
3 mobil mewah sudah berjejer dihalaman parkir sebuah vila mewah yang akan menjadi tempat menginap 8 orang selama dua hari kedepan. Yahh 8 orang, Gio dengan Ara, disusul Gea dengan Zian, lalu ada Dara dan Reyhan dan yang paling terakhir Arsal dengan Kanaya, kekasihnya. Bahkan dia tak membawa mobil, dia menumpang di mobil Gio. Gio sendiri tak masalah, lumayan supir gratis, begitu kira-kira pikiran licik Gio.
Kedelapan orang tersebut kini tengah berdiri di depan vila, menikmati udara segar yang jauh dari polusi seperti di kota mereka. Gio sengaja membooking tempat ini untuk mereka agar tak terlalu ramai. Ingat, Gio tak terlalu suka dengan keramaian. Mereka benar-benar berlibur hari ini, namun sayang hanya bisa dua hari karena setelah ini akan ada peresmian CEO baru dan juga adik-adiknya harus kuliah.
Arsal menatap Gio yang sedari tadi diam dengan menggenggam erat tangan Ara. Wajah laki-laki itu terlihat pucat dengan keringat dingin yang mulai membasahi dahinya. Dia paham kondisi Gio sekarang. Selain Arsal, Gea dan Ara pun menyadari perubahan laki-laki itu. Sial, kenapa dia harus memilih pantai.
Gio beberapa kali menghembus nafas pelan berusaha menenangkan diri, dia tidak boleh seperti ini. Dia tidak mau merusak acara liburan mereka hanya karena rasa takutnya itu.
"Ayo masuk", kata Gio pelan.
Semua mengangguk lalu memasuki vila, menuju kamar mereka. Pembagian kamar pun sudah mereka lakukan. Gio dengan Arsal, Zian dengan Reyhan. Tidak dengan perempuan, mereka memilih kamar yang paling luas agar cukup menampung mereka sekaligus. Kamar mereka berhadapan, agar tidak susah jika laki-lakinya membutuhkan sesuatu.
"Lo yakin?", tanya Arsal melihat Gio yang berusaha menenangkan diri ditepi kasur.
"Yakin", sahut Gio pelan. Deru nafas laki-laki itu terdengar berat dan sedikit tak beraturan.
"Jangan maksain diri, Gii. Kita bisa cari tempat selain pantai kalau lo gak bisa", kata Arsal berjalan mendekat dan duduk disamping sahabatnya itu.
"Gue gak papa. Gue juga pengen bebas dari rasa takut ini. Gue pengen belajar sedikit demi sedikit lawan dan mungkin dengan begini gue bisa", sahut Gio.
"Tapi kalau lo kenapa-kenapa gimana?", tanya Arsal.
Mendengar itu, Gio tersenyum tipis. Meskipun sahabatnya itu petakilan dan selalu membuatnya kesal, Gio tahu Arsal begitu perhatian padanya.
"Kan ada Gea, ada lo juga. Sekarang ada Ara juga, yakin deh gue gak akan kenapa-kenapa", jawab Gio menatap Arsal.
Arsal hanya menghela nafas kasar, percaya tidak percaya tapi memang seperti itu. Hanya ada dua orang yang mampu menenangkan Gio, pelukan dari bunda dan adiknya. Tapi sekarang Arsal yakin Ara juga akan menjadi obat untuk Gio jika laki-laki itu kumat nantinya.
"Ngeyel banget", ketus Arsal.
"Khawatir ya bapaknya", ledek Gio.
"Si anying",
Gio tertawa lalu bangkit dari duduknya dan memilih merapikan baju-bajunya disusul Arsal. Setelah beberapa menit berlalu, keduanya sudah selesai dengan kerjaan masing-masing.
"Kemana?", tanya Arsal melihat Gio hendak membuka pintu kamar.
"Gak mau banget gue tinggal. Takut kangen ya", kata Gio lagi-lagi mengejeknya.
"Pergi sana lo", ketus Arsal lalu membanting dirinya keatas kasur.
"Ngebucin lah", setelah mengatakan itu, Gio benar-benar keluar kamar dan menuju kamar yang ada tepat dihadapan kamarnya. Meninggalkan Arsal yang hanya menatap malas kearahnya.
Setelah mengetuk pintu dan mendapat izin untuk masuk, tak menunggu lama Gio melangkah masuk dan mendapati Ara sedang berbaring dikasur tempat tidurnya. Dikamar besar itu terdapat dua kasur luas yang mampu menampung ke empat cewek-cewek yang dia bawa hari ini. Gio menutup pintu dan berjalan mendekat pada Ara yang masih setia pada posisinya.
"Yang lain kemana?", tanya Gio setelah duduk disamping Ara.
"Keluar, katanya mau main", jawab Ara menatap Gio.
"Kamu gak ikutan?", tanya Gio mengusap lembut rambut panjang Ara.
