Perjalanan Cinta CEO Muda

Perjalanan Cinta CEO Muda
Part 28. tanding basket


__ADS_3

Ketukan pada pintu membuat tidur Ara sedikit terusik. Sehabis mengerjakan kewajibannya tadi subuh, Ara kembali tidur. Berhubung hari ini adalah akhir pekan jadi dia bebas untuk tidur sampai siang. Akhir pekan memang paling cocok untuk malas-malasan sebelum kembali bergelut dengan dunia kampus dan berbagai macam tugas.


Namun baru jam 6 neneknya sudah mengetuk pintu kamarnya untuk berusaha membangunkannya. Dengan nyawa yang masih belum terkumpul penuh dan selimut tebal yang digunakan menutup tubuhnya dan hanya menampakkan wajahnya, Ara bangkit dan berjalan menuju pintu untuk melihat sang nenek.


"Kenapa nek", tanya Ara dengan mata yang belum terbuka lebar.


"Ada yang cariin", jawab Muti.


"Siapa ?. Pagi-pagi gini udah bertamu aja", kata Ara membuat Muti terkekeh pelan.


"Katanya sih pacar kamu", jawab Muti tersenyum yang lebih kearah senyum mengejek.


"Pacar ? Ara mana ada pacar....", kata Ara setengah sadar.


"Eh tunggu. Nenek serius, gak bohong kan", tanya Ara dengan mata membulat terkejut.


Yang lebih membuatnya terkejut adalah seseorang yang kini tengah berdiri disamping neneknya dan menatapnya dengan tatapan datar.


"Ara mandi dulu", teriak Ara sambil berlari masuk kembali kedalam kamarnya.


"Masya Allah, pagi-pagi udah liat wajah tampan pacar. Nikmat mana lagi yang kau dustakan Ara", kata Ara pada dirinya sendiri. Gadis itu sedang berdiri didepan kaca besar dikamarnya.


"Tapi nagapain dia datang sepagi ini?",


"Ara cepat, jangan tinggal ngomel-ngomel", teriak Muti dari balik pintu kamar menyadarkan Ara. Gadis itu dengan terburu-buru berlari memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri.


Sedangkan diluar sana, Gio dan Muti sudah kembali ke ruang tamu setelah membangunkan Ara. Laki-laki itu terus saja sesekali tersenyum tipis saat melihat wajah Ara yang seperti tadi, begitu menggemaskan. Arrgh ingin rasanya Gio menggigit pipi chubby gadis itu.


"Kamu tunggu disini, nenek kebelakang sebentar", kata Muti. Setelah diangguki Gio, perempuan paruh baya itu langsung beranjak dan menghilang dibalik tembok.


Tak butuh waktu satu jam, Ara datang dengan menggunakan hotpants sebatas paha dipadukan dengan kaos oversize berwarna hitam. Gadis dengan rambut panjang digerai itu berjalan mendekati Gio dengan tergesa-gesa.


"Hati-hati", kata Gio melihat Ara hampir terjatuh.


"Ceroboh", kata Gio lagi.


Laki-laki itu beranjak berdiri dan langsung menarik tangan Ara untuk digenggam.


"Ayo", ajak Gio.


"Kemana ?", tanya Ara dengan kening berkerut.


"Kemana aja", sahut Gio cuek.


Ara menatap Gio dengan kesal dan memukul lengan laki-laki itu sedikit keras.


"Suka banget kdrt", kata Gio mengusap lengannya.


"Kamu kok jadi cerewet gitu", tanya Ara, pasalnya beberapa hari ini Gio jadi lebih banyak bicara.


"Ketularan kamu", sahutnya santai.


"Iih ngeselin",


"Nek, Gio boleh bawa Ara ?", tanya Gio pada Muti saat mereka sudah sampai diambang pintu. Sedangkan gadis yang disebelahnya baru menyadari jika Gio membawanya ke dapur bertemu neneknya.


"Boleh, pulangnya jangan kemalaman", jawab Muti tersenyum tipis.


"Jagain juga cucu nenek", katanya lagi.


"Pasti", jawab Gio.


Setelah berpamitan, Gio dan Ara berjalan menuju mobil Gio dan pergi meninggalkan halaman rumah gadis itu. Tak lama setelah mobil mereka meninggalkan gerbang, sebuah mobil hitam tiba dan sempat melihat mobil putih Gio.


...---🌻🌻🌻---...


"Kita ngapain kesini?", tanya Ara menatap heran pada Gio. Laki-laki itu tidak menjawab, hanya sibuk mengeluarkan dua pasang baju basket berwarna merah.

__ADS_1


Benar, Gio membawanya ke lapangan basket yang mereka tempati kemarin sore.


"Nagih janji kamu", kata Gio lalu menyerahkan satu set baju basket pada Ara.


"Pagi-pagi gini ?", tanya Ara.


"Kamu yang benar saja, aku baru aja selesai mandi harus berkeringat lagi",


"Kenapa gak bilang dari tadi biar mandinya sekalian nanti aja", cerocos gadis itu. Oke mandi pagi di akhir pekan memang sepertinya berat untuk beberapa orang termasuk Ara.


Gio hanya menatap datar Ara yang terus saja menggerutu disampingnya ini.


"Ganti baju", perintah Gio.


"Gak mau, tandingnya nanti sore aja. Aku baru mandi Gio", rengek Ara dengan wajah memelas.


