Perjalanan Cinta CEO Muda

Perjalanan Cinta CEO Muda
Part 95. Two Years Later


__ADS_3

Rania duduk terdiam di bangku taman. Gadis dengan balutan baju toga tersebut memandang orang-orang yang berlalu lalang menuju area parkiran. Sejam yang lalu, acara wisudanya telah berlangsung namun dia lebih memilih menyendiri dan tak merayakan hari kelulusannya dengan siapapun. Lagipula dengan siapa dia akan merayakan hari yang seharusnya bahagia ini. Orang tuanya tak hadir dengan alasan sibuk. Jika saja ada Ara, mungkin perempuan itu akan dengan senang hati menemaninya hari ini, tapi sampai sekarang pun Rania juga tidak tahu keberadaannya dimana. Rania bahkan tidak tahu dia harus mencari Ara kemana lagi. Dan yang paling membuatnya semakin terpuruk adalah dia yang seharusnya merayakan acara kelulusannya bersama sangat sahabat justru tak bisa merayakannya sekarang. Sekitar dua tahun yang lalu, Gea dinyatakan meninggal. Dia bukan tak ikhlas dengan takdir, hanya saja dia menyesali semua perbuatannya pada sahabatnya itu. Jika saja dia bersikap baik pada Gea dulu, mungkin sekarang dia bisa dengan lapang menerima takdir Tuhan. Tapi apa yang harus dia ikhlaskan. Bahkan hatinya saja begitu sakit setiap kali mengingat Gea.


Rania menghela nafas panjang, kenapa semuanya begitu berantakan sekarang. Rania menyesali setiap perbuatan yang dia lakukan dulu. Mungkin ini teguran baginya tapi bukankah ini terlalu berat. Dia kehilangan orang secara berturut-turut dan orang tua yang sama sekali tak memperdulikan nya. Bahkan selama Rania pindah ke rumah Ara, hanya dua kali mamanya menemui dia itupun hanya beberapa menit, tak cukup sejam.


Rania terus mengamati satu persatu orang yang berlalu lalang. Rania menoleh saat seseorang menoel pipinya. Senyum manis dari seseorang langsung menyambutnya.


"Bunda ngapain duduk disini sendirian ?" kata Bisma terkekeh pelan lalu duduk didamping Rania.


Rania ikut tertawa. Yah, dia melupakan satu hal. Meskipun orang-orang melupakannya, meninggalkannya dan tak mempedulikannya, dia masih memiliki Bisma. Laki-laki yang selalu ada untuknya, selalu membimbingnya dan membawanya kembali ke jalan yang benar, menyadarkan dirinya bahwa dirinya salah. Laki-laki yang kini resmi menjadi suaminya dan sebentar lagi akan menjadi ayah dari anak yang dia kandung. yah, Rania sedang mengandung 4 bulan setelah melangsungkan pernikahan setahun yang lalu. Tak ingin menunduk, Rania dan Bisma sepakat untuk segera memiliki momongan.


"Lagi pengen sendiri aja," jawab Rania.


"Ada yang ganggu pikiran kamu?" tanya Bisma menatap perempuan yang tengah mengandung anaknya itu. Tangan Bisma terulur mengelus perut buncit Rania.


"Gak ada kok, lagi pengen aja," jawab Rania tersenyum kecil berusaha menyakinkan.


"Baby nakal ya jadi gak mood gitu ?" tanya Bisma lagi, masih tak percaya. Dia tahu betul Rania sedang berbohong.


Rania menghela nafas pelan lalu menatap Bisma dengan tatapan teduhnya.


"Ara benar-benar gak bakal balik yaa? Bentar lagi kita punya anak tapi dia gak ada. Kayak ada yang kurang kalau dia gak ada," kata Rania.


Bisma mengusap kepala perempuan itu. Sudah dia tebak, ini yang menjadi beban pikiran istrinya. Tidak mungkin dia merasa terbebani dengan anak yang ada dalam kandungannya sekarang.


"Kita berdoa aja, semoga dia baik-baik saja dan segera kita temukan," ujar Bisma.


"Tapi udah dua tahun dan dia gak ada kabar sama sekali," sahut Rania lagi.


"Semua orang juga udah berhenti nyari dia. Apa gak bakal ketemu lagi?" tanya Rania.

