Perjalanan Cinta CEO Muda

Perjalanan Cinta CEO Muda
Part 20. Sehari tanpa Gio


__ADS_3


Kita santai-santai aja dulu, jangan konflik berat-berat dulu, kita pemanasan, konfliknya bakal muncul satu persatu di part berikutnya.


...---Happy reading---...


Setelah mengenal Gio beberapa hari belakangan, ini ada adalah hari pertama yang Ara lewati tanpa melihat Gio di pagi hari. Biasanya di jam seperti ini, laki-laki itu datang menjemputnya menuju kampus tapi hari ini berbeda, subuh tadi dia mendapat pesan dari laki-laki itu jika dirinya akan segera berangkat bersama ayahnya, dan untuk beberapa hari kedepan Ara akan menjalani hari-harinya sendirian seperti sebelum dia mengenal Gio.


Ara melangkahkan kakinya menyusuri koridor kampus dengan pikiran yang selalu penuh akan laki-laki itu. Baru beberapa hari ini mereka bertemu lalu dekat tapi kedekatan mereka sudah seperti---ah sudahlah Ara tidak ingin berekspektasi tinggi.


Tapi memang benar adanya, kedekatan mereka sudah layaknya dua orang yang saling mengenal lama dan begitu dekat. Pasalnya setiap pagi Gio akan menjemputnya, mengajaknya makan, selalu memberikan kabar seperti tadi subuh dan selalu mengantarnya pulang. Bukankah itu sudah tidak dikatakan hanya saling mengenal ?. Dan salahkah jika setiap perlakuan manis laki-laki itu membuat Ara berharap lebih. Sebab selain dengan neneknya, hanya dengan Gio gadis itu merasa begitu di sayang.


Ara menghela nafas pelan, rasanya tidak akan mungkin harapannya menjadi kenyataan. Status sosial, kehidupan, dan derajat yang jauh berbeda secara bersamaan juga ikut menampar Ara agar tak memupuk harapannya semakin besar. Sebisa mungkin Ara mengendalikan rasa itu agar tidak semakin membuatnya sakit nanti.


Sebuah tangan yang tiba-tiba merangkulnya membuat Ara tersadar dari lamunannya lalu menoleh menatap sang pelaku. Ara menghela nafas kasar lalu menepis tangan laki-laki yang dengan berani merangkulnya.


"Lepas", kata Ara.


"Gue heran sama lo, kenapa sih lo selalu bersikap kayak gitu ke gue sedangkan ke orang lain enggak", sahut laki-laki yang tak lain Ken.


"Kamu bisa gak sih, sehari aja gak ganggu aku", kesal Ara. Sungguh, rasanya dia ingin pergi dan jika perlu tak lagi bertemu dengan laki-laki dihadapannya ini.


"Gak bisa, gimana dong", sahut Ken santai.


Ara berdecak kesal dan mempercepat jalannya berharap lepas dari laki-laki ini, tapi diluar dugaan Ken justru mengejarnya dan berhasil menyamakan langkah mereka.


"Lo belum jawab pertanyaan gue", kata Ken membuat Ara menatap laki-laki itu dengan alis terangkat.


"Kenapa lo selalu bersikap kayak gini ke gue sedangkan ke orang lain enggak?", tanya Ken. Ara hanya diam, menurutnya tidak ada hak dia menjawab pertanyaan Ken yang tidak berguna itu.


"Apa karena laki-laki kemarin, Gio ?", tanya Ken lagi. Ara menoleh menatap Ken yang juga menatapnya, bagaimana bisa laki-laki ini membawa-bawa nama Gio.


"Gue yang selama ini usaha buat deket sama lo tapi dia yang berhasil rebut hati lo, begitu kan Kaiyara Zoe?", tanya Ken, dapat Ara lihat tatapan tidak suka saat laki-laki dihadapannya ini menyebut nama Gio.


Ara tak ambil pusing, dia terus melangkah berharap bisa sampai dikelas dengan cepat dan terbebas dari laki-laki ini.


"Apa sih yang lo lihat dari dia ?", tanya Ken tak henti berceloteh disamping Ara. "Dia tampan ? mapan ? kaya raya ? masa depannya terjamin ? berasal dari keluarga terpandang ?. Kalau itu yang lo lihat, gue juga gak jauh dari dia bahkan sama", ucap Ken mampu membuat langkah Ara terhenti dan menatap tidak suka pada apa yang dikatakan Ken tadi.


"Aku tegasin sekali lagi sama kamu. Aku gak suka dekat-dekat sama kamu karena memang aku gak suka sama kamu, bukan karena orang lain. Dan satu lagi, aku deket sama Gio bukan karena harta dan kekuasaannya tapi karena dirinya sendiri, sifat dan sikapnya. Bukan hartanya", tegas Ara menatap tajam Ken yang hanya terus memperhatikannya. Ara memilih pergi dari sana setelah tak mendapat respon dari Ken. Sedangkan laki-laki itu hanya memandang punggung Ara yang mulaih menghilang. Ken bersumpah, apapun cara akan dia lakukan agar gadis cantik itu menjadi miliknya, secara baik-baik atau tidak, dia tidak peduli. Dia hanya ingin Ara menjadi miliknya bukan milik orang lain.

__ADS_1


"Lo tetap akan jadi milik gue, gak boleh jadi milik orang lain apalagi dia",


...--🌻🌻🌻--...


Sedangkan ditempat lain, Rania sedang uring-uringan mencari Gio yang sejak tadi pagi tak menampakkan batang hidungnya. Gadis itu tanpa malu datang kekelas seinornya hanya untuk mencari laki-laki yang sudah dia kejar beberapa bulan belakangan.


