Perjalanan Cinta CEO Muda

Perjalanan Cinta CEO Muda
Part 75. Cinta, kenyamanan & keikhlasan.


__ADS_3

"Minggu depan Ken nikah,"


Seperti itulah pesan yang didapat Gio pagi ini dari Arsal. Laki-laki dengan balutan kaos hitam polos itu hanya tersenyum tipis membacanya. Dia ikut bahagia dengan apa yang menjadi keputusan sahabatnya. Memang harus seperti itu, bukan? Ken harus berani beranjak dari masa lalunya. Gio tak perlu repot bertanya dengan siapa dan apa alasan mereka menikah dadakan. Rasanya itu terlalu privasi, lagipula dia juga akan datang ke sana dan tau sendiri nantinya dengan atau tanpa undangan dari Ken. Orang tua mereka bersahabat, otomatis Kevin, ayahnya akan menyeretnya datang ke sana.


Gio kembali mengembangkan senyum tipisnya saat ponselnya kembali berdering dan itu dari gadisnya. Tak menunggu lama, Gio segera menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan telfon tersebut.


"Pagi kesayangan," sapanya lembut kembali berbaring di kasurnya.


"Kamu udah bangun?" tanya gadis itu dari seberang.


"Langsung mandi, hari ini sampai seminggu ke depan, jadwal kita padat banget. Bakal sering pulang pergi luar kota dan luar negeri," lanjut Ara.


"Sayang, capek iih," keluh Gio.


"Gak boleh gitu, katanya mau cepet nikah," sahut Ara.


Mendengar kata nikah, Gio kembali duduk tegap dan mengembangkan senyumnya penuh arti.


"Sekarang kamu yang mulai gak sabaran ya," goda Gio.


"Mandi sayang," bujuk Ara lembut.


"Ya udah iya ini mau mandi. Nanti aku jemput ya," ujar Gio.


Setelah itu sambungan telepon diputus sepihak olehnya lalu melempar asal ponselnya dan beranjak menuju kamar mandi. Beberapa menit bersiap, Gio akhirnya selesai dan kini sedang melaju menuju apartemen miliknya untuk menjemput Ara.


Gio menghela nafas pelan, entah apa yang membuat perasaannya tidak tenang beberapa hari ini. Entah apa alasannya yang jelas setelah kejadian malam sialan itu, perasaan Gio benar-benar tak bisa tenang.


Gio tersenyum tipis saat sampai didepan gedung apartemennya. Terlebih saat melihat gadisnya sudah berdiri menunggunya. Gio keluar dari mobil saat melihat Ara berjalan mendekat.


"Sayang..." panggil Gio pelan berdiri menatap Ara tak tenang.


"Kenapa?" tanya Ara nampak bingung dengan raut wajah Gio.


"Boleh peluk gak?" tanya Gio lagi.


Ara dibuat semakin bingung. Biasanya laki-laki itu tidak pernah meminta izin dan langsung menerjangnya jika ingin memeluk namun sekarang agak berbeda, Gio dengan raut wajah gusarnya meminta izin untuk memeluk dirinya. Mengesampingkan semua pertanyaan yang ada dibenaknya, Ara tersenyum lalu mengangguk sembari merentangkan tangannya. Tanpa pikir panjang Gio langsung memeluk tubuh mungil gadisnya dengan erat. Menyandarkan kepalanya pada bahu Ara, mencari kenyamanan yang selalu Gio rasakan saat memeluk Ara.


"Kenapa?" tanya Ara setelah beberapa menit diam.


"Gak tau, mau peluk aja," jawab Gio pelan.


"Ada yang ganggu pikiran kamu?" tanya Ara paham betul tingkah Gio.


"Gak tau, merasa gak tenang aja akhir-akhir ini. Perasaan aku gak enak banget, gak nyaman tapi gak tau alasannya apa," adu Gio.


Ara melepas pelukannya menatap Gio teduh, mengusap lembut rambut laki-laki itu. "Jangan terlalu dipikirin ya," kata Ara lembut. Mengecup pipi Gio sekilas. Gio mengangguk saja lalu kembali memeluk Ara.


"Gak mau jauh-jauh dari kamu," ujarnya.


...——🌻🌻🌻——...


"Ken?"


"Hmmm"

__ADS_1


"Aku mau nanya boleh gak?" tanya Veronica hati-hati.


Keduanya kini berada di kantor tepatnya ruang besar Ken. Veronica sengaja datang membawakan Ken makan siang. Ken menatap Veronica yang berdiri di hadapannya dengan raut bingung. Namun sedetik kemudian senyum tipis Ken mengembang melihat Veronica yang tiba-tiba gugup.


Laki-laki dengan balutan kemeja hitam yang dilapisi dengan jas abu-abu itu berdiri lalu menarik Veronica duduk di sofa ruangannya.


