Perjalanan Cinta CEO Muda

Perjalanan Cinta CEO Muda
Part 119. Bibit PHO (?)


__ADS_3

Ara berjalan masuk kedalam perusahaan Gio dengan wajah ditekuk. Perempuan itu hanya akan tersenyum jika pegawai suaminya ada yang menyapanya. Bukannya apa-apa, Ara masih kesal dengan Aldi yang berbicara seperti itu, menuduh suaminya yang tidak-tidak. Walaupun dulu Gio pernah menyakitinya tapi itu semua kan hanya kesalahpahaman. Dia tahu suaminya seperti apa.


Setelah tiba didepan ruangan Gio, perempuan itu langsung menyelonong masuk tanpa mengetuk pintu membuat dua orang yang ada disana beralih menatapnya.


"Ehh.."


"Sayang, kok disini.." tanya Gio saat melihat istrinya berdiri didepan pintu. Senyum manis laki-laki itu menyambut sang istri, hal itu membuat perempuan yang duduk dihadapannya kini menatap Gio dengan tatapan kagum dan yang pasti tertarik, karena sejak tadi bersama didalam ruangan itu, hanya ada raut datar dan dingin yang dia perlihatkan.


"Maaf aku ganggu, aku keluar aja ya," pamit Ara hendak berbalik tapi suara dari Gio menghentikannya.


"Kamu keluar, aku aduin ke ayah kalau kamu nakal," ujar Gio enteng membuat pergerakan Ara terhenti.


"Tapi aku ganggu, kalian lanjut aja pekerjaannya," ujar Ara.


"Gak ganggu. Masuk," perintah Gio membuat Ara mendengus namun tetap menurut, melangkah mendekati sang suami.


"Kamu duduk disofa dulu, aku lanjut bentar. Ini dikit lagi selesai kok," perintah Gio yang langsung diangguki Ara.


Setelah melihat istrinya duduk dengan tenang di sofa, Gio melanjutkan pekerjaannya, mengecek beberapa dokumen dan menandatanganinya. Berbeda dengan Ara yang masih mengamati Gio dan seorang perempuan yang duduk di hadapan suaminya sambil menjelaskan entah apa itu. Ara mengenal gadis itu, dia Naumi, sahabat Rania semasa kuliah dulu, tapi sekarang Ara tak pernah melihat keduanya bersama lagi. Ara tak peduli dan tidak mau ikut campur urusan keduanya. Yang membuat ara mendengus adalah saat matanya yang sedari tadi mengamati gerak gerik Naumi yang jelas sekali menunjukkan ketertarikannya pada Gio bahkan gadis itu sesekali mencari perhatian suaminya. Ara yang sudah kepalang kesal, beranjak berdiri dan mendekat pada Gio yang membolak-balikan beberapa dokumen lalu menandatanganinya.


"Gio," panggil Ara membuat bukan hanya Gio yang menoleh tapi juga Naumi.


"Kenapa sayang?" tanya Gio lembut.


Naumi yang menyaksikan itu mendengus pelan. Gio begitu lembut pada Ara sedangkan padanya sedari tadi hanya bersikap datar, hanya membalas "hm" jika dia menjelaskan atau bertanya sesuatu.


"Lapar?" tanya Gio setelah melirik jam tangannya.


Ara mendekat dan mengangguk pelan, meraih tangan Gio untuk digenggam.


"Bentar yaa, dikit lagi," bujuk Gio membuat Ara mengerucutkan bibirnya.


Masih dengan memegang tangan kiri Gio, Ara berjongkok disamping kursi kerja Gio dengan wajah ditekuk persis anak kecil yang sedang merajuk, menggigit pelan tangan Gio yang masih dia pegang. Gio melirik istrinya dan terkekeh pelan. Dimatanya, Ara begitu menggemaskan sekarang.


"Ayoo," rengek Ara tak mempedulikan jika masih ada orang lain yang ada disana.


"Aku pulang nih," kesal Ara kembali berdiri dan melepas tangan Gio.


Gio gelagapan lalu menutup berkas yang ada dihadapannya. Segera Gio meraih tangan istrinya yang hampir berbalik meninggalkannya. Tatapan Gio beralih pada Naumi yang masih menatap keduanya.


