Perjalanan Cinta CEO Muda

Perjalanan Cinta CEO Muda
Part 46. hari terakhir kerja


__ADS_3

...---Happy reading---...


"Langsung tidur", kata Gio mengusap lembut kepala Ara.


"Kamu pulangnya hati-hati", sahut Ara.


Setelah bercerita banyak ditaman tadi, Gio memutuskan mengantar Ara pulang. Kini keduanya berada diteras rumah Ara. Saat hendak pulang, Ara kembali menahannya.


"Kenapa ?", tanya Gio lembut membuat Ara menunduk malu dan menggeleng pelan.


"Hati-hati, kabari kalau udah sampai rumah", kata Ara membuat Gio mengangguk.


"Aku pulang", pamit Gio lalu berbalik meninggalkan rumah Ara.


"Giooo",


Belum sampai sepuluh langkah Gio hendak meninggalkan rumah Ara, teriakan dari gadis itu membuat langkahnya kembali berhenti dan memutar tubuh menghadap Ara yang kini berlari menuju kearahnya.


Ara menabrak tubuh tegap Gio dan memeluknya erat. Gio sedikit dibuat bingung dengan tingkah Ara tapi tak urung juga tersenyum tipis.


"Kenapa sih ?" tanya Gio mengusap lembut rambut Ara.


"Masih kangen", jawab Ara pelan mempererat pelukannya.


"Emang udah bener kalau kita satu rumah aja", celetuk Gio terkekeh pelan. Ara ikut tersenyum mendengar ucapan Gio lalu melepaskan pelukannya.


"Udah sana pulang", ucap Ara.


"Ya udah kamu juga masuk", kata Gio langsung diangguki Ara. Gadis itu berjalan menuju pintu utama rumahnya dan menutup pintu. Setelah memastikan Ara sudah masuk kedalam rumah, Gio berbalik menuju motornya yang terparkir didepan gerbang rumah Ara.


Saat hendak memakai helmnya, pandangan Gio beralih pada sosok laki-laki yang memiliki tinggi sama persis dengannya berdiri diseberang dengan menatapnya tajam.


"Ngapain ?", tanya Gio santai.


"Adek udah lo pulangin ?", tanya Gio lagi.


Ken tersentak mendengar pertanyaan Gio, jadi Gio tau tadi dia bertemu Gea, terlebih lagi nada bicara laki-laki itu begitu santai dengan tatapan yang bersahabat. Tak seperti dirinya yang menatap laki-laki dihadapannya itu dengan tajam.


Karena memang begitulah kenyataannya. Gio tak pernah membenci Ken atau menganggapnya musuh dari dulu sampai sekarang Gio tetap menganggap Ken sahabat meski dia tau betul Ken sudah begitu membencinya.


"Udah belum, kalau belum ya udah gue jemput dulu", kata Gio hendak memasang helm full face nya.


"Udah", sahut Ken ketus.


"Oh ya udah, pulang gih. Ara butuh istirahat, jangan diganggu", kata Gio yang kali ini benar-benar memakai helmnya dan naik keatas motor besarnya.


"Gue udah bilang lo.....", ucapan Ken terhenti saat tiba-tiba Gio menyeletuk.


"Lo lebih dari tau bagaimana gue kalau kesabaran gue udah habis", celetuk Gio membuat Ken menatapnya dengan kening berkerut.


"Jangan ganggu milik gue", katanya lagi sebelum benar-benar meninggalkan Ken yang masih terpaku ditempatnya.


...---💙💙💙---...


Siang ini Ara hendak bekerja. Karena jadwal kuliahnya yang sudah tidak ada, urusannya dikampus pun tidak ada membuatnya bebas. Hanya menunggu beberapa hari lagi untuk wisudah.


"Nek, Ara pergi dulu ya", pamit Ara pada Muti yang sedang duduk disofa sambil menonton televisi.


"Kerja nak ?", tanya Muti yang diangguki Ara.


"Ini hari terakhir Ara ngajar Gea, besok udah bisa masuk ke perusahaan", jawab Ara girang.


"Pasti kangen deh liat tingkah adek kalau Ara udah gak kerja untuk dia nanti", celetuk Ara. Gadis itu sungguh akan merindukan tingkah Gea dan Dara nantinya.


