Perjalanan Cinta CEO Muda

Perjalanan Cinta CEO Muda
Part 26. menemani


__ADS_3


...---Happy reading---...


Dari tempatnya berdiri, Gio dapat melihat Arsal yang sudah mencak-mencak tidak jelas saat melihat kedatangannya. Gio cuek saja toh sahabatnya itu tidak apa-apa jika menunggu lama.


"Gak ada akhlak lo emang, gue nungguin lo hampir tiga jam dan lo datang dengan tampang tak berdosa lo itu", kesal Arsal saat sampai tepat dihadapan sahabatnya itu. Dia masih tidak menyadari sosok yang datang bersama Gio.


"Kan gue udah bilang gak usah latihan dulu anjir. Lo baru datang eh malah maksa-maksa kek anak minta dibeliin mainan sama emaknya", lanjut Arsal lagi. Saking kesalnya dengan Gio dia sudah tidak peduli dengan sekitarnya yang sudah menatap mereka.


"Berisik", kata Gio singkat.


"Ayo", ajak Gio pada gadis yang bersembunyi dibelakangnya sedari tadi.


Gio menarik tangan Ara masuk kedalam lapangan meninggalkan Arsal yang menatap tak percaya pada respon Gio. Tapi, tunggu-tunggu itu siapa yang Gio bawa, Arsal mengusap matanya berusaha memastikan jika yang dia lihat bukanlah makhluk halus. Pandangan Arsal beralih pada kaki Ara yang terus berjalan disamping Gio.


"Napak kok", gumam Arsal. Bukannya lebay tapi sepanjang hidupnya untuk pertama kalinya dia melihat Gio datang membawa seorang gadis dan dia yakin betul itu bukan adiknya karena jika itu Gea, adik dari sahabatnya itu akan membalas ucapannya tadi.


Arsal menyusul Gio yang sudah berada di pinggir lapangan tepat disebuah bangku tempat menyimpan tasnya.


"Ini siapa ?", tanya Arsal penasaran. Matanya menatap gadis yang sedang duduk di bangku dengan balutan baju kaos putih dan topi hitam milik Gio sedang menunduk malu dan meremas ujung baju kaos Gio.


Gio yang sedari tadi menatap Ara beralih menatap Arsal dengan tatapan datarnya.


"Pacar", jawab Gio apa adanya.


"WHAT", pekik Arsal membuat Ara dan Gio berjengkit kaget pasalnya suara laki-laki itu benar-benar keras.


"Lo lagi gak bercanda kan ?, Lo sehat kan, Gii?", tanya Arsal menaruh tangannya pada kening Gio seolah memeriksa suhu tubuh laki-laki itu.


Gio berdecak kesal lalu menepis tangan Arsal, pandangan laki-laki itu beralih menatap Ara yang sedari tadi meremas ujung kaosnya, katanya sih malu padahal bukan hanya dia perempuan yang ada disini, ada beberapa yang juga ikut menemani pacar masing-masing untuk latihan.


"Raa..", panggil Gio lembut membuat Ara mendongak menatap Gio yang berdiri didepannya.


"Kenalin sahabat aku, namanya Arsal", kata Gio memperkenalkan Arsal.


Dengan senyum sumringah Arsal mengulurkan tangannya hendak menjabat tangan Ara mengajak gadis itu berkenalan tapi Ara hanya menatap tangan Arsal lalu kembali menatap Gio yang juga menatapnya. Melihat Gio dan Ara sekarang seperti seorang ayah dan anak perempuannya. Gio mengangguk membuat Ara beranjak dari duduknya dan membalas jabatan tangan Arsal.


"Ara",


"Arsal",


"Widih bagus nih namanya, Ara, Arsal. Jodoh emang gak kemana ya Gii", kata Arsal setelah berkenalan dengan Ara.


"Mulut lo minta gue tonjok", kata Gio tajam.

__ADS_1


"Ampun pak bos", Arsal meneguk salivanya susah payah dan tersenyum canggung menatap Gio dan Ara bergantian.


Arsal memperhatikan Ara yang tersenyum kearahnya lalu menatap Gio dengan cengiran khasnya.


"Cantik banget anjir, kalah sama si siapa tuh...", ucapan Arsal terpotong karena tatapan tajam dari Gio.


"Emang cantik", sahut Gio.


"Lo kenal dari mana, kalian udah kenal berapa bulan. Benar-benar ya lo, Gii"


"Kenapa ?", tanya Gio datar.


"Lo gak ngasih tau gue, lo udah punya pacar", kesal Arsal.


"Penting, gitu ?", tanya Gio.


"Ya iyalah, kalian pacaran udah berapa lama ?, Oh jadi ini alasannya lo selalu.....",


"Baru tadi, pusa lo", kata Gio.