"Lanjutkan pekerjaan mu," ujar Gio bermaksud mengusir Naumi secara halus.


"Tapi pak, dokumennya belum...."


"Nanti saya selesaikan dan asisten saya yang mengantar ke ruangan kamu," potong Gio cepat.


Naumi yang sudah merasa tak bisa membalas Gio langsung saja mengangguk dan beranjak dari duduknya lalu meninggalkan ruangan Gio. Sedangkan laki-laki dengan balutan jas kerja berwarna hitam itu, menoleh pada istrinya yang menatap arah Naumi keluar tadi dengan tatapan kesal.


"Kenapa sih sayang?" tanya Gio melihat istrinya sedikit berbeda. Ara berbalik menatap Gio dengan tatapan sinisnya.


"Kamu kenal dia?" tanya Ara.


Gio mengerutkan keningnya bingung. Pertanyaan macam apa itu, jelas dia tahu karena Naumi adalah karyawan dikantornya. Tapi meskipun begitu dia tidak tahu nama perempuan itu, tidak penting juga bagi Gio.


"Karyawan aku kan," jawab Gio.


"Namanya?" tanya Ara lagi membuat Gio menggeleng.


"Gak tau," jawabnya jujur.


"Beneran?" tanya Ara memastikan.

__ADS_1


Gio mengangguk dengan raut wajah serius membuat Ara menghela nafas kasar.


"Karyawan sendiri kok gak tau namanya," kesal Ara.


"Gak penting," jawab Gio acuh.


"Kenapa sih?" tanya Gio yang masih bingung dengan istrinya itu.


"Namanya Naumi, sahabat Rania dulu tapi sekarang mereka udah gak sama-sama lagi gak tau kenapa. Dan aku liat kayaknya dia suka sama kamu, kamu gak liat dia tadi merhatiin kamu sampai segitunya," jelas Ara menyuarakan isi hatinya.


Gio yang baru paham dengan istrinya itu terkekeh geli dan menarik Ara hingga gadis itu terduduk di pangkuannya. Ara yang hendak berdiri ditahan oleh tangan Gio yang langsung melingkar dipinggang ramping istrinya.


"Cemburu hm?" tanya Gio menatap istrinya.


Ara mendengus dan membuang pandangannya, tak mau menatap Gio yang masih menahan tawanya.


"Enggak," jawabnya ketus.


"Bilang aja cemburu, susah banget sih sayang," pancing Gio.


"Enggak ya," balas Ara masih ketus.


"Iya iya enggak,"


"Tuh kan," Ara yang kesal langsung memukul lengan Gio cukup keras.


"Salah lagi," gumam Gio.


"Kenapa, kenapa hmm. Sini cerita," bujuk Gio menangkup pipi istrinya hingga keduanya saling menatap.


"Kenapa sayang?" tanya Gio lembut.


"Kamu jangan dekat-dekat sama dia," ujar Ara.


"Emang kenapa?"


"Dia tuh suka sama kamu. Aku gak suka liat cara dia natap kamu,"


"Dia gak suka,"


"Dia suka. Aku liat pake mata kepala aku sendiri, aku perempuan jadi aku tau gimana perasaannya. Jangan dekat-dekat sama dia, aku gak suka,"


"Iya sayang,"


"Awas iya-iya aja tapi masih dekat-dekat,"


"Gak dekat-dekat,"


"Kamu udah punya istri ya,"


"Iyaa sayang,"


"Iih kamu mah," Ara semakin kesal langsung saja memukul lengan Gio.


"Kenapa lagi, sayang?" tanya Gio bingung.


"Kamu mah, iya-iya aja," kesal Ara.


Gio tersenyum tipis lalu menarik pinggang Ara lebih dekat padanya dan langsung mencium pipi Ara dengan gemas. Ternyata seperti ini rasanya dicemburui istri sendiri. Istrinya benar-benar menggemaskan, dia ingin sekali menelan bulat-bulat istrinya ini.


"Iya sayang, gak akan dekat-dekat lagi. Gak akan buat kamu cemburu sama siapapun itu," jawab Gio begitu lembut.

__ADS_1


"Kenapa sih, takut banget keliatannya," ujar Gio lagi.


