
Ara berjalan tenang di trotoar jalan sore ini, dia tadi memutuskan ke supermarket terdekat untuk membeli beberapa bahan makanan yang sudah habis, termasuk stok cemilannya.
Dengan langkah pelan, Ara menikmati sore harinya sendirian. Banyak hal yang masih jadi pertanyaan Ara belakangan ini dan itu sangat mengganggu pikirannya. Tentang kebenaran ayah dan bundanya serta penyebab meninggal neneknya. Dokter mengatakan itu terjadi karena benturan keras pada kepalanya akibat kecelakaan, tapi bagaimana bisa neneknya kecelakaan bahkan hari itu sebelum menemui Gio, Ara menitipkan neneknya ke tante Ani, tetangganya. Dan yang lebih anehnya lagi, tante Ani sampai sekarang tak kelihatan. Tetangga baik hati Ara itu bahkan tak menghadiri pemakaman neneknya yang sudah dia anggap ibu sendiri. Ara dibuat bingung dengan semua rentetan kejadian hari itu.
Langkahnya tiba-tiba berhenti tak jauh dari pagar rumahnya saat seseorang tiba-tiba berhenti tepat dihadapannya. Ara mendongak menatap siapa yang menghalangi jalannya. Seketika Ara menghela nafas kasar saat mengetahui orang itu.
"Ngapain?" tanya Ara cepat.
"Gue turut berduka cita atas meninggalnya nenek lo," kata orang itu.
Ara hanya mengangguk dan hendak pergi namun orang itu segera menahan tangannya.
"Gue antar," itu bukan pertanyaan tapi memang pernyataan.
"Gak perlu, Ken. Aku bisa sendiri, udah dekat juga." tolak Ara terang-terangan.
"Segitunya lo hindarin gue?" tanya Ken.
"Emang ada hak apa aku ladenin kamu?" tanya Ara membuat Ken seketika bungkam.
"Minggir, aku mau pulang kalau Gio liat kamu nanti, bakal panjang urusannya," kata Ara lagi lalu melepas tangannya dengan paksa dan pergi meninggalkan Ken.
Laki-laki dengan hoodie abu-abu itu berbalik dan mengikuti Ara dari belakang.
"Bagus dong, biar kalian cepat putus," ujar laki-laki itu.
Ara hanya menghela nafas pelan dan tak membalas lagi. Dia terus melangkah menuju depan rumahnya, tak mau berdebat lagi dengan Ken.
Sampai didepan rumahnya, Ara dibuat terkejut saat melihat beberapa orang sudah keluar masuk dari dalam rumah sambil membawa barang-barangnya. Dengan tergesa-gesa, Ara menghampiri mereka dengan tatapan bertanya-tanya.
"Loh, loh, ini ada apa?" tanya ara bingung menatap setiap barangnya yang kini sudah berserakan diluar rumah. Dibelakangnya juga Ken menatap orang itu satu per satu dengan kening berkerut.
"Kamu keluar dari rumah ini," sahut Bimo.
"Loh om gak bisa gitu dong, ini rumah Ara. atas nama Ara," ujar Ara tak terima. Enak saja, ini rumah peninggalan orang tuanya dan ini sudah hak paten milik Ara, bahkan sertifikatnya atas nama Ara.
Bimo menunjukkan sertifikat rumah yang ternyata sudah dia balik nama menjadi namanya, bukan lagi Ara.
"Sekarang ini milik saya, bukan kamu. Ini harta punya adik saya jadi kamu gak pantas dapat apa-apa," ujar Bimo tanpa kasihan sama sekali.
"Jadi ini alasan Om sama Tante ngacak rumah Ara beberapa kali?" tanya Ara dengan mata berkaca-kaca. Belum juga sembuh luka karena kehilangan neneknya, kini datang lagi masalah baru.
__ADS_1
"Iya," jawabnya enteng.