"Anak aku apa kabar?" tanya Ken mengelus perut Veronica yang masih datar.


"Baik," jawabnya.


"Gak muntah-muntah kan? Gak nyusahin kan?" tanyanya beruntun.


"Cuma mual aja tadi pagi tapi gak sampai muntah, sedikit pusing juga," jawab Veronica.


Ken mengangguk merebahkan tubuhnya di atas sofa dan menggunakan paha Veronica sebagai bantalannya. Ken sengaja menghadap perut rata Veronica dan menelusupkan tangannya kedalam hoodie perempuan itu. Mengelus perut Veronica lembut. Meski geli, Veronica membiarkan saja apa yang Ken lakukan. Tangannya terangkat mengusap lembut rambut laki-laki kesayangannya itu.


"Umurnya udah berapa?" tanyanya lagi. Sepertinya Ken benar-benar antusias dengan kehadiran calon bayinya itu.


"Tiga minggu, masih kecil banget,"


Veronica dibuat terkejut saat Ken tiba-tiba mencium perutnya dan berbisik lembut sembari terus mengelus perutnya.


"Jangan menyusahkan mama ya sayang. Susahin aja papa, kasian mama kalau kamu selalu nyusahin dia. Pasti mama capek nanti," bisik Ken masih terdengar jelas ditelinga Veronica. Perempuan dengan rambut sebahu itu berkaca-kaca mendengar bisikan Ken.


"Jaga kesehatan ya, sayang. Jangan capek-capek," peringatan Ken menatap Veronica dari bawah.


"Tadi mau nanya apa?" lanjut laki-laki itu.


"Kamu jangan marah ya," ujar Veronica takut-takut.


Veronica menghela nafas pelan lalu menatap kosong ke depan. Dia sudah memutuskan dan dia akan menerima resikonya nanti. Seenggaknya dia sudah memastikan dan bertanya pada Ken kalaupun Ken marah, dia akan terima itu.


"Kamu beneran mau nikah sama bukan karena tanggung jawab kamu sama bayi ini kan? Kamu beneran mau nikah karena sayang sama aku?" tanya Veronica memberanikan diri.


Tangan Ken yang sedari tadi mengelus lembut perut Veronica berhenti sesaat lalu detik berikutnya kembali bergerak lembut.


"Aku sayang sama kamu, bukan karena adanya bayi ini. Mau dia ada atau tidak ada aku tetap sayang kamu dan mau sama kamu terus," jawab Ken pasti.


Veronica menelan salivanya susah payah sebelum kembali bertanya lagi, dia benar-benar harus mengumpulkan keberaniannya untuk mempertanyakan hal sensitif ini.


"Lalu Aluna dan Ara?" tanya Veronica membuat Ken justru terkekeh pelan. Diluar ekspektasi Veronica, dia kira Ken akan mengamuk atau marah-marah karena bertanya hal itu.


"Aku pertanyaan ini semua bukan tanpa alasan Ken. Dua hari lagi kita bakal nikah dan aku gak mau hidup sama orang yang gak punya perasaan sama aku apalagi dia cuma kasihan sama aku. Kalau kamu mau nikahin aku cuma karena bayi ini, mending jangan. Aku bisa jamin sama kamu, aku bakal jaga anak kita ini dengan baik berusaha mendidiknya dengan baik dan memberikan kehidupan yang layak tanpa harus kamu tanggung jawab,"


"Kalau kamu masih ada perasaan sama Ara, kejar dia Ken. Jangan habisin waktu kamu dengan percuma sama orang yang sama sekali gak kamu sukai. Aku gak minta pertanggung jawaban kamu, aku ngasih tau kalau ada bayi ini cuma pengen kamu tahu kalau kamu ada anak biar kesannya aku gak jahat nyembuyiin dan pisahin anak sama ayahnya," ujar Veronica panjang lebar.


Yah, dia kesini ingin mempertanyakan perasaan Ken padanya. Dia tidak ingin Ken menghabiskan waktu dengan orang yang sama sekali tidak dia cintai. Dia ikhlas jika Ken tak menikahinya dan dia ikhlas jika pada akhirnya dia harus hidup berdua dengan anaknya, tanpa Ken.


Ken bangkit dari rebahannya lalu duduk menghadap Veronica dengan senyum tipisnya. Tangannya terangkat mengusap lembut pipi perempuan itu.


"Aku gak bohong kalau aku cinta dan sayang sama kamu. Aku ngakuin itu didepan orang tua ku, itu tandanya aku serius. Aku gak bohong, aku masih punya perasaan sama Ara apalagi Aluna tapi aku mau lepas dari masa lalu, Vee," ujar Ken menatap dalam bola mata perempuan itu.


