
...---happy reading---...
Ara berjalan di trotoar jalan dengan pikiran yang entah dimana. Ucapan Rania tadi malam benar-benar menganggunya, dan sikap Gio yang tak seperti biasanya saat bertemu dengar Rania kemarin membuatnya semakin kepikiran. Ara menghela nafas pelan lalu melirik jam tangan yang melingkar dipergelangan tangan kirinya. Jam baru menunjukkan pukul 7 tapi Ara sudah berjalan di trotoar menuju kantor. Dia hanya ingin menikmati paginya sendiri hari ini. Udara cukup sejuk karena tadi malam hujan deras bahkan cuaca sekarang masih mendung dan Ara berani bertaruh, pasti nanti akan hujan.
"Apa Rania dan Gio saling kenal ?", monolog Ara pada dirinya sendiri.
"Atau mereka pernah ada hubungan", katanya lagi dengan kaki yang terus melangkah. Tak mempedulikan orang-orang yang menatapnya aneh karena dia yang bicara sendiri.
"Gio kok gak pernah cerita, tapi kalau mereka ada hubungan untuk apa Gio ngajak aku pacaran", Ara mengacak rambutnya pelan. Pikirannya masih dihantui akan hubungan dua orang itu.
"Pagi cantiknya Gio", sapa seseorang yang kini sudah berhenti di sampingnya.
Ara terlonjak kaget dan menatap orang yang lebih tinggi darinya itu.
"Kan udah dibilang tunggu dirumah aja, ngapain jalan kaki, motor kamu mana ?", tanya Gio beruntun.
Ara masih diam menatap Gio yang sudah rapi dengan jasnya, Ara menghela nafas pelan lalu kembali menatap Gio yang kini tersenyum tipis menatapnya.
"Mau jalan-jalan aja sampai kamu jemput, kan gak panas juga", kata Ara tersenyum simpul.
"Ayo", ajak Ara yang diangguki Gio.
Gio masuk kedalam mobil setelah memastikan Ara duduk dengan tenang dalam mobilnya. Sepanjang perjalanan Ara hanya diam menatap keluar jendela membuat Gio sedikit bingung dengan sikap Ara yang berubah jadi pendiam hari ini. Setelah beberapa menit diperjalanan, mobil Gio berhenti tepat diparkiran perusahaannya sendiri. Saat Ara hendak keluar, pergerakannya terhenti saat tangan Gio lebih dulu menahannya.
"Kenapa, ada masalah ?", tanya Gio lembut menatap Ara teduh.
"Gak papa", jawab Ara singkat.
"Gak papa kok diam aja dari tadi. Aku ada salah ?", tanya Gio mengusap lembut pipi Ara. Pertanyaan laki-laki itu hanya dibalas gelengan pelan oleh Ara.
"Kalau aku ada salah, bilang. Jangan diam aja karena kalau kamu diam, aku gak akan tau kamu ada masalah apa", kata Gio lagi. Tangannya beralih menggenggam tangan Ara lembut.
"Aku boleh tanya sesuatu gak ?" tanya Ara hati-hati. Mungkin dengan cara dia bertanya seperti ini akan membuat semua kekhawatirannya menghilang dan meminimalisir kesalah pahaman antara mereka yang mungkin saja terjadi. Dia tidak boleh kekanakan dengan memilih diam dan mengatakan tidak apa-apa.
"Boleh, sayang. Mau nanya apa ?", tanya Gio lembut membuat pipi Ara merona malu, terlebih laki-laki itu kembali menyebut kata 'sayang' untuknya.
Ara menghela nafas pelan lalu mengganti posisinya jadi serong berhadapan dengan Gio dan menatap laki-laki yang sedari tadi menatapnya itu.
"Kamu ada hubungan sama Rania ?", tanya Ara. "Bukan, bukan aku gak percaya sama kamu tapi aku merasa ada yang aneh aja. Aku gak mau asal nebak dan berujung kita yang salah paham", kata Ara cepat.
Sudut bibir Gio terangkat membentuk senyuman manis. Ternyata gadisnya ini tengah cemburu sampai dia jadi diam sepanjang perjalanan.
"Gak ada, sayang. Aku tidak pernah punya hubungan dengan wanita manapun termasuk Rania. Bagi aku, kamu yang pertama dan insya Allah akan jadi yang terakhir juga", jawab Gio tenang.
