
...---Happy reading---...
Karena Gio yang tidak mengizinkannya untuk pergi, Ara jadi ikut tidur saat menemani Gio. Tepat pukul 7 malam Ara terbangun dan kaget melihat hari yang sudah berubah jadi malam. Kamar Gio bahkan sudah gelap, hanya lampu didekat meja yang menyala. Ara menatap lekat pada Gio yang masih tenang dalam tidurnya, dengan senyum kecil gadis itu mengusap lembut rambut Gio. Tak pernah menyangka hubungannya dengan Gio akan sejauh ini, bahkan tak butuh waktu lama setelah pacaran Ara sudah bisa beradaptasi dengan Gio dengan baik, sudah tak canggung atau bahkan malu lagi, meski tidak dipungkiri kadang-kadang sikap Gio membuat jantungnya berdebar tidak karuan dan perlakuan Gio yang membuatnya merona malu. Ara bergerak pelan melepas pelukan Gio dan hendak beranjak, namun belum juga Ara melepas pelukannya, Gio kembali memeluknya erat dan dengan mata yang langsung cerah.
"Mau kemana ?", tanya Gio membuat Ara terkejut.
"Ngagetin aja", sahut Ara.
"Mau pulang, ini udah malam nanti nenek nyariin", jawab Ara menatap Gio yang juga menatapnya.
"Gak mau", sahut Gio mempererat pelukannya.
"Ini udah malam Gio. Nenek sendiri dirumah", kata Ara lembut berusaha membujuk Gio.
"Gea bakal kesana", sahut Gio enteng yang langsung mendapat pelototan dari Ara.
"Gioo....",
"Panggil sayang", rengek Gio.
"Kamu kok manja", kata Ara terkekeh pelan.
"Panggil sayang, Ara", rengek Gio lagi. Raut wajah laki-laki itu begitu menggemaskan dimata Ara.
"Sayang, aku pulang ya", kata Ara kembali membujuk Gio berharap laki-laki itu luluh.
"Gak mau, Ara", sahut Gio, tangannya masih tak berpindah memeluk Ara dengan erat.
"Tapi Gi...",
"Panggil sayang", potong Gio cepat.
Ara menghela nafas pelan melihat tingkah Gio yang tiba-tiba berubah manja seperti anak kecil, tapi dia menyukainya. Gio begitu menggemaskan jika bersikap seperti ini.
"Tapi sayang, nenek sendiri dirumah", kata Ara lagi.
"Gak mauuuuuu, Araaaa", rengek Gio makin menjadi bahkan kini dia memandang Ara dengan tatapan berkaca-kaca. Ara tidak tega tapi juga tidak bisa meninggalkan neneknya sendiri dirumah.
Saat hendak membalas Gio, deringan ponsel Ara menyita atensi keduanya membuat Ara dengan segera meraih ponsel yang tergeletak di belakang Gio. Nama Tante Ani tertera di layar utama, bukan hanya itu sudah ada 10 panggilan tak terjawab dari wanita paruh baya yang merupakan tetangganya itu. Sepertinya perempuan itu sudah menghubunginya sedari tadi. Ara dibuat panik dan dengan segera menggeser tombol warna hijau untuk mengangkat sambungan telepon.
"H-halo", sahut Ara panik.
"Akhirnya kamu angkat juga", sahut dari seberang.
"K-kenapa Tante, nenek gak papakan ?", tanya Ara.
"Gak papa. Tante cuma mau bilang, Tante sama nenek kamu ada dipuncak. Kita liburan, besok pagi pulang kok, gak papa yaa ?", tanya dari seberang membuat Ara bernafas lega.
"Emang gak merepotkan?", tanya Ara melirik Gio yang sedari tadi menatapnya.
"Enggak dong. Boleh ya, Ra. Tante pengen banget ajak nenek kamu. Tenang aja, Tante bakal jaga dia, boleh yaaa", bujuk Tante Ani
Ara menghela nafas pelan lalu menatap Gio yang masih anteng memeluknya, bahkan sesekali laki-laki itu mendusel bak anak kucing, laki-laki itu menatap Ara dengan mengerjapkan matanya membuat Ara gemas dan tidak sadar langsung mencium pipinya sekilas buat Gio terkejut.
