Perjalanan Cinta CEO Muda

Perjalanan Cinta CEO Muda
Part 128. Angel


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, Ara dan Gio sudah siap dengan jaket tebal yang mereka kenakan. Matahari belum menunjukkan wujudnya, namun pasangan suami istri itu sudah berjalan keluar dari rumah mereka dengan bergandengan tangan.


Keduanya berjalan ke garasi mobil guna mengambil kendaraan yang akan mereka gunakan.


"Kamu yakin?" tanya Gio sekali lagi.


"Kamu gak mau ya?" tanya Ara menunduk lesu.


"Bukan gak mau sayang. Takutnya kamu kelelahan nanti," ujar Gio mengelus rambut istrinya.


"Enggak kok," jawab Ara.


Gio menghela nafas pasrah, mau bagaimana pun jika istrinya mengatakan iya maka harus segera dilakukan. Lagipula ini juga rencananya, dia juga ingin bertemu dan melihat tempat peristirahatan terakhir anak sulungnya. Ya, semalam dia tiba-tiba mengatakan ingin melihat makam sang anak membuat Ara langsung menyetujuinya dengan cepat. Selama ini dia tidak meminta karena berfikir Gio tidak terlalu mempedulikan anaknya namun ternyata dia salah. Dia sering melihat Gio termenung di ruang kerjanya sambil memandangi foto USG anaknya dulu yang masih Gio simpan sampai sekarang dan malam tadi suaminya itu berniat mengunjungi makamnya. Sebenarnya Gio menyarankan setelah lahiran saja karena takut Ara kelelahan tapi Ara menolak dengan keras. Dia ingin ke makam anak pertamanya sebelum dia melahirkan.


Dalam perjalanan banyak hal yang mereka bicarakan, mulai dari keluhan Ara saat hamil, kondisi Ara sampai pada pekerjaan Gio yang seolah tak pernah habis. Setelah menempuh waktu kurang lebih satu jam, mobil yang mereka tumpangi sampai di sebuah desa yang terlihat begitu asri dan bersih. Udara yang jauh dari polusi dan jauh dari bisingnya kota metropolitan.


"Masih jauh?" tanya Gio.


"Bentar lagi kok, itu didepan," jawab Ara menunjuk sebuah rumah sederhana bercat putih.


Gio memarkirkan mobilnya didepan rumah tersebut lalu menoleh pada istrinya yang menatap lurus rumah yang tepat berada didepan mereka.


"Kenapa sayang?" tanya Gio.


Ara menoleh lalu tersenyum kecil dan menggeleng pelan. Setelah cukup lama, akhirnya dia kembali datang kerumah yang dulu dia huni saat sedang dalam masa terpuruk dan sendirinya. Toko kue yang ada disamping rumah itupun masih beroperasi dan Aura yang Ara beri kepercayaan untuk mengelola tokonya itu. Bahkan setiap pasang mata yang berada di toko itu sedari tadi menatap mobil Gio dan menunggu pemiliknya keluar.


"Are you okey?" tanya Gio melihat wajah murung istrinya.


"Baik," jawab Ara pelan.


"Baby, gak nakal kan sayang?" tanya Gio pada perut buncit istrinya. Entah kenapa setiap mood istrinya menurun, Gio selalu mempertanyakan itu. Simpel saja, dia tidak ingin baby nya menyakiti kesayangannya itu, dia juga tidak ingin terjadi apa-apa pada dua orang yang kini menjadi pusat dalam hidupnya.


"Enggak papa," jawab Ara menirukan suara anak kecil.


Gio mendongak dengan senyum tipisnya. "Terus kenapa jadi murung gini?" tanya Gio.


"Keingat aja sama yang dulu-dulu. Dulu tempat ini yang jadi pelarian ku, tempat tinggal ku sama anak kita dulu," jawab Ara tersenyum tipis.


Gio menggeser duduknya lebih dekat pada Ara lalu membawa istrinya itu kedalam dekapannya. Dielusnya punggung sang istri dengan lembut.


"Maaf," ujar Gio.


"Untuk apa?"


"Saat masa-masa sulit kamu, aku malah gak ada nemanin kamu sama dede bayi,"


Ara mendongak setelah mendengar jawaban Gio.


"Saat itu kamu juga sedang kesulitan. Semua hanya salah paham dan saat itu kita sama-sama sedang berusaha mempertahankan hidup masing-masing," ujar Ara.


"Dulu, aku disini memang kesusahan mengurus diri sendiri yang sedang hamil tanpa suami tapi kamu juga sedang kesusahan mempertahankan diri untuk tetap hidup dan itu semua karena aku," lanjut Ara.


"Tidak ada yang perlu disesali, semua sudah menjadi bagian dari masa lalu dan menjadi pelajaran berharga kedepannya. Maaf karena saat itu aku tidak mempercayai mu," Ara mengerat pelukannya saat Gio mencium puncak kepalanya dengan sayang.


