Perjalanan Cinta CEO Muda

Perjalanan Cinta CEO Muda
Part 111. Berkunjung


__ADS_3

Pagi menjelang, jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Gio meraba kasur di sampingnya. Merasakan ruang di sampingnya kosong, mata Gio yang tadi terpejam kini terbuka lebar dengan spontan laki-laki itu bangkit dari tidurnya. Mata Gio menulusuri setiap sudut ruangan hingga berhenti di pintu kamar mandi yang terbuka. Melihat itu, nafas Gio tiba-tiba sesak ditambah kepala yang pening akibat aksi spontannya tadi.


"SAYANG," teriaknya panik.


Tak ada sahutan sama sekali membuatnya semakin panik, dengan segera Gio meraih celana boxernya lalu memakainya dengan tergesa-gesa. Setelah itu, dia berlari keluar kamar sambil terus meneriaki nama Ara.


"Enggak, tadi malam masih tidur sama gue," gumam Gio disela langkahnya mencari Ara.


"SAYANG," teriaknya lagi yang sama sekali tak mendapat sahutan.


Hingga akhirnya, langkahnya terhenti diambang pintu dapur. Seketika Gio menghela nafas lega saat melihat seseorang dengan balutan dress rumahan sebatas paha berdiri membelakanginya. Gio yakin, istrinya itu sedang memasak. Dengan perlahan, Gio mendekat dan memeluk tubuh istrinya dari belakang dengan erat, menciumi bahunya yang terekspos itu. Ara yang diperlakukan seperti itu tentu saja terkejut.


"Kamu udah bangun. Lepas dulu, aku lagi masak," ujar Ara.


"Kenapa ditinggalin?" tanya Gio dengan suara beratnya. Entah kenapa dia sangat-sangat takut jika istrinya itu jauh dari jangkauannya.


"Aku cuma masak Gio gak kemana-mana," jawab Ara.


Gio menyembunyikan wajahnya diceruk leher sangat istri, mendusel-dusel seperti kucing yang membuat Ara terkiki geli.


"Takut ditinggal lagi," sahut Gio apa adanya.


Ara yang mendengar itu terdiam lalu berbalik menatap sang suami yang kini menatapnya sendu. Ditangkupnya kedua pipi Gio dengan gemas lalu mengecup kedua pipi suaminya. Ara tidak tahu ternyata Gio setrauma itu.


"Aku gak akan pergi lagi," ujar Ara begitu lembut, menatap manik mata hitam milik Gio.


"Sekarang kamu mandi, kita ke makam ayah sama bunda setelah ini," ujarnya membuat senyum Gio mengembang.


"Siap bu bos. Aku mandi dulu," pamit Gio lalu berlari keluar dapur setelah berhasil mengecup bibir istrinya. Ara hanya tertawa gemas melihat tingkah Gio.


...πŸ¦‹πŸ¦‹...


Tanah luas yang sekarang mereka pijak semakin menambah aura sepi saat langkah keduanya semakin masuk ke dalam lahan luas dan sepi itu. Gio yang mengenakan jaket berwarna hijau dengan Ara yang mengenakan hoodie milik suaminya itu berjalan sambil bergandengan tangan tanpa mengeluarkan suara.


Semakin masuk ke area pemakaman, semakin erat pula genggaman tangan Ara di tangan besar sang suami. Gio menggenggam tangan istrinya sambil sesekali mengelusnya lembut berusaha menenangkan hati istrinya.


Setelah beberapa menit berjalan, langkah keduanya berhenti pada dua makam yang terlihat sudah lama. Di dua nisan yang saling berdampingan itu, Gio bisa melihat jelas nama yang tertera disana. Aditama dan Aura, itu makan kedua orang tau istrinya sekaligus mertuanya.


"Assalamu'alaikum ayah bunda, Ara datang," ucap Ara pelan melepas genggaman tangan Gio dan duduk berjongkok sembari meletakkan dua buket bunga mawar putih yang dia beli tadi di atas makan ayah dan bundanya.


Gio masih berdiri menatap bergantian pada dua makam itu dan juga istrinya. Gio tak mengatakan apa-apa, dia hanya diam memberi Ara ruang untuk melepas rindu pada orang tuanya.


"Maaf Ara baru kesini lagi. Kemarin-kemarin Ara sibuk, Ara minta maaf," ujarnya pelan mengusap batu nisan sangat ayah.


