
Hari pertama bekerja setelah banyaknya kejadian yang dia alami beberapa waktu lalu. Ara melangkah memasuki gedung besar tempat dia dan kekasihnya bekerja. Sebenarnya beberapa orang sudah mengetahui bahwa gadis itu adalah kekasih dari CEO tampan mereka, hanya saja lebih baik tutup mulut dan berlagak seolah tak terjadi apa-apa. Bukan keinginan mereka, hanya saja itu keinginan pimpinan mereka yang merupakan perintah dari Ara sendiri.
Hari ini dia berangkat sendiri menggunakan taksi online karena Gio yang semalam lembur, dia tidak mungkin meminta Gio menjemputnya kan. Motornya bahkan di bawa Bimo tanpa sepengetahuannya.
Ara membalas setiap sapaan yang karyawan layangkan padanya. Hanya dengan senyum tipis tapi mampu membuat orang-orang itu terpesona padanya.
Ara masuk kedalam ruangan mendapati dua orang sedang berdiri berhadapan dengan Gio yang memasang wajah datarnya. Ara dibuat terkejut dengan kehadiran Rania disana, apa adiknya itu tidak kuliah.
"Ekhmm," Ara berdehem pelan namun mampu mengalihkan tatapan keduanya.
Gio menyambutnya dengan senyum tipis dan Rania yang menatapnya dengan tatapan benci.
"Kok datangnya cepet banget?" tanya Gio berjalan mendekat pada Ara.
"Ini udah telat ya, pak," sahut Ara menatap Gio.
"Kenapa?" tanyanya berbisik pelan.
Gio menarik Ara mendekati Rania yang masih diam memperhatikan keduanya. Entah apa yang gadis itu lakukan sampai bisa datang sepagi ini ke kantornya tapi yang jelas Gio tahu alasannya tanpa harus bertanya lagi. Selain menyuruhnya menjauhi Ara pasti karena perusahaan papanya yang langsung menurun drastis.
"Kamu gak kuliah?" tanya Ara setelah sampai dihadapan Rania.
Rania hanya menatap sengit kearah Ara lalu kembali menatap Gio dengan tatapan memohon.
"Please, Gii. Aku tau ini salah papa tapi jangan lakuin ini ke papa," kata Rania memohon.
Kening Ara berkerut bingung lalu menatap Gio yang masih menatap lurus kearah Rania. Sebenarnya apa yang sudah terjadi, apa maksud Rania tadi.
"Gue udah bilang kan, gue gak pernah main-main sama omongan gue dan lo lebih dari tau siapa gue," sahut Gio.
"Keluar sebelum gue suruh satpam seret lo keluar dari sini," lanjutnya.
"Gii..." Ara yang hendak menegur terdiam saat mendapatkan sorot tajam dari Gio.
Rania menghela nafas pelan, untuk kali ini dia akan mengalah. Dia juga tidak ingin sesak didadanya terus menerus menghantamnya saat melihat kedekatan keduanya.
Setelah kepergian Rania, gadis dengan balutan blazer berwarna abu-abu itu menatap Gio dengan sorot mata seolah mengisyaratkan kekasihnya itu untuk menjelaskan.
"Ngapain berduaan diruangan?" tanya Ara saat Gio hanya diam saja.
"Gak ngapa-ngapain, kan kamu juga tadi liat," jawab Gio santai.
"Terus ngapain tadi dia kesini, apa arti ucapan dia tadi?" tanya Ara lagi tak puas dengan jawaban Gio.
"Banyak tanya ihh. Kamu datang sama siapa?" tanya Gio mengalihkan pembicaraan.
Ara menghela nafas pelan, ini yang dia tidak suka dari Gio. Laki-laki itu suka sekali menyembunyikan sesuatu darinya.
"Taksi," jawab Ara dan berlalu menuju mejanya. Lebih baik dia bekerja daripada harus bertengkar sepagi ini.
__ADS_1
Gio hanya menatap Ara yang kini sibuk dengan tumpukan dokumen yang ada di mejanya. Yaah saking tak bisanya laki-laki itu jauh dari Ara, dia sampai memindahkan meja kerja Ara kedalam ruangannya.
...---🌻🌻🌻---...
