Perjalanan Cinta CEO Muda

Perjalanan Cinta CEO Muda
Part 120. Aneh


__ADS_3

Huek huek huek


Gio sudah hampir duapuluh menit yang lalu memuntahkan semua makanan yang dia makan malam ini. Ini sudah jam 1 dini hari dan bisa-bisanya di terbangun hanya karena perutnya yang tiba-tiba tidak enak.


Mendengar suara ribut dari arah kamar mandi, Ara mengerjap, berusaha mengumpulkan nyawanya. Mata yang tadi terpejam kini terbuka dengan lebar menatap tempat di sampingnya yang kini sudah kosong. Mata perempuan itu beralih menatap jam dinding yang jelas menunjukkan jam satu lewat. Setelah kesadarannya terkumpul, Ara beranjak dari tidurnya sambil memegangi selimut yang membungkus tubuh polosnya. Tidak perlu dijelaskan lagi itu kerjaan siapa, sudah jelas pasti suaminya.


Suara dari arah kamar mandi mengalihkan atensi Ara membuat perempuan itu buru-buru meraih kaos Gio yang terletak sembarangan di lantai lalu memakainya. Setelah itu, Ara berjalan menuju kamar mandi menyusul Gio. Tampak suaminya sedang bersandar pada dinding kamar mandi sambil memejamkan mata dan memijit pangkal hidungnya pelan.


"Kenapa?" tanya Ara dengan suara seraknya.


Perempuan yang hanya menggunakan baju kaos kebesaran sebatas paha itu mendekat pada Gio yang kini membuka mata dan menatapnya.


"Kenapa bangun, aku berisik ya?" tanya Gio menarik Ara mendekat lalu memeluknya erat.


"Kamu kenapa muntah-muntah gitu?" tanya Ara mengusap keringat dikening suaminya.


"Gak tau, masuk angin kali," jawab Gio.


Laki-laki dengan balutan boxer hitam itu menelungkupkan kepalanya pada ceruk leher Ara yang jenjang. Wangi tubuh istrinya seketika membuat mualnya berangsur menghilang.


"Masih gak enak?" tanya Ara yang dijawab geleng oleh Gio.


"Keluar dulu, nanti kamu makin masuk angin,"


Ara menarik Gio keluar kamar mandi dan duduk bersandar pada hedboar kasur dengan Ara yang beranjak mencari kotak obat. Gio mengawasi gerak-gerik istrinya sampai Ara kembali duduk disampingnya. Perempuan itu mengeluarkan minyak kayu putih dan membalurkan pada perut kotak-kotak Gio.


"Udah mendingan?" tanya Ara. Gio hanya mengangguk lesu. Tenaganya terkuras habis saat memuntahkan makanannya tadi.


"Kamu salah makan kali,"


"Enggak,"


"Tapi kok bisa kayak gini,"


"Kan aku makan masakan kamu tadi,"


"Iya juga, aku salah masak ya?"


Gio menggeleng lalu mengambil alih kotak obat dari tangan Ara, meletakkannya diatas nakas dan beralih menarik Ara kedalam pelukannya. Memejamkan mata menikmati aroma tubuh istrinya yang membuatnya candu.


"Ngantuk," keluhannya.


"Tidur ya, aku temani," perintah Ara.


Ara dan Gio merebahkan tubuhnya dengan Gio yang langsung mendusel dileher sang istri. Ara mengusap-usap rambut Gio agar laki-laki itu tertidur. Tangan Gio yang tadinya memeluk pinggang Ara kini menyingkap baju kaos yang digunakan Ara dan mengelus punggung mulus istrinya.


"Tidur sayang, jangan macam-macam," peringat Ara.


"Gak macam-macam kok," ujar Gio pelan.


Benar saja, laki-laki itu tak lagi melakukan apa-apa selain mengelus punggung dan sesekali mengelus perut ratanya. Ara juga terdiam sambil terus mengelus rambut hitam suaminya. Cukup lama Ara melakukan itu sampai akhirnya Gio tertidur.


"Pasti kecapean," gumam Ara.


...🌻🌻...