"Aku hanya sekedar kenal dia. Rania pernah jadi sahabat Gea, entah apa yang terjadi keduanya jadi berjarak tapi Rania.....",
"Suka sama kamu ?", potong Ara cepat.
__ADS_1
Senyum Gio semakin mengembang mendengar ucapan Ara. Tangannya terulur mengacak rambut Ara pelan.
"Dia yang suka dan dia yang ngejar, sayang. Aku gak pernah respon dia sama sekali. Aku sukanya sama kamu dan itu gak akan pernah berubah, selamanya akan tetap seperti itu", jawab Gio mencubit hidung Ara gemas.
"Udah jangan mikir macam-macam terus, ini..", kata Gio mengarahkan tangan Ara ke dada bagian kirinya lalu berujar, "selamanya akan tetap milik kamu", lanjut Gio.
Senyum Ara mengembang mendengar kata-kata manis dari Gio. Dia berharap semoga Gio akan tetap seperti ini apapun yang terjadi.
"Aku percaya sama kamu", sahut Ara.
"Ya udah, aku keluar. Kamu langsung ke kantor", kata Ara hendak membuka pintu namun lagi-lagi ditahan Gio.
"Apa lagi sayang ?", tanya Ara membuat Gio sedikit salah tingkah.
"Cium", kata Gio menunjuk pipinya membuat Ara terkekeh pelan.
Cup
Setelah itu, Ara bergegas turun disusul teriakan, "dadah my boy".
Gio terkekeh gemas melihat tingkah Ara yang benar-benar membuatnya gemas. Detik berikutnya, senyum Gio hilang saat mengingat gadis yang semalam dia temui dirumah kekasihnya. Ada sesuatu yang mengusik dirinya. Dia takut Rania bertindak lebih jauh setelah ini. Dia paham betul bagaimana sikap Rania. Tapi, sekuat tenaga dia akan selalu menjaga gadisnya. Itu janjinya pada dirinya sendiri.
...---💗💗💗---...
Seorang laki-laki dengan balutan kemeja putih sudah berdiri didepan gedung besar hampir satu jam lamanya. Dia menunggu seseorang keluar dari gedung besar itu. Meski tahu betul respon apa yang dia dapat, dia masih saja nekat menunggu.
Jam pulang kantor sudah beberapa menit yang lalu, tapi orang yang dia cari belum juga menampakkan batang hidungnya. Selang beberapa menit, orang yang sedari tadi dia tunggu akhirnya datang juga. Dengan senyum manis Ken menyambut Ara yang tampak menatap datar kearahnya.
"Ada apa ?", tanya Ara datar.
"Pulang bareng yuk", ajak Ken lembut.
Ara menatap Ken dengan tatapan yang----entahlah Ken tak mengerti arti tatapan itu. Sedangkan Ara berfikir apa Ken sudah lupa kejadian kemarin dan sikap kurang ajar pada dirinya bahkan sekarang di terlihat biasa saja.
"Aku bisa pulang sendiri", sahut Ara datar.
"Sekali doang Ara. Aku mau bicara", bujuk Ken dengan tatapan memohon.
"Aku gak bisa Ken", sahut Ara berusaha melepas cekalan tangannya.
"Aku mohon. Sekali ini aja, setelah itu aku gak akan ganggu kamu lagi", Ken tak gentar terus membujuk Ara.
"Beneran deh. Kalau kamu mau pulang bareng aku hari ini, aku gak akan minta pulang bareng kedepannya", kata Ken meyakinkan Ara.
Ara terdiam sejenak menimang apa yang harus dia lakukan. Tapi ada bagusnya juga, setelah hari ini dia akan jauh dari Ken dan mungkin tidak akan bertemu lagi. Ara menghela nafas pelan menyakinkan diri lalu tanpa pikir panjang, dia mengangguk saja membuat Ken tersenyum senang. Lagipula hujan mulai turun, benarkan ucapannya tadi pagi.
