
Siap untuk jawaban dari teka teki yang belum terjawab?
Dibaca pelan-pelan ya, biar feelnya dapat.
Happy Reading.
Gio menatap jejeran mobil yang terparkir didepan rumah orang tuanya. Arsal tadi memberinya kabar bahwa keluarga mereka sedang berada di rumah Gio untuk makan malam bersama. Entah ini keberuntungannya atau justru kesialannya, yang jelas Gio tidak peduli itu. Dia hanya ingin bertemu Ken sekarang juga.
Dengan amarah yang sebentar lagi meledak, Gio berjalan masuk kedalam rumah besarnya sambil membanting pintu, tak peduli dengan orang-orang yang terkejut dan Ara yang sedari tadi mengejarnya.
Tanpa banyak kata, Gio mendekat kearah dimana orang-orang itu berkumpul.
"Abang pulang," sapa bunda Vio saat melihat putranya datang.
Tak mempedulikan pertanyaan bundanya, Gio berjalan lurus tanpa melepas pandangannya dari Ken. Bahkan Arsal bingung melihat sikap Gio yang seperti sekarang ini. Sedangkan Ara berhenti tepat dibelakang Gio dan mengatur nafasnya. Rasa takut kini menyelimuti Ara, rasanya dia ingin menyeret Gio pergi dari sini sekarang juga tapi itu rasanya tidak mungkin, melihat amarah laki-laki itu dia lebih dulu ciut.
Setelah dekat dengan Ken, laki-laki dengan balutan kaos hitam itu langsung menarik Ken dan melayangkan pukulan keras pada rahang laki-laki hingga Ken tersungkur dilantai. Semua orang dibuat terkejut dengan aksi spontan Gio.
"GIO," tegur Kevin tegas namun tak dihiraukan Gio.
Saat Ara hendak mendekat, tangannya dicekal Arsal, melarangnya mendekat. Arsal penasaran apa yang membuat Gio bisa lepas kendali didepan keluarganya seperti ini terlebih pada Ken yang notabenenya sahabatnya sendiri.
"BANGSAT LO KEN," teriak Gio kembali menyerang Ken dengan brutal.
Vio, Ara, Rini dan Veronica sudah tak bisa menahan ketakutan mereka melihat bagaimana brutalnya Gio dan Ken yang sekarang saling serang. Bahkan mereka sudah menangis ditempat mereka. Sedangkan Kevin, Arsal dan Albi terdiam di tempat masih memperhatikan mereka.
"APA-APAAN SIH LO," kesal Ken berusaha berdiri mengusap darah yang mengalir dari sudut bibirnya.
Nafas Gio terengah-engah dengan menatap tajam kearah Ken seolah tatapannya itu bisa langsung membunuh Ken detik itu juga.
"Hari itu aku terima makanan dari Ken dan ternyata makanannya udah dicampur sama obat penggugur",
Ucapan Ara kembali terlintas dikepalanya membuat Gio semakin naik darah. Tanpa memikirkan apapun lagi, tak peduli dengan orang tua mereka, teriakan Ara menyuruhnya berhenti, atau keadaannya setelah ini, Gio meraih guci berukuran sedang yang tak jauh dari jangkauannya. Seolah tak memiliki akal dan hati sama sekali, Gio melempar guci itu kearah Ken.
"MATI LO BANGSAT," pekik Gio sambil melempar guci tersebut, untung saja Ken masih bisa bergerak cepat hingga guci itu tak mengenai dirinya tapi justru dinding yang berada tepat dibelakangnya. Semua orang berteriak histeris melihat tingkah Gio yang sudah tak bisa dikendalikan.
"ABANG, CUKUP," teriak Gea dari arah pintu utama lalu berlari melerai Gio dan Ken. Sudah sedari tadi dia berdiri mengamati kedua abangnya baku hantam. Kali ini Gio sudah sangat keterlaluan, dia tidak ingin Gio benar-benar membunuh orang.
Adik perempuan Gio itu tak merasa takut sama sekali. Gea langsung menubruk tubuh Gio, memeluk kakak laki-lakinya itu dari belakang agar tak menyakiti Ken lebih jauh.
"Cukup, bang. Ada apa sebenarnya?" tanya Gea pelan.
