Perjalanan Cinta CEO Muda

Perjalanan Cinta CEO Muda
Part 126. Naumi Berulah.


__ADS_3


Jam menunjukkan pukul 10 pagi saat Ara mendatangi rumah Rania yang terlihat ramai. Hari ini Rania dan Bisma mengadakan acara kecil-kecilan entah dalam rangka apa, Ara juga tidak tahu. Hari ini dia datang sendirian karena Gio yang katanya memiliki pekerjaan penting. Ara tak masalah, dia ingin membebani Gio. Setelah dari acara Rania hari ini, dia berencana akan makan siang dengan Gio di perusahaan nanti.


Dengan langkah pelan, Ara masuk kedalam rumah yang terlihat cukup ramai. Hari ini entah bagaimana caranya semua berkumpul disini. Ara akui, Rania memang hebat saat melawan egonya sendiri. Ken bahkan Gea ada disini dan mereka terlihat enjoy satu sama lain. Waktu sudah berjalan begitu cepat ternyata dan waktu juga yang merubah semuanya. Ara sadar betul, semuanya sudah berdamai kecuali suaminya, Gio. Yah, laki-laki kesayangannya itu belum sepenuhnya bisa berdamai dengan orang-orang ini, entah kapan tapi pasti akan ada masa dimana Gio akan ikut berkumpul dengan mereka seperti ini nanti.


"Kakak ipar," sapa Gea begitu girang. Perempuan manis itu sedang menggendong bayi kecil berjenis kelamin laki-laki.


Ara mendekat dengan senyum tipisnya, mengamati orang-orang yang sedang duduk sambil bercerita berbagai hal.


"Gio gak datang?" pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Ken membuat Ara menoleh. Laki-laki yang menggendong gadis kecil nan cantik itu menatap Ara dengan tatapan datarnya.


"Ada kerjaan mendadak katanya," jawab Ara.


Ken menghela nafas saat mendengar jawaban itu. Dia yakin, itu semua hanya alasan. Karena alasan sesungguhnya dia tidak datang adalah karena ada dirinya disini.


"Bukan karena ada kamu kok. Dia memang ada meeting penting hari ini, katanya kalau sempat dia bakal datang juga, jadi berhenti menyalahkan diri sendiri," ujar Ara mengerti apa yang Ken rasakan.


"Nah bener, lo tau sendiri Gio kayak apa kalau masalah kerjaan," timpal Arsal.


Ken hanya mengangguk pelan sebagai jawaban, yah mungkin memang seperti itu tapi jujur rasa tidak enak itu masih ada.


"Udah, udah jangan bicarain kerjaan disini. Lebih baik kita makan-makan," ujar Rania mengalihkan pembicaraan.


Semua kembali mengangguk semangat dan bergerak menuju meja makan yang sudah tertata begitu banyak makanan diatasnya. Cukup banyak yang terjadi di rumah Rania hari ini, yang jelas itu sangat menyenangkan. Banyak cerita yang bergulir begitu saja sampai mereka tidak menyadari waktu. Ara bahagia semuanya berjalan dengan lancar dan dengan waktu, semuanya juga semakin membaik. Benar saja, dalam hidup apapun yang kita hadapi akan memiliki ujung yang bahagia dan pelajaran yang bermakna. Semua hanya perihal waktu.


...❄❄❄...


Gio menatap tajam gadis yang duduk di depannya. Bukannya apa-apa, Gio risih dan ingin gadis itu segera pergi tapi rasanya gadis itu tak punya malu dan kepekaan yang baik untuk mengerti maksud Gio. Gadis itu sedari tadi terus berceloteh hal tidak penting membuat Gio semakin ingin menyeretnya keluar dari ruangannya.