__ADS_1


"Kita doa aja ya," jawab Bisma. Dia tidak tahu harus menjawab pertanyaan Rania seperti apa karena memang, dua tahun ini Ara sudah tak terdengar lagi kabarnya. entah dia baik-baik saja atau tidak.


"Mau liburan gak?" tanya Bisma mengalihkan pembicaraan, dia tidak ingin membuat Rania semakin sedih.


"Kemana?" tanya Rania.


"Kemana aja yang kamu mau," jawab Bisma.


Rania diam sejenak, menimang kemana dirinya akan liburan setelah ini. Hingga akhirnya didalam pikirannya terlintas sebuah tempat yang sudah bertahun-tahun tak dia kunjungi. Dia tiba-tiba rindu dan ingin ke sana, siapa tau jika ke sana dia bisa mengenang keharmonisan keluarganya dan berharap bisa bertemu dengan Ara meski rasanya begitu mustahil.


...❤❤...


Seorang laki-laki dengan balutan jas kantornya sedang duduk membaca email yang masuk kedalam ponselnya hari ini. Kenneth Leondra, laki-laki yang kini duduk sambil menikmati buah apel ditangannya itu sedang menikmati waktu istirahatnya meski tak sepenuhnya istirahat. Disaat seperti ini, dia masih saja menyempatkan diri untuk mengecek beberapa pekerjaannya.


"Daddy.." panggilan itu membuat Ken mengalihkan atensinya pada pintu ruang tamunya yang terbuka lebar.


Seorang gadis cantik berusia 1,5 tahun dengan balutan dress berwarna coklat berdiri menatapnya dengan senyum manis. Kehadiran gadis kecil itu membuat senyum Ken mengembang dengan sempurna. Laki-laki itu meletakkan apel dan ponselnya yang dua pegang tadi, lalu bangkit dari duduknya dan mendekati gadis kecil yang memanggilnya dengan sebutan daddy tersebut. Ken mengangkat tubuh kecil gadis tersebut dan menciumi setiap sudut wajah gadis mungil itu.


"Kia sama siapa kesini?" tanya Ken berjalan masuk dan duduk di sofa ruang kerjanya.


"Cama mommy," jawab gadis itu dengan suara cadelnya.


"Terus sekarang mommy mana?" tanya Ken memperbaiki posisi duduk putrinya yang dia pangku.


"Beyi makan. Daddy belum selesai keljanya?" tanya Kia.


"Emang kenapa, Kia mau jalan?" tanya Ken.


"Mau, tapi maunya cama mommy juga daddy. Kia gak mau kalo cama mommy doang,"

__ADS_1


"Gak boleh gitu kak, daddy lagi sibuk," suara dari arah pintu masuk kembali terdengar.


Ken dan Kia kompak mengalihkan tatapannya melihat Veronica yang baru saja masuk. Keduanya kompak tersenyum. Ken terus mengamati pergerakan istrinya dengan senyum manis. Ken tak munafik, setelah melahirkan Veronica justru makin terlihat cantik membuatnya semakin jatuh cinta.


Ken mencium pipi Veronica saat perempuan itu sudah duduk disampingnya.


"Jangan gitu, ada Kia," tegur Veronica.


"Emangnya kenapa?"


"Gak baik buat dia,"


Ken dan Veronica tertawa pelan. Tingkah dua orang itu tak luput dari jangkauan mata Kia yang terus memperhatikan tingkah kedua orang tuanya. Hal seperti itu bukanlah hal lumrah baginya. Dia sering melihat daddy-nya mencium sangat mommy. Jika Ken melakukan itu, dia juga tidak mau kalah. Dia akan ikut mencium Veronica.


"Jalan yaa?" tanya Kia mengalihkan atensi keduanya.


"Apapun untuk tuan putri," jawab Ken membuat Kia girang bukan main.


"Tapi Ken.."


"Gak papa, sayang. Hari ini khusus buat kalian berdua. Kita me time lagi, udah lama kan kita gak jalan-jalan,"


Veronica hanya mengangguk pasrah, jika Ken sudah mengatakan iya, berarti itu sudah tidak bisa diganggu gugat lagi. Ken kembali mencium pipi Veronica sekilas lalu beralih pada putri kecilnya.


...-To be Continued-...


Hai haiii semuaaaa....


Author balik lagi. Oh iyaa, alurnya aku percepat ya. Emang gitu kok dari awal agar masalahnya gak berlarut-larut dan bikin bosan.

__ADS_1


Terima kasih sudah menunggu


❤❤❤


__ADS_2