Perjalanan Cinta CEO Muda

Perjalanan Cinta CEO Muda
Part 73. Tak mau pisah.


__ADS_3

Ara berdecak kesal saat Gio lagi-lagi tak mau lepas darinya. Sejak tadi pagi sampai selesai makan siang, laki-laki itu tidak pernah lepas mengikutinya. Bahkan laki-laki itu tidak masuk kerja dihari pertamanya resmi menjadi CEO hanya karena ara yang tidak masuk. Jelas, hari ini dia izin karena kerjaan Gio tadi malam yang membuatnya susah berjalan. Jangan berfikir bahwa semalam Gio lembut padanya, justru berbanding terbalik dari itu semua. Oke, sudah lupakan masalah itu. Sekarang yang terpenting adalah dia bisa lepas dari Gio sekarang. Bukan apanya, Gio selalu memeluknya dan itu membuatnya sesak.


"Gio! lepas dong," pinta Ara untuk yang kesekian kalinya.


Laki-laki dengan mata sembab itu menggeleng tanda tak mau melepaskan Ara justru semakin mengeratkan pelukannya. Seolah jika dia melepaskan pelukannya, Ara bisa saja menghilang saat itu juga.


"Ya ampun, Gio! sesak," keluh Ara.


Keduanya kini sedang berada di ruang tamu dengan Gio yang tak mau jauh darinya sedikit saja. Mendengar keluhan Ara, Gio hanya melonggarkan sedikit pelukannya. Dia nyaman dengan posisi ini. Posisi dimana dia dengan tenang memeluk Ara yang duduk didepannya. Menyandarkan kepalanya pada ceruk leher Ara dan menghirup dalam-dalan aroma tubuh Ara yang menjadi candunya.


Ara menghela nafas kasar, mau bagaimana pun dia menegur Gio, tetap saja dia tidak akan melepasnya. Entah kenapa Gio menjadi sangat manja setelah menangis seharian.


"Minggu depan nikah yuk," ajak Gio begitu enteng.


Ara refleks memukul lengan Gio yang melingkar diperutnya. Gio ini ngajak nikah anak orang seperti mengajak untuk membeli goreng didepan kompleks.


"Ngajak nikah gampang banget," sahut Ara.


"Lebih cepat lebih baik,"


"Tapi gak gitu juga tuan muda. Kamu ngajak nikah udah kayak ngajak beli gorengan,"


"Terus nunggu apalagi?"


"Semua butuh persiapan, Gio. Gak bisa langsung gitu aja,"


"Ya udah, mulai besok kita urus pernikahan kita secepatnya. Yaaaaa?"


Ara menghela nafas pelan. Benar apa kata Gio, sebenarnya apa yang mereka tunggu hingga menunda pernikahan mereka tapi bagi Ara, mempersiapkan pernikahan itu bukan hal yang mudah dan pasti dia dan Gio akan sering terlibat cekcok nantinya. Mereka harus benar-benar mempersiapkan mental untuk hal sesakral itu.


"Kita persiapin pelan-pelan ya, sedikit demi sedikit," kata Ara memberi pengertian.


"Iyaa,"


"Semuanya harus siap, Gio. Gak bisa langsung jadi gitu aja,"


"Iya sayang ku,"


"Kamu gak pulang?"


"Kamu ngusir aku?"


Gio yang kesal dengan pertanyaan Ara tadi langsung mengigit bahu wanita itu hingga Ara terlonjak kaget.


"Iih kanibal, sakit tau," kesal Ara menjauhkan kepala Gio dari tubuhnya.


"Kamu sih, kok ngusir," sahut Gio tak kalah kesal.


"Aku cuma nanya ya, bukan ngusir," ujar Ara tak mau kalah.


"Sama aja,"

__ADS_1


Setelah kejadian tadi pagi, keduanya kembali seperti semula. Meski masih ada rasa sakit yang tertinggal dihati masing-masing tapi keduanya berusaha untuk menerima apa yang sudah terjadi. Mungkin ujian dalam hubungan mereka memang seperti ini.


"Aku nanya, Gio. Ayah sama bunda gak nyariin emang?" tanya Ara.


"Enggak."


"Kok gitu?"


"Ayah sama Bunda diluar negeri, ikut liburan bareng kakek nenek. Mungkin mereka juga bakal menetap disana," jawab Gio.