Ara sudah diterima bekerja diperusahaan besar. Masih ingat perusahaan impiannya ? Yaps, perusahaan besar milik keluarga kekasihnya. Impian Ara terwujud bonus dengan menjadi kekasih pemiliknya. Ara diterima bekerja disana dengan jabatan yang bisa dibilang tinggi dan itu berkat Kevin, ayah Gio. Gadis itu kemarin tiba-tiba mendapat panggilan kerja di kantor utama langsung sebagai sekertaris CEO. Dan perusahaan itu sekarang dipimpin oleh kekasihnya, Gio. Katanya minggu ini akan diadakan peresmian dan dia akan terlibat diacara itu sebagai salah satu orang penting diperusahaan keluarga Ananda. Ara begitu senang mendengarnya tapi tak urung juga merasa tidak enak.


Ara sebenarnya ingin menolak karena tidak enak, tapi dia sudah terlanjur janji pada Kevin akan menerima apapun yang laki-laki itu berikan. Katanya itu hadiah atas kelulusannya. Bahkan Gio belum tahu ini. Dia sengaja tak memberitahu Gio karena ingin memberi suprise untuk kekasihnya itu.


"Perusahaan mana ?", tanya Muti.

__ADS_1


Ara duduk di samping sang nenek dan menyenderkan kepalanya dibahu neneknya.


"Perusahaan ayah. Kemarin dia temuin Ara buat itu", jawab Ara. Neneknya sudah tahu dengan keluarga Ananda dan bagaimana hubungan keluarga itu dengan anaknya dulu. Dia bersyukur karena keluarga itu mau menerima Ara dan memperlakukannya dengan baik.


"Wah selamat, cucu nenek beruntung banget. Tapi ingat meski begitu tidak boleh..."


"Sombong dan tinggi hati, harus tetap rendah hati dan banyakin bersyukur. Iya nek, Ara selalu ingat", potong Ara dengan senyum manisnya.


"Ya udah, gih sana. Nanti telat", Muti mengusap kepala Ara.


"Ya udah Ara pamit. Assalamualaikum", pamit Ara mencium pipi Muti lalu segera beranjak.


"Nenek baik-baik dirumah. Nanti Ara usahain cepat pulang", teriak Ara diambang pintu.


"Gak usah, nenek ada acara sama Tante Ani", sahut Muti terkekeh pelan membuat Ara ikut terkekeh.


Setelah itu gadis dengan baju kaos oversize berwarna coklat itu benar-benar pergi meninggalkan rumah dengan mengendarai motor matic miliknya. Tanpa menyadari sedari tadi dua orang sudah menunggunya untuk keluar dari rumah.


Arini dan Beni, kedua orang itu langsung masuk kedalam rumah setelah melihat Ara pergi.


"Dimana ?", tanya Arini to the point pada ibunya itu.


"Gak akan ibu kasi tau", jawab Muti tenang.


"Dimana ibu?", tanyanya mulai geram.


Muti hanya diam fokus pada acara televisi yang dia nonton.


"Oke Arini yang cari".


...---✨✨✨---...


"Minggu ini ayah akan adakan acara untuk memperkenalkan kamu dengan rekan bisnis ayah, sekaligus peresmian CEO baru", kata Kevin menatap putranya yang kini sudah duduk dihadapannya.


"Apa perlu, Yah ?", tanya Gio.


"Ya udah, terserah ayah aja", jawab Gio.


Kevin beranjak dari duduknya lalu berjalan ke arah sofa dekat jendela besar diruangan itu. Gio ikut beranjak dan duduk disamping sang ayah.


"Sebentar lagi, semua ini akan jadi milik kamu", kata Kevin menatap lurus kedepan.


"Apa ayah sudah yakin ?", tanya Gio ikut menatap hamparan bangunan dihadapannya.


"Sudah seharusnya begitu, ayah bukan mau lepas tangan. Ayah akan tetap bantu kamu, tapi dikantor pusat kamu yang kelola", jawab Kevin.


"Kamu memang sudah harus belajar dari sekarang, sebelum memimpin keluarga mu nanti, kamu bisa belajar dari sini dulu", lanjut laki-laki itu.


"Meski ayah tidak pernah meragukan abang tentang tanggung jawab. Semuanya sudah jelas terlihat dari tanggung jawab kamu untuk bunda, ayah dan adek. Tidak perlu diragukan lagi, tapi tidak ada salahnya belajar terus kan", kata Kevin yang kenal betul bagaimana sikap dan watak putra sulungnya.


"Hah, ayah gak nyangka, putra kecil ayah sudah sebesar ini dan sudah mau menggantikan ayah", celetuk Kevin terkekeh pelan.


"Kapan kamu resmikan hubungan kalian ?", tanya Kevin lagi.


Gio menoleh pada ayahnya yang juga beralih menatapnya dengan senyum kecil.


"Peresmian nanti, apa boleh ?", tanya Gio membuat Kevin mengerutkan keningnya. Putranya ini seperti tak berfikir lalu memutuskannya.


