
"Saya terima nikah dan kawinnya Kaiyara Zoe binti Aditama Zoe dengan maskawin tersebut tunai," ucap lantang Gio. Ucapan yang membuat darahnya berdesir hebat dan hatinya yang bergemuruh tak karuan. Kini, statusnya berubah dan tanggung jawabnya semakin besar.
Dihadapan penghulu, saksi, Ara dan sahabatnya Arsal, Gio mengucapkan kalimat sakral itu dalam satu tarikan nafas. Ijab kabulnya hari ini cukup sederhana, hanya beberapa orang yang datang termasuk asisten pribadinya yang dia perintah untuk mengurus semua keperluannya kemarin.
Gio dan Ara nekat menikah tanpa restu orang tua dan tanpa disaksikan kedua orang tua Gio. Laki-laki dengan balutan jas hitam itu sudah siap menerima resiko yang akan dia dapat dari kelakuannya yang nekat menikah. Dengan begini, Ara tidak akan pergi darinya dan cara ini yang akan mencegah ayahnya menjodohkan Ara dengan orang lain. Ara sekarang resmi menjadi istrinya, katakanlah Gio egois, tapi memang apapun yang menyangkut Ara dia akan egois, dia tidak mau kehilangan untuk yang kedua kalinya.
Sedangkan perempuan yang sedang duduk disampingnya itu menunduk menyembunyikan air matanya yang sudah jatuh. Tidak, dia bukannya menyesali keputusannya nekat menikah hari ini. Dia bahagia karena sudah sah menjadi istri orang yang dia cintai, tapi dia juga sedih karena dihari pernikahannya, dia yang seharusnya didampingi orang tuanya, harus menelan mentah-mentah keinginannya. Ayah dan bundanya sudah lama tidak ada, dia harus ikhlas akan hal itu.
Ara mendongak saat merasakan sebuah tangan mengusap kepalanya lembut. Senyum manis dari laki-laki yang beberapa menit lalu mengucapkan ijab kabul itu menyambutnya, membuat Ara juga ikut tersenyum. Ah, sekarang statusnya sudah berubah menjadi istri dan tanggung jawabnya juga semakin besar.
Ara menatap Gio yang kini sibuk memasang cincin dijari manisnya. Setelah Gio selesai, bergantian Ara yang melakukan hal yang sama. Ara memejamkan matanya saat Gio mencium keningnya dengan sayang. Sungguh, hanya dengan Gio saja Ara merasakan begitu disayangi.
"Istriku," celetuk Gio setelah memasang cincin di jari manis Ara.
Pipi Ara memanas mendengar panggilan Gio, apa tadi itu, istri? Ayolah, bahkan jika Gio hanya memanggilnya dengan kata 'sayang' saja sudah membuat pipinya memanas dan jantung yang hampir meledak, lalu bagaimana dengan kata tadi, ah Ara sungguh malu.
"Selamat, gue harap pernikahan kalian selalu bahagia dan segera kasi gue ponakan," ucap Arsal.
Gio dan Ara kompak mengangguk sebagai jawaban.
"Lo kapan nyusul?" tanya Gio.
"Gak tau," jawabnya.
"Lo dulu yang paling gak sabar nikah sekarang lo yang belum nikah, gue udah, Ken bahkan udah punya anak dan Gea juga udah nikah terus lo kapan?"
"Ck, besok kalo gak ujan,"
"Ada masalah sama Naya?" tanya Ara angkat bicara.
"Gue udah persiapin semuanya, tinggal tunggu hari H aja. Jadi kalian tenang aja,"
"Kelamaan, nanti Naya berubah pikiran mampus lo,"
Arsal mendelik sebal menatap Gio, mulut sahabatnya itu benar-benar minta ditampol. Enak saja tidak jadi, mereka sebentar lagi juga akan menikah, tunggu waktunya aja kok.
"Ck diam deh. Mending lo pulang buatin gue ponakan," kesal Arsal.
Gio tertawa pelan, menjahili Arsal dari dulu memang sangat menyenangkan. Apalagi Arsal memang orangnya suka ngegas.
Ara dan Arsal menatap Gio yang sedang tertawa. Laki-laki itu terlihat begitu bahagia hari ini, tak seperti kemarin yang selalu menangis. Meski tak dipungkiri, Ara dan Arsal paham bagaimana perasaan Gio sekarang. Pasti laki-laki itu juga sedih karena dihari bahagianya tidak ada orang tuanya yang hadir. Sebagai anak yang dari dulu dekat dengan orang tuanya, kehadiran ayah dan bundanya pasti sangat Gio harapkan hari ini.