"Ayah sama bunda pasti taukan kalau Ara udah punya anak?" tanya Ara dengan senyum tipis dan mata berkaca-kaca.


"Tapi anak Ara udah nyusul bunda sama ayah, kalian ketemu dia gak?" tanya Ara lagi dengan suara bergetar.


Mendengar suara istrinya yang bergetar menahan tangis, Gio ikut berjongkok dan mengelus punggung sang istri. Ara menghapus air matanya yang sempat menetes lalu meraih tangan Gio untuk digenggam.


"Oh iya, ini suami Ara sekaligus ayah dari anak Ara," ucapnya memperkenalkan Gio seolah berhadapan langsung dengan wujud kedua orang tuanya. Gio tersenyum tipis, sebangga itukah Ara memilikinya. Ah bahkan Gio jauh lebih bangga dan merasa beruntung memiliki Ara.


"Ayah jangan benci sama dia ya, semuanya salah paham dan Ara yang gak becus jaga dede bayi makanya jadi gini," ucapnya lagi.


"Ara sayang suami Ara, Yah dan doakan Ara biar bisa jadi istri yang baik dan bunda yang baik sama kayak bunda," ujarnya lirih.

__ADS_1


Setelah itu tak ada lagi yang dikatakan perempuan itu, dia terdiam cukup lama. Gio menatap makam itu dalam diam tapi percayalah, dalam hatinya dia mengucapkan beribu maaf dan terima kasih. Maaf karena pernah menyakiti putri mereka dan terima kasih karena sudah menghadirkan dan mendidik Ara menjadi perempuan tanggung dan cantik seperti yang dia kenal sekarang. Tak lupa juga dia meminta restu dari kedua orang tua istrinya itu.


"Saya janji akan terus membahagiakannya, apapun yang terjadi," batin Gio.


...🌸🌸...


"Mau makan apa?" tanya Gio pada Ara yang sibuk menikmati suasana sore sambil bersandar pada bahu kokoh suaminya.


Keduanya sedang berada diperjalanan setelah berkunjung ke makam kedua orang tuanya. Dengan menggunakan motor matic scoopy nya, keduanya begitu menikmati udara sore hari ini. Kebetulan cuaca hari ini begitu mendukung, tidak mendung tapi tidak terik juga.


Ara mengeratkan pelukannya pada pinggang Gio dan semakin mencari kenyamanan di bahu kokoh sang suami.


"Kamu mau makan atau langsung pulang?" tanya Gio sekali,lagi saat tak mendengar respon dari istrinya.


"Hah?" teriak Ara.


"Budek," dumel Gio.


"Aku gak budak ya," kesal Ara mencubit perut suaminya.


Gio terkekeh pelan, giliran hal-hal jelek saja istrinya bisa cepat tanggap sedangkan pertanyaannya tadi diabaikan Ara. Gio terdiam beberapa saat sebelum dikejutkan dengan tepukan Ara pada bahunya.


"Belok kanan, Gii," perintah Ara tiba-tiba. Meski terkejut bercampur bingung, Gio tetap mengikuti keinginan istrinya itu. Untung saja dia membawa motor dengan pelan jadi tak masalah jika dirinya tiba-tiba mau berbelok.


Setelah berbelok masuk ke gang perumahan yang Gio yakini 100% itu adalah perumahan elit dilihat dari rumah yang berjejer. Kening Gio berkerut, namun setelah memperhatikan lebih jelas jalanan yang dia lalui, dia tau kemana Ara akan membawanya. Gio hanya ikut saja, yang penting istrinya tidak terganggu dan bahagia, dia akan ikuti kemauan Ara. Motornya berhenti dihalaman luas rumah besar tersebut. Ara dengan tergesa-gesa turun dari motor hendak masuk kedalam rumah tersebut.


"Pelan-pelan sayang, Rania gak bakalan hilang dari rumahnya," peringatan Gio setelah berhasil mengejar langkah istrinya.


Ara menyengir pada Gio yang langsung disambut Gio dengan senyum tipisnya. Laki-laki itu mengelus puncak kepala Ara dengan sayang.


Yah, Ara membawa Gio ke rumah Rania. Tidak ada alasan tertentu, dia hanya ingin bertemu dengan bumilnya itu, dia ingin melihat bagaimana keadaan adiknya dan calon keponakannya.


"Rania," teriak Ara saat berhasil menyelonong masuk, tidak papa, ini rumahnya juga kok. Yah terserah Ara saja.