Siapa lagi jika bukan Naumi. Gadis itu awalnya datang memberikan berkas laporan yang Gio minta untuk diselesaikan kemarin, tapi setelah semua urusannya selesai, Naumi masih betah didalam ruangan Gio dan tak berniat keluar. Gio merutuki dirinya sendiri, seharusnya dia tidak usah berhubungan langsung dengan gadis ini tapi mau bagaimana lagi, Naumi memiliki jabatan penting yang mengharuskannya berkonsultasi langsung dengan gadis itu. Gio heran kenapa gadis ini harus bekerja di perusahaannya sedangkan ayah dari perempuan ini memiliki perusahaan sendiri. Rasanya Gio ingin berteriak dan memintanya untuk keluar dari perusahaannya dan bekerja di perusahaannya sendiri.


Gio menghela nafas sabar, mau bagaimana pun Gio tidak boleh bersikap kasar pada perempuan. Ingatkan dirinya jika bunda, adik dan istrinya juga perempuan.


"Masih ada yang perlu dibicarakan?" tanya Gio mulai jengah.


"Emmm sebenarnya udah gak ada sih," jawab Naumi pelan.


"Ya sudah kalau begitu silahkan keluar," usir Gio. Dia sudah malas meladeni Naumi yang sedari tadi tidak jelas itu.

__ADS_1


Naumi mengerjapkan matanya mendengar mendengar nada ketus dari Gio. Gadis itu berdiri saat Gio juga berdiri dan beranjak dari meja kerjanya. Sepertinya laki-laki itu ingin keluar. Dengan cepat Naumi menghadang langkah Gio sampai akhirnya mereka berdiri saling berhadapan dengan Gio menatap jengah pada Naumi.


"Apa lagi. Tidak mau keluar kan, ya sudah saya yang keluar," ujar Gio.


"Aku mau bicara sama kamu, Gii," ucap Naumi gugup.


"Yang sopan. Saya disini bos kamu, gak sepantasnya kamu bicara seperti itu pada saya," ucap Gio kepalang kesal.


"Aku suka kamu. Tinggalin aja istri kamu dan kamu sama aku," ujar Naumi tidak tahu diri.


Gio diam memandang Naumi dengan kening berkerut, dalam hatinya dia mengumpati kebodohan Naumi. Apa gadis itu sudah tidak memiliki otak sampai menyuruhnya meninggalkan istrinya. Tentu saja itu tidak akan terjadi, Gio hanya akan hidup dan mencintai Ara bukan Naumi atau orang lain.


"Boleh yaa," mohon Naumi dengan tampang memelas. Dia tidak peduli dirinya terlihat rendah di hadapan Gio sekarang, yang terpenting dia bisa mendapatkan Gio. Dia baru sadar ternyata banyak hal yang ada didiri laki-laki ini hingga dulu Rania tak henti mengejarnya dan sekarang dia ingin memiliki laki-laki ini, tidak peduli dia sudah memiliki istri atau tidak.


"Keluar," usir Gio dingin.


"Kamu sama aku dulu, tinggalin istri kamu. Aku lebih dari segalanya daripada istri kamu yang bukan siapa-siapa itu," ujar Naumi berhasil membuat Gio menarik senyum miring. Laki-laki itu maju selangkah kehadapan Naumi lalu membisikkan sesuatu.


"Kamu memang memiliki segalanya dari istri saya, kamu memiliki keluarga utuh, terpandang, kamu cantik, badan bagus tapi istri saya lebih dari segalanya. Dia lebih cantik dari kamu dan tubuhnya lebih bagus daripada kamu, bahkan meskipun sedang hamil dia bisa memberi saya kepuasan. Jadi saya tidak memerlukan perempuan seperti mu lagi," ujar Gio panjang lebar berusaha memberi tamparan pada Naumi. Tapi dasarnya Naumi yang memang tidak tahu malu masih saja belum merasa tersinggung dengan ucapan Gio tadi.


"Kita buktikan saja siapa yang lebih bisa memuaskan kamu," ujar Naumi menatap mata Gio yang masih menatapnya tajam.


Namun, belum selangkah dia bergerak pergi, tubuhnya terhuyung kebelakang saat Naumi menubruk nya hingga keduanya berbaring di sofa dengan tubuh Naumi yang menindihnya.


