
Di tempat berbeda
Malam makin larut tapi sama sekali tak menyurutkan semangat orang-orang yang kini sedang berpesta di sebuah bar terkenal di ibukota. Semakin malam, bukannya sepi, tempat ini malah semakin sesak dan dipadati orang-orang yang berkunjung untuk menghilangkan lelah dan melupakan masalahnya sebentar. Dentuman suara musik semakin memekakkan telinga dengan lampu kerlap kerlip yang begitu membuat mata dan kepala makin sakit. Tapi anehnya orang-orang yang ada disana justru tak mau meninggalkan tempat ini dan bahkan terlihat begitu bahagia dengan bergoyang dan menikmati bir bersama teman-temannya.
Sama halnya dengan dua orang........ralat, bukan dua orang lebih tepatnya salah satu dari mereka disudut ruangan yang kini tengah duduk menikmati malam yang semakin larut ditemani sebotol bir.
Ken dan Veronica. Laki-laki dengan balutan baju kaos putih dan celana ripped jeans itu terlihat begitu menikmati musik yang berdentum dan sesekali meneguk minumannya. Sedangkan gadis yang duduk disebelahnya itu terlihat tidak tenang dan risih. Veronica memang terkenal nakal karena predikatnya sebagai ratu bully di kampus, tapi meskipun begitu ini kali pertamanya dia datang ke tempat seperti ini.
"Ken, pulang yuk", ajak Veronica sedikit berteriak agar suaranya dapat didengar jelas oleh Ken.
Ken menoleh dan menatap Veronica yang juga menatapnya dengan tatapan memohon. Sungguh, gadis itu benar-benar tidak nyaman dengan suasana bar terlebih lagi beberapa orang sedari tadi menatapnya seolah siap memangsanya.
"Kok pulang sih, kita baru ada satu jam loh disini", kata Ken lembut membelai rambut Veronica.
"Bahkan kita udah hampir 3 jam loh Ken. Masa kamu gak sadar", sahut Veronica memelas.
Yah sekitar 3 jam yang lalu mereka sampai disini, bahkan Ken sudah menghabiskan hampir 4 botol. Tapi karena pada dasarnya Ken kuat minum jadi segitu belum bisa membuatnya mabuk berat.
"Ayo pulang, Ken", rengek gadis cantik itu.
Ken yang melihat ketidaknyamanannya Veronica seketika mengangguk dan menarik gadis itu keluar dari ruangan pengap dengan lautan manusia didalamnya.
"Mau langsung pulang?", tanya Ken setelah keduanya sudah berada dalam mobil, tapi mobil itu belum juga bergerak dari parkir.
"Iyaa, ini juga udah malam banget. Kamu butuh istirahat", kata Veronica perhatian.
Ken menatap Veronica dalam. Sebenarnya gadis ini adalah gadis yang baik, tapi karena latarbelakang keluarganya yang berantakan membuatnya menjadi ratu bully yang ditakuti banyak orang. Jika Ken bisa melihat tatapan Aluna dimata Ara, berbeda dengan Veronica. Segala yang ada di Veronica selalu membuatnya teringat akan gadis masa lalunya itu. Kehidupan gadis itu mengingatkannya pada gadisnya dulu. Veronica itu cantik, memiliki bentuk wajah mirip dengan Aluna. Cara bicara dan tingkahnya sama dengan gadisnya dulu. Meskipun itu hanya ditunjukkan Veronica jika dihadapannya, dan jika di hadapan orang lain dia akan menjadi sosok yang beda, menyebalkan dan pemarah. Itu yang membuat Ken tak bisa melepas Veronica meski dia juga menginginkan Ara. Yah Ken tak pernah mau melepas Veronica, alasannya simpel, karena Ken bisa merasakan kehadiran Aluna dalam wujud Veronica tapi entah mengapa juga menginginkan Ara.
"Kenapa natapnya gitu?", tanya Veronica lembut.
__ADS_1
"Sini dekatan", pintar Ken langsung diikuti Veronica. Gadis itu menggeser duduknya lebih dekat dengan Ken yang duduk dikursi kemudi.
Tangan Ken terangkat mengelus lembut pipi Veronica dan menatap gadis itu teduh. Meskipun kasar pada orang lain, tapi Veronica belum pernah melihat Ken berlaku kasar padanya. Ditatap seperti itu oleh orang yang disukainya membuat Veronica seketika salah tingkah. Dia merasakan pipinya memanas saat hembusan nafas Ken menerpa kulit wajahnya.
Ken diam dan terus menatap manik mata bening itu tanpa mau mengalihkannya, saat ini laki-laki itu tengah mencari sesuatu yang sebenarnya ingin hatinya ketahui. Yah Ken masih bingung dengan perasaannya pada gadis ini. Dia tidak mau melupakan Veronica tapi dia juga menginginkan Ara.
Wajah Ken semakin mendekat membuat Veronica refleks menutup matanya. Ken tersenyum tipis, dia kira gadis ini akan menolaknya karena jujur saja, meskipun nakal Veronica bukanlah gadis penganut having s*x. Hidupnya jauh dari dari hal-hal buruk seperti itu.
Merasa mendapatkan izin, Ken melancarkan aksinya, menempelkan bibirnya pada bibir Veronica, ********** lembut. Tangannya menyusup memegang tengkuk Veronica untuk memperdalam ciumannya saat merasa mendapat balasan.
Tanpa melepas pangutannya, Ken mengangkat tubuh mungil Veronica dan mendudukkan gadis itu di pangkuannya. Posisi mereka kini saling berhadapan dengan bibir yang terus saling menikmati satu sama lain.