"Nia..."


"Jangan teriak-teriak ini rumah orang," peringatan Gio lagi.


Perempuan itu menghadap Gio sambil berkacak pinggang, "Kamu juga kemarin datang kesini, nyelonong masuk terus banting pintu," sahut Ara.


"Oh jadi kamu liat aku datang,"


"Iya liat, tapi gak mau ketemu karena masih marah,"


"Terus sekarang?"


"Aku...."


"Ara," panggilan itu berhasil menghentikan perdebatan keduanya, Ara berbalik menatap Rania yang juga menatapnya.


"Nia, gimana kabar dede bayi?" tanya Ara berjalan mendekat kearah Rania yang masih terdiam ditempatnya, menatap bergantian pada Ara dan Gio.


"Baik," jawabnya.


"Kamu kemana aja, Bisma udah nyari kamu dari kemarin. Kenapa sekarang baru pulang, udah gak ingat kamu punya rumah?" tanya Rania sedikit kesal.

__ADS_1


Ara tertawa pelan lalu memeluk tubuh adiknya sekilas. Tak sampai di sana, dia juga mengelus perut buncit Rania.


"Dede bayi gimana?" tanya Ara tak menghiraukan ucapan Rania.


"Jangan ngalihin pembicaraan, dan apa itu? Kenapa kamu jadi bareng dia?" tanya Rania melirik Gio yang masih berdiri ditempatnya.


Ara menoleh menatap suaminya dengan senyum tipis lalu menarik Gio mendekat padanya.


"Kenalin, Gio pratama ananda, suami aku," ujar Ara dengan bangga.


Mata Rania melotot terkejut mendengar penuturan Ara. Menikah? Sejak kapan, bahkan dia sendiri tidak tahu. Melihat reaksi Rania, Ara kembali tersenyum.


"Kita nikah kemarin, kecil-kecilan doang. Soalnya masih belum dapat restu," ujar Ara menjawab kebingungan Rania tapi itu justru semakin membuat adiknya itu terkejut.


"KALIAN KAWIN LARI?" tanya Rania tidak santai.


"Bisa dibilang seperti itu," jawab Ara.


"KOK BISA?" tanya Rania lagi. Bumil satu itu melirik Gio yang hanya diam dengan wajah datar dan raut dinginnya. Ingatkan Rania jika dia adalah salah satu orang yang dibenci Gio jadi dia tidak akan berharap Gio ramah padanya sekalipun dia sudah menikah dengan Ara, kakaknya.


"Duduk dulu," Ara menarik Rania untuk duduk disofa. Gio mengikuti saja dan duduk disamping Ara seperti anak ayam yang terus mengikuti induknya.


Setelah duduk dengan baik, Ara menceritakan semua yang sudah terjadi. Rania diam mendengarkan dengan seksama. Raut bersalah terlihat jelas diwajah cantiknya ketika dulu dia dan Ken berniat memisahkan keduanya dengan cara menjijikan seperti itu.


"Maaf," ujar Rania pelan.


"Maaf karena dulu begitu jahat ke kalian," ucapnya tulus.


Ara mengangguk dan mengusap tangan Rania yang sedari tadi dia genggam. Sedangkan Gio hanya diam sambil terus memperhatikan keduanya, oh ralat, sedari tadi dia hanya memperhatikan wajah cantik istrinya yang semakin hari semakin membuatnya jatuh cinta.


"Emang jahat," celetuk Gio setelah beberapa menit terdiam.


...-To be continued-...


Hai Author balik lagi setelah lama menghilang, heheh maafkan yaa.


Jadi disini aku mau cerita dikit.


Sebenarnya tuh aku udah ketik part ini beberapa hari yang lalu, tapi karena sempat gak enak badan dan padatnya jadwal, aku jadi lupa.


Oh iya, part ke depan akan lebih banyak cerita kehidupan Ara dan Gio setelah menikah, tantangan serta kerikil-kerikil kecil dalam pernikahan mereka. Mau tau apa aja? ikutin terus.


Satu lagi, jangan lupa like dan komennya yaa. Kalau aku lupa lagi, kalian bisa ingetin kok.


Terima kasih masih bertahan, temani Aku, Gio dan Ara sampai penghujung cerita yaa. Thank you so much, Love kalian.


See you next chapter.


Jaga kesehatan kalian dimana pun kalian berada.


Aku kasi bonus nih



__ADS_1


__ADS_2