"Kamu yakin ?", tanya Kevin.


"Yakin ayah. Abang gak mau nunggu lama lagi", jawab Gio.


"Langsung nikah ?", tanya Kevin. Karena yang dia maksud tadi adalah langsung menikah dengan Ara.


Gio kembali menatap lurus kedepan dan bersandar pada sandaran sofa.


"Sebenarnya abang mau langsung nikah aja", celetuk Gio.


"Tapi abang gak mau merusak mimpi Ara, Yah. Abang udah pernah bicarakan ini dengan Ara dan dia gak nolak sama sekali tapi dia juga bilang mau kerja dulu, mungkin satu atau dua tahun kedepan setelah itu baru nikah", kata Gio lagi.

__ADS_1


"Ara bilang dia ingin merasakan bagaimana dunia kerja sebelum mengurus rumah tangga nanti dan dia juga ingin membahagiakan neneknya dulu", lanjut Gio membuat senyum Kevin mengembang.


"Karena katanya setelah menikah nanti dia tidak mau bekerja lagi, dia mau fokus mengurus rumah tangganya. Begitu katanya, Yah",


"Jadi..."


"Peresmian nanti abang akan ngikat dia dengan tunangan, setidaknya dengan begitu hubungan kami selangkah lebih maju lagi. Abang gak mau selalu gantung dia dengan status pacaran", jawab Gio.


"Ya sudah terserah kalian saja bagaimana baiknya. Ayah akan selalu dukung", kata Kevin.


"Ya sudah, lanjutkan pekerjaan mu. Ayah ada janji sama bunda", kata Kevin beranjak berdiri diikuti Gio.


"Pacaran terus", celetuk Gio.


"Ingat ya bang, kamu juga gak jauh beda dari ayah sama bunda", sahut Kevin tak mau kalah.


Setelah mengatakan itu Kevin benar-benar beranjak meninggalkan Gio diruangannya. Gio mengedarkan pandangannya pada ruang besar itu. Senyum yang tadi terlukis di bibirnya perlahan memudar, ruangan ini adalah ruangan kesebesaran ayahnya yang sekarang menjadi tempatnya. Saksi bisu perjuangan ayahnya memulai usaha yang dirintis bersama sang kakek. Sedikit tak percaya tapi itulah kenyataannya, sebagai anak sulung dan pewaris utama dari ayahnya, siap tidak siap dia harus menerima itu. Dia punya tanggung jawab besar sebagai anak pertama.


Gio kembali duduk dikursi kerjanya, bersamaan dengan itu ponselnya berdering menandakan panggilan masuk. Gio melirik ponselnya yang tergeletak diatas meja. Nama yang tertera disana membuatnya menghela nafas pelan.


"Kenapa ?", tanya Gio to the point.


"Salam dulu bang", sahut dari seberang.


"Assalamualaikum adek. Kenapa telfon jam segini, gak ada kelas ?", Ucap Gio lembut.


"Waalaikumsalam", balas Gea.


Beberapa detik terdiam, adik perempuannya itu tiba-tiba memekik keras membuat Gio menjauhkan ponselnya.


"Abang"


"Kenapa sih",


"Kak Ara ada dirumah, Gea gak bisa pulang. Gea ada tugas kelompok mungkin sampai malam, bunda sama ayah juga gak ada dirumah. Abang dimana ?", tanya Gea.


"Dikantor"


"Ya udah, abang yang pulang. Kasian kak Ara sendirian dirumah", sahut Gea.


"Suruh tunggu..."


"Abang gak baik nyuruh orang nunggu, apalagi lama"


"Kerjaan abang tinggal dikit, kamu hubungi dia suruh tunggu abang bentar lagi", kata Gio.


Meski adiknya itu selalu saja membuatnya jengkel tapi Gio tak pernah berbicara dengan nada tinggi pada adiknya, selalu dengan nada lembut.


"Ya udah, Gea tutup. Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam, kamu hati-hati"


Setelah itu panggilan terputus, dengan segera Gio mengirin pesan pada kekasihnya.


🖤


Sayang


Tunggu dirumah


Setengah jam lagi aku pulang


Jangan kemana-mana


Setelah mengirim pesan, Gio kembali berkutat dengan beberapa dokumen, sebisa mungkin menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat. Dia tidak ingin membuat Ara menunggu lama.


Sedangkan diseberang sana, gadis yang baru saja menerima pesan dari kekasihnya hanya tersenyum tipis. Lalu kembali sibuk mengamati setiap sudut taman belakang rumah Gio yang benar-benar indah dengan bunga berbagai jenis tumbuh disana.


...---To Be Continued---...

__ADS_1


__ADS_2