"Arsal...", panggil Rania tanpa embel-embel kakak membuat Arsal mendengus.


"Apa", sahut Arsal tanpa minat.


Laki-laki itu hendak beranjak meninggalkan kelasnya namun tepat didepan pintu dia malah di cegat gadis ini.


"Gio gak masuk ya, kok dari tadi gak keliatan", tanya Rania dengan mata melihat sekeliling ruangan dan benar, Gio tidak ada.


"Gak ada, mungkin minggu depan baru masuk", kata Arsal, dari raut wajahnya, Rania bisa tau laki-laki dihadapannya ini sedang malas menanggapinya.


"Memangnya kemana ?", tanya Rania tanpa memperdulikan raut tidak suka Arsal.


"Kerja", sahutnya.


"Loh, kok...."


"Kenapa ?", tanya Rania kesal.


"Gue ada kabar buat lo, dan lo harus tau itu. Penting", sahut gadis yang tadi memanggil Rania.


Dengan nafas ngos-ngosan, gadis itu berusaha menjelaskan sesuatu pada Rania, namun melihat masih ada makhluk lain disana membuatnya mengurungkan niatnya.


Arsal menatap aneh dua gadis dihadapannya ini. Percayalah meskipun dia playboy akut, tapi untuk dua wanita yang ada dihadapannya ini dia tidak akan mau berurusan dengan mereka.


"Ikut gue", kata gadis itu menarik Rania.


Arsal yang ditinggal hanya mengangkat bahunya acuh, tak peduli dengan apa yang mau mereka lakukan.


"Ada apa sih ?", tanya Rania kesal karena sahabatnya ini sedari tadi menyeretnya.


"Duduk dulu", sahut gadis itu. Keduanya sedang berada di kantin kampus yang terbilang ramai. Gadis itu namanya Naumi, sahabat Rania. Entah ada apa sampai menyeret Rania sampai disini.


"Gue ada kabar hot dan lo wajib tau", kata Naumi heboh sendiri.

__ADS_1


"Apaan, buruan anjir", kesal Rania yang sudah kepalang kepo akan berita yang katanya penting itu.


"Kemarin kan gue jalan tuh sama pacar gue ke mall....",


"Ya terus hubungannya sama gue apa ?", potong Rania cepat.


Naumi berdecak kesal lalu tanpa rasa berdosa memukul kepala Rania.


"Dengar dulu ogeb", sahut Naumi kesal.


"Iya makanya apa ?", desak Rania sambil menguap kepalanya.


"Gue kemarin jalan-jalan ke mall. Dan lo tau gue dapat apa disana ?", tanya Naumi membuat Rania berdecak kesal, sahabatnya ini memang suka sekali bertele-tele.


"Gue liat Gio jalan sama cewek", lanjutnya membuat Rania yang tadinya memandang malas pada Naumi, membulatkan matanya kaget. Yang benar saja, bahkan dirinya sering Gio tolak mentah-mentah, bagaiamana bisa dia jalan sama cewek dan satu lagi, Rania tidak pernah mendengar jika Gio dekat dengan seseorang.


"Lo serius ?, Sama siapa ? Lo tau gak ?", tanya Rania beruntun.


Naumi menghela nafas pelan mendengar pertanyaan beruntun yang diberikan Rania.


"Iih jawab bego", kesal Rania.


"Sayangnya gue gak tau karena dia hadap belakang tapi gue yakin itu Gio karena gue sempet liat. Dan kayaknya cewek itu seumuran sama dia dan yang lebih parahnya lagi dia kelihatan deket banget sama Gio", sahut Naumi menggebu-gebu.


"Gio bahkan gak segan-segan gandeng tangan dia woi", seru Naumi heboh.


"Adiknya kali", sahut Rania berusaha tenang meski sebenarnya rasa penasarannya benar-benar membucah ingin tahu lebih lanjut.


"Bukan", kata Naumi menggeleng cepat. "Gue tadi bilang seumuran dia bego kan adiknya seumuran sama kita", kata Naumi.


"Lo harus cari tau siapa", lanjut gadis itu.


Rania terdiam sejenak, apa iya Gio sedang dekat dengan seseorang tapi setau dia tidak ada. Tunggu, tunggu, apa ini yang dia maksud tempo hari, laki-laki itu sempat mengatakan jika dia memiliki janji dengan pacar tapi Rania tidak percaya dan kemarin dia juga sempat memberikan peringatan pada Rania dengan menyebut sesuatu itu dengan miliknya. Ah memikirkan ini Rania jadi pusing sendiri. Tidak, tidak. Tidak ada yang boleh memiliki Gio selain dirinya, tidak ada yang boleh dekat dengan Gio selain dirinya. Dia sudah mengejar laki-laki itu dengan susah payah dan dia tidak mau orang lain mengambil miliknya lagi. Jika Gio tidak akan luluh dengan cara yang lembut, cara kasar pun akan Rania lakukan yang jelas itu akan membuatnya memiliki laki-laki yang begitu dia sukai itu.


Gadis itu tersenyum miring, tidak ada yang boleh menyentuh miliknya. Siapapun itu, dia akan membuat orang itu mundur dan pergi jauh dari Gio.


Naumi yang melihat tingkah Rania hanya menghela nafas pelan. Dia tahu betul dengan watak sahabatnya ini.


"Gue harus cari tau"

__ADS_1


...---To Be Continued---...


__ADS_2