
...---Happy reading---...
Gio menarik Ara pelan masuk kedalam apartemennya lalu menyuruh gadis itu duduk disampingnya. Gio menatap Ara lekat, sedari tadi jika ditanya ada apa Ara hanya diam dan menggeleng pelan membuat Gio benar-benar kesal. Sudah dibilang Gio tidak suka dibohongi dan Gio tipe orang yang susah dibohongi tapi Ara yang keras kepala ini membuat Gio benar-benar frustasi. Bagaimana tidak khawatir, Gio sudah melihat sendiri perlakuan orang-orang itu kepada gadisnya ini, dia takut mereka melakukannya lagi dan membuat Ara terluka lebih parah.
"Buka sendiri atau aku yang buka", kata Gio menatap Ara dingin.
"Udah gak usah. Gak papa Gio", kata Ara berusaha tenang.
"Aku gak percaya", kata Gio lagi menatap Ara tajam.
Ara meneguk salivanya kasar melihat Gio yang sepertinya marah padanya.
"Aku mau kerja", kata Ara hendak beranjak namun tangannya langsung dicekal Gio membuat pergerakannya terhenti.
"Oke aku yang buka", kata Gio memaksa Ara duduk lalu melepas dengan paksa hoodie Ara.
"Gio...", kesal Ara. Bukan hanya kesal tapi juga gugup dan khawatir jika terjadi apa-apa. Ara yakin punggungnya itu memar dan jika Gio lihat, dia akan bertanya lebih jauh dan tidak mungkin Ara mengatakan yang sebenarnya. Satu lagi, ini di apartement dan mereka hanya berdua. Bukannya apa-apa, Ara percaya pada Gio tapi tidak ada salahnya berjaga-jaga kan.
Setelah berhasil melepas hoodie Ara, Gio yang hendak menyingkap baju bagian belakang Ara terhenti karena tangan mungil Ara menahannya.
"M-mau ngapain?", tanya Ara gugup
"Liat, gak bakal macam-macam", kata Gio datar.
"Enggak usah, Gio. Ini gak papa kok", kata Ara keras kepala.
"Liat",
"Enggak mau",
"Liat, Ara", kesal Gio.
Dengan menghela nafas pelan, Ara perlahan melepas tangannya yang menahan Gio. Percuma dia menahan, laki-laki ini akan memaksa sampai Ara mau. Dengan menahan malu setengah mati, Ara membiarkan Gio menyingkap bajunya dan melihat apa yang terjadi pada punggungnya.
Mata Gio terbelalak melihat punggung Ara yang memerah dan memar, tangannya terkepal menahan amarah. Dengan kasar Gio kembali menurunkan baju Ara lalu membalikkan tubuh gadis itu sedikit kasar.
"Bilang", kata Gio singkat. Ara mengerutkan kening tak mengerti.
"A-apa?", tanya Ara bingung
__ADS_1
"Bilang siapa yang lakuin itu", kata Gio menuntut.
"Gak papa, jangan dibahas", kata Ara menggeleng pelan.
"Bilang Ara", kata Gio menahan geram.
"Jatuh di kamar tadi", alibi Ara. Gio terus menyorotnya dengan tatapan tajam membuatnya takut menatap mata laki-laki itu.
"Gak percaya", Gio tetap teguh pada pendiriannya.
Ara menghela nafas pelan lalu menerjang tubuh Gio sampai akhir keduanya terbaring diatas sofa dengan posisi Ara yang menindih tubuh Gio.
"Aku gak papa", kata Ara memeluk Gio. Jantung keduanya berdetak lebih cepat dan itu bisa mereka rasakan masing-masing. Sebenarnya Ara malu melakukan ini tapi jika tidak begini, Gio tidak akan berhenti bertanya.
Tangan Gio terangkat membalas pelukan Ara dan sesekali mencium puncak kepala Ara yang bersandar pada dada bidangnya.
"Habis kebentur apa?", tanya Gio. Ara hanya diam tak ingin membahas itu lagi.
"Gak mau cerita hm ?", tanya Gio yang kembali melunak. Tangannya bergerak mengusap rambut panjang Ara.
Ara hanya diam tak membalas, dia benar-benar belum siap atau bahkan tidak akan pernah siap menceritakan ini pada Gio.
Saat Ara hendak melepas pelukannya, Gio justru tidak ingin lepas dan mempererat pelukannya.
"Kamu gak masuk hari ini", kata Gio.
