Perjalanan Cinta CEO Muda

Perjalanan Cinta CEO Muda
Part. 66 Tinggal bersama?


__ADS_3

Ara duduk ditepi kasur sambil melamun. Setelah membereskan barang-barangnya dibantu Gio, gadis itu memilih mengurung diri dikamar apartemen Gio. Sedangkan kekasihnya itu entah kemana.


"Melamun aja," kata Gio masuk kedalam kamar.


Ara menoleh tanpa mengatakan sepatah kata pun, mengamati setiap pergerakan Gio.


"Minum dulu," ujar Gio menyodorkan segelas susu coklat kesukaan gadisnya.


Ara menerimanya dan langsung meneguk habis susu yang baru saja Gio berikan.


"Sini deketan," pinta Gio setelah duduk di samping Ara.


Ara menatap Gio, setelah meletakkan gelasnya di meja samping tempat tidur, Ara kembali duduk lebih dekat dengan Gio. Tanpa berkata apapun, gadis itu langsung memeluk Gio erat, mendusel dileher kekasihnya.


"Capek," keluh Ara.


Gio paham betul 'capek' seperti apa yang Ara maksud. Gio menghela nafas pelan, kenapa kehidupan gadisnya serumit ini.


"Ini bukan soal hartanya, Gii. Tapi tentang kenangannya." kata Ara memulai cerita. Gadis itu merubah posisinya menjadi bersandar didada Gio saat laki-laki itu merebahkan tubuhnya.


"Kata nenek rumah itu ayah beli dari tabungan ayah buat Ara kalau udah gede." lanjutnya. Gio hanya diam menunggu kelanjutan cerita Ara.


"Setelah Ara umur satu tahun, kita pindah kesana. Tapi gak lama dari itu juga, Ayah sama Bunda ninggalin aku," suara bergetar terdengar jelas ditelinga Gio. Tangannya mengusap lembut rambut serta punggung Ara.


"Rumah itu banyak kenangannya, rumah itu juga saksi kerasnya hidup aku setelah ditinggal ayah dan bunda. Saksi gimana aku jalani hidup tanpa orang tua, hanya hidup sama nenek, belajar dan bekerja mati-matian buat hidup aku sama nenek," air mata Ara perlahan meleleh saat mengingat setiap kejadian dihidupnya.


"Anak usia 15 tahun yang harusnya banyak main, harus kerja keras buat hidup dan sekolahnya. Nenek waktu itu kerja, tapi aku gak mau nyusahin nenek terus makanya aku juga cari kerja seenggaknya buat bayar sekolah atau jajan aku."


Mata Gio berkaca-kaca mendengar cerita Ara, di umurnya saat itu Gio masih asik bermain dengan teman-temannya, meminta apapun yang akan langsung dikabulkan ayah dan bundanya. Tapi Ara? Gio tidak bisa membayangkan bagaimana kerasnya hidup Ara saat itu.


"Tidak diharapkan kehadirannya, dibenci keluarga besar, dianggap pembawa sial, diperlakukan tidak adil, bahkan bukan hanya di lingkungan keluarga, disekolah pun sama aja. Gak ada yang mau temanan sama aku, kalaupun ada pasti cuma mau manfaatin,"


"Aku belajar dengan giat supaya bisa dapat beasiswa biar bisa sekolah terus bahkan kalau bisa sampai kuliah. Itu yang buat teman-teman aku iri dan benci sama aku. Rania selalu bilang katanya aku beruntung, beruntung dari mana, Gii? hidup aku gak ada yang beruntung."


"Belum juga sembuh luka kemarin karena di tinggal nenek, sekarang ada aja masalah yang penyebabnya keluarga aku sendiri, apa itu yang namanya beruntung?"


"Udah, sayang. Udah," pinta Gio pelan, dia tidak sanggup mendengar cerita Ara. Hatinya terasa perih.


"Jangan lagi, udah cukup", kini giliran Gio yang menenggelamkan wajahnya diceruk leher Ara.


"Udah cukup," pintanya lirih. Gio menangis, demi Tuhan hatinya seperti ditikam ribuan pisau mendengar Ara bercerita. Sakit sekali rasanya.


Ara menghapus air matanya saat merasakan lehernya basah. Ara yang hendak melepas pelukannya langsung ditahan Gio.


"Kenapa nangis?" tanya Ara lembut.


"Jangan nangis, Gii." pintanya dengan suara serak. Tangannya mengusap lembut rambut Gio.


"Aku gak papa, aku kuat. Buktinya masih disini sama kamu, bisa peluk kamu," katanya menghibur Gio.


Gio mengangkat kepalanya mensejajarkan dengan kepala Ara, menatap dalam dua manik cantik Ara.

__ADS_1


"Maaf," ujarnya pelan mengusap lembut pipi Ara.


"Kok minta maaf," tanya Ara bingung.


"Seandainya aku ketemu kamu lebih cepat, aku gak akan biarin hidup kamu susah seperti itu." ujarnya yang justru disambut gelak tawa Ara.


"Kok ketawa sih," tanya Gio bingung.


"Itu udah diatur, Gio. Saat semua orang ninggalin aku, Tuhan masih baik banget ngasih kamu ke aku. Seenggaknya aku gak benar-benar sendiri karena ada kamu yang selalu jadi penguat aku. Jangan pernah tinggalin aku ya, cuma kamu yang aku punya sekarang." pinta Ara yang langsung diangguki Gio.


