
Bulan berganti bulan, hari demi hari berlalu, jam, menit, detik berputar tanpa henti. Siang berganti malam lalu kembali ke siang lagi. Setiap pertukaran waktu selalu ada cerita dan banyak hal yang terjadi saat itu. Ada yang datang dan ada yang pergi, ada yang bahagia dan ada yang bersedih. Semua punya porsinya masing-masing. Lelah, merasa tak adil dan menyalahkan semesta seperti sudah menjadi hukum alam bagi manusia yang kurang bersyukur dan lupa bahwa segala apa yang terjadi dalam hidup sudah ada yang mengaturnya dengan baik. Selalu ada pelajaran dan hikmah yang bisa diambil dari sekian banyak kejadian dalam hidup.
Sama halnya dengan Gio. Laki-laki pemilik nama lengkap Gio Pratama Ananda itu selalu yakin bahwa setiap apa yang terjadi dalam hidupnya bukanlah sebuah kebetulan dan selalu ada hikmah serta pelajaran yang bisa dia ambil dari apa yang sudah terjadi. Hubungannya dengan Ara semakin baik tanpa adanya gangguan. Persiapan pernikahannya sudah 80% rampung. Dia hanya tinggal mengurus beberapa hal saja, membagi undangan dan mengosongkan jadwal kerjanya untuk acara pernikahan mereka.
Tiga bulan sudah berlalu begitu cepat, tak ada sama sekali yang berubah. Ara-nya masih menjadi gadis yang sama yang pertama dia kenal membuatnya semakin menyayangi gadis itu. Hanya saja, rasa tidak enak dan tidak karuan itu masih sering menghantuinya padahal ini sudah tiga bulan berlalu. Dan yang membuat pikirannya makin kalut adalah adiknya yang baru saja kecelakaan dan koma sudah seminggu ini. Gio tak memberitahu Ara tentang keadaan Gea. Dia takut Ara khawatir dan terlalu memikirkan Gea, apalagi gadisnya itu sedang sakit dua hari ini gara-gara dia yang selalu mengajak Ara setiap kali dia keluar negeri. Sepertinya gadisnya itu kelelahan.
Sudah satu minggu ini Gio menginap di rumah sakit bahkan harus rela bolak balik kantor, rumah sakit, dan apartemen hanya untuk menjaga dua wanita kesayangan dan juga untuk menjalankan tanggung jawabnya di kantor.
Laki-laki itu menghela nafas berat. Setelah memastikan Ara istirahat dengan baik di apartemen, Gio langsung melesat ke rumah sakit setelah mendengar kabar bahwa adiknya sadar. Namun, hal yang membuatnya kesal adalah adiknya yang baru sadar memaksanya menuju ke kantor Zian dan dia lagi-lagi harus rela membawa Gea kembali dengan kondisi mengenaskan setelah adik kesayangan itu melihat orang yang dia cintai bermain dibelakangnya.
Gio mencengkram kuat stir mobilnya dengan raut panik bercampur amarah. Dia tidak suka ada yang menyakiti adiknya. Setelah ini dia pastikan Zian akan habis ditangannya. Gio melesat cepat hendak ke rumah sakit karena Gea yang tiba-tiba pingsan. Namun, di jalanan yang terbilang sepi, lagi-lagi mobilnya harus dihadang beberapa orang. Bahkan lebih banyak dari kemarin saat dia bersama Ara. Gio panik bukan main. Tidak, dia sama sekali tidak takut hanya saja adiknya harus segera ditangani tapi orang-orang itu harus dia tuntaskan agar bisa bebas dari sana.
Tanpa pikir panjang Gio keluar dari mobilnya tanpa rasa takut berhadapan dengan 20 orang bertubuh besar dibalut baju serba hitam yang berdiri di depannya. Ini bukan masalah besar untuknya tapi jika dia harus menghabisi mereka dulu, keadaan adiknya jadi taruhan.
"Minggir," perintah Gio dingin.
Bukannya pergi, mereka malah langsung menyerang Gio dengan brutal. Gio langsung menangkis pukulan-pukulan yang mereka layangkan untuknya.
"By one kalau berani anjing," umpat Gio berusaha membalas pukulan lawannya.
__ADS_1
Beberapa menit berlalu Gio sama sekali belum kalah, bahkan beberapa dari mereka sudah jatuh tak sadarkan diri. Gio masih bisa meng-handle semuanya, tapi teriakan dari seseorang membuat Gio menoleh dan melihat salah satu dari mereka sudah menahan adiknya yang tak sadarkan diri.