"Nikah, Ar. Nanti Naya diambil orang lo nangis-nangis," kata Gio.
__ADS_1
"Emangnya lo, cengeng,"
"Dihh kurang ajar,"
Ketiganya tertawa pelan. Bagi Gio hari ini adalah hari bahagianya meski tanpa kedua orang tuanya, Gio tetap bahagia. Setelah ini dia akan kembali meyakinkan ayahnya. Meski sedikit tidak yakin, tapi dia pasti bisa, ayahnya bukanlah orang yang terlalu keras seperti dirinya.
...❣️❣️...
Malamnya, Ara duduk tak tenang di pinggir tempat tidur setelah membersihkan diri tadi, sedangkan Gio sedang berada dikamar mandi membersihkan diri. Keduanya sudah berada di apartemen setelah akad nikah di KUA terdekat, mereka langsung pulang. Ara menelan salivanya susah payah. Meski sudah sering satu kamar bahkan tidur bersama, tetap saja dia gugup. Tidur bersama yang Ara maksud hanyalah tidur dan memeluk Gio dan ini untuk pertama kalinya mereka akan tidur bersama dengan status yang berbeda, sebagai suami istri.
Apa malam ini Gio akan melakukannya, apa malam ini mereka akan mengulang malam yang dulu pernah terjadi tapi dalam status yang berbeda. Rasanya Ara belum siap, meski sudah pernah melakukannya dengan Gio tapi tetap saja ini berbeda. Mereka sudah sah dan lagipula Ara baru pertama melakukan itu. Aarrrgh Ara ingin menenggelamkan diri saja rasanya.
"Melamun terus," ucap seseorang sambil menyentil keningnya membuat Ara mendongak menatap Gio yang sudah berdiri dihadapannya.
Melihat Gio berdiri dihadapannya membuat Ara langsung memalingkan wajahnya yang sudah memerah melihat penampilan Gio. Laki-laki itu hanya mengenakan handuk putih yang dililitkan dipinggamg dengan rambut basah dan percikan air yang masih tertinggal di tubuh atletis nya.
"A-aku a-ambilin baju dulu," ucap Ara gugup. Aish kenapa dia jadi gugup seperti ini. Melihat Ara yang malu bercampur salah tingkah, Gio menahan senyumannya. Laki-laki itu dengan jahil justru menarik tangan Ara membuat Ara berbalik dan menabrak dada bidangnya. Ara kelabakan sendiri dibuatnya. Ingin rasanya Ara berlari sekecang mungkin, dia sungguh malu.
"K-kenapa?" tanya Ara kiku.
Gio hanya diam menatap istrinya yang tak menatapnya sama sekali. Gio bisa lihat pipi chubby milik istrinya itu sudah merah menahan malu. Tanpa banyak berkata lagi, Gio mencium bibir Ara dengan lembut.
Satu detik
Tiga detik
Bahkan saat hampir dua menit, Gio belum melepaskan ciumannya dan belum juga menggerakkan bibirnya. Ara dibuat tahan nafas dengan kelakuan Gio.
"Nafas sayang," ujarnya mulai serak.
Ara mengedip beberapa kali saat Gio melepas bibirnya lalu laki-laki itu mengelus pipinya lembut. Tatapan laki-laki itu juga perlahan berubah membuat Ara merinding.
"Pake baju dulu, nanti kamu masuk angin," ucap Ara yang langsung mendapat gelengan dari Gio.
Tanpa aba-aba, laki-laki itu menarik Ara hingga keduanya kini berbaring di kasur dengan posisi Gio menindih tubuhnya. Jantung Ara semakin berdetak tak karuan saat Gio kembali menciumnya, namun ciuman Gio kali ini disertai ******n lembut yang membuat Ara ikut terbuai dan membalas ciuman suaminya.
Cukup lama diposisi itu, Gio melepas pangutannya dan beralih mencium setiap sudah wajah istrinya.
"Boleh?" tanya Gio menatap Ara teduh.
Ara menelan salivanya susah payah, jika sudah seperti ini apa dia masih bisa menolak. Ara tahu betul, suaminya itu sedang mati-matian menahan hasratnya. Tapi apa sebenarnya yang Ara takutkan, toh mereka sudah sah sebagai suami istri. Perlahan, Ara meyakinkan diri lalu mengangguk pelan tanda setuju. Sudut bibir Gio terangkat membentuk senyum manisnya. Laki-laki itu kembali mencium kening Ara lalu turun ke bibir istrinya, melu*atnya lembut penuh kasih sayang. Ara mengalungkan tangannya pada leher Gio memperdalam ciumannya.