"Aku mau mulai hidup aku dengan baik, lepas dari masa lalu dan bangun masa depan bareng kamu dan anak kita." lanjutnya.


"Kamu percayakan sama aku, kamu mau kan bantu aku lepas dari bayang-bayang masa laku?" tanya Ken.

__ADS_1


Veronica diam beberapa saat berusaha mencari kebohongan dimata laki-laki yang kini sudah mengisi hatinya. Nihil, Veronica tak menemukan kebohongan dan keraguan sama sekali.


Veronica mengangguk menjawab pertanyaan Ken membuat senyum laki-laki itu mengembang. Ditariknya lengan Veronica lalu memeluk perempuan itu erat, mencium puncak kepalanya dengan lembut. Selang beberapa menit, Ken melepas pelukannya dan menatap mata Veronica teduh. Ken mengecup sekilas bibir pink yang sedari tadi menggodanya itu.


"Sayang...."


"Hm..."


"Mau jenguk baby,"


...——🌻🌻🌻——...


Rania menghela nafas pelan lalu menoleh menatap seseorang yang duduk dibalik kemudi disampingnya. Sudah lima hari ini Rania selalu pulang dan pergi kampus diantar laki-laki itu. Setelah kejadian kemarin di parkiran hotel, perlahan tapi pasti Bisma berhasil menyakinkan perempuan itu. Mengatakan bahwa apapun yang Rania lakukan akan tetap tak berpengaruh pada hubungan Ara dan Gio. Semua orang tahu hubungan mereka dan jika Rania merusaknya, dia sama saja akan mempermalukan dirinya sendiri.


"You okey?" tanya Bisma mengusap lembut rambut gadis yang pernah menjadi seseorang yang paling spesial untuknya.


Rania mengangguk, menggeser duduknya sampai dia berhadapan dengan Ken. "Terima kasih masih mau ada saat aku jatuh kayak gini," ujar Rania tulus.


"Udah tugas gue," sahut Bisma.


"Kenapa kamu masih peduli, kamu juga lagi perjuangin seseorang kan?" tanya Rania membuat Bisma mengalihkan tatapannya.


Bisma menghela nafas pelan. Memang, dia sedang memperjuangkan kembali hati seseorang tapi apa itu akan berhasil jika orang tersebut bahkan sudah takut padanya.


"Gue gak yakin masih bisa rebut hatinya. Gue gak tau mau bagaimana lagi," jawabnya.


"Kamu peduli sama aku karena kasian ya?"


"Enggak sama sekali, gue peduli karena emang murni dari hati gue mau peduli sama lo. Mau gimana pun, lo punya bagian dijalan cerita hidup gue," Jawab Bisma.


"Gimana sama Gea?" tanya Rania lagi yang sukses membuat Bisma menghela nafas.


"Seperti yang gue bilang sama lo, cinta gak harus memiliki. Mungkin gue bakal relain Gea sama Zian." jawabnya pelan.


"Lo yakin?"


"Mau gak mau, Nia. Gue lihat Gea bahagia sama Zian, terus apalagi yang harus gue lakuin, merusaknya? Gak mungkin kan,"


Rania mengambil sebelah tangan laki-laki lalu menggenggamnya erat. "Gue yakin lo bisa beranjak,"


"Nia,"


"Lo tau apa artinya Gea buat gue,"


"Yah, sama kayak gue dulu. Segalanya,"


Rania terkekeh pelan. Mengingat masa dimana dia masih menjadi ratu dihati laki-laki disampingnya ini dan sekarang mereka tak lebih dari sepasang masa lalu yang kembali menjalin tali silaturahmi.


"Kamu pasti bisa." ujar Rania memberi semangat.


"Dua hari lagi Ken menikah," Bisma memberitahu, bagaimana dia bisa tahu? Jelas, Ken dan keluarganya bukan orang sembarangan. Selain kabar lamaran dadakan Gio kemarin, kabar pernikahan Ken sudah tersebar dimana-mana.


Rania hanya mengangguk saja, dia sudah tahu semuanya dan dia kali ini benar-benar merasa kalah. Ken sudah tidak akan lagi berniat memisahkan Gio dan Ara karena sebentar lagi dia akan menikah dan Gio yang sangat sulit dipisahkan dari Ara. Laki-laki itu sudah menjadikan seorang Kaiyara Zoe sebagai dunianya, tempatnya pulang. Walaupun Rania melakukan berbagai cara untuk memisahkan mereka, tetap saja Rania akan kalah.


Seperti yang dikatakan Bisma, cinta tak harus memiliki dan mungkin ini saatnya dia mengikhlaskan segalanya. Dia juga harus melanjutkan hidup. Lagipula di dunia ini bukan hanya Gio satu-satunya laki-laki.

__ADS_1


...---To be continued---...


__ADS_2