitu dekat dengan wajahnya. Setelah Aldi selesai, laki-laki itu tidak berpindah justru menatap Ara dalam dengan jarak sedekat ini.


"Kamu cantik, Ra," ujarnya pelan.


Ara tersenyum kecil, "Terima kasih," sahut Ara.


"Aaaa gemesin banget sihhh," ujar Aldi menguyel-nguyel pipi Ara yang gembul.


"Iih sakit tau,"


"Siapa suruh gemesin, pengen aku gigit pipi kamu tuh,"


"Heh,"


"Enggak, becanda. Ayo duduk disitu,"


Aldi menggandeng tangan Ara menuju kursi yang tak jauh dari mereka. Tanpa keduanya sadari, beberapa dari warga yang melintas tadi menatap keduanya dengan senyum kecil. Menurut warga keduanya cocok.

__ADS_1


"Pacaran aja kalian," celetuk seorang ibu-ibu setelah keduanya duduk.


"Enggak, bu. Kita temenan aja kok," sahut Ara sopan.


"Kalian cocok tau, kenapa gak pacaran aja?" tanya wanita paruh baya itu lagi.


Ara dan Aldi hanya menggaruk tengkuknya canggung sambil tersenyum tipis saat ibu-ibu itu pamit pergi tanpa menerima jawaban dari pertanyaannya tadi. Ara dan Aldi kembali menatap depan, menatap hamparan kebun teh dan gunung yang berjajar serta matahari yang akan tenggelam.


"Kamu kenapa milih tinggal disini sendirian?" tanya Aldi memulai percakapan tanpa menoleh pada Ara.


"Gak papa, disini tenang dan jauh dari bisingnya kota," jawab Ara.


"Kamu.......melarikan diri?" tanya Aldi hati-hati. Kali ini dia sudah menoleh menatap Ara yang terus menatap matahari tenggelam dengan senyum kecil.


"Lebih tepatnya mengasingkan diri," jawabnya.


"Ada apa?"


Ara menoleh menatapa Aldi dengan kening berkerut, bingung dengan pertanyaan singkat yang dilontarkan Aldi padanya.


"Maksdunya, kenapa mengasingkan diri, dari siapa ?"


"Lalu bagaimana dengan orang-orang yang masih menyayangi mu?"


"Udah gak ada. Ayah dan bunda udah gak ada sebelum aku beranjak dewasa, lalu beberapa bulan yang lalu pun nenek menyusul. Orang-orang yang sayang aku udah gak ada, lalu untuk apa aku tinggal disana, menunggu orang-orang kembali menyakiti ku? Sepertinya tidak, aku perlu menyelamatkan diri," jawab Ara.


"Suami?" tanya Aldi mengingat jawab Ara malam itu di toko kue miliknya.


Ara lagi-lagi menggeleng, "Udah gak ada," jawabnya lagi.


"Tapi Ra, gak semua orang-orang disana membencimu kan? Masih ada yang sayang sama kamu, aku yakin itu. Lalu bagaimana dengan mereka, mereka tau kamu pergi?" tanya Aldi lagi.


Pertanyaan itu sukses membuat Ara terdiam. Pikirannya langsung tertuju pada Kevin, Vio, Gea, Dara, Arsal dan Gio. Mereka orang-orang yang menyayanginya. Iya, masih ada yang menyayanginya disana. Tapi yang menjadi alasan Ara bertahan sudah tak lagi menyayanginya. Alasan Ara tetap berada disana karena Gio tapi sekarang, Gio sudah tak lagi menyayanginya lalu untuk apa Ara masih disana? Sampai sekarang tak ada yang mencarinya dan tak ada yang tahu tempatnya. Ara egois? Yah dia mengakui itu, tapi baginya tidak ada yang salah dari menyelamatkan diri sendiri bukan? Dia juga butuh bahagia dan disana kebahagiaannya sudah hilang, Gio-nya sudah menyakitinya lebih sakit dari sebuah pukulan yang setiap hari Bimo berikan padanya. Bahkan sampai hari ini sakit itu tetap terasa jika dia mengingat laki-laki itu. Dia ingin kembali hidup tenang tampa orang-orang itu.


"Ada saatnya pergi menjadi jalan terbaik," hanya itu jawaban Ara dari pertanyaan panjang Aldi.


"Gak selamanya, Ara. Orang-orang yang menyayangi mu pasti merindukan mu dan khawatir dengan keadaan kamu yang tiba-tiba menghilang seperti ini,"


"Lukanya sudah terlalu parah untuk disembuhkan, Al. Sudah terlalu rusak untuk kembali diperbaiki. Aku hanya ingin menenangkan diri dan kembali mencari bahagiaku. Aku tidak tau suatu saat akan kembali atau tidak yang jelas jika itu terjadi aku harus sudah dalam keadaan baik-baik saja dan siap untuk segala hal yang bakal aku hadapi nanti," jawab Ara panjang lebar.