__ADS_1
"Ya udah boleh", jawab Ara.
"Ara titip nenek ya, Tan", kata Ara.
Setelah beberapa menit, sambungan terputus. Ara menatap Gio yang masih terus menatapnya dengan mengerjapkan matanya.
"Kenapa ?", tanya Gio.
"Tante Ani mau ngajak nenek liburan, besok baru pulang", jawab Ara. Wanita paruh baya itu memang begitu menyayangi Ara dan neneknya. Selama ini jika Ara bekerja, dialah yang menjaga Muti, neneknya.
Gio tersenyum senang. Akhirnya dia punya kesempatan menghabiskan waktu dengan gadisnya ini.
"Berarti hari ini kamu nginap", kata Gio mempererat pelukannya dan kembali menenggelamkan wajahnya dileher Ara.
"Tapi Gii...",
"Apa lagi ?", tanya Gio menatap Ara kesal.
Ara diam, bukannya tidak ingin berduaan dengan Gio hanya saja dia masih sedikit canggung jika harus tinggal satu atap dengan laki-laki ini. Dia percaya Gio tapi ah sudahlah.
"Kita pulang ke rumah bunda ya", bujuk Ara lagi.
"Gak mau. Mau berdua aja sama Ara", rengek Gio lagi.
Ara menghela nafas pelan melihat Gio yang masih saja keras kepala. Tangan Ara kembali terangkat menyapu pelan rambut hitam Gio.
"Tapi sayang, nanti bunda nyariin gimana ?", tanya Ara lembut tak henti membujuk Gio.
"Gak akan", sahut Gio.
Gio kembali memeluk Ara yang masih setia mengusap rambutnya.
"Ya udah iya iya. Aku nginap", sahut Ara membuat Gio girang bukan main.
"Raaa...", panggil Gio yang hanya dibalas gumaman oleh Ara.
"Cium lagi dong, kayak tadi", pinta Gio membuat Ara melotot kaget.
"Gak ada, gak ada. Ayo bangun, makan dulu", kata Ara sudah bergerak beranjak dari kasur. Saat hendak melangkah meninggalkan kamar, Ara mengurungkan niatnya saat melihat Gio yang sudah duduk dengan bibir mengerucut lucu.
"Kok ngambek?", tanya Ara mendekati Gio dan berdiri dihadapan laki-laki itu.
"Gak mau makan", kata Gio ketus.
"Loh", Ara menangkup pipi Gio dan menatap Gio lekat.
"Kenapa kok gak mau", tanya Ara lembut. Ara sudah terlihat seperti seorang ibu yang mengurus anaknya sekarang.
"Cium dulu makanya", sahut Gio.
Ara terkekeh pelan dan mencium kening serta kedua pipi Gio membuat laki-laki itu tertawa pelan.
"Kurang", kata Gio setelah Ara menjauhkan kepalanya.
"Ini juga", kata Gio menunjuk bibirnya.
__ADS_1
"Heh",
"Ya udah", Gio membuang wajah kesal membuat Ara menghela nafas pelan.
"Tapi janji setelah ini makan", kata Ara. Gio menatap Ara sengit namun tak urung juga mengangguk pelan.
Dengan menelan salivanya, Ara memberanikan diri mendekatkan wajahnya pada Gio lalu memejamkan mata dan mencium sekilas bibir pink laki-laki itu. Namun saat hendak menjauhkan wajahnya, Gio menahan tengkuk gadis itu dan melu**t bibir gadisnya lembut. Ara melototkan matanya melihat kelakuan Gio. Setelah dirasa Ara kehabisan nafas, Gio melepaskan tautannya dan tersenyum manis menatap Ara.
"First kiss", sebut Gio membuat Ara merona. Bukan hanya untuk Gio tapi juga untuk Ara.
"eh bukan first, ini yang kedua. Dulu pernah kan", kata Gio tersenyum jahil.