Ara dan Ken masuk kedalam mobil bertepatan dengan kedatangan Gio yang hendak menjemput. Gio diam menatap Ara yang memilih pulang bersama Ken, menghela nafas pelan berusaha menahan amarahnya. Tangannya mencengkram kuat stir mobilnya dengan tatapan datar menatap mobil yang sudah mulai bergerak meninggalkan area perusahan. Bersamaan dengan itu, suara pesan masuk pada ponsel Gio mengalihkan tatapan laki-laki itu.
Ara <3
__ADS_1
Kamu gak usah jemput ya
Aku pulang sendiri aja
Aku ada janji sama Nina
Nanti aku ke rumah
Gio menatap layar ponselnya datar, amarahnya makin jadi saat mendapat pesan dari Ara. Gadis itu berbohong padanya. Menghela nafas kasar, Gio melajukan mobilnya mengejar mobil Ken yang sudah lebih dulu pergi. Meskipun marah, dia harus memastikan Ara pulang dengan selamat.
Bermenit-menit perjalanan, ditemani dengan hujan deras, mobilnya berhenti saat mobil yang sedari tadi dia ikuti berbelok masuk ke sebuah cafe. Kening Gio dibuat berkerut saat melihat Ara dan Ken masuk kedalam cafe. Kenapa tidak langsung pulang saja, pikir Gio.
Gio mengamati dua orang yang keluar dari dalam mobil dan masuk kedalam restoran dari jauh. Setelah cukup lama, Gio memutuskan pergi dari sana. Melihat kedekatan Ken dan Ara membuatnya tidak ingin berlama-lama disana. Dia tidak ingin amarahnya meledak dan membuat kekacauan di cafe itu. Bersama dengan amarah yang sudah memuncak, Gio melajukan mobilnya meninggalkan cafe. Ara bohong padanya, gadis itu berbohong demi bisa pulang bersama Ken.
Sedangkan diujung sana, Ara terus mengumpat pada dirinya sendiri setelah berbohong pada Gio. Rasa bersalah menyelimutinya sekarang. Dia takut Gio tau kalau dia pulang dengan Ken. Sedangkan laki-laki dihadapannya ini sedari tadi memaksanya ini dan itu, membuat Ara risih sendiri. Demi apapun dia ingin segera pergi dari sini secepat mungkin.
"Ayo pulang", ajak Ara yang sudah menghabiskan makanannya.
Ken melirik Ara yang seperti diburu sesuatu. "Sabar kali, Ra. Buru-buru banget", kata Ken yang masih sibuk dengan makanannya.
"Aku harus pulang. Aku ada kerjaan", kata Ara cepat.
"Kamu ada kerjaan atau takut ketahuan Gio?", tanya Ken tersenyum miring. Ara hanya diam tak membalas sama sekali.
"Gio juga udah tau kali, kamu gak liat dari tadi dia ngikutin kita?", tanya Ken lagi membuat Ara terkejut dengan mata membulat.
"Kamu jangan bohong", kata Ara sedikit panik.
"Ngapain bohong. Tuh", tunjuk Ken pada luar jendela lebih tepatnya menunjuk sebuah mobil putih yang sudah bergerak pergi. Ara bahkan hafal diluar kepala mobil itu.
Ara menghela nafas kasar apa yang harus dia katakan pada Gio nanti. Jelas laki-laki itu marah, dia sudah berbohong. Ara merutuki dirinya sendiri.
"Tenang aja, dia juga gak bakal bunuh kamu kok", kata Ken santai.
Ara mendelik menatap tak suka pada Ken yang mengatakan itu. Apa maksudnya berbicara seperti itu.
"Pacar kamu emang phsyco, Kaiyara", kata Ken menunjukkan wajah mengejeknya.
"Kamu jaga ya bicara kamu", kata Ara memperingati.
"Memang seperti itu", sahut Ken.
"Kamu tau apa tentang dia?", tanya Ara tersulut emosi.
"Aku bahkan lebih dari tau dari pada kamu", kata Ken.
"Aku kenal dia lama Ara", lanjut laki-laki itu. Ucapan Ken membuat Ara terdiam seribu bahasa, teringat sesuatu yang dia lihat kemarin di kamar Gio. Apa itu bisa membuktikan kebenaran ucapan Ken ?.
"Dan memang seperti itu kebenarannya, dia phsyco", kata Ken membuat Ara semakin diam.
__ADS_1
"Dia udah bunuh calon istri dan anak gue",
...---To Be Continued---...