Ara melepas pelukan Gio dan berbalik menatap Gio hingga keduanya kini duduk berhadapan dengan tangan Gio yang kembali memeluk pinggang Ara.


"Kalau mereka menetap disana, kamu sama Gea juga dong?" tanya Ara menatap Gio yang juga menatapnya.


Gio mengecup bibir pink kekasihnya itu sebelum berujar, "Belum pasti, sayang. Masih rencana soalnya kesehatan kakek akhir-akhir ini menurun,"


"Gea beberapa hari ini lagi banyak masalah sama Zian dan Dara. Kalau rencana ayah beneran, aku juga bakal bawa dia. Aku gak bisa liat dia sedih terus dan mungkin dengan cara pindah dia bisa bebas dan jauh dari rasa sakit itu,"


"Lagipula kalau aku kesana, aku pasti bakal bawa kamu juga kok," lanjutnya.


"Walaupun kita belum menikah?"


Gio mengangguk sebagai jawaban. Tangannya terangkat mengusap lembut pipi Ara. Tatapan nya tak pernah berubah sedikit pun untuk kekasihnya ini, selalu teduh dan penuh cinta.


"Kalau perlu kita bisa langsung nikah di sana. Lagian ayah mana mau ninggalin putrinya disini sendirian," sahut Gio tersenyum tipis.


"Aku sayang kamu, Gii," ujar Ara tiba-tiba semakin membuat senyum Gio mengembang.


...--🌻🌻🌻--...


Veronica duduk tak tenang di hadapan kedua orang tua Ken dan juga Arsal, adik Ken yang menatap tak mengerti pada kakaknya yang tiba-tiba menyuruh mereka semua kumpul di siang bolong seperti ini Bahkan papanya dipaksa kembali ke rumah. Katanya ada hal penting yang ingin Ken sampaikan.


"Apa sih Ken?" tanya Arsal tak sabaran sampai lupa jika di sana ada papa dan mamanya.


"Bang," tegur Albi pada putra keduanya itu.


"Ehehehe maaf Pa, abisnya abang penasaran," katanya cengengesan.


"Jadi?" tanya Albi pada putra sulungnya yang kini masih diam menatap ketiga orang tersayangnya itu.


Albi, Rini dan juga Arsal sedikit bingung dengan tingkah Ken. Pasalnya ini baru pertama kalinya lagi laki-laki itu membawa seorang wanita ke rumahnya selain Aluna, bahkan sampai mengenalkan perempuan itu pada orang tuanya.


"Minggu depan abang mau nikah," ujarnya to the point.


"Ohh, cuma mau nik...APA?" pekik Arsal histeris saat tersadar apa yang Ken ucapkan.


"Abang, diam dulu," kata Rini mengusap lengan putra keduanya.


Rini dan Albi sama terkejutnya dengan Aral. Mereka tidak tahu siapa perempuan yang dibawa anaknya tersebut tapi tiba-tiba anaknya meminta menikah dan itu minggu depan. Oh ayolah! menikah tak segampang itu Tuan Ken yang terhormat.


"Coba jelasin baik-baik," ujar Albi tenang.

__ADS_1


Dia tahu, putra sulungnya itu adalah orang yang malas basa basi dan tidak suka berbicara panjang lebar. Tapi, jika sudah menyangkut hal seserius ini, dia tidak mau anak-anaknya salah langkah dan menganggap pernikahan itu sebuah permainan. Meski Ken sudah salah langkah dari awal.


Ken menghela nafas pelan lalu melirik Veronica yang menunduk takut sekaligus malu. Tangan laki-laki itu beralih menggenggam tangan wanitanya lalu kembali menatap orang tuanya serius. Sedangkan Arsal menatap tak percaya pada Ken. Dia masih tidak mengerti. Setaunya kakaknya itu masih belum move on dari Aluna dan juga Ara, calon istri sahabatnya.


"Vee halim anak Ken..."


"HAH," Lagi-lagi Arsal berteriak histeris memotong ucapan Ken dan mengagetkan semua orang. Ditempatnya, Veronica semakin gugup. Dia bisa tebak jika Arsal tak menyukainya.


"Bang.." panggil Rini lembut tanpa mempedulikan pekikan Arsal.