__ADS_1
Tak menghiraukan itu, Gio melepas tangan Gea yang melingkar pada perutnya dengan kasar dan mendorong Gea menjauh. Untung Zian lebih gesit menangkap tubuh istrinya hingga tak sampai jatuh ke lantai. Semua orang semakin terkejut. Ini bukan Gio yang mereka kenal, Gio tak pernah kasar pada adiknya semarah apapun dia. Ini seperti sisi lain Gio yang baru mereka lihat.
Ken menatap Gio tak mengerti, apa yang membuat laki-laki itu semarah dan sebrutal ini, dia tidak tahu letak kesalahannya tapi Gio dengan kurang ajarnya datang dan memukulnya habis-habisan.
Gio kembali mendekat pada Ken, tak memberi celah sedikit pun pada Ken untuk pergi darinya. Dengan gerakan cepat, Gio menendang perut Ken hingga sahabatnya itu terpental dan punggungnya menabrak dinding cukup keras. Sudah cukup, Ken tak bisa lagi menghadapi Gio yang brutal seperti ini. Tubuhnya terasa remuk dan luka diwajahnya juga semakin nyeri. Ken pasrah saat Gio kembali menarik kerah kemejanya, ingin menghajarnya.
Saat hendak melayangkan pukulan pada Ken yang sudah terduduk lemah dilantai, gerakan tangan Gio terhenti saat seseorang menariknya cukup keras kearah belakang. Gio menatap nyalang kearah Arsal yang tadi menariknya.
"Lo mau bunuh teman lo sendiri?" tanya Arsal.
Tatapan Gio tak berubah sama sekali, masih sama tajam dan ingin membunuh orang. Mendengar pertanyaan Arsal, Gio semakin ingin membunuh Ken sekarang juga.
"Dia bukan teman gue lagi," jawab Gio tegas.
Semua orang terdiam mendengar penuturan Gio. Ken yang sudah berdiri dibantu istrinya, menatap Gio yang berdiri tak jauh didepannya. Demi Tuhan, dia tidak mengerti alasan kemarahan Gio, bukankah yang seharusnya marah adalah dirinya karena Gio tidak mau bertanggung jawab soal kasus Aluna.
"Ada apa sebenarnya?" tanya Kevin dan Albi bersamaan.
Gio tak berniat menjawab sama sekali. Bahkan dia tak menatap orang tuanya, dia terus menyorot Ken yang masih dibantu istrinya untuk berdiri tegak.
Dengan air mata yang sedari tadi mengalir, Ara mendekat pada Gio dengan tubuh bergetar takut. Dengan memberanikan diri, Ara langsung memeluk Gio yang masih ngos-ngosan menahan amarahnya.
"Jangan gini, aku takut," ucapnya lirih sambil memeluk Gio dengan erat.
Mendengar isakan Ara, Gio semakin tak karuan. Dia membalas pelukan Ara dan menatap tajam kearah Ken.
"LO BUNUH ANAK GUE," teriak Gio membuat semua orang terkejut. Anak, sejak kapan Gio menikah hingga memiliki anak?. Semua pertanyaan itu yang sekarang terlintas di kepala orang-orang yang ada disana.
"LO CAMPUR OBAT PENGGUGUR KE MAKANAN YANG LO KIRIM KE ARA," lanjutnya.
Ara semakin mengeratkan pelukannya mendengar teriakan melengking dari Gio. Sedangkan semua orang yang ada disana bungkam tak mengerti arah pembicaraan Gio.
"Beberapa tahun lalu lo jebak gue dengan mencampur obat perangsang di minuman gue dengan tujuan agar gue bermain dengan ****** yang lo pilih dan Ara ninggalin gue," ujar Gio memulai ceritanya saat melihat tatapan tidak mengerti dari semua orang termasuk Ken.
"Tapi sayangnya, malam itu gue malah balik ke apartemen dan maksa lakuin hal itu sama Ara," lanjutnya, Gio merengkuh tubuh Ara yang semakin terisak.
"Yah seperti dugaan kalian, Ara hamil anak gue. Tapi karena lo tau gue belum pisah sama Ara lo ubah rencana lo buat misahin kami. Lo nyari orang yang mirip sama gue buat berbuat hal kotor dan lo kirim ke Ara biar Ara salah paham dan ninggalin gue," Gio menarik nafas panjang lalu menghembuskannya dengan kasar.
"Dan lo berhasil, Ara pergi dari gue saat dia hamil. Ohh, gak sampai disitu lo kirim makanan ke Ara yang ternyata sudah dicampur obat penggugur buat bunuh anak gue,"
"LUPA LO?" teriak Gio menunjuk Ken.