__ADS_1


Pagi menjelang, Ara bangun lebih dulu dan menatap wajah pucat suaminya. Semalam, Gio tak bisa tidur dengan nyenyak. Laki-laki itu selalu bolak-balik kamar mandi mengeluarkan isi perutnya yang hanya cairan. Gio baru bisa tidur dengan tenang setelah jam 5 tadi.


Ara tersenyum tipis, sambil mengelus rahang suaminya, memberi ciuman singkat pada mata dan bibir Gio. Setelah itu Ara beranjak dari kasur menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah beberapa menit berada dalam kamar mandi, Ara keluar dan mengenakan bajunya, melirik sekilas pada Gio yang masih tidur lalu memilih keluar kamar menuju dapur. Pagi ini dia akan membuat sup ayam untuk suaminya.


Setelah mengeluarkan bahan satu persatu, Ara memulai aktivitas memasaknya, mulai dari memotong, mencuci dan memasak bahan makanan. Sedangkan di kamar, Gio kelimpungan mencari Ara yang tiba-tiba hilang begitu saja. Selalu saja seperti ini, dia masih belum bisa mengontrol dirinya saat terbangun dan tak mendapati Ara berada disampingnya. Dengan tergesa-gesa, Gio beranjak dari kasur dan keluar kamar untuk mencari istrinya itu.


"Sayang," teriak Gio berhasil memenuhi setiap sudut apartemen mereka.


"Di dapur," balas Ara ikut berteriak.


Dengan langkah cepat, Gio menyusul Ara menuju dapur. Benar saja, Istrinya sedang asik menata makanan yang sudah dia masak keatas meja makan.


"Udah bangun, cuci muka dulu," perintah Ara pada Gio yang berdiri lesu di hadapannya.


Gio mengangguk dan menuju kamar mandi dekat dapur. Setelah beberapa menit menunggu, Gio kembali dan mengambil tempat disamping Ara. Laki-laki itu menggeleng saat Ara menyodorkan semangkuk sup kehadapannya.


"Mau disuapin," pintanya manja.


Ara mendengus namun tetap melakukan apa yang diperintahkan Gio. Namun hal aneh kini kembali menyerang Gio. Setelah menerima suapan kelima, lagi dan lagi perutnya kembali merasa tidak nyaman. Dengan buru-buru dia beranjak menuju wastafel dan kembali memuntahkan makanannya. Ara ikut beranjak dan menekan-nekan tengkuk Gio.


"Udah?" tanya Ara saat Gio kembali menegakkan tubuhnya. Gio hanya mengangguk lemah.


"Makanan aku gak enak ya?" tanya Ara.


"Enak,"


"Tapi kenapa jadi gini," Ara jadi merasa bersalah, menyalahkan dirinya saat melihat wajah pucat dan lesu Gio.


"Jangan sedih dong,"


"Aku yang bikin kamu jadi gini," ujar Ara menahan tangis.


"Enggak sayang, makanannya enak tapi perut aku yang gak enak,"


"Sama aja,"


"Enggak sayang,"


Saat Ara hendak melepas pelukannya, Gio justru mengeratkan pelukan istrinya. "Gini aja, mualnya hilang kalau dekat-dekat kamu terus," ujar Gio membuat Ara diam dan membalas pelukan Gio.


Suara deringan ponsel yang berada di atas meja makan mengalihkan atensi keduanya. Perempuan itu melepas pelukannya dan mendekat pada meja makan disusul Gio. Pada layar ponselnya tertera nama bunda yang membuat Ara segera menggeser tombol hijau dan mengaktifkan loudspeaker agar Gio yang berada disampingnya bisa mendengarnya juga.


"Pagi bunda," sapa Ara takut-takut, karena ini untuk pertama kalinya lagi dia berbicara pada bunda dari suaminya itu.


"Pagi mantu kesayangan. Gimana kabar kalian?" tanya dari seberang.


Ara melirik Gio sebelum perempuan itu membalas, "baik bunda," jawabnya dengan senyum tipis.


"Abang gak nyusahin kan?" tanya Vio lagi.