"Aku gak pernah melakukan apapun diluar sana, Ra. Apapun yang ada di diri aku, semua milik kamu. Cinta banget aku tuh sama kamu," ucap Gio terkekeh pelan dan melayangkan ciuman bertubi-tubi ke kepala istrinya.

__ADS_1


"Iya, iya percaya. Ya udah ayo turun, aku kenalin ke kak Aura," ucap Ara melepas pelukannya. Gio mengangguk dan keluar dari mobil lalu berputar membukakan pintu untuk istrinya.


Saat keduanya berdiri sambil bergandengan menatap toko kue yang begitu ramai itu, orang-orang yang ada disana juga menatap mereka dengan tatapan terkejut. Bisik-bisik mulai terdengar sebelum suara teriakan memekakkan telinga menyambut kedatangan keduanya.


"ARAAAAA......"


Aura yang sedang berjalan berada di belakang langsung berlari keluar saat mendengar suara ribut didepan tokonya dan betapa terkejutnya Aura saat melihat Ara sedang berada disana.


Tanpa mempedulikan Gio yang berdiri disamping Ara, Aura langsung berlari memeluk tubuh perempuan yang sudah dia anggap sebagai adiknya itu dengan erat.


"Kangen banget, kamu kenapa baru datang kesini," kata Aura belum melepas pelukannya.


"Baru ada waktu kak," jawab Ara tersenyum sambil membalas pelukannya Aura.


"Kangen banget. Gimana keadaan kamu?" tanya Aura melepas pelukannya.


"Seperti yang kakak liat," ucap Ara.


"Aku sedang mengandung ponakan mu," lanjutnya membuat mata Aura melotot terkejut.


"Kamus udah nikah, kapan, sama siapa, kenapa gak undang aku, kamu lupa ya sama aku?" tanya Aura beruntun.


Ara terkekeh dengan respon Aura. Bumil itu melirik Gio yang sedari tadi diam memperhatikan mereka. Sedetik kemudian, Ara menarik Gio mendekat membuat perhatian Aura teralih.


"Suami Ara. Bukannya lupa tapi emang mendadak kak, maaf gak ngundang," jawab Ara memperkenalkan suaminya.


"OMG," teriak Aura membekap mulutnya sendiri.


"Ini suami kamu, Ini yang dulu sering kamu ceritain kan. Ya Tuhan dia lebih ganteng aslinya," ucap Aura menatap tak berkedip pada Gio yang memang tampan itu. Laki-laki dengan balutan baju kaos putih yang dilapisi jaket berwarna hitam itu tampak sangat menawan di mata Aura.


"Gio. Hai aku Aura, kakaknya istri kamu," ujar Aura memotong ucapan Ara dan langsung menjabat tangan Gio. Sedangkan laki-laki itu hanya mengangguk kaku.


"Dia yang jadi teman aku dulu disini, dia yang selalu jaga aku," kata Ara memberitahu.


Gio mengangguk pelan lalu berujar, "Terima kasih," ucapnya pelan.


"Terima kasih sudah menemani Ara saat saya tidak ada," ulang Gio saat melihat raut kebingungan yang Aura perlihatkan.


"Gak masalah, dia adik aku jadi sudah seharusnya aku menemaninya," sahut Aura.


"Kalian kesini ada keperluan lain?" tanya Aura mengalihkan pembicaraan.


"Mau ketemu dede bayi," jawab Ara.


"Dede bayi," beo Aura tak mengerti namun detik berikutnya langsung mengangguk paham.


"Ya udah kalau gitu, aku lanjut kerja dulu," pamit perempuan manis itu yang diangguki Ara dan Gio.


"Ayo," Ara menarik Gio untuk ikut bersamanya.


...❤❤...


Gio terdiam memandangi gundukan tanah yang sudah ditumbuhi rumput liar dengan papan nisan bertuliskan Kanara Anggi Ananda. Benar, anak pertama Ara dan Gio yang sudah lebih dulu pergi Ara berikan nama Kanara. Anak yang dulu Ara kandung memang berjenis kelamin perempuan. Anak perempuan yang belum Gio lihat, anak perempuan yang sama sekali tidak dia ketahui kehadirannya. Hatinya begitu nyeri melihat gundukan kecil didepannya itu. Sedari tadi mata laki-laki itu tak berpindah dari gundukan tanah yang perlahan bersih karena tangan mungil istrinya yang terus menerus mencabut rumput liar yang tumbuh disekitar makam anaknya.


Gio dan Ara sekarang sudah berada di makam sang anak yang berada tepat dibelakang rumah. Sedari tadi tidak ada yang mengeluarkan suara, hanya hembusan angin dan suara grasak grusuk dari Ara yang duduk disamping Gio sambil membersihkan makam putrinya.

__ADS_1


Dengan tangan bergetar, Gio berpaling mengusap pelan nisan sang anak. Tatapannya nanar dan terlapisi cairan bening yang siap luruh kapan saja.


"Assalamu'alaikum anak cantik," ujarnya lirih.