Ken menoleh menatap mamanya yang selalu menatapnya teduh. Senyum tipis terukir dibibir tebalnya. Veronica semakin takut saja, dia takut keluarga Ken tidak menerimanya. Tapi bukan itu alasan terbesarnya. Dia hanya takut keluarga Ken menyuruhnya untuk menggugurkan anaknya. Dia tidak mau, perlakuannya yang sudah menghadirkan malaikat kecil itu dan dia tidak mau semakin menambah bebannya dengan menggugurkan anaknya. Dia tidak sampai hati harus membunuh anaknya sendiri.


"Abang serius?" tanya Rini pelan.


"Hmm..." jawab Ken mengangguk pasti.


"Hari itu Ken melakukannya dan anak yang ada diperut Vee adalah anak Ken. Abang mau tanggung jawab dan mengurus anak kami sama-sama. Abang minta maaf kalau udah bikin papa sama mama kecewa dengan kelakuan Ken." lanjutnya menatap papanya yang sedari tadi diam dan terus menatapnya.


"Abang minta maaf, Ma. Abang udah merusak perempuan tapi abang gak mau semakin merusaknya dengan cara telantarkan mereka, sedangkan yang dikandung Vee anak abang sendiri."


"Pa! Abang kesini bawa Vee buat ketemu papa sama mama buat minta restu." Arsal melongo melihat Ken berbicara sepanjang itu. Ini adalah kalimat terpanjang yang pertama kali Ken keluarkan setelah beberapa tahun setelah kejadian mengerikan itu.


"Kalau papa sama mama tidak setuju?" tanya Albi membuat Veronica meremas kuat tangan Ken. Menyalurkan rasa takut yang dia rasakan. Ken mengusap lembut punggung tangan Veronica bermaksud memberi ketenangan.


"Abang akan tetap menikah, dengan atau tanpa restu papa dan mama. Anak abang butuh ayahnya dan abang gak mau kalau nanti anaknya lahir dia gak punya ayah," jawab Ken tegas membuat Veronica menatapnya.


"Kamu menikah hanya karena ingin tanggung jawab, bukan karena perasaan, bang," ujar Albi yang langsung dihadiahi gelengen kepala oleh Ken.


"Enggak, pa. Abang sanya sama Vee, abang cinta sama dia dan abang mau sama dia terus sampai abang gak bisa nafas lagi," jawab Ken tanpa ada keraguan di sana. Veronica tak percaya jika Ken akan mengatakan itu. Dia pikir Ken hanya sekedar ingin tanggung jawab tanpa adanya rasa tapi ternyata salah, Ken sudah mulai membuka hatinya. Veronica tersenyum senang mengetahui hal itu.


Arsal tersenyum tipis melihat kakaknya itu. Sepertinya dugaannya salah, Ken sudah berhasil move on dan itu karena Veronica si gadis tukang bully di kampusnya dulu.


"Oke minggu depan kalian nikah," ujar Albi pada akhirnya membuat Ken menarik nafas lega dan Veronica yang menatap tak percaya pada orang-orang di sana, apa segampang itu?. Dan jangan lupakan Arsal yang kembali berteriak lantang mengagetkan semua orang.


"GAK BISA GITU DONG PA," teriaknya membuat Ken jengah sendiri.


"Kenapa?" tanya Rini.


"Ingat ya, Ma. Ken sama Arsal sudah sepakat akan menikah barengan dan itu sudah atas persetujuan Tuan Albi dan nyonya Rini jadi tidak bisa seperti itu dong, Ken nikah duluan, gak bisa, gak bisa," ujarnya mendramatis. Ken sudah tahu Arsal hanya akan berbicara hal yang tidak penting.


"Ya udah ajak Naya nikah minggu depan. Kalian nikah barengan," ujar Albi enteng.


Seketika muka songong Arsal terganti dengan muka memelas menatap sang papa.


"Naya belum mau nikah kalau belum selesai kuliah, pa," ujarnya.


"Ya sudah biarkan Ken menikah minggu depan dan kamu tunggu Naya saja," sahut Albi.


"Papa, gak bisa....." ucapan Arsal langsung terpotong saat mendengar celetukan Ken.


"Mati aja lo, Ar" celetuknya tanpa beban.

__ADS_1


...---To be continued---...


__ADS_2