"Enggak bunda. Abang anteng kok sama Ara," jawab Ara lagi.


"Bilang sama bunda kalau dia nyusahin kamu. Oh iya, bunda mau minta maaf, ayah juga ini lagi disamping bunda kok, dia denger. Bunda sama ayah minta maaf kemarin punya niat misahin kalian," ujar Vio penuh penyesalan.

__ADS_1


"Gak papa bunda, jangan minta maaf. Justru Ara yang minta maaf karena menikah dan gak bilang-bilang," sahut Ara.


"Itu salah abang, bukan salah kamu. Kan abang yang ngebet banget pengen nikah," itu suara Kevin.


Ara kembali melirik Gio yang hanya mendengus pelan lalu memeluk Ara dari samping, mencium pipi istrinya dengan gemas.


"Ara juga, Ayah," sahut Ara.


"Tidak papa sayang," balas dari seberang secara bersamaan.


Ara terkekeh pelan mendengarnya, ayah dan bunda mertuanya itu begitu kompak.


"Abang dimana, masih tidur dia?" tanya Vio.


"Ada bunda, dia udah bangun, ini disamping Ara, dia juga dengar kok bund," jawab Ara memukul lengan Gio yang kini sudah menyusup masuk mengusap-usap perutnya.


"Bunda ganggu pagi-pagi, tau gak," sahut Gio dengan suara pelan. Lagi, Ara memukul lengan Gio karena sudah berbicara seperti itu pada bundanya.


"Halah, baru juga gitu. Belum bunda suruh nginap dirumah," balas Vio tak kalah kesalnya.


"Gak boleh, Ara gak boleh jauh-jauh dari abang," sahut Gio tak mau kalah.


"Emmm bunda..." panggil Ara melerai pertengkaran keduanya.


"Kenapa sayang?" tanya Vio.


"Gio ada riwayat penyakit yang berhubungan sama perut gak bund?" tanya Ara pelan. Gio hanya diam karena dia tahu jawaban bundanya dan dia tahu Ara pasti khawatir dengannya.


"Kenapa memangnya?" Vio malah balik bertanya.


"Soalnya dari semalam Gio muntah-muntah terus bund, gak tau kenapa, atau masakan Ara yang bermasalah ya?" tanya Ara lagi.


Beberapa menit terjadi keheningan sampai akhirnya Vio mengeluarkan suara yang membuat Ara dan Gio semakin bingung.


"Besok kalian berdua temui bunda,"


Setelah mengatakan itu, Vio memutus sambungan telfonnya secara sepihak membuat Ara dan Gio saling pandang dengan raut wajah bingung. Gio akhirnya mengangkat bahu acuh dan kembali menyenderkan kepalanya pada bahu Ara dengan nyaman.


"Kamu datang ke nikahan Arsal besok?" tanya Ara.


"Dateng,"


"Tapi bunda,"


"Siangnya kita ke bunda, malamnya ke nikahan Arsal. Aman sayang,"


"Disana pasti ada Ken, gak papa?"


"Terserah, aku datang buat sahabat aku, bukan buat dia,"


"Belajar berdamai sama masa lalu ya,"


Ucapan Ara membuat Gio diam seketika. Moodnya anjlok dan malas membahas itu semua. Semuanya masih belum bisa sepenuhnya dia terima, meski sadar betul bahwa keduanya hanya diadu domba tapi tetap saja dia sulit bahkan butuh waktu yang lama untuk saling berdamai. Berdamai dengan keadaan dan masa lalu itu bukanlah hal yang mudah. Apalagi sampai sekarang trauma yang masih terus menghantuinya ditambah kehilangan anaknya membuat Gio semakin sulit menerima kenyataan. Semuanya masih begitu nyata baginya, jika saja Ara tidak ada, bisa dipastikan Gio tidak akan pernah tidur dengan tenang setiap malam.


"Dicoba pelan-pelan. Semuanya sudah berlalu, biarkan itu jadi milik masa lalu, sekarang kita rangkai cerita untuk masa depan kita lagi,"

__ADS_1


...-To be Continued-...


__ADS_2