Ken duduk termenung di ruang kerjanya. Hari ini moodnya sedikit berantakan karena Veronica yang kemarin berkunjung ke rumah orang tuanya tanpa memberitahunya, itu membuat mereka ribut tadi pagi.
Ken tidak suka jika Veronica masih berhubungan dengan keluarga sialan itu. Bukannya ingin menjauhkan Veronica dari keluarganya tapi dia hanya tidak ingin gadis itu kembali mendapat kekerasan dari keluarga tidak tahu diri itu.
"Ngapain sih melamun mulu?" tanya seseorang yang sudah duduk tenang didepannya itu.
Ken menatap tajam orang itu. Asisten pribadi sekaligus sahabatnya itu. Orang kepercayaan yang sudah hampir 4 tahun menemaninya, Namanya Axel Pramudya atau biasa dipanggil Axel, laki-laki tampan berkulit putih yang kini sedang menatap malas kearahnya.
"Kenapa sih lo, dari tadi melamun mulu." tanyanya.
"Bisa gak sih kalau masuk tuh ketok dulu?" balas Ken.
Mereka memang sudah seperti itu sejak dulu. Jika hanya berdua bersikap santai dan jika bersama rekan kerjanya mereka akan profesional.
"Nih, tanda tangan," ucap Axel menyodorkan berkas pada Ken tanpa mau repot-repot menjawab pertanyaan Ken.
"Ada masalah, Tuan muda," tanya Axel setelah kembali menerima dokumen yang sudah ditanda tangani Ken.
"Gak papa. Keluar lo," usir Ken yang hanya mendapat dengusan dari Axel.
Setelah keluar dari ruangan Ken, Axel menghela nafas berat dan tersenyum miring melihat raut kesal dan frustasi dari sahabatnya itu.
Diperjalanan pulang, Ara sama sekali tak berniat membuka pembicaraan membuat Gio bingung sendiri pasalnya baru kali ini gadisnya bertingkah seperti ini. Bahkan sedari tadi saat bekerja pun dia hanya sesekali berbicara padanya.
Gio tahu gadisnya itu masih kesal perihal tadi pagi tapi dia sama sekali belum berniat menceritakan segalanya pada Ara. Mungkin nanti saja, pikirnya.
Saat mobil sport berwarna putih itu melewati jalanan yang terbilang sepi, Gio merasa ada yang tidak beres. Laki-laki yang mengenakan kemeja biru navy itu melirik kaca spion mobilnya dan benar saja, dibelakangnya ada empat motor besar berwarna hitam berusaha mengimbangi mobilnya. Gio menambah laju mobilnya dan sontak motor-motor itu juga ikut mengejarnya. Feeling Gio benar, mereka diikuti. Ara menoleh pada Gio saat laki-laki itu kembali menancap gas lebih cepat dari sebelumnya.
"Pelan-pelan Gio, bahaya tau gak," omel Ara yang masih belum sadar akan situasi.
"Diam sayang, kamu pegangan aja," balas Gio tanpa menoleh pada Ara.
Tiba-tiba Gio me-rem mendadak mobilnya membuat Ara hampir menghantam dashboard mobilnya, untung tangan Gio sigap menahan tubuh gadis itu.
"Sial," umpat Gio.
Pandangannya tertuju pada orang-orang yang berhasil mencegatnya dan berdiri di depan mobilnya meminta agar dia keluar.
"Mereka siapa, Gii?" tanya Ara mulai panik. Bagaimana tidak panik, empat laki-laki bertubuh tegap dengan pakaian serba hitam dan penutup kepala tengah berdiri dihadapan mobil mereka.
"Kamu tunggu disini, kunci mobilnya dari dalam dan jangan turun tanpa perintah ku," kata Gio menatap Ara serius.
"Tapi Gii.."
"Percaya sama aku, kan?"
__ADS_1
Ara mengangguk saja. Setelah berhasil menyakinkan Ara, Gio keluar dan menemui empat orang itu. Gio yakin, mereka adalah orang-orang suruhan melihat dari penampilannya. Belum cukup semenit Gio berdiri dihadapan mereka, Gio harus berdecak kesal saat mereka tanpa aba-aba langsung menyerangnya. Untung saja dia sigap menghindar. Perkelahian pun tak bisa dihindari.
