Perjalanan Cinta CEO Muda

Perjalanan Cinta CEO Muda
Part 88. Terbongkar?


__ADS_3

Siang ini, dengan balutan baju kaos abu-abu dipadukan dengan hotpants berwarna hitam, Ara membersihkan halaman toko kuenya sekaligus meja yang ada di sana. Memperbaiki kembali tatanan tanaman dan beberapa lampu hias yang ada di tokonya. Sedangkan Aura berada dalam toko melayani beberapa pembeli yang datang siang ini.


Sibuk mengerjakan pekerjaannya, Ara dibuat terkejut ketika sebuah sapu lidi tiba-tiba mendarat tepat dimeja yang dia bersihkan. Seseorang melemparnya dengan kasar hingga sedikit mengenai wajahnya.


Ara mendongak menatap sekumpulan ibu-ibu yang sudah berdiri dihadapannya, menatapnya dengan tatapan permusuhan. Ara tak mengerti apa yang terjadi, sedangkan Aura yang melihat kejadian tadi tak kalah kagetnya dan langsung bergegas kedepan dan melindungi Ara. Bisa bahaya jika ibu-ibu itu melakukan hal lebih jauh. Ara yang masih syok hanya menatap mereka dengan tatapan linglungnya.


"Ada apa ini ibu-ibu?" tanya Aura sedikit meninggi, tidak Terima apa yang mereka lakukan pada Ara.


Bisa Ara lihat, sekumpulan ibu-ibu itu menatap begitu marah padanya.


"USIR DIA DARI DESA KITA," teriak salah satu dari mereka yang memang berada dibagian paling depan dan langsung diangguki setuju orang-orang yang ada dibelakangnya.


"Ada apa sebenarnya, kita bisa bicarakan baik-baik. Ada apa, kenapa adik saya harus pergi dari sini?" tanya Aura berusaha menenangkan.


"DIA HAMIL BUKAN KARENA SUDAH MENIKAH, DIA TIDAK DITINGGAL MATI SUAMINYA. DIA WANITA MURAHAN YANG HAMIL DILUAR NIKAH,".


Deg..


Ucapan itu berhasil menusuk hati Ara. Bak anak panah yang langsung melesat kesasarannya, Kata-kata itu berhasil kembali membuat hatinya retak. Aura tak kalah kagetnya, bagaimana ibu-ibu ini bisa tahu? Remasan pada jemarinya Aura rasakan. Ara menggenggam tangannya begitu erat. Perempuan itu melangkah mundur dengan menunduk menahan air matanya. Aura mengerti dengan kondisi Ara sekarang, pasti Ara terpukul dan sakit hati dengan ucapan ibu-ibu itu.


"Benar, usir dia dari sini. Dia gak pantas disini, merusak desa kita saja," sorak yang lainnya, setuju.


Ara meneteskan air matanya, dia tidak tahu lagi harus berbuat apa sekarang. Rahasianya sudah terbongkar dan dia akan segera diusir dari sini, lalu dia akan tinggal dimana lagi?. Dia tidak tahu harus meminta tolong pada siapa lagi, dia tidak tahu harus membela diri seperti apa karena apa yang dikatakan mereka benar adanya dia hamil sebelum menikah.


Aura menghela nafas kasar, ibu-ibu ini sudah kelewat batas, meskipun dia tahu kebenarannya tapi itu bukanlah hal disengaja. Kejadian itu diluar kendali keduanya. Aura tak membenarkan itu semua, tapi mau bagaimanapun semuanya sudah terjadi, lalu untuk apa lagi menyalahkan Ara ataupun tunangannya, Gio.


"Ara gak hamil diluar nikah," balas Aura tegas.

__ADS_1


Ara menatap Aura dengan mata yang sudah basah, perempuan itu terkejut dengan Aura yang berani membelanya dihadapan semua orang sedangkan dia hanya sendirian.


"Ibu-ibu jangan main hakim sendiri, atau saya laporkan tindakan kalian ke pihak berwajib," lanjutnya. Membuat ibu-ibu itu seketika terdiam.


Aura menarik Ara untuk berdiri disampinganya, menggenggam tangan Ara erat berusaha menyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.


"Siapa yang mengatakan Ara hamil diluar nikah, darimana kalian tahu itu?" tanya Aura.


"Jawab," sarkas Aura.


"Kamu gak perlu tau itu, tapi yang jelas Ara harus angkat kaki dari desa kami sebelum kami seret dia pergi," jawab ibu-ibu itu.