Ciuman yang awalnya lembut kini beralih menjadi ciuman panas yang memabukkan keduanya. Lenguhan Ara terdengar saat Gio turun pada leher jenjangnya, membuat tanda kepemilikan disana.
__ADS_1
Tangan laki-laki itu juga tak tinggal diam. Tangan kekarnya menelusup masuk kedalam piyama tidur yang dikenakan Ara, mengusap punggung mulus istrinya, semakin naik mencari pengait b*a yang di kenakan Ara. Setelah pengaitnya terbuka, Gio kembali menyerang Ara dengan ciumannya, sedangkan tangannya beralih membuka kancing piyama sang istri. Sekali tarikan, Gio berhasil membuka baju Ara.
"Gii..."
"Gak papa sayang," ucap Gio lembut.
Gio paham, istrinya masih malu-malu. Gio kembali mencium Ara dengan lembut. Perlahan ciumannya turun kembali ke leher jenjang Ara dan kembali membuat stempel kepemilikannya disana membuat Ara mengigit bibir bawahnya agar suaranya tak keluar.
"Jangan ditahan, sayang," bisik Gio dengan suara seraknya.
Laki-laki itu semakin turun dan menyerang istrinya tepat dibagian dada. Mulutnya bekerja dan tak lupa tangannya juga tak tinggal diam meremas lembut salah satunya membuat desah*n Ara terdengar juga.
Ciuman Gio turun pada perut rata istrinya, membuat Gio teringat akan anak pertamanya yang sudah lebih dulu pergi. Gio menghela nafas pelan. Laki-laki itu bangkit kembali menatap istrinya dengan teduh yang dibalas tatapan sayu sangat istri.
"Beneran boleh?" tanyanya memastikan. Ara mengangguk meyakinkan.
Gio menelan salivanya, lalu membuka celana yang dikenakan istrinya. Kedua tangan Ara refleks menutup tubuhnya yang kini terpajang jelas di hadapan Gio. Gio tersenyum tipis lalu menyingkirkan tangan Ara dengan pelan.
"Gak usah malu, aku suami kamu," ucap Gio lembut. Detik berikutnya, dia kembali mencium Ara. Tangannya turun mengelus lembut milik istrinya hingga Ara menggeliat pelan. Gio memainkan jarinya disana, membuat Ara mendes*h.
"Ah Gio.." desah Ara saat dirinya sampai pada puncaknya. Tangannya mencengkram kuat lengan Gio.
Setelah beberapa menit pemanasan, Gio yang juga sudah tak mengenakan apa-apa dengan hati-hati langsung melakukan penyatuan. Sedikit kesusahan, meski bukan yang pertama kalinya bagi mereka tapi bukan berarti akan mudah. Masih sesusah itu karena mereka baru satu kali melakukannya.
"GIO" pekik Ara saat merasa Gio semakin menyakitinya dibawah sana.
Beberapa menit berusaha, akhirnya Gio berhasil menerobos masuk ke tubuh istrinya membuat perempuan itu memekik keras. Gio mengusap air mata Ara yang keluar saat merasakan sakit akibat ulahnya. Laki-laki itu kembali mencium Ara berharap dengan seperti ini, dia bisa menenangkan Ara.
"Udah gak sakit?" tanya Gio membuat Ara mengangguk pelan.
"Kita mulai ya," ucapnya lalu melakukan apa yang seharusnya memang dia lakukan.
Malam itu, Gio dan Ara kembali melakukannya sebagai sepasang suami istri. Ruangan yang dulu menjadi saksi Gio memaksa Ara melakukannya, kini juga menjadi saksi bagaimana mereka melakukannya atas dasar suka sama suka dan dalam ikatan hubungan yang jelas. Suara desah*n dan erangan saling bersahutan memecah keheningan kamar bernuansa abu-abu itu.
"Gio.."
"Ara.."
Erangan panjang keduanya bersamaan saat mereka sampai pada puncak permainan mereka. Gio mengakhiri kegiatannya setelah berkali-kali menyemburkan cairannya kedalam tubuh sang istri. Laki-laki itu menarik selimut lalu menyelimuti tubuh mereka. Gio menarik Ara lebih dekat padanya dan memeluk tubuh mungil istrinya yang kini sudah tertidur karena kelelahan. Gio mengusap keringat yang mengalir di kening Ara lalu mencium kening istrinya dengan sayang.
"Terima kasih, sayang,".
...-To be Continued-...
__ADS_1