
Setelah Gio mengantarnya,, Ara bergegas masuk kedalam kamarnya. Gadis itu terduduk di tepi kasur dengan memegangi dadanya yang berdegup kencang. Gerakan refleks dari Gio tadi tidak baik untuk jantungnya.
Ara menghela nafas pelan lalu beranjak membersihkan diri. Dia tidak boleh terlalu memikirkan Gio. Selalu dia tanamkan dalam dirinya bahwa mereka berbeda dan tidak akan melewati batasannya.
Setelah selesai dengan ritual bersih-bersihnya,, Ara beranjak menuju kamar neneknya untuk memastikan wanita paruh baya itu sudah tidur atau belum. Namun yang di lihat, neneknya sedang terduduk ditepi kasur sambil menatap dirinya yang berjalan mendekat.
"Nenek kok belum tidur", kata Ara saat sudah sampai didepan neneknya.
Ara berjongkok dihadapan neneknya dan memegang kedua tangan yang sudah mulai keriput itu. Ara mengelusnya lembut, sungguh, dia sangat menyayangi neneknya, apapun akan dia lakukan agar tetap bisa bersama dengannya. Ucapan sepupunya tadi masih begitu terngiang di otaknya. Dia takut dipisahkan dengan neneknya, lalu siapa yang akan menemaninya nanti, dia sudah tidak punya siapa-siapa lagi selain. Dia tidak ingin kehilangan lagi.
Tangan neneknya bergerak mengelus puncak kepala Ara dengan lembut.
"Kok melamun ?", tanyanya kemudian.
"Ada masalah ?",
Ara menggeleng dengan tersenyum simpul.
"Gapapa nek", kata Ara.
"Ra", panggil neneknya lalu menuntun Ara untuk duduk disampingnya.
"Ara tadi pulang sama siapa ?", tanya Muti.
Ara mengerutkan kening, baru kali ini neneknya menanyakan pertanyaan seperti itu. Apa neneknya tadi melihat dia pulang bersama Gio.
"Ara pulang sama bos Ara", jawab Ara jujur.
Dia tidak akan pernah berbohong, untuk apa pikirnya.
"Bos ?", ulang neneknya.
Ara mengangguk sebagai jawaban, entah mengapa tiba-tiba neneknya bertanya seperti itu.
"Ara gak ada apa-apa kok nek,, dia hanya mengantar Ara pulang karena kebetulan tadi dia ada perlu dengan Ara", kata Ara memulai ceritanya.
"Dia seumuran dengan Ara. Nenek ingat gadis yang dulu mengantar Ara ?", tanya Ara
"Siapa ?", tanya balik neneknya.
"Gadis yang nenek bilang sangat manis itu loh",
"Ehmmmm... Gea ?",
Muti memang mengenal Gea karena beberapa kali gadis itu datang kesini bersama Ara dan satu lagi gadis yang terlihat mirip dengan Gea, kalau tidak salah namanya Dara.
"Nahh, bos Ara itu kakaknya Gea. Kebetulan dia kasi Ara kerjaan yang lebih gampang",
"Apa ?",
__ADS_1
"Jadi guru les privat Gea",
Sejenak neneknya terdiam, dia tahu berasal dari keluarga seperti apa mereka. Kehidupan orang-orang kaya yang jauh berbeda dengan kehidupan mereka. Seketika kekhawatiran melandanya.
Muti menghela nafas pelan lalu menggenggam tangan Ara lembut. Matanya menatap setiap lekuk wajah cucu kesayangannya ini. Cucunya ini sangat cantik persis seperti ibunya, bulu mata lentik dengan hidung mancung dan bibir tipis berwarna pink alami itu selalu dia kagumi.
"Ara, dengarkan nenek. Ara tidak boleh terlibat lebih dalam dengan keluarga seperti mereka", kata Muti memperingati.
"Nenek tidak suka yaa ?, ya sudah nanti....", balas Ara terputus saat dengan cepat neneknya memotong ucapannya.
"Bukannya nenek tidak suka. Tapi Ara tau sendiri kan keluarga seperti apa mereka, jauh bertolak belakang dengan kita. Nenek tau mereka orang-orang baik, itu kelihatan dari cara mereka, tapi nenek hanya tidak ingin kamu terlibat banyak masalah. Apalagi mereka orang-orang yang berada", kata Muti memotong ucapan Ara.
Ara paham apa yang ditakutkan neneknya, dan dia juga mengerti akan hal itu. Dia sudah memutuskan akan menjaga jarak dengan mereka, dia hanya akan bersikap profesional dan menjalankan tanggung jawabnya. Tapi dia tidak tau takdir Tuhan seperti apa yang dia akan lewati nantinya, tidak ada yang tidak mungkin. Dia hanya akan menyiapkan dirinya untuk segala kemungkinan yang akan terjadi.
Sedangkan Muti, dia tahu laki-laki itu baik dan tidak bermaksud apa-apa tapi dia juga tau laki-laki itu seperti tertarik pada cucunya ini, melihat caranya memperlakukan Ara tadi sangat jelas jika dia menunjukkan ketertarikannya. Terlebih lagi dia rela mengantar Ara pulang. Logikanya saja, apa ada seorang bos yang rela mengantar karyawannya pulang, ini jarang terjadi.