"Ini papa sayang," lanjutnya. Nafasnya tercekat saat mengatakan kalimat itu. 'Papa'? Apa masih pantas dia menyebut dirinya papa didepan putrinya ini, bahkan kehadiran anak pertamanya sama sekali tidak dia ketahui.


"Papa minta maaf baru datang sekarang. Papa minta maaf karena baru tau kamu ada saat kamu udah gak disini sama papa mama. Papa minta maaf karena tidak bisa menjaga kamu. Papa minta maaf karena kamu tidak bisa merasakan kasih sayang papa. Papa mohon maaf sayang," racau Gio dengan suara lirih sambil menunduk mencengkram kuat tanah dihadapannya. Sungguh, dia sudah tidak bisa menahan sakit dihatinya saat mengingat putrinya sama sekali tidak mendapat kasih sayangnya.


Ara mengelus punggung Gio berusaha menenangkan. Perempuan itu tidak menangis walau tidak dipungkiri hatinya berdenyut nyeri melihat Gio dan mengingat anaknya yang dulu menemaninya menjalani hidup yang hampir membuatnya menyerah.


"Gii...." panggilnya lembut.


Gio tak menghiraukan itu, dia sibuk menangis merutuki kebodohan dan penyesalannya. Sedangkan Ara kembali diam sambil terus mengusap punggung suaminya.


"Semuanya sudah berlalu. Dede bayi pasti sudah jadi malaikat diatas sana, menunggu kita untuk berkumpul lagi nantinya. Jangan menangis Gii, dulu aku selalu menceritakan tentang kamu sama dia," ucap Ara saat beberapa menit tidak lagi mendengar tangisan Gio.


"Aku selalu bilang papanya adalah laki-laki tanggung dan hebat, selalu berhasil melindungi mamanya dan selalu mencintai mamanya,"


"Kalau kamu nangis kayak gini, dia pasti sedih," ujar Ara membuat Gio menatapnya.


"Jangan nangis lagi, sekarang kita kirim doa buat Kana terus masuk istirahat," kata Ara. Gio mengangguk dan melakukan apa yang Ara katakan.


Setelah mengirim doa pada putrinya, Gio dan Ara kembali masuk kerumah dan disinilah mereka sekarang, Kamar yang Ara tempati dulu. Rumah ini masih terawat karena Aura yang rajin menggaji orang untuk membersihkannya.


Gio yang biasanya aktif setelah dari makam tadi lebih banyak diam sambil memeluk tubuh istrinya. Ara pun tak berniat mengeluarkan suara, hanya sibuk mengelus punggung serta rambut sang suami.


"Dulu Kana rewel gak?" tanya Gio tiba-tiba setelah cukup lama terdiam.


"Enggak. Pas hamil dia aku gak pernah muntah-muntah dan hampir gak pernah ngidam, semuanya lancar tanpa hambatan. Dia kayaknya ngertiin karena aku lagi gak sama papanya," jawab Ara terkekeh pelan.


Bagaimana bisa perempuan itu tidak menangis saat mengingat anak pertamanya ? Ya tentunya karena dia sudah mengikhlaskan semuanya dan sudah berdamai dengan keadaan dan masa lalu. Bukan, bukan karena dia sudah mengandung lagi. Dia hanya tidak ingin berlarut dalam kesedihan dan membuat bayi kecilnya yang sudah di surga juga ikut sedih.


"Maaf," gumam Gio pelan.


Ara menunduk menatap mata Gio yang juga mendongak menatapnya. Senyum tipis perempuan itu membuat hati Gio sedikit lebih tenang. Setelah mengecup bibir suaminya sekilas, Ara mengusap rambut Gio lembut.


"Gak perlu minta maaf terus. Aku udah bilang, jadiin pelajaran aja, jangan diungkit terus dan dijadikan sebuah penyesalan," ujar perempuan itu.


"Gak ada yang salah. Waktu itu keadaan dan semesta kita memang sedang tidak memihak, gak papa, justru karena itu aku bahkan kamu jadi lebih kuat sekarang,"


"Jangan minta maaf terus yaa, jangan di sesali terus," pinta Ara.


Gio mengangguk sambil mengeratkan pelukannya pada Ara.


"Sayang banget sama kamu," ucapnya pelan.


Senyum Ara mengembang. Setiap hari Gio tidak pernah absen mengungkapkan perasaan padanya. Akan selalu mengutarakan rasa sayang dan cintanya pada Ara.


"Mau jalan-jalan?" tanya Ara.


"Bentaran, masih mau dipeluk," jawab Gio yang dimaklumi Ara.


Keduanya kembali hening sampai tak sadar Ara tertidur karena usapan lembut Gio di punggungnya. Perlahan Gio mengubah posisinya, menjadikan lengannya sebagain batalkan Ara. Salah satu tangannya beralih mengelus perut buncit istrinya.


"Beruntung banget punya kamu," bisik Gio mengecup bibir Ara sekilas.

__ADS_1


...-To be continued-...


__ADS_2