"Iish apaan sih, malu tau", kesal Ara membuang muka menyembunyikan wajah meronanya.
Gio kembali mencium sekilas sudut bibir Ara yang sedikit lebam bekas tamparan Ken.
"Cepat sembuh, cantiknya aku",
...---🌻🌻🌻---...
Sudah hampir dua jam Ken duduk di sofa sambil menyesap minuman yang diberikan padanya. Sudah hampir dua jam juga dia ada di bar ini. Entahlah pikirannya terganggu akan kejadian tadi. Rasa tidak terima saat mengetahui Ara sudah menjadi kekasih dari Gio, orang yang paling dia benci. Tapi ada rasa penasaran dan sedikit bingung dengan sikap Gio tadi. Meskipun membenci laki-laki itu tapi Ken masihlah manusia biasa yang memiliki hati tapi kadang rasa peduli itu tertutup akan gengsi dan rasa bencinya yang sudah mendarah daging.
Sudah 4 botol wine yang dia habiskan selama ada disini, namun sama sekali tidak mempengaruhinya, dia tidak mabuk hanya saja kepalanya saja yang sedikit berat. Ken menatap sekeliling, dentuman musik dan orang-orang yang semakin malam semakin banyak membuat tempat itu pengap namun Ken tak memiliki keinginan untuk pergi dari sana. Saat matanya menatap sekitar, tanpa sadar dia menangkap sosok gadis yang beberapa hari lalu dia kenal. Adik sepupu dari gadis yang dia sukai, Rania Maheswari. Gadis itu juga baru saja datang. Dengan dres sedikit terbuka, Rania menghampiri Ken yang duduk sendiri di sofa pojok.
"Lo udah lama ?", tanya Rania saat duduk tepat disamping Ken. Mata gadis itu menatap 4 botol wine yang sudah kosong tergeletak diatas meja.
"Lumayan", jawab Ken acuh.
"Kenapa lo ?, Banyak pikiran ?", tanya Rania yang seratus persen benar.
Ken tak menjawab karena dia rasa tanpa menjawab pun Rania sudah tau. Ken kembali menyesap minumannya membuat Rania menghentikan pergerakan laki-laki itu. Ken menatap Rania tajam membuat gadis itu sedikit takut.
"Lo udah banyak minum", kata Rania meletakkan gelas Ken.
"Gue mau dia, gue gak suka dia sama laki-laki itu", sahut Ken tiba-tiba membuat Rania menoleh dan menatap Ken dengan kening berkerut.
"Maksud lo ?", tanya Rania.
"Ara udah pacaran sama yang lain. Selama ini gue berusaha buat dapatin dia tapi dia sama sekali gak liat gue", kata Ken frustasi.
"Bahkan gue lakuin banyak cara. Dari yang halus sampai yang kasar, tapi tetap aja gak bisa",
"Kenapa harus dengan orang yang gue benci ?", lanjut laki-laki itu. Sungguh, dia begitu benci saat mengetahui kebenaran itu. Bahkan mengingat Ara yang begitu mengkhawatirkan keadaan Gio membuatnya ingin meledakkan amarahnya sekarang juga. Terlebih saat senyum cantik Ara terbit dan itu untuk Gio membuat dirinya benar-benar ingin gila.
"Mau gue bantu ?", tanya Rania. Mungkin ini bisa jadi jalan untuknya membawa Ara pergi jauh dari hidupnya. Dia benci perempuan itu.
"Emang lo bisa ?", tanya Ken.
"Gampang", sahut Rania. Itu bukan hal sulit untuk Rania, Ara bukanlah gadis yang susah dia taklukkan. Dengan sedikit mengancam, Ara akan menurut.
"Gue bakal dapatin dia apapun caranya. Gue udah bilang berkali-kali, cara kasar pun akan gue lakuin", kata Ken.
"Asal dia pisah sama laki-laki brengsek itu dan dia bisa sama gue", lanjut Ken.
"Memangnya siapa laki-laki itu?", tanya Rania penasaran.
__ADS_1
"Gio. Gio Pratama Ananda",
...---To Be Continued---...