"Om, tolong. Ini rumah Ara, nanti kalau Om ambil Ara tinggal dimana?" tanya Ara, air matanya sudah meluncur bebas membasahi pipi mulusnya.
"Emang saya peduli," sahut Bimo tak punya hati.
"Anda jaga ya ucapannya," Ken yang mulai muak dengan Bimo kini angkat bicara. Laki-laki itu bahkan baru tau semenyedihkan apa kehidupan Ara.
"Kamu siapa lagi? pacarnya? bukannya yang kemarin namanya Gio ya?" tanya Bimo dengan nada mengejek.
"Tuh suruh orang-orang yang pake kamu tiap malam buat belikan rumah, amankan. Atau kamu tinggal sama mereka aja biar bisa layani mereka tiap hari," ujar Bimo sama sekali tak memikirkan perasaan Ara.
"ANJING", setelah teriakan itu, Bimo terhuyung kebelakang akibat pukulan seseorang. Bukan, itu bukan Ken melainkan Gio yang ternyata sedari tadi berdiri dibelakang Ken, tidak ada yang menyadari kehadirannya.
Ken menatap Gio yang hilang kendali memukuli Bimo, dia tahu betul bagaimana Gio jika sudah marah. Gio akan lebih brutal darinya. Ken bahkan kalah cepat dari Gio.
"LO BILANG APA SAMA CEWEK GUE, BANGSAT" teriak Gio penuh emosi.
"NGOMONG SEKALI LAGI DEPAN GUE," tangannya tak berhenti memukuli Bimo yang sudah terkapar. Tidak ada rasa kasihan sedikitpun dimata Gio kali ini. Persetan dengan sopan santun, dia akan sopan pada orang yang sopan begitupun sebaliknya.
"NGOMONG, KENAPA LO DIAM AJA?HAH. BISU LO," demi apapun, emosinya seketika naik ke ubun-ubun saat mendengar hinaan Bimo untuk gadisnya.
Orang-orang yang ada disana sudah berusaha melerai keduanya, sedangkan Ara terus saja menangis dan Ken yang hanya menatap Gio yang sudah hilang kendali, untuk pertama kalinya lagi dia melihat Gio semenyeramkan ini.
Ken melongo melihat respon Gio. Biasanya jika dalam mode seperti ini, Gio akan sangat sulit dikendalikan tapi sekarang, lihat bahkan hanya mendengar nama Ara dia berhenti seketika. Ken geram, dia benci jika Gio sudah menyukai sesuatu karena dia tidak akan melepaskan itu terlebih lagi yang Gio sukai adalah gadis yang juga dia suka. Ingin rasanya dia menonjok Gio sekarang saking bencinya dia.
Gio bangkit lalu berjalan mendekat ke arah Ara yang masih menangis sesenggukan. Tangannya terulur memeluk Ara membuat tangis gadis itu makin pecah.
"Udah sayang, udah. Sssstttt, tenang yaa," ujar Gio begitu lembut. Ken hanya melihat interaksi keduanya.
"Hikss...rumah aku, Gii," adu Ara layaknya anak kecil yang kehilangan mainannya.
Dengan mata memerah, dan air mata yang masih mengalir deras, Ara mendongak menatap Gio.
"Habis ini, aku tinggal dimana. Itu rumah aku, ayah sama bunda yang kasih. Kata nenek, rumah itu emang atas nama aku tapi hiksss...kenapa aku diusir," lanjutnya dengan nada melemah.
"Itu rumah aku, kalau Ara diusir nanti tinggal dimana?" tanyanya pilu.
Gio benci melihat Ara yang seperti ini, dia tidak suka melihat Ara menangis.
"Gio....." rengeknya dengan tangis yang makin pecah.
__ADS_1
Gio mengeratkan pelukannya, memberi ketenangan pada Ara yang tak kunjung berhenti menangis.
"Ini sakit," adunya memukul pelan dadanya.
