
Ara duduk didepan tokonya, menatap orang-orang yang satu persatu datang dan duduk memilih meja yang memang disediakan disana. Kata Aura, dia sengaja menambah beberapa meja dan kursi saat Ara dirawat karena pengunjung yang mulai bertambah. Banyak dari kalangan anak muda yang datang setiap malam minggu hanya sekedar menghabiskan waktu di tokonya itu, terlebih view saat malam hari benar-benar cocok untuk menghabiskan waktu di sana. Perkembangan toko Ara cukup pesat, Aura menambah beberapa kursi dan meja, menu utama juga bukan hanya sekedar kue. Sudah ada beberapa makanan dan cemilan seperti pada cafe umumnya. Toko Ara sudah disulap menjadi mini cafe yang menjadi tempat langganan anak muda beberapa hari ini.
"Masuk, Ra. Udara malam gak bagus buat kamu," kata seseorang yang sudah berdiri disampingnya.
Ara mendongak menatap Aldi yang kini juga menatapnya. Selama datang kesini, laki-laki itu rutin mengunjunginya setiap malam. Ara hanya diam lalu kembali mengalihkan pandangannya pada beberapa pasang anak remaja yang datang malam ini. Ara jadi mengingat Gio lagi. Entah bagaimana caranya Ara bisa melupakan laki-laki itu. Rasanya begitu sulit jika harus melenyapkan Gio dalam pikirannya. Ara menghela nafas pelan, setiap mengingat Gio, dia juga akan selalu ingat dengan anaknya. Yah, anaknya dengan Gio. Anak yang beberapa hari lalu masih ada dalam perutnya tapi sekarang, dia sudah tidak ada. Ara mengelus perut ratanya, rasanya masih seperti mimpi. Kehilangan yang terus menerus yang dialaminya, berhasil memporak-porandakan kehidupannya. Setelah kehilangan ayah dan bundanya, saat itu juga hidupnya tak pernah baik-baik saja, selalu ditinggalkan dan disakiti. Kadang Ara berfikir, sebenci itukah Tuhan padanya hingga selalu mengambil apa yang dia miliki dalam hidup. Permintaan Ara tak banyak, dia hanya ingin hidup tenang dan bahagia seperti orang lain. Entah dosa apa yang sudah dia lakukan dimasa lalu sampai Tuhan memberikannya hukuman seberat ini.
Aldi yang melihat Ara kembali melamun dengan tangan yang mengelus perutnya, menghela nafas pelan. Sudah ribuan cara Aldi dan Aura lakukan untuk menghibur Ara, mengembalikan perempuan itu seperti semula, namun sama sekali tidak ada yang berhasil. Semuanya sama saja, Ara tetap tak mau berbicara banyak.
"Dia sedih kalau liat kamu sedih terus kayak gini," ucapan Aldi berhasil mengalihkan atensi Ara.
Kata-kata seperti itu selalu dia dengar disaat orang lain menenangkannya, tapi ucapan itu juga yang selalu bisa membuatnya bangkit. Dia memang tipe orang yang tak mau membuat orang-orang yang disayanginya merasa sedih.
"Dede bayi kamu, bunda dan ayah kamu bakal sedih liat kamu gini terus," kata Aldi lagi.
"Terus aku harus gimana, tidak ada lagi yang menjadi sumber kebahagiaan aku," jawab Ara. Itu adalah kalimat terpanjang yang dia keluarkan setelah kejadian beberapa hari yang lalu.
"Aku tau semuanya berat, Ra. Tapi gak sepantasnya juga kita berlarut dalam kesedihan," sahut Aldi.
Laki-laki itu menarik kursi lalu duduk di samping Ara, menatap perempuan yang kini juga menatapnya dengan tatapan sayunya.
"Hukum alam memang selalu seperti itu, Ra. Ada saatnya orang-orang akan pergi dan ada saatnya orang-orang akan datang. Itu yang namanya siklus kehidupan," ujar Aldi.
"Contohnya gini, hari ini kamu sama aku, besok kita gak tau aku yang pergi atau kamu yang pergi. Entah itu pergi ke daerah lain atau pergi menuju tak terbatas,"
__ADS_1
"Tak terbatas?" tanya Ara pelan.
Aldi mengangguk mengiyakan sebelum berkata, "Keabadian. Tempat dimana kita tidak akan kemana-mana lagi. Tempat terakhir kita setelah di dunia,"
"Dunia ini penuh dengan sandiwara, teka-teki dan ujian. Kalau gak ada itu, bukan hidup namanya. Seperti yang aku bilang tadi, people come and go. Gak ada yang selamanya, dan itu semua adalah ujian."
"Sebagai manusia kita diharuskan menerima dan menjalaninya seikhlas mungkin. Jangan pernah merasa sendiri, karena meskipun tidak ada manusia disamping kamu, masih ada Tuhan yang selalu ada sebagai tempat kita kembali dan berkeluh kesah,"
"Tapi Tuhan gak sayang aku, Al. Dia ambil semua orang yang aku sayang."
Ara menghela nafas pelan lalu mendongak menatap bintang yang berhamburan di langit.
"No, jangan pernah sekali-kali berfikir seperti itu, Ra. Tuhan kasi kamu ujian karena Tuhan tau kamu yang paling bisa jalani ini, bukan orang lain," sahut Aldi tegas.
"Cobaan orang mungkin memang tidak seberat kamu, tapi pundak orang lain juga tidak akan sekuat kamu. Banyak orang diluar sana yang bahkan ujiannya jauh lebih berat dari kamu," lanjut laki-laki berhoodie coklat itu.
"Lihat itu," Aldi menunjuk bintang paling terang diantara bintang yang lainnya. Ara mengikuti arah telunjuk Aldi.
"Dia ada disana, melihat kamu, menjaga kamu, dan selalu tersenyum dari atas sana. Dia lebih dulu pergi untuk menyiapkan rumah untuk mama dan papanya kelak di surga," kata Aldi.
Ara menoleh menatap Aldi yang kini juga menatapnya dengan senyum kecil. Ara sedikit lebih tenang setelah mendengar beberapa kalimat yang Aldi lontarkan untuk menenangkannya.
"Terima kasih sudah mengingatkan aku," kata Ara tulus.
__ADS_1
"Ayo dong mama muda, bangkit lagi. Hadapi lagi dunia yang kayak anjg ini. Kamu gak akan pernah bisa hadapi dunia yang keras kalau kamu melemah seperti ini," ujar Aldi menyemangati.
Ara terkekeh pelan melihat Aldi yang sudah mengepalkan kedua tangannya dan mengangkatnya tinggi-tinggi memberi Ara semangat.
"Terima kasih," ujar Ara lagi.
Aldi ikut terkekeh, lalu mengacak rambut Ara, lalu menarik tudung hoodie perempuan itu untuk menutup kepala Ara. Angin malam di sini lebih sejuk dari angin malam yang ada di kota. Aura yang berada didalam toko tersenyum tipis melihat interaksi keduanya. Mata cantik perempuan itu mengamati Aldi dengan lekat, lalu senyum manisnya mengembang begitu saja.
"Masuk, angin malam gak baik buat kamu," perintah Aldi yang diangguki Ara. Perempuan itu masuk kedalam toko dan membantu Aura. Meski sudah dilarang, tetap saja bukan Ara namanya jika tidak keras kepala.
"Apa lo?" tanya Aldi sini pada Aura yang terus menatapnya dengan senyum tertahan. Aldi duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan Aura. Perempuan itu sedang memegang pulpen dan sebuah buku, entah apa yang akan dia lakukan Aldi pun tidak tahu.
"Apaan sih, datang-datang langsung ngegas," sahut Aura.
Keduanya baru kenal beberapa hari ini tapi entah kenapa, jika keduanya bertemu hanya ada pertengkaran yang tak pernah memiliki ujungnya.
"Ngapain lo senyum-senyum liatin gue?" tanya Aldi membuat Aura mendengus kesal.
"PD banget," sahutnya sini.
"Lo ya...."
"Kalau kalian bertengkar terus, Nanti aku seret ke penghulu," teriakan dari arah dapur membuat perdebatan keduanya terhenti.
__ADS_1
Aura dan Aldi saling menatap lalu beberapa detik kemudian, senyum keduanya mengembangkan begitu saja.
...-To be continued-...