Perjalanan Cinta CEO Muda

Perjalanan Cinta CEO Muda
Part 97. Bersama Rania


__ADS_3

"Balik yuk, Ra?"


Pertanyaan itu membuat Ara sukses terdiam dan langsung berubah datar. Dia tidak suka arah pembicaraan Rania sekarang.


Ara diam lalu beralih menatap perut Rania. Mengelus perut adiknya itu dengan lembut. Kentara sekali tidak ingin membahas lebih jauh lagi keinginan Rania.


"Assalamu'alaikum ponakan aunty," sapa Ara pada anak diperut Rania.


Rania menghela nafas melihat tingkah Ara. Rania tahu, Ara tidak mau membahas itu. Pandangan Rania beralih pada Bisma yang sedari tadi sibuk mengamati keduanya. Bisma paham betul tatapan itu. Bisma hanya mengangguk sekilas membuat Rania lagi dan lagi menghela nafasnya pelan.


"Mau jalan-jalan," kata Rania.


"Kamu istirahat dulu, kita baru sampai," sahut Bisma cepat. Dia takut Rania memaksakan diri dan berakibat buruk pada dirinya dan juga calon anaknya nanti.


"Gak mau, gak capek," kata Rania merajuk.


Ara terkekeh pelan lalu menatap adiknya dengan tatapan teduh. "Kamu istirahat dulu, nanti sore kita jalan berdua," kata Ara berusaha membujuk.


"Benar ya,"


"Iya bener. Aku ke toko dulu, kamu istirahat. Nanti sore aku ajak kamu jalan," lanjut Ara beranjak dari duduknya dan menarik Rania pelan menuju salah satu kamar yang ada disana.


"Kamu masuk, jagain dia. Nanti aku balik lagi," kata Ara pada Bisma yang langsung diangguki laki-laki itu.


Bisma berjalan masuk kedalam kamar setelah Ara tak lagi terlihat. Sesampainya didalam kamar, Bisma melihat istrinya sedang melamun.


"Mikirin apa?" tanya Bisma duduk disamping Rania.


Bumil itu tak langsung menjawab, dia hanya memeluk Bisma erat. Bisma menepuk punggung istrinya pelan.


"Dia cuma butuh waktu," ucap Bisma berusaha menenangkan. Paham betul perasaan Rania.


"Tapi gimana kalo dia gak mau dengar sama sekali?" Rania mendongak tanpa melepas pelukannya.


"Pasti mau, kamu jangan khawatir yaa nanti aku bantu bicara. Dia cuma butuh waktu sebentar lagi aja," jawab Bisma setelah mendaratkan satu kecupan dikening sangat istri.


"Sekarang bumilnya aku istirahat dulu. Nanti sore kamu boleh kemana aja," perintah Bisma.

__ADS_1


"Mau sama kamu," kata Rania mengeratkan pelukannya.


"Duhh manjanya, istri siapa sih?" kata Bisma terkekeh pelan lalu membaringkan tubuh Rania. Detik berikutnya, dia juga ikut berbaring disamping Rania dan memeluk perempuan itu.


"Tidur," perintah Bisma yang diangguki Rania.


Rania menutup matanya untuk mengistirahatkan tubuhnya sejenak. Namun, belum cukup lima menit memejamkan mata, dia kembali membukanya membuat Bisma mengerutkan keningnya.


"Kenapa?" tanya Bisma yang sedari tadi tak lepas memandang wajah istrinya.


"Jangan ditinggal," ujar Rania yang terdengar seperti perintah. Bisma terkekeh pelan lalu mencium pipi Rania yang mulai berisi.


"Iya sayang. Kamu tidur aja, aku gak bakal ninggalin,"


...❤❤...


Sore ini, Ara dan Rania sedang berjalan-jalan disekitar desa yang sudah beberapa tahun ini menjadi tempat tinggal Ara. Keduanya berjalan beriringan dengan Rania yang terus memeluk erat lengan Ara.


"Capek," keluh Rania.


"Enggak, duduk situ aja dulu." tunjuk Rania pada sebuah bangku taman yang terletak di trotoar jalan.


Bumil dengan balutan dress rumahan itu menarik Ara untuk duduk disampingnya.


"Pulang aja kalo kamu gak kuat, ini kita juga udah terlalu jauh," kata Ara khawatir dengan kondisi Rania.


"Cerewet ya ibunya. Enggak, Ra. Ini belum seberapa kok," kata Rania terkekeh pelan.


Ara hanya mampu menghela nafas pelan, Rania memang sekeras itu jadi mau tidak mau dia harus mengikuti perkataan Rania. Terlebih lagi Rania memang sedang sensitif efek hormon ibu hamilnya.