__ADS_1
"Malas", jawabnya disertai kekehan kecil.
"Nanti aja, masih capek. Sini deh", ujar Ara lembut menepuk sisi disebelahnya menyuruh Gio ikut berbaring. Gio menurut dan berbaring, membuat Ara mendekatkan dirinya dan memeluk Gio erat.
"Are you okey?", tanya Ara lembut.
Gio hanya menghela nafas pelan lalu mengangguk kecil.
"Kita pulang aja kalau kamu gak nyaman disini, cari tempat lain aja yaa", kata Ara mendongak menatap Gio yang juga menatapnya.
Gio tersenyum tipis lalu mengecup kening Ara sekilas. "Kalau sama kamu gini, nyaman kok. Makanya kamu jangan jauh-jauh", ujar Gio.
"Kenapa sih tiba-tiba milih pantai, udah tau takut sama air gini", tanya Ara. Dia takut jika Gio memaksakan diri seperti ini, laki-lakinya itu akan kenapa-kenapa.
"Gak tau, tiba-tiba kepikiran aja", jawab Gio
"Kenapa sih takut banget sama air?", tanya Ara lagi.
Sampai detik ini dia bahkan belum tau penyebab Gio takut dengan air dan penyebab mimpi buruk laki-laki itu.
"Punya pengalaman buruk", jawab Gio singkat. Selalu hanya itu yang akan menjadi jawaban Gio jika Ara bertanya.
Ara menghela nafas pelan dengan jawaban Gio. Harusnya dia tak berekspektasi tinggi dengan jawaban Gio.
"Sayang... ", panggil Gio lembut.
"Hemmm",
"Kangen", gumam Gio.
"Perasaan dari kemarin kita ketemu terus loh, Gii", kata Ara.
"Cium", kata Gio mendongak.
Selalu saja seperti ini, selalu minta di cium. Ara bahkan sempat berfikir, apa Gio selalu manja dan minta dicium oleh pacar-pacarnya dulu.
"Kamu selalu gini ya, sama pacar kamu yang dulu?", tanya Ara kepalang penasaran.
"Enggak lah, enak aja. Aku belum pernah pacaran ya", sahut Gio kesal. Bisa-bisanya Ara mengatakan seperti itu padahal dia saja baru merasakan yang namanya pacaran dengan Ara, catat 'dengan Ara'.
"Gak usah ngamuk juga dong", ujar Ara terkekeh pelan.
"Ayoooo,, ciummmm", rengek Gio.
Jika sudah seperti ini, Ara tidak akan bisa menolak. Gio terlalu menggemaskan jika sudah merengek seperti ini dan sialnya, Gio selalu tahu kelemahannya. Ara mendekatkan wajahnya pada wajah Gio, mengecup setiap sudut wajah laki-laki itu yang terlihat sedikit pucat. Mulai dari kening, turun ke mata, hidung, pipi lalu ke bibir tipis laki-laki itu.
"Kenapa kok pucat?", tanya Ara mengusap lembut pipi laki-laki itu.
"Gak papa", jawab Gio singkat.
"Mau keluar, Jalan-jalan? ", tanya Gio yang kini sudah melepas pelukannya dan duduk dengan tenang, menatap Ara yang kini juga ikut bangkit dari rebahannya.
__ADS_1
"Memangnya, kamu gak papa?", tanya Ara sekali lagi memastikan.
"Gak papa. Asal kamu jangan jauh-jauh aja. Selain bunda dan Gea, kamu termasuk obat aku", kata Gio terkekeh pelan.
"Okey tapi kalau udah gak nyaman, jangan dipaksa ya Kamu harus bilang", peringat Ara.
"Siap ibu negara"
...---❄❄❄---...
Kini keduanya sedang berdiri sedikit jauh dari bibir pantai. Gio dapat melihat kedua adiknya sedang bermain bola volly bersama kekasih masing-masing, disana juga sudah ada Arsal yang terus saja menempel pada Naya yang sedang duduk tak jauh dari tempat Gea dan Dara. Senyum tipis Gio mengembang melihat pemandangan didepannya. Namun, itu hanya berlangsung tak lama karena setelah matanya menatap hamparan lautan, tubuhnya bereaksi yang tidak seharusnya. Tubuh gemetar dengan keringat dingin, tangannya mengenggam kuat tangan Ara membuat gadis itu sedikit meringis. Ara yang paham akan keadaan Gio, langsung mengambil posisi didepan Gio, menangkup kedua pipi kekasihnya agar menatapnya.
"Gak papa, tenang yaaa", ujar Ara lembut.
Ara kemudian memasangkan kacamata hitam yang sengaja dia bawa berharap bisa mengurangi sedikit ketakutan Gio pada air dan bisa menikmati liburan mereka. Dan benar saja, Gio bisa jadi lebih tenang. Tapi bukan karena efek kacamata hitam yang diberikan Ara. Melainkan genggaman tangan Ara dan suara lembut gadisnya yang berusaha menenangkannya. Gio tersenyum tipis dan mengacak gemas rambut panjang Ara.