Lagi dan lagi Aura menghela nafas kasar, sedangkan Ara sudah tak tahu lagi harus berbuat apa. Semuanya sudah terbongkar lalu apa yang harus dia katakan untuk membela diri. Jauh dalam lubuk hatinya dia berharap di keadaan sekarang, Gio datang menggenggam tangannya lalu mengatakan pada semua orang bahwa dia suaminya, namun harapan hanya tetap tinggal harapan, itu semua tidak akan pernah terjadi. Gio sudah bahagia dengan pilihannya sendiri dan dia harus menghadapi masalah semacam ini, juga sendirian.


Aura melepas genggaman tangan Ara lalu masuk kedalam rumah Ara mengambil sesuatu. Selang beberapa menit Aura kembali membawa sebuah surat lalu mengangkatnya tepat dihadapan semua orang.


"Adik saya sudah menikah, buktinya sudah ada lalu atas dasar apa kalian menuduhnya hamil diluar nikah," lanjut Aura.


Ara tersentak kaget melihat itu, begitupun ibu-ibu yang sedari tadi meminta Ara pergi dari sana. Bisik-bisik mulai Ara dan Aura dengar jelas dari ibu-ibu itu.


"Saya bisa melaporkan kalian semua atas tindakan pencemaran nama baik jika kalian bersikap seperti ini terus. Ibu-ibu, sebaiknya sebelum menghakimi orang, cari dulu kebenarannya. Oh iya, satu lagi. Ini fotocopy buku nikah Ara dan suaminya karena buku nikah Ara ditahan oleh mertuanya jadi dia hanya membawa fotocopy-annya saja. Kalau anda tidak percaya silahkan di cek. Disitu tertulis jelas nama Ara, suaminya, tanggal menikah, foto dan tanda tangan keduanya," jelasnya panjang lebar lalu meletakkan kertas itu diatas meja dengan kasar.


"Jika kalian masih bertindak seenaknya seperti ini, saya tidak akan segan-segan berbuat kasar pada kalian,"


Dengan nafas memburu dan dada naik turun, Aura membela Ara sendirian. Sedangkan Ara sudah meneteskan air matanya, terharu dengan sikap Aura yang masih mendukungnya.


"Mending ibu-ibu bubar deh, gak usah nyebar fitnah," lanjutnya.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, para ibu-ibu itu pergi meninggalkan Ara dan Aura yang masih berdiri menatap mereka. Aura menghela nafas kasar lalu duduk di kursi yang tak jauh darinya. Berulang kali perempuan bermata sipit itu mengusap dadanya pelan berusaha meredam amarah dalam dirinya.


"Kak.." panggil Ara pelan berhasil mengalihkan atensi Aura.


Ara mendekat dan berdiri tepat dihadapan Aura yang mendongak menatapnya.


"Terima kasih sudah bantu Ara lagi. Aku gak tau mau bilang apa lagi selain makasih," ujar Ara menatap Aura dengan tulus.


"Kalau tadi gak ada kakak, mungkin aku udah diseret dari sini," lanjutnya.


Aura tersenyum lalu menuntun Ara duduk di kursi sampingnya, menatap Ara dengan tatapan teduh.


"Sebagai kakak, itu yang harusnya aku lakukan. Melindungi adik ku," sahut Aura membuat mata Ara berkaca-kaca.


Pandangan Ara tertuju pada kertas yang tadi Aura perlihatkan pada ibu-ibu yang datang. "Kakak kok bisa ada itu?" tanya Ara penasaran.


Aura tersenyum penuh makna ikut menatap surat yang ada dihadapan keduanya.


"Setelah kamu ceritakan kejadian kemarin, aku minta sama teman aku buat bikin kayak gitu. Berhubung karena gak bisa bikin surat nikah beneran jadi aku mintanya seolah itu fotocopy-an buku nikah kamu," jawab Aura menyengir lebar.


"Kok bisa kepikiran?" tanya Ara.


"Gak tau, antisipasi saja. Siapa tau suatu saat dibutuhkan dan benar saja tadi dibutuhkan, bukan. Cuma sedikit menambahkan cerita membuatnya terlihat nyata," jawabnya dengan bangga.


Ara menatap Aura dengan kagum. Bisa-bisanya dia memikirkan hal sejauh itu, sedangkan dirinya tak berfikir sama sekali.


"Aku gak mau adik dan keponakan aku Kenapa-kenapa,"

__ADS_1


...-To be continued-...


__ADS_2