__ADS_1


Bagi Ara tidak ada toleransi dan pembenaran untuk sebuah perselingkuhan. Ara akan memaafkan kesalahan Gio sebesar apapun itu kecuali perselingkuhan apalagi sampai sudah melakukan hubungan intim. Ara tidak bisa, itu terlalu menyakitkan.


"Kamu yakin sudah tidak ada hal lagi yang tersisa disana. Maksud aku, orang-orang disana sudah tidak punya tanggung jawab sama kamu lagi dalam hal apapun. Kamu udah sepenuhnya bebas dari mereka?" tanya Aldi sukses kembali membungkam Ara.


Perempuan itu diam. Tanggung jawab? Ara tak melupakan itu, masih ada jembatan yang menghubungkan Ara dan Gio. Anaknya, itu yang akan selalu mengikat Ara dan Gio sampai kapan pun. Anaknya kelak akan membutuhkan sosok ayahnya, begitupun dirinya dia akan membutuhkan pasangan. Tapi apa Ara sanggup mengganti posisi Gio? Sepertinya tidak, dia sudah begitu menyayanginya, memberikan sepenuh hatinya untuk laki-laki itu. Bahkan Ara ragu ada orang yang hanya sekedar menggeser tempat Gio dihatinya.


Perlahan Ara menggeleng menjawab pertanyaan Aldi. Bagaimanapun juga, Aldi tidak harus tahu bagaimana kondisinya.


Aldi menepuk pelan puncak kepala perempuan itu membuat Ara menoleh dan menatap tepat pada manik mata coklat milik Aldi.


"Memaafkan memang sulit, Ra tapi ikhlas juga perlu." ujar Aldi.


"Ada beberapa orang yang hadir dalam hidup kita hanya sementara untuk memberi kita pelajaran dan ada yang menetap menemani kita melawan kerasnya dunia," lanjutnya.


"Jangan menyerah, masih banyak yang harus kamu selesaikan. Setelah hati kamu tenang dan bisa memaafkan, kembali ke mereka dan pamit dengan benar."


"Ada beberapa orang yang sayang sama kamu disana, aku yakin itu. Dengan cara kamu pergi tanpa mereka tahu seperti ini, sama saja kalau kamu lari dari kenyataan. Dan itu akan membuat orang-orang yang menyayangimu khawatir dengan keadaan kamu."


"Apapun yang terjadi, sesakit apapun luka yang pernah mereka berikan ke kamu, kita gak tau alasan di balik itu semua. Gak ada orang yang sengaja menyakiti hati orang yang dia cintai, Ara kecuali orang itu memang sudah bosan dan ingin lepas dari kita,"


Ara diam terus mendengarkan dan berusaha menelaah apa maksud dari ucapan Aldi padanya.


"Tenangin diri kamu untuk sementara disini, setelah merasa nyaman dan pergi adalah pilihan kamu, balik lagi dan pamit dengan benar ke mereka. Seenggaknya mereka tau kamu baik-baik saja. Setelah itu, kamu mau hidup sendiri itu jadi pilihan kamu." tutur Aldi panjang lebar.


"Harus kuat, Ara."


"Cantiknya Gio harus kuat"


Tiba-tiba ucapan Gio hari itu terngiang dikepalanya. Dulu jika merasa down seperti ini, Gio yang akan ada untuk menenangkan dan memberikannya nasehat agar tak lemah. Tapi sekarang bukan lagi, sekarang orang lain yang menguatkannya bukan orang yang dia cintai.


Ara menghela nafas pelan lalu mengangguk sekali, "Aku bakal balik tapi entah itu kapan atau mungkin gak sama sekali," ujarnya. Jika orang mengatakan dia pengecut, terserah Ara tidak peduli yang jelas dia hanya ingin ketenangan dan bahagia berdua bersama anaknya kelak.


"Senyamannya kamu aja, aku cuma kasi saran," jawab Aldi lembut.


"Gak ada lagi yang perlu di perbaiki. Seperti kata ku tadi, semuanya sudah terlalu rusak untuk diperbaiki. Aku bukan orang yang terlalu penting dihidup mereka jadi mereka tidak akan pernah merasa kehilangan kalau aku gak ada," ujar Ara.


Aldi diam dan mengangguk sekali. Setidaknya dia sudah memberitahu Ara, urusan Ara mau kembali atau tidak itu pilihannya. Lagipula Aldi tidak tahu masalah Ara seperti apa jadi dia tidak bisa banyak bicara. Bisa saja pilihan Ara memang yang terbaik untuk dirinya sendiri.


"Semuanya sudah selesai," batin Ara.

__ADS_1


...-To be continued-...


__ADS_2