"Lo nyerah atau adik lo gue bunuh sekarang," ucapan itu membuat fokus Gio terpecah.
Dengan gerakan cepat, Gio berbalik menerjang musuhnya. Memukul mereka dengan membabi buta tanpa belas kasihan hingga beberapa dari mereka terjatuh ke jalanan. Setelah dirasa cukup, Gio berlari menuju Gea hendak menyelamatkan adiknya itu. Namun, jarak tiga langkah dari Gea, laki-laki itu tak menyadari salah satu dari mereka mengeluarkan pisau lipat dari saku jaket yang dikenakannya, hingga.....
"Argghhh..." teriak Gio saat pisau itu berhasil menembus perutnya dan langsung dicabut kembali membuat darah seketika mengalir deras membasahi kaos putih yang dia pakai.
Setelah menusuk Gio, orang-orang itu pergi meninggalkan keduanya yang sudah terkapar di jalanan. Dengan sisa tenaganya, Gio bergeser menggapai tubuh adiknya yang semakin lemah. Sebelah tangan laki-laki itu menekan perutnya agar darah yang keluar tak terlalu banyak. Namun hasilnya nihil. Bahkan baju kaos putihnya sudah berwarna merah. Air mata Gio menetes saat melihat kondisi Gea yang benar-benar mengkhawatirkan. Laki-laki dengan sisa tenaganya itu mengamati jalanan berharap ada orang yang melintas dan menolong mereka tapi sama sekali tidak ada. Jalanan ini sepi dan dia tidak tahu harus berbuat apa. Rasa sakit pada perutnya menjalar semakin menjalar ke seluruh bagian tubuhnya membuat dia semakin tidak bertenaga.
"Maafin abang," hanya kata itu yang keluar dari mulutnya sebelum semuanya menggelap dan laki-laki itu kehilangan kesadarannya.
Ara terbangun dari tidurnya saat sesuatu dalam perutnya memaksa untuk dikeluarkan. Ara menyibakkan selimutnya lalu berlari kedalam kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya. Entahlah sudah dua hari ini kepalanya pusing dan selalu muntah. Mungkin karena efek perjalanan jauh membuatnya kelelahan.
Ara berjalan dengan lesu keluar dari kamar mandi lalu duduk di tepi tempat tidur. Matanya menatap sebuah makanan dengan stik note tertempel dipinggir piring.
"Aku ke kantor dulu ya, nanti aku datang lagi. Cepat sembuh kesayangan ku"
Your mine
__ADS_1
Seperti itulah pesan yang tertulis di sana. Ara tersenyum kecil melihatnya. Saat hendak meraih piring untuk makan, mata Ara berhenti pada sebuah kalender yang terletak tak jauh dari piring tersebut. Ara melihat tanggalnya dan dibuat terkejut saat tanggal sudah menunjukkan akhir bulan lagi dan selama tiga bulan ini, dia belum kedatangan tamu.
Ara meneguk salivanya susah payah. Semoga apa yang ada dalam pikirannya tidak benar dan ini hanya sebuah kebetulan.
Dengan perasaan campur aduk, Ara mengabaikan rasa pusingnya langsung bangkit menuju minimarket membeli sesuatu yang dia butuhkan. Bukan hanya satu tapi empat.
Beberapa menit berlalu, setelah dari minimarket depan gedung apartemennya, Ara duduk menghela nafas berkali-kali memberanikan diri untuk melakukan tes. Dia sebenarnya ragu untuk melakukan itu, terlebih dia tidak tahu menggunakannya. Setelah membaca detail cara penggunaan pada bungkus benda yang dia beli tadi, Ara menghela nafas pelan lalu beranjak menuju kamar mandi. Memberanikan diri melakukannya.
Menunggu beberapa menit alat itu direndam dalam urinenya, Ara berharap apa yang dia pikirkan tak jadi kenyataan. Bukannya tidak mau, hanya saja banyak hal yang dia pertimbangkan. Dia belum siap dan dia takut membicarakan ini dengan Gio nantinya. Dia takut Gio tidak terima dan sama seperti dirinya yang belum siap.
Ara menghela nafas pelan setelah percobaan yang keempat kalinya. Dia menatap benda di hadapannya yang sama-sama menghasilkan dua garis merah. Ara dengan kesulitan menatap empat testpack di hadapannya.
"Positif," gumamnya pelan sambil menghela nafas berat.
...---To be continued---...
Yeay sinyal udah bagus jadi updatenya bakal lancar lagi.
stay tune
__ADS_1
tungguin terus yaaa