Tangan Ken terangkat menurun tali dress Veronica membuat gadis itu menahan tangannya. Ken melepas ciumannya dan menatap Veronica dengan tatapan bingung. Sedangkan gadis itu hanya menatap Ken dengan muka memerah menahan malu dan detak jantungnya yang semakin berdetak tak karuan.
Ken mengecup sekilas bibir Veronica lalu tersenyum tipis. Tangannya merangkul pinggang Veronica agar tubuh mereka makin rapat. Tangannya kembali menurunkan tali dres Veronica lalu berujar, "boleh yaa? ", pintanya.
"Ini dimobil", kata Veronica pelan. Demi apapun, dia sungguh mencintai Ken dan apapun akan dia lakukan untuk laki-laki ini. Mungkin terdengar seperti gadis tidak baik tapi dia punya alasan akan hal itu, dia tidak ingin kehilangan Ken.
Veronica hanya diam menatap Ken. Sedangkan laki-laki menatapnya dengan tatapan memohon, percayalah Ken melawan dirinya sendiri saat ini, selain itu ada hal dari diri Veronica yang lagi dan lagi membuatnya teringat akan sosok Aluna. Dia merindukan gadisnya itu dan dia menginginkan lebih dari ini. Dia seolah kehilangan akal sekarang.
Setelah beberapa menit terdiam oleh pikiran masing-masing, Ken tersenyum tipis dan kembali ******* bibir Veronica saat gadis itu perlahan mengangguk. Ciuman yang awalnya lembut berubah jadi ciuman panas saat dua tubuh manusia itu perlahan terbakar dan menginginkan lebih.
Veronica menggigit bibir bawahnya saat ciuman Ken turun ke leher jenjang dan dadanya untuk membuat tanda kepemilikan disana.
"Jangan ditahan sayang", suara berat Ken masuk dengan sempurna ke telinga Veronica.
Ken yang sudah meloloskan baju kaosnya sedari tadi menyetel sandaran kursi kemudinya dan merubah posisinya, mengurung Veronica dibawahnya.
Ken kembali mencium bibir tipis Veronica dengan tangan yang sudah tidak bisa diam, merabah apa saja yang biasa dia jangkau. Keduanya kini bahkan sudah tak memakai sehelai benang pun. Baju Veronica disobek kasar oleh Ken. Setelah cukup lama bermain-main, Ken akhirnya melakukannya.
__ADS_1
"Kita ke intinya", kata Ken lembut mengusap pipi merah Veronica.
"Tahan baby, ini akan sedikit sakit", kata Ken bersiap diposisinya.
Setelah beberapa menit berusaha menerobos masuk, akhirnya tubuh Ken dan Veronica berhasil menyatu dengan sempurna. Awal yang menyakitkan membawa Veronica ke rasa yang sulit didefinisikan, rasa yang pertama kali dia rasakan dan membuatnya seolah kehilangan akal. Hantaman terus menerus dari Ken yang selalu membisikkan kata-kata cinta untuknya semakin membuatnya melambung tinggi. Des**an dan erangan keduanya saling bersahutan satu sama lain dalam mobil itu. Untung parkiran malam ini sepi hingga tak ada yang bisa mendengar mereka.
Pada akhirnya, Ken melakukannya. Melakukan sesuatu yang tanpa dia sadari akan membawa perubahan besar dalam hidupnya kedepan. Hanya saja, Ken sampai sekarang masih belum bisa menafsirkan apa sebenarnya yang iya rasakan pada gadis yang kini sudah dia jajah tubuhnya. Veronica baik, cantik tapi Ken masih belum bisa tau apakah perasaan suka atau seperti apa.
"Vee...."
"Ken...."
Veronica mencengkram kuat lengan Ken. Erang keduanya bersamaan saat sampai dipuncaknya. Ken menyemburkan miliknya yang lumayan banyak didalam tubuh Veronica membuat gadis itu bergetar.
Ken ambruk diatas Veronica, memeluk gadis itu erat tanpa melepas penyatuan mereka. Veronica membalas pelukan hangat itu, dia tersenyum tipis. Hanya dengan Ken dia merasa begitu dicintai dan tak pernah diperlakukan kasar. Ini kali pertamanya dia berhubungan intim dengan seseorang dan orang itu Ken, laki-laki yang amat sangat dia cintai.
"Terima kasih", bisik Ken mencium pipi Veronica.
...---🍓🍓🍓---...
Setelah melakukan beberapa ronde dan mengakhiri permainannya, Ken dan Veronica memutuskan segera pulang. Ada beberapa perubahan yang Veronica lihat setelah kejadian tadi, Ken menjadi lebih lebih hangat dari sebelumnya. Bahkan sedari tadi Ken tak pernah melepas genggaman tangannya.
"Pulang kerumah?", tanya Ken lembut mendapat anggukan dari Veronica.
Sejenak, Ken terdiam seolah berfikir sesuatu yang Veronica tidak ketahui.
"Mulai sekarang kamu tinggal di apartemen aku, jangan khawatir dengan masalah uang dan kehidupan kamu. Aku yang akan menanggungnya", Kata Ken setelah beberapa menit terdiam.
Veronica cukup terkejut akan hal itu, saat hendak menolak, Ken langsung menyelanya tanpa memberi kesempatan pada Veronica untuk memberi alasan ataupun menolak.
__ADS_1
"Tinggal sama aku dan tinggalkan mereka. Aku gak Terima penolakan, sayang",
...----To be Countinued----...