Didalam mobil Ara panik luar biasa melihat Gio yang berusaha menumbangkan empat pria besar itu. Meski sejauh ini Ara tak melihat Gio terkena pukulan sama sekali tapi tetap saja, bisa saja Gio lengah.
Bughhh
"Gioo...." teriak Ara saat salah satu dari mereka berhasil mengenai wajah tampan kekasihnya.
Sedangkan diluar sana, Gio masih berusaha menumbangkan orang-orang itu. Gio menendang perut salah satu dari mereka lalu memukul rahang temannya yang berusaha menghalanginya. Saking fokusnya melawan, Gio tidak sadar salah satu dari mereka sudah menggedor-gedor pintu mobilnya. Ara panik dan tak tau harus berbuat apa.
"Keluar atau gue pecahin kaca mobil lo," ancamannya.
Ara diam dan berusaha tenang meski tidak bisa, disitus seperti ini otak Ara tak bisa diajak bekerja. Ara kaget saat laki-laki yang tadi kembali membawa sebuah batu besar. Sepertinya laki-laki itu tidak sekedar mengancamnya. Ara panik dan terpaksa membuka pintu, gadis itu ditarik keluar dari mobil Gio. Kedua tangannya dicengkeram begitu kuat.
Ara memberontak minta dilepaskan. Saking kesalnya dia, Ara menyikut perut laki-laki itu sampai cengkeramannya mengendur, situasi itu Ara gunakan untuk lepas dari laki-laki itu. Namun sialnya saat hendak berlari kearah Gio, rambut panjang gadis itu berhasil dijambak dari arah belakang membuatnya berteriak keras.
"Arrrggghhh",
Suara teriakan itu mengalihkan fokus Gio. Melihat Ara diperlakukan seperti itu, Amarahnya memuncak, Gio mengepalkan tangannya kuat menimbulkan urat-urat tangan serta rahang mengeras dan mata memerah menahan amarah.
"LEPASIN TANGAN LO DARI CEWEK GUE, SIALAN," teriak Gio keras.
Semua orang terkejut saat Gio berlari dan langsung menendang perut laki-laki itu sampai jambakan pada rambut Ara terlepas. Gio duduk diatas perut laki-laki berbaju hitam itu lalu melayangkan pukulannya tanpa ampun. Begitupun dengan tiga orang yang berusaha melawannya, Gio berhasil menumbangkan keempatnya. Oke, jangan main-main dengan Gio jika laki-laki itu sudah marah.
"PERGI LO SEMUA," sentak Gio.
Setelah orang-orang itu pergi, Gio berjalan mendekat pada Ara yang sudah duduk meringkuk disamping mobil. Tubuh gadis itu bergetar takut.
"Sayang..." panggil Gio lembut.
Ara mendongak menatap Gio yang sudah ikut berjongkok di hadapannya. Langsung saja Ara memeluk Gio, berusaha meredam rasa takut yang melandanya.
"Gak papa, mereka udah pergi. Jangan takut," kata Gio mengusap lembut rambut Ara.
"Yang mana yang dia sentuh tadi?" tanya Gio.
Aiihh dia tidak suka gadisnya disentuh sembarangan seperti tadi, Gio jadi menyesal tak membunuh mereka tadi.
"Gak ada tapi rambut aku ditarik, sakit," adu Ara. Gadis itu tak menangis, dia hanya ketakutan.
Gio mengusap-ngusap rambut Ara bermaksud menghilangkan sakit pada kepala Ara.
"Aku usapin biar gak sakit lagi," kata Gio. Ara mengangguk saja menikmati sentuhan lembut Gio dikepalanya. Beberapa menit diposisi itu, Gio merenggangkan pelukannya dan menatap Ara teduh.
"Ayo pulang, pasti kamu capek," ajak Gio.
Setelah itu, dia membukakan pintu mobil untuk Ara dan membiarkan gadis itu masuk. Setelah itu Gio ikut masuk ke kursi kemudi. Setelah laki-laki itu duduk tenang dikursinya, Gio menyalakan mobil dan berlalu pergi dari sana.
...---To be continued---...
__ADS_1