__ADS_1
Semua orang dibuat bungkam dan terkejut dengan penjelasan Gio. Semuanya diam, hanya suara isakan Ara yang terdengar.
"ANAK GUE SALAH APA SAMA LO SAMPAI LO TEGA BUNUH DIA BANGSAT?" tanya Gio setelah beberapa menit diam. Dia ingin sekali menghajar Ken lagi jika saja Ara tak memeluknya begitu erat sekarang.
"Gue gak pernah lakuin hal sebrengsek itu," ujar Ken membela diri.
"PEMBOHONG,"
"Gue gak bohong, gue gak pernah membunuh siapapun. Mungkin itu karma buat lo yang udah bunuh anak gue dan Aluna dimasa lalu,"
"GUE UDAH RATUSAN KALI BILANG KALO BUKAN GUE YANG BUNUH ALUNA, DAN ANAK...." Gio menggantung ucapannya sambil menghela nafas pelan.
"ITU BUKAN ANAK LO. ALUNA HAMIL BUKAN ANAK LO TAPI ANAK ORANG LAIN," ujar Gio membuat Ken menegang ditempatnya. Tidak mungkin, dia dan Aluna sudah melakukan itu dan pasti Aluna hamil anak dirinya. Gio pasti berbohong padanya.
"Aluna sudah hamil 3 bulan saat lo dan dia melakukan itu. Lo aja yang bego mau dibohongi sama dia," ujar Gio sambil melempar sebuah buku kecil yang selalu dia bawa.
Veronica membantu Ken mengambil buku bersampul pink tersebut. Isinya kosong, hanya dibagian tengah saja sebuah tulisan dan foto USG Aluna yang terselip disana. Ken kenal betul tulisan tangan itu, tulisan tangan Aluna yang menuliskan ayah, ibu dan usia bayi di foto USG itu. Ken mengingat betul semua yang dia lakukan dengan Aluna dan apa yang dikatakan Gio memang benar, pantas saat hari itu Aluna menyuruhnya untuk hati-hati dan pelan dengan alasan agar tak sakit.
"Bangsat," umpat Ken membanting buku kecil itu.
"Aluna memang mati karena dibunuh tapi bukan Gio pembunuhnya, melainkan ayah dari anak yang dikandung Aluna, karena dia tidak terima saat Aluna lebih memilih lo dan mengatakan anak itu anak lo padahal jelas-jelas anak itu anak mereka," ujar Arsal ikut menjelaskan setelah mengerti semuanya. Arsal sudah menyelidiki semuanya dan perlahan benang merahnya bisa dia uraikan. Dia hanya menunggu pelakunya datang sendiri kehadapan mereka.
"Dan karena itu juga lo tega bunuh anak gue yang bahkan gak punya salah apa-apa sama lo," lirih Gio yang masih memeluk Ara dengan erat.
Ken menatap Gio yang terlihat begitu kacau, jadi selama ini, bertahun-tahun lamanya Ken salah paham pada Gio hingga membenci laki-laki itu dengan alasan yang bahkan Gio sendiri tidak melakukannya. Ken mengusap wajahnya kasar. Dia tidak habis pikir bagaimana semuanya bisa serumit ini.
Sedangkan Kevin dan Albi mengusap wajahnya kasar lalu duduk di sofa. Bisa-bisanya mereka tidak tahu permasalahan yang anak-anak mereka hadapi selama ini. Mau marah pun mereka tidak bisa. Gagal menjadi seorang ayah adalah satu hal yang terlintas di kepala mereka berdua sekarang. Suasana kembali hening, semua orang sama tak menyangkanya dengan kejadian yang terjadi pada keluarga mereka.
"Selama ini gue diam, gue terima lo mau nuduh gue yang bunuh Aluna. Gue juga terima makian lo dan nanggung trauma besar sendirian setelah kematian Aluna tapi lo..," Gio tak sanggup lagi menatap Ken.
"Lo bunuh anak gue, Ken," ujar Gio lagi sangat pelan.
Setelah kalimat itu Gio ucapkan, suara tepuk tangan terdengar dari arah pintu utama rumah besar keluarga Ananda. Hal itu berhasil mengalihkan atensi semua orang yang ada disana. Termasuk Gio dan Ara.
...-To be continued-...
Siapa hayoo...
Penasaran gak???
Jawabannya ada di part selanjutnya, tungguin terus yaa
__ADS_1
See you soon