"Takut ditinggal," jawab Ara pelan menunduk memainkan gelang hitam Gio.


"Gak akan ditinggal sayang, ngapain sih nyari yang baru lagi kalau udah ada kamu yang bikin bahagia. Satu aja cukup," ucap Gio berusaha memberi pengertian, berusaha membuat Ara percaya dengan apa yang dia katakan karena memang itu kenyataannya.


"Kenapa jam segini udah keluar, gimana kerjaannya?" tanya Gio mengelus pipi istrinya lembut.


"Udah gak kerja,"


"Loh kok?", Gio jadi bingung sendiri. "Maksudnya gimana?" tanya Gio lagi.


"Udah ngundurin diri. Gak mau kerja lagi," jawab Ara.


"Kenapa, jangan karena keinginan aku, kamu malah ngorbanin keinginan kamu,"


"Enggak, Gii. Aku emang udah mau berhenti bekerja, mau fokus sama rumah tangga. Lagian suami aku kaya, uangnya gak bakalan habis jadi aku gak perlu kerja kan," ujar Ara dengan polosnya. Gio tertawa pelan lalu memeluk Ara dengan erat, menyamankan posisinya, mencari ketenangan. Memeluk istrinya seperti ini adalah hal paling menyenangkan dan mampu membuat beban serta rasa lelahnya hilang seketika.


"Makan siang yuk," ajak Gio masih mendusel di ceruk leher Ara.


"Gak lapar,"


"Tadi katanya lapar,"


"Itu alasan aja,"


Gio kembali tertawa pelan. Sungguh, sikap Ara beberapa hari ini sedikit berbeda. Dia jadi lebih manja dan cerewet dan jangan lupakan kerandoman istrinya itu. Yah Ara jadi sedikit aneh. Tadi pagi saja istrinya itu tiba-tiba meminta jatahnya. Hal itu membuat Gio sedikit bingung karena biasanya Gio yang banyak meminta sekarang istrinya. Bahkan tengah malam kemarin istrinya sempat meminta nasi kuning, oh ayolah siapa yang akan menjual nasi kuning tengah malam seperti itu. Sibuk dengan pikirannya, Gio dibuat terkejut saat Ara merubah duduknya menjadi saling berhadapan dan tangan mungil Ara sudah berada didalam kemeja yang dia kenakan. Bahkan istrinya itu sudah mengelus perut kotak-kotaknya.


Gio mendongak menatap istrinya yang tersenyum sumringah, begitu bahagia melakukannya. Itu terlihat dari binar dimata sang istri. Gio tersenyum tipis.


"Sayang," tegur Gio menahan tangan Ara yang terus bergerak di perutnya.


Gio mengerang tertahan saat Ara tak juga menghentikan aksinya. Tak tahukah istrinya itu jika apa yang dia lakukan bisa memancing Gio.


"Iih gemas. Kotak-kotak, gak kaya aku rata," ujar Ara begitu girang.


****. Gio tak tahan lagi, laki-laki itu menarik tengkuk istrinya dan mencium bibir Ara dengan lembut. Ara hanya diam dan mengikuti keinginan Gio. Setelah beberapa menit, Gio melepas pangutannya dan menatap teduh sang istri.


"Jangan gitu sayang, ini masih dikantor," peringatan Gio membuat Ara mengerucut kesal.


"Nanti dirumah itu buat kamu semua, ya," bujuk Gio.


Ara menghela nafas pelan lalu mengangguk, kembali memeluk Gio, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Gio.


"Ngantuk," gumamnya.


"Ya udah tidur, sayang," perintah Gio.


"Hmm,"


Setelah itu, tanpa mengubah posisinya, Ara mencari posisi nyamannya dipangkuan sang suami dan memejamkan mata. Sedangkan Gio memeluk Ara sambil mengusap punggung istrinya memberi kenyamanan agar perempuan itu tertidur.


"Tidur nyenyak sayang," bisik Gio menunduk mencium bibir Ara sekilas.


...-To be Continued-...


Jangan lupa like dan komennya


See you di part selanjutnya 💓💓💗💗


jaga kesehatan kalian

__ADS_1


__ADS_2