"Ayo kesana", ajaknya setelah merasa tenang, yah walau tak dipungkiri semakin dia mendekat, rasa takut itu semakin besar. Hanya saja dia memaksakan diri, agar tak merusak kesenangan Ara maupun adik dan teman-temannya.
Gio dan Ara duduk di kursi pantai yang tak jauh dari posisi Arsal, mengamati apa yang dilakukan adiknya. Senyum tipis Gio mengembang saat melihat Gea berlari kearahnya.
"Seneng?", tanya Gio setelah Gea sampai didekatnya.
"Banget", sahutnya girang. Tubuh gadis itu sudah setengah basah karena bermain air tadi.
"Abang, pinjam kakak ipar bentar", kata Gea menarik tangan Ara tanpa menunggu persetujuan Gio.
Setelah Ara menjauh, pandangannya beralih pada Arsal yang duduk di kursi sampingnya. Laki-laki itu terus menempel pada kekasihnya membuat Gio terkekeh pelan.
"Gini nih kalau playboy insyaf" celetuk Gio berhasil mencuri perhatian Arsal dan Naya.
Selama bersahabat dengan Arsal, baru kali ini Gio melihat Arsal begitu lengket dengan kekasihnya. Biasanya selalu menjaga jarak meskipun sudah berstatus pacar. Katanya, Arsal memacari mereka hanya karena gabut. Tapi kali ini Gio melihat ada yang berbeda dari Arsal, bahkan dia sama sekali tidak membiarkan Naya jauh darinya meski dari raut wajah gadis polos itu ingin sekali ikut bermain bersama Gea dan yang lain. Gio berharap Naya bisa membuat Arsal sadar dan tobat menjadi playboy.
"Anda juga bucin ya pak, mon maaf", kata Arsal kesal. Laki-laki itu masih anteng bersandar di bahu Naya.
"Emang kak Arsal playboy?", tanya Naya dengan tatapan polosnya. Sekedar informasi, Naya ini gadis yang seumuran dengan Gea, tapi meskipun begitu kepolosan gadis itu tak tanggung-tanggung. Jika Gea masih polos, Naya lebih polos lagi dan itu yang membuat Gio tidak mengerti mengapa Arsal bisa bucin dengan gadis itu.
"Enggak, sayang", kata Arsal lembut. Demi apapun, selama bertahun-tahun mengenal Arsal, ini untuk yang pertama kalinya dia mendengar laki-laki berbicara selembut itu, bahkan Gio dibuat cengo.
"Tapi kata kak Gio tadi.... ",
"Udah sayang, jangan dibahas. Ayo main sama Gea", kata Arsal lalu menarik Naya menuju Ara dan yang lainnya, tak ingin memperpanjang pembahasan yang hanya akan membongkar aibnya satu persatu.
Gio mendengus pelan lalu beralih menatap adik serta kekasihnya bermain dengan yang lainnya. Ingin rasanya Gio mendekat tapi sayang dia terlalu takut untuk itu, bahkan saat ini tubuhnya masih saja bergetar takut saat matanya kembali menatap hamparan lautan yang begitu luas itu.
Saat asik mengamati kegiatan yang lainnya dari kejauhan, perhatiannya seketika teralih saat ponsel disaku celananya berdenting menandakan pesan masuk. Gio dengan segera membukanya. Sebuah pesan dari nomor yang tak dikenal mengirimkan gambar untuknya membuat kening Gio mengerut bingung. Tanpa pikir panjang, Gio membuka pesan itu. Setelah melihat pesan itu, seketika tubuhnya menegang dengan nafas memburu. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Gio mengangkat pandangannya berniat memanggil Ara ataupun Gea namun sialnya, matanya justru langsung tertuju pada air laut yang tenang, hanya sesekali ombak kecil datang. Matanya fokus menatap air laut tanpa mau berpindah sedikit pun seolah air laut mengunci tatapannya, bayangan masa lalu seketika berputar diotaknya tanpa bisa dia kendalikan. Kepalanya seperti dihantam batu besar membuat pandangannya kabur dengan tubuh bergetar hebat.
"Arrrggghhh", Gio mengerang keras sambil mencengkram rambutnya kuat-kuat.
Sementara itu, dari kejauhan Ara, Gea, Arsal dan yang lainnya kompak menoleh saat mendengar teriakan Gio yang masih bisa mereka dengar dengan jelas. Mereka terkejut bukan main saat melihat Gio duduk bersimpuh diatas pasir dan mencengkram kuat rambutnya.
"Gioooo", teriak Ara lalu berlari sekuat tenaga menghampiri Gio.
__ADS_1
...---To be continue---...