"Kenapa orang-orang selalu menghakimi aku,"
"Aku jahat ya sama mereka, aku gak pantas ya buat bahagia, aku gak pantas hidup ya. Mau nyusul bunda sama ayah. Ara capek, Gii," racau Ara dalam pelukan Gio. Demi apapun, Ara lelah hidup di keadaan seperti sekarang. Dia seolah tak pernah dibiarkan bahagia sebentar saja. Baru beberapa hari dia ditinggal selamanya oleh orang yang dia sayang, sekarang bertambah lagi masalahnya. Ini bukan tentang harta itu, tapi tentang kenangan dirumah itu. Rumah yang menjadi saksi kerasnya hidup Ara setelah ditinggal orang tuanya.
"Enggak, sayang. Gak boleh ngomong gitu," sahut Gio lembut, mengusap punggung serta rambut panjang Ara.
"Kamu mau ninggalin aku sendiri, hm?" tanya Gio lembut yang hanya mendapat gelengan.
"Harus kuat lagi yaa, kita hadapi sama-sama." lanjut Gio.
Gio melepas pelukannya lalu mengusap air mata Ara yang masih terus keluar. Memberi ciuman singkat di kedua mata cantik gadisnya, tak mempedulikan orang-orang yang sedari tadi menatap keduanya. Bahkan Ken yang melihat kedekatan keduanya sudah sangat amat terbakar ditempatnya.
"Kita ambil barang-barangnya, terus pulang." kata Gio.
"Mau pulang kemana, rumah Ara udah diambil mereka," sahut gadis itu dengan tatapan sendunya.
"Tinggal di rumah ayah, mau?" tawar Gio.
"Gak enak, nanti apa kata orang." jawabnya masih dengan sisa tangisnya. Gio sudah duga, pasti Ara tidak akan mau.
"Di apartemen aku dulu, nanti kita cari rumah. Mau ya," pinta Gio. Gadis itu diam beberapa saat lalu mengangguk. Hanya itu jalan satu-satunya sekarang.
"Peluk dulu," pinta Ara pelan.
Dengan mengangguk, Gio kembali memeluk Ara, memberi ketenangan pada gadisnya. Tanpa melepas pelukannya, Gio menatap Bimo dengan tajam.
"Saya anggap ini pembuka dan anda yang mulai, jadi jangan salahkan saya atas apa yang terjadi pada anda kedepannya," kata Gio memberi peringatan. Kali ini dia benar-benar sudah tidak lagi hanya sekedar memberi ancaman. Lihat saja apa yang terjadi setelah laki-laki tua itu dengan berani membuat gadisnya menangis. Gio tidak akan tinggal diam.
"Dan buat lo..." Gio menggantung ucapannya, menatap Ken penuh peringatan.
"Gue udah bilang, jangan dekati Ara lagi. Ini yang terakhir gue liat lo dekat-dekat dia lagi." lanjutnya.
Setelah dirasa Ara sudah tenang, Gio melepas pelukannya dan menatap teduh Ara yang juga mendongak menatapnya.
"Tunggu sini, ya. Aku ambil mobil didepan," perintahnya. Setelah mendapat anggukan, Gio bergegas mengambil mobilnya yang dia parkir diluar gerbang rumah Ara. Dia sengaja memarkir mobilnya disana saat melihat keributan tadi, dia ingin lihat sejauh apa Bimo menyakiti gadisnya.
Setelah sampai didepan rumah Ara, Gio keluar membantu Ara memasukkan barang-barangnya kedalam bagasi mobil. Setelah dirasa selesai, Gio menggenggam tangan Ara lalu berbalik menatap Bimo yang masih setia berdiri ditempatnya. Wajah laki-laki paruh baya itu sudah babak belur akibat ulah Gio.
__ADS_1
"Ini peringatan terakhir saya," setelah mengatakan itu, Gio menarik Ara masuk kedalam mobil dan berlalu meninggalkan Bimo dan Ken yang hanya menatap kepergian mereka dengan ekspresi berbeda.
...---To be Countinued---...