"Gak akan." jawabnya pasti.


Ara beranjak dari tidurnya lalu duduk menatap Gio yang malah merubah posisinya menjadi tengkurap.


"Udah makan?" tanya Ara. Gio menoleh tanpa merubah posisinya.


"Belum." jawabnya.


"Aku masakin ya," setelah mengatakan itu, tanpa menunggu jawaban Gio, gadis itu bergegas keluar kamar menuju dapur untuk memasak makan malam mereka.


Cukup lama Ara berkutat dengan alat dapur sampai suara rengekan Gio mengalihkan perhatiannya.


"Sayaaaaang...."


"Kenapa, Gii?" tanya Ara tanpa menoleh.


"Lama banget." protesnya.


Tanpa bantahan lagi, Gio duduk di meja makan dengan tenang menunggu Ara selesai memasak. Laki-laki itu juga sudah mandi dan mengganti pakaiannya.


Setelah menata makanannya diatas meja, Ara duduk didepan Gio dan mengambil makan untuk keduanya. Dua orang berbeda gender itu makan dengan tenang dan tanpa suara.


"Kamu bakal tinggal disini juga?" tanya Ara buka suara setelah keduanya selesai makan. Keduanya kini sedang duduk diruang tamu sambil menonton TV dengan Gio yang berbaring menggunakan paha Ara sebagai bantalannya.


"Maunya gimana?" tanya Gio jahil.


"Issh aku nanya, jangan ditanya balik." kesalnya.


"Enggak sayang. Paling setiap hari aku datang nemanin kamu, malamnya pulang ke rumah." jawab Gio.


"Gak papa kan kamu tinggal sendiri dulu?" tanya Gio. Terselip nada khawatir dari ucapan laki-laki itu.


"Gak papa." jawab Ara tenang.


"Bener, nanti kalau ada apa-apa gimana?" tanya Gio lagi.


"Aku udah biasa sendiri, Gii. Dan lihat...." Ara menunjuk sudut ruangan yang terpasang kamera kecil.


"Kamu akan selalu bisa ngawasin aku dari jauh. Benar?" tanya Ara membuat Gio menepuk dahinya pelan.


"Oh iya, lupa" kata Gio terkekeh pelan.

__ADS_1


"Jangan khawatir, aku akan baik-baik saja." kata Ara mengusap rambut Gio lembut.


...---🍒🍒🍒---...


Ken menghela nafas pelan setelah duduk di kursi ruang tamu rumahnya. Laki-laki itu baru saja sampai setelah menemui Ara tadi. Dia mampir sebentar ke apartemennya lalu kembali ke rumah keluarga besarnya. Dia tidak bisa selalu tinggal di apartemen karena itu hanya akan membuat mamanya khawatir.


"Dari mana aja lo?" pertanyaan yang terlontar begitu ketus membuat Ken lagi-lagi menghela nafas pelan.


Tak berniat menjawab sama sekali. Pikirannya kini dipenuhi tiga orang gadis yang masuk kedalam hidupnya. Terlebih Ara, dia baru tahu kehidupan gadis itu semenyedihkan itu. Ternyata tiga gadis yang berhasil masuk ke hidupnya itu bukanlah gadis kuat tanpa masalah apapun. Semuanya sama, sama-sama diperlakukan tidak baik oleh keluarganya.


"Gue nanya, bego" kesal Arsal yang sedari tadi tak mendapat respon dari pertanyaannya.


"Lo gak perlu tau." sahutnya datar.


"Lo gak masuk perusahaan disaat orang-orang nyariin lo, dimana tanggung jawab lo?" tanya arsal lagi.


"Berisik."


"Mamaaaaa..."


Ken mendengus saat Arsal mengeluarkan jurus andalannya, merengek pada mamanya saat Ken bersikap seperti itu padanya.


"Lo udah gede, cowok, ngapain ngerengek gitu?" kesal Ken.


Bukan apanya, mamanya kalau sudah mode marah akan sangat menyeramkan.


"Lo juga sering gitu kalau lo lupa." sahut Arsal enteng.


"Gue habis ketemu Ara..."


"Wahh pacar temen mau direbut."


"Dia yang rebut dari gue, lagian dia bukan temen gue lagi"


"Yakin, nanti lo bakal nyesel kalau tau kebenarannya."


"Gak akan. Lagian kebenaran apa lagi, gue udah tau semuanya. Dia yang bunuh pacar dan calon anak gue, tapi masih bisa bebas berkeliaran. Harusnya dia dipenjara." sahut Ken tak kalah ketusnya.


Arsal mengepalkan tangannya menahan emosi, kakaknya itu benar-benar keras kepala dan egois. Memikirkan diri sendiri tanpa mau mendengar orang lain. Merasa paling tersakiti tanpa melihat ada orang yang lebih menderita dari dia.


"Yang lo tau masih setengah dari kebenarannya...."


"Setengah apa, gue udah tau semuanya dan dia memang pelakunya. Mau lo bela kayak gimana pun gue tetap gak akan percaya," potong Ken cepat.


Dia heran dengan adiknya, kenapa selalu membela Gio dan menganggap Gio tidak salah padahal jelas-jelas Giolah yang salah.


"Terserah."


Kata Arsal lalu beranjak meninggalkan Ken yang kembali sibuk dengan pikirannya sendiri.


...---To be countinued--...

__ADS_1


__ADS_2