"Tapi Gio..."
"Aku bosnya", potong Gio cepat.
Ara mendengus kesal tapi benar juga, jadi dia hanya diam dan tak membantah sama sekali.
"Ya udah tapi lepas dulu, kamu harus istirahat", kata Ara hendak melepaskan diri.
"Gini aja. Temani aku tidur bentar", kata Gio mempererat pelukannya sambil memejamkan mata, lagi dan lagi Ara hanya mampu menghela nafas pelan, laki-laki yang sedang memeluknya ini memang pemaksa dan Ara hanya dapat mengikutinya.
"Sakit?", tanya Gio lembut membuat Ara mengangguk pelan.
"Sini aku usapin biar gak sakit lagi", lanjutnya. Tangannya sudah bergerak mengusap punggung Ara dengan lembut dengan bibir yang tak henti mencium puncak kepala Ara.
"Gio sayang Ara", bisiknya.
__ADS_1
...---🌻🌻🌻---...
"Kakak kamu belum pulang", kata Muti menahan tangan seorang gadis yang hendak menaiki tangga menuju kamar Ara.
"Nia gak peduli", kata gadis itu. Dia Rania, hari ini dia datang mencari Ara untuk meminta uang. Ayahnya memotong uang jajannya karena nilainya yang menurun.
"Nia, kamu gak boleh gitu", kata Muti berusaha menyusul Rania yang sudah menaiki tangga satu persatu.
"Nia butuh uang nek. Nia pinjam kok, bukan ambil", kata Nia lagi.
Setelah sampai didepan pintu dengan hiasan nama Ara, tanpa pikir panjang Rania langsung menerobos masuk dan mencari apa yang dia inginkan.
"Dimana nek ?", tanya Rania.
"Nenek gak tau", sahut Muti.
"Nenek yang bilang sendiri atau Nia yang cari", kata Rania lagi menatap penuh ancaman pada ibu dari ayahnya itu.
Muti menghela nafas pelan lalu menarik Ara keluar dari kamar Ara. Cucunya yang satu ini memang keras kepala, dia tidak akan berhenti sampai dia menemukan apa yang dia inginkan. Muti terus menarik Nia sampai dilantai satu membuat Rania benar-benar murka.
"Apa sih nek", kesal Rania menghentak tangannya kasar.
Muti menghela nafas pelan melihat sikap cucunya yang satu ini, dulu Rania dan Ara begitu dekat tapi sekarang ? Bagi Rania, Ara hanyalah musuhnya bukan adiknya. Entah apa yang menyebabkan itu, Muti juga tidak tahu yang jelas dia benar-benar tidak suka akan sikap kasar Rania pada Ara, cucu kesayangannya.
Muti beralih masuk kedalam kamarnya lalu beberapa menit kembali lagi dan menatap Rania teduh. Dia tidak pernah membeda-bedakan cucu-cucunya hanya saja itu terlihat berbeda karena Ara yang tidak memilik orang tua dan hidup dengannya mungkin itu yang membuat mereka menganggap Ara lebih diistimewakan. Muti menyerahkan beberapa lembar uang seratus kepada Rania. Uang yang Ara berikan kemarin terpaksa Muti berikan pada Rania agar gadis ini tidak menghabiskan uang adik sepupunya itu. Muti kadang kasian dengan Ara yang harus bekerja keras sendirian tapi hasilnya selalu dia bagi seperti ini, bahkan bukan hanya dirinya kepada adik sepupunya juga Ara berikan jika mereka memaksa seperti ini.
Rania tersenyum senang lalu mengambil apa yang Muti berikan.
"Kenapa gak dari tadi", kata Rania girang.
"Itu uang gajian Ara bulan ini, kamu jangan minta lagi sama dia", kata Muti memperingati.
"Iya", sahutnya cuek sambil memasukkan uang yang dia dapat kedalam tas jinjing nya.
Muti hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap Rania. Lalu tanpa permisi gadis itu berbalik dan meninggalkan Muti yang masih menatapnya dalam diam.
Tepat didepan pintu rumah minimalis itu saat Rania baru saja membuka pintu, Rania dikejutkan dengan kedatangan seorang laki-laki dengan balutan jaket denim berwarna hitam dan celana berwarna senada yang juga menatapnya tak kalah terkejut. Rania menatap laki-laki itu dari atas sampai bawah lalu kembali menatap tepat dimata laki-laki itu.
"Kamu......"
...---To Be Continued---...
__ADS_1