Dia tidak ingin suudzon pada orang, doa hanya khawatir pada cucunya ini, dia tidak ingin jika orang diluar sana menganggap Ara mendekati bosnya itu hanya karena laki-laki itu kaya. Itu bisa saja terjadi karena mengingat kondisi mereka yang seperti ini.
"Nenek jangan khawatir, Ara bisa mengatasi semuanya. Dan Ara akan selalu ingat pesan nenek", kata Ara tersenyum hangat meyakinkan.
"Nenek tau, kamu selalu bisa", balas neneknya dengan ikut tersenyum.
"Ya sudah sekarang nenek tidur",
Setelah setengah jam menemani neneknya sampai tertidur, Ara kembali ke kamarnya. Ucapan dan kekhawatiran neneknya masih terngiang dikepalanya.
Ara membaringkan tubuhnya diatas kasur dan menatap langit-langit kamarnya. Begitu banyak yang dia pikirkan akhir-akhir ini.
...****************...
Dengan langkah tegas dan senyum tipis menghiasi wajah tampannya, Gio berjalan menaiki tangga hendak ke kamarnya. Namun tepat di depan pintu kamar dengan hiasan stiker dan gantungan doraemon itu tiba-tiba keluar seorang gadis dengan piyama tidurnya.
"Kenapa belum tidur ?", tanya Gio menatap Gea yang hanya cengengesan ditempatnya.
"Maraton lagi ?", tanya Gio semakin membuat Gea melebarkan senyumnya.
Gio menghela nafas pelan menghadapi adiknya yang keras kepala itu.
"Lanjut besok, sekarang waktunya tidur", perintah Gio yang secepat mungkin Gea angguki, dia tidak ingin membantah untuk sekarang tidak tau besok-besok.
Gio kembali melangkahkan kakinya menuju kamar, namun sebelum membuka pintu dia teringat akan sesuatu lalu kembali berbalik menatap Gea yang sedari tadi menatapnya.
"Besok Ara akan jadi guru les privat kamu", kata Gio.
Mata Gea terbelalak mendengar ucapan kakaknya. Yang benar saja, dia tidak butuh itu.
"Abang, Gea gak butuh guru les. Bahkan Gea udah kuliah kenapa harus les?", kesal Gea.
Dia tidak habis pikir dengan jalan pikiran kakaknya. Dia ini sudah besar bukan lagi anak SMA yang membutuhkan guru les. Dia seorang mahasiswi sekarang. Terlebih lagi, jika seperti ini waktunya untuk jalan-jalan dan pacaran akan tersita.
__ADS_1
"Kamu itu butuh banyak belajar lagi, Gea. Abang gak terima penolakan", kata Gio tetap dengan pendiriannya.
"Tunggu..." ucapan Gea menggantung. Gadis itu berjalan mendekat pada Gio dengan menyipitkan matanya curiga.
"Apa ?", tanya Gio mengerutkan keningnya.
"Atau jangan-jangan ini salah satu cara Abang biar bisa lebih dekat dengan kak Ara kan ?", tebak Gea tepat sasaran.
Sekarang giliran Gio yang cengengesan dan salah tingkah ditempatnya. Kenapa adiknya bisa cepat tanggap sekarang, biasanya dia begitu lemot.
Mata Gea justru berbinar melihat tingkah Gio. Melihat Gio bersikap seperti itu, Gea membenarkan apa yang menjadi pertanyaannya tadi.
"Abang serius ?", tanya Gea membuat Gio mengangguk.
"Yes", kata Gea girang sendiri.
"Kenapa, kamu tadi kayaknya gak setuju, sekarang girang banget", tanya Gio.
"Gak papa, bagus deh. Gea mau les sama kak Ara", kata Gea dengan senyum manisnya.
"Dengan begitu Abang bisa lebih dekat dengan kak Ara dan Gea punya teman kalau Dara sibuk", balas Gea penuh semangat.
"Kamu suka banget sama dia ?", tanya Gio penasaran.
Gea mengangguk pasti. Sudah jelas dia menyukainya bahkan dia berharap abangnya dan Ara bisa sampai menikah.
"Gea doakan semoga pendekatan Abang sama kak Ara sukses. Kalau perlu Abang gak usah pacaran. Langsung nikah saja", balas Gea.
Melihat adiknya begitu bersemangat, membuat Gio tersenyum tipis lalu mengacak rambut gadis itu.
"Anak kecil tau apa soal nikah-nikahan", bals Gio gemas sendiri pada adiknya itu.
"Taulah, Gea udah gede bang bentar lagi juga nikah", kata Gea.
Tak
Gio menyentil dahi Gea membuat gadis itu meringis kesakitan.
"Belajar dulu yang bener", perintah Gio.
"Siap captain", balas Gea dengan hormat dan tertawa pelan.
"Gea mau tidur, Abang jangan begadang mulu. Good night abang", kata Gea lalu berlari menuju kamarnya. Dia teringat sesuatu membuatnya buru-buru kembali kekamar
Gio terkekeh pelan melihat tingkah adiknya. Ada-ada saja, pikirnya.
"Langsung nikah ?", tanya Gio pada dirinya sendiri.
"Boleh juga",
__ADS_1
...----------------...