Laki-laki itu mendengus kesal dia tidak ingin Arsal keceplosan menyebut nama gadis yang selalu merecokinya. Mendengar penuturan Gio, Arsal tercengang bukan main, apa ini yang kemarin dia masuk sedang berjuang buat seseorang.


"LO SERIUS BARU AJA PACARAN", kata Arsal tidak santai.


"Jadi main gak, kalau enggak gue pulang nih" kata Gio menatap Arsal yang masih menatap penuh kagum pada Ara.


"Gue colok juga ya mata lo", kesal Gio.


Sahabatnya ini benar-benar tidak bisa melewatkan wanita cantik sebentar saja.


"J-jadi, ayo", ucap Arsal lalu berlari masuk ke lapangan. Daripada kena amukan, mending pergi saja. Bukannya apa-apa, Gio kalau sudah mengamuk benar-benar susah dikendalikan. Pendiam begitu tapi jika sudah marah beuuhh tenaganya melebih kekuatan banteng.


Pandangan Gio beralih menatap Ara yang juga menatapnya dengan senyum tipis.


"Teman kamu lucu", kata Ara membuat Gio mendengus kesal.


"Kamu disini aja, jangan kemana-mana. Aku main bentar", kata Gio mengusap lembut rambut Ara. Gadis itu hanya mengangguk kaku, sentuhan Gio benar-benar tidak baik untuk jantungnya. Setelah berganti baju, Gio kembali untuk menyimpan barangnya dan berlari kecil masuk lapangan, Ara kembali mendudukkan dirinya di bangku sambil menonton Gio yang sedang latihan.


...---🌻🌻🌻---...


Cekret



Ara berhasil mengambil beberapa foto laki-laki yang kini tengah berstatus pacaranya itu, sedari tadi Gio bermain Ara juga fokus memotret laki-laki itu. Terlihat sangat keren.

__ADS_1


"Ntar main basket bareng ah", kata Ara girang memperhatikan hasil jepretannya.


"Emang bisa ?", tanya Gio yang entah sejak kapan sudah duduk disampingnya sambil meneguk minuman.


Refleks Ara menyembunyikan ponselnya dan menatap Gio gugup.


"S-sedikit", jawab Ara.


"Aku bisa main tapi sedikit-sedikit, gak terlalu pintar", jawab gadis itu lagi.


"Oke, besok kita tanding", kata Gio menatap Ara dari samping.


"Siapa takut", tantang Ara.


"Kenapa gak hari ini aja ?", tanya Ara.


"Ini udah mau malam, kamu harus pulang", jawab Gio.


"Kalau kamu bisa ngalahin aku, aku kasih hadiah", kata Gio.


"Bener ya, awas aja kalau enggak", jawab Ara dengan mata berbinar.


Belum tahu saja laki-laki ini jika dia dulu kapten tim basket putri di SMA nya tapi itu beberapa tahun yang lalu, entah sekarang dia masih biasa atau tidak yang jelas dia tidak akan menurunkan harga dirinya jika harus kembali menolak permintaan Gio.


"Tapi kalau aku yang menang, gimana ?", tanya Gio.


Ara terlihat berfikir sejenak, lalu berujar "aku kasi hadiah juga",


"Oke", balas Gio singkat.


Ara hanya mengangguk lalu kembali menatap kedepan, membuat Gio terus memperhatikan gerak-gerik gadis itu. Gadis yang sedang memakai topi hitam itu begitu terlihat cantik hari ini. Tidak, tidak, bukan hari ini tapi setiap hari.


"Cantik", celetuk Gio membuat Ara menoleh.


"Kalau gak cantik kamu emang kamu mau ?", tanya Ara sedikit ketus


Gio mengangguk saja, walaupun sebenarnya dia tidak menilai Ara dari fisiknya tapi pertama kali melihat Ara sudah menjelaskan bagaimana sikap dan sifat perempuan itu membuat Gio langsung jatuh cinta padanya, sampai melakukan hal konyol hanya untuk dekat dengannya.


Ara memperhatikan Gio yang kini kembali meneguk minumannya. Gio yang keringatan seperti ini semakin membuatnya keren.


"Kenapa ?", tanya Gio saat menyadari sedari tadi Ara sedang menatapnya. Gadis itu hanya mengerjapkan matanya karena ketahuan. Dengan pipi merona Ara kembali menatap kedepan memperhatikan orang-orang yang masih latihan. Melihat itu, Gio terkekeh pelan lalu mengacak rambut Ara gemas.


"Gemesin banget sih, calon istri",.


...---To Be Continued---...

__ADS_1


__ADS_2