"Nanti sore kita jalan, makanya tanding sekarang aja", kata Gio lagi.


"Jalan mulu",


"Gak mau ?",


"Bukan gak mau, Gio. Ini masih pagi banget iih",


"Aku cuma mau habisin waktu sama kamu hari ini full",


Mendengar itu, Ara terdiam dan berfikir sejenak. Benar juga, mereka harus pintar-pintar membagi waktu sekarang. Gio yang sibuk dengan kuliah, kerja dan magangnya. Begitupula dirinya, dia akan magang bulan depan dan mereka harus lebih pintar-pintar mengatur waktu bersama mulai sekarang.


"Oke. Kalau kalah harus kasi aku hadiah", kata Ara meraih baju yang diberikan Gio.


Setelah beberapa menit, Gio dan Ara kembali ke lapangan dengan baju basket berwarna merah.



"Kebesaran", keluh Ara melihat baju yang dia pakai.


Ara mendengus pelan lalu berlari kecil masuk kedalam lapangan dan mengambil bola basket yang terletak ditengah lapangan.


"Gak boleh curang dan gak boleh kasar", kata Ara menatap Gio yang berdiri didepannya. Bola basket yang dia pungut tadi dia letakkan dipinggang. Gio mengangguk menyetujui.


"Kalau kalah gak boleh nangis", kata Gio tersenyum mengejek.


"Enak aja", sahut Ara. "Hitungan ketiga permainan dimulai", lanjutnya.


"Satu"


"Dua"


"Tiga"


Tepat hitungan ketiganya Ara mendribble bola basket dan berusaha menyerang Gio sedangkan laki-laki itu hanya tersenyum tipis melihat Ara yang begitu bersemangat.


Ara terus mendribble dan menghindari Gio yang bahkan hanya berjalan santai dibelakangnya, sedikit kaku tapi Ara terus berusaha. Dulu dia bisa masa sekarang tidak lagi. Namun sekali gerakan, Gio berhasil merampas bola dan mendribel menajuh dari Ara.


Melihat itu, Ara menghentakkan kakinya kesal dan berlari mengejar Gio berusaha merebut bolanya kembali.


"Kan gak boleh curang", kata Ara masih berusaha merebut bola.


"Loh siapa yang curang?", tanya Gio bingung.


"Itu kamu rebut bola aku. Itu namanya curang", kata Ara dengan polosnya.


"Kalau gak aku rebut itu namanya bukan tanding tapi main sendiri", sahut Gio.


Laki-laki itu berbalik sambil mendribble bola lalu detik berikutnya melompat kecil dan...Masuk. bola berhasil masuk kedalam ring membuat Gio tersenyum penuh kemenangan pada Ara.


"1-0", katanya mengejek.

__ADS_1


Ara berdecak kesal lalu kembali mengambil bola dan kembali mendribblenya. Namun lagi dan lagi Gio berhasil merebut bola darinya. Begitu seterusnya sampai Gio mencetak 6 point namun Ara belum mencetak sama sekali.


"Kapten basket dilawan", kata Gio menyombongkan diri.


"Aku juga kapten basket ya", kata Ara tidak mau kalah.


"Kapten basket kok gak cetak point", kata Gio tersenyum mengejek.


"Kan dulu pas SMA. Sekarang mana pernah main, makanya agak kaku", alibih Ara.


"Alasan", kata Gio lagi berlari kecil sambil mendribble bola, namun saat hendak melempar bola pada ring, pekikan Ara menghentikan pergerakannya.


"GIO", pekik Ara membuat Gio terkejut.


Dengan tergesa-gesa dia mendatangi Ara dan menatap gadis itu khawatir.


"Kenapa ?", tanyanya panik.


Melihat Gio lengah, Ara merebut bola dan berlari menuju ring.


"Gak papa wleee", sahutnya sambil menjulurkan lidahnya mengejek.


"Gadis nakal", kata Gio melirik jam tangannya. "Tapi...", Gio menggantung ucapannya lalu melirik Ara.


"Tetep aja cantik. Kamu tetap kalah, waktunya habis", lanjutnya Gio memperlihatkan jam tangannya dan benar saja waktu benar-benar tidak terasa, matahari juga sudah sangat bersinar terang.


"Pantas panas banget", gumam Ara.


"Baiklah aku kalah, kamu mau apa?", tanya Ara seraya berkacak pinggang.


"Sini", perintah Gio.


Ara berjalan mendekat dan berhenti tepat satu langkah dihadapan Gio. Gadis yang memiliki tinggi badan hanya sebatas dada Gio itu mendongak menatap Gio dengan mata menyipit karena sinar matahari.


"Deketan", kata Gio lagi.


"Ini udah deket banget", sahut Ara.


Gio menatap Ara malas lalu tanpa aba-aba menarik pelan lengan Ara dan langsung memeluknya membut gadis itu terkejut. Bahkan kini Gio dengan tenang meletakkan dagunya diatas puncak kepala Ara.


"Kenapa ?", tanya Ara bingung dengan sikap Gio. Jangan lupakan jantungnya yang mulai tidak bisa dikondisikan.


"Boleh gak aku minta sesuatu?", tanya Gio sambil mengusap lembut rambut panjang Ara.


Ara mendongak menatap Gio yang kini juga sedikit menunduk menatapnya.


"Boleh, minta apa", kata Ara serius.


"Apapun yang terjadi kedepannya, tetap gini. Jangan pernah berubah, tetap