"Menjauh dari saya," gertak Gio mendorong tubuh Naumi agar menjauh darinya lalu bangkit dan menatap semakin tajam pada Naumi yang berdiri di depannya.


Bersamaan dengan itu suara bantingan pintu mengalihkan atensi keduanya. Di sana sudah berdiri Ara yang menatap marah pada Naumi dan juga Gio.


"MENJAUH DARI SUAMI AKU," teriak Ara berjalan tergesa-gesa kearah Gio dan berdiri di hadapan suaminya dengan tangan berkacak pinggang, menatap marah pada Naumi.


Gio terkejut melihat istrinya yang sudah berada disana. Dengan cepat laki-laki itu membalikkan posisi istrinya dan menangkup pipi Ara.


"Aku bisa jelasin sayang. Ini gak seperti yang kamu liat, aku jelasin ya tapi kamu jangan teriak-teriak kasian dede bayi" ujar Gio lembut.


"Aku tau, aku dengar semuanya. Kamu gak salah tapi dia yang salah," jawab Ara mendelik pada Naumi yang masih berdiri dengan tampang tak berdosanya.


Ara melepas tangan Gio yang ada di pipinya lalu kembali berbalik menatap Naumi dengan mata memerah menahan marah.


"Kamu ngapain *****-***** suami aku?" tanya Ara.

__ADS_1


Gio hanya diam memperhatikan apa yang akan istrinya itu lakukan. Baru kali ini dia melihat Ara marah namun jatuhnya jadi menggemaskan melihat pipi bulat dan mata istrinya yang melotot sok garang menatap Naumi.


"Mending kamu pisah aja sama Gio. Aku lebih pantas sama dia daripada kamu Ara," ujar Naumi masih tak mau kalah.


"Kamu pantas sama dia dari sisi mana?" tanya Ara begitu kesal.


"Kamu mau sama dia yang udah bapak-bapak?" tanya Ara membuat Gio menoleh cepat menatap Ara dengan pandangan tak terima, enak saja bapak-bapak.


"Kamu liat ini," tunjuk Ara pada perut buncitnya tanpa memperdulikan Gio.


"Dia udah punya anak dan udah sering aku pake, tiap malam malah. Kamu masih mau?" tanya Ara frontal membuat Gio semakin tak percaya pada istrinya yang semakin bar-bar itu.


"Kamu mending cari cowok lain daripada kejar suami aku," perintah Ara.


"Aku maunya suami kamu," sahur Naumi kesal.


"Emang kamu pikir suami aku mau sama modelan kayak kamu?" tanya Ara.


"Dia tuh sukanya sama modelan kayak aku, seksi dan cantik. Gak kayak kamu, cantik sih tapi gatel," ucapan Ara tersebut hampir saja membuat Gio menyemburkan tawanya, namun sebisa mungkin dia menahan agar tak merusak suasana. Melihat Ara yang berapi-api seperti ini membuatnya gemas.


"Kita liat aja nanti," sahut Naumi.


"Kamu benar-benar gak tau diri ya. Dia punya aku, mana pake segala peluk-peluk tadi. Kamu mau aku pecat hah,"


"Emang kamu siapa berani pecat aku?"


"Kamu lupa, yang punya perusahaan tempat kamu kerja ini suami aku,"


"Ciih papa aku sama om Kevin sahabat jadi gak akan mudah,"


"Aku putrinya. Aku minta apa aja pasti dia kasi, mau apa kamu,"


Skakmat, ucapan Ara tadi berhasil membungkam mulut Naumi, memang benar, orang-orang mengenal Ara sebagai salah satu putri sekaligus menantu kesayangan dari Kevin.


"Jauh-jauh kamu dari suami aku, dia punya ku," peringat Ara lagi membuat Naumi kesal dan mendorong tubuh perempuan itu dengan keras.


"ARAAAA....,"


...-To be Continued-...

__ADS_1


__ADS_2