Perjalanan Cinta CEO Muda

Perjalanan Cinta CEO Muda
Part 94. Bersama Aldi


__ADS_3

Sore ini, Aldi sengaja mengajak Ara untuk refreshing. Aldi mengajak Ara kesebuah bukit yang pemandangannya benar-benar menyejukkan mata. Pemandangan matahari tenggelam dan rumah-rumah di desa mereka yang terlihat begitu indah. Keduanya duduk di pinggir bukit yang di sana memang terdapat bangku. Tempat ini sering digunakan orang-orang untuk menenangkan pikiran jika memilki beban pikiran.


"Kita sampai jam berapa disini?" tanya Ara yang sudah duduk menatap pemandangan didepannya.


"Selama yang kamu mau," jawab Aldi ikut duduk disamping Ara.


Aldi memperhatikan Ara yang mengusap kedua tangannya. Udara memang sejuk, angin berhembus terasa lebih dingin daripada dibawah desa. Aldi beralih menarik tangan Ara, mengusapnya pelan.


"Kalau dingin, bilang," ujar Aldi.


"Disini emang agak dingin apalagi kalau udah sore mau malam gini," lanjutnya.


Laki-laki itu mengusap kedua tangan Ara dan meniupnya. Hal yang dilakukan Aldi berhasil mengantarkan rasa hangat pada tangan Ara. Perempuan itu terus memperhatikan Aldi dengan senyum tipisnya.


"Terima kasih," sahut Ara.


Aldi hanya mengangguk pelan, menghentikan kegiatannya lalu menggenggam tangan Ara dan memasukkannya kedalam saku hoodienya. Ara tak menolak sama sekali, dia membiarkan Aldi melakukan apa yang dilakukan laki-laki itu.


"Gimana perasaannya?" tanya Aldi.


"Hmm lebih baik dari kemarin-kemarin. Dan jauh lebih baik lagi karena kamu bawa kesini," jawab Ara.


"Terima kasih," ujar Ara lagi.


"Terima kasih mulu dari tadi, gak mau ngasih sesuatu gak?" tanya Aldi.


"Hah, apaan?" tanya Ara menatap Aldi.


"Enggak, becanda doang." jawab Aldi.

__ADS_1


Ara mengangguk lalu kembali menatap kedepan. Pandangannya menyapu setiap sudut yang bisa dijangkau oleh matanya. Sedangkan Aldi sibuk memperhatikan wajah Ara yang terlihat lebih segar dari sebelum-sebelumnya.


"Al.."


"Hmm,"


Ara sejenak menghela nafas pelan, "Menurut kamu, orang yang sudah pergi bisa kembali lagi gak?" tanya Ara.


Aldi diam beberapa saat. Tatapan laki-laki itu dia alihkan ikut menatap kedepan.


"Apa yang udah Tuhan ambil gak akan balik lagi karena itu hak dia. Tuhan ambil itu juga gak mungkin gak akan dikasi gantinya," jawab Aldi.


"Pernah dengar kata-kata gini gak, sesuatu yang Tuhan ambil tidak akan kembali kecuali Tuhan ganti dengan yang lebih baik," lanjut Aldi.


Ara menoleh menatap Aldi yang juga ikut menatapnya dengan senyum tipis.


"Jadi orang yang pergi bisa kembali lagi?" tanya Ara.


"Kalau kamu bisa milih, kamu milih yang mana, pilih yang baru atau dia yang kembali lagi dengan versi terbaiknya?"


"Tergantung, kalau dia kembali dengan versi terbaik dan benar-benar membuktikan itu maka aku pilih yang lama dengan versi terbaik. Apalagi kalau orang baru itu justru nyakitin," jawab Aldi.


"Yang intinya, Ra. Semua kembali ke pilihan masing-masing, bagaimana kita menilai dan melihat semua sisi baiknya," lanjutnya.


Ara mengangguk mengerti. Penjelasan Aldi cukup dia pahami.


Ara kembali menatap Aldi yang sedari tadi menggenggam tangannya didalam saku hoodienya. Sesekali elusan lembut pada punggung tangannya Ara rasakan.


"Kenapa gak cari orang baru, Al?" tanya Ara.

__ADS_1


Pertanyaan tiba-tiba itu membuat Aldi mengalihkan tatapannya menatap Ara dengan cepat. Alis laki-laki itu terangkat menandakan bahwa dia tak mengerti, lebih tepatnya bingung kenapa Ara menanyakan hal seperti itu.


"Aku pernah nolak kamu, gimana sekarang udah dapat yang lain?" tanya Ara lagi.


Aldi terkekeh pelan lalu mencubit pipi Ara gemas. Astaga dia tidak habis pikir kenapa Ara bisa menanyakan itu.


"Sama seperti kamu, aku gak bisa mulai hubungan baru kalau belum selesai dengan masa lalu," jawab Aldi.


Ara mengangguk. Lalu berujar, "Terima kasih karena selalu ada meskipun aku tau, aku pernah nyakitin kamu. Maaf,"


"Gak masalah, Ra. Aku mau kita tetap jadi teman. Kalau kamu butuh sesuatu atau butuh orang cerita, cari aku aja," sahut Aldi.


"Semoga kamu dapat cewek yang lebih baik," kata Ara tulus.


"Semoga," ucapnya lirih.


Dengan senyum tipis Aldi mengalihkan tatapannya kedepan, meredam rasa sesak yang tiba-tiba menyerang hatinya saat mendengar kalimat terakhir yang dilontarkan Ara barusan. Sudah dia bilang bukan, hati Ara akan semakin sulit untuk dia taklukkan. Aldi hanya mampu menghela nafas pelan secara diam-diam. Bersama Ara seperti ini sudah cukup membuatnya bahagia. Dia tidak ingin merusak segalanya dengan cara memaksakan keinginan hatinya.


...-To be Continued-...


Hai haiiii


Author balik lagi, maaf yaa Author lambat update.


Update malam ini cuma sedikit yaa, Maaf banget.


Akhir-akhir ini Author lagi sibuk banget, Author lagi nyusun tugas akhir, tapi bakal diusahain update secepatnya.


Tungguin terus yaa,, Terima kasih yang sudah tetap menunggu.

__ADS_1


Thanks a lot


Love you ❤


__ADS_2