Keduanya duduk menikmati udara sore hari ini. Ara tiba-tiba teringat tentang percakapannya dengan Bisma tadi siang saat Rania masih tertidur lelap.


"Balik, Ra. Banyak hal yang sebenarnya tidak sesuai dengan apa yang terjadi. Sebuah kesalahan pahaman akan merusak segalanya kalo tetap dibiarkan seperti ini. Banyak hal yang tidak terjadi seperti semestinya tapi kamu menganggap itu adalah kenyatannya,"


Kalimat itu terus berputar di otaknya, apa yang sebenarnya tidak dia ketahui dan apa yang sebenarnya terjadi. Apa selama ini dia hidup dalam kesalahpahaman yang tidak seharusnya terjadi. Apa ada sesuatu yang memang tak seperti yang dia bayangkan dan butuh untuk diperbaiki?. Begitu banyak pertanyaan yang muncul dalam kepalanya, tapi tak membuat rasa sesak dan rasa benci itu hilang begitu saja. Jauh didalam lubuk hatinya, dia penasaran dengan apa yang dimaksud Bisma tapi disisi lain, dia juga sudah terlanjur membenci dan tidak ingin kembali ke masa itu lagi. Semuanya sudah terlalu menyakitkan jika harus diulang, toh Gio sudah berkeluarga dan mungkin sudah memiliki anak lalu apa yang harus dia harapkan.


"Beneran gak mau balik sama aku?" pertanyaan dari Rania membuat Ara tersadar dari lamunannya.

__ADS_1


"Untuk apa?" tanya Ara pelan.


"Gak ada gunanya kan aku balik, aku juga udah merasa bahagia hidup sendiri disini," lanjut Ara.


"Mau sampai kapan kamu lari kayak gini, kamu takut menghadapi semuanya?" tanya Rania.


"Apa yang harus ditakutkan?" tanya Ara balik.


"Terus kenapa kayak gini terus, pulang yah, kita perbaiki semuanya sama-sama, banyak yang harus kita perbaiki disana," bujuk Rania, berharap Ara luluh.


"Udah gak perlu, Nia," jawab Ara.


Ara menghela nafas pelan lalu menatap Ara yang tak mau menatapnya. Dia ingin sekali Ara pulang bersamanya, menjalani hidup seperti dulu dan mengejar mimpinya lagi.


"Rumah ayah sudah aku ambil alih lagi," kata Rania. Ara langsung menoleh dengan cepat pada Ara.


"Iya, berkat bantuan Bisma. Dua tahun yang lalu aku tinggal sendiri disana, sampai akhirnya Bisma lamar aku dan kita nikah. Kata Bisma biarkan saja rumahnya kosong, nanti kalau kamu balik bisa kamu tempatin. Tapi seseorang lagi dan lagi berhasil mendapat celah dan mengambil alih rumah itu," ujar Rania panjang lebar.


"Siapa?" tanya Ara.


"Gea udah gak ada, Ra," sahut Rania tanpa menjawab pertanyaan yang dilontarkan Ara.


Mendengar itu, Ara terkejut bukan main. Jangan bilang Gea yang Rania maksud adalah Gea Kiara Ananda, adik kesayangan dari seseorang yang dulu dia cintai.


"Iya, Gea Kiara Ananda. Adik dari....," Rania menggantung ucapannya tak ingin menyebut nama Gio dihadapan Ara.


Ara menghela nafas pelan, hatinya berdenyut nyeri. Ternyata banyak hal yang terjadi diluar pikirannya selama ini. Dia tidak tahu keadaan Gea, jujur dia rindu dengan gadis manis itu tapi banyak hal jadi pertimbangannya jika harus kembali. Bagaimana Gea bisa pergi menyusul ayah dan bundanya kekeabadian, apa dia sakit atau kenapa?. Lalu tiba-tiba bunda Vio dan ayah Kevin terlintas begitu saja dipikiran gadis itu. Bagaimana keadaan mereka sekarang, apa mereka baik-baik saja atau tidak. Dia ingin sekali menemui keduanya tapi apakah bisa?


"Benar-benar gak mau balik?" tanya Rania.


"Seenggaknya kalo bukan karena Gio, kamu balik karena aku, bunda atau ayahnya Gio. Mereka udah kehilangan kamu dari lama dan kemudian mereka kehilangan Gea. Kamu pikir sendiri bagaimana keadaan mereka,"


"Mereka menyayangi kamu tanpa sebab dan tanpa tapi, Ra."


Kalimat itu berhasil membuat Ara semakin terdiam dengan pikiran yang melambung jauh.


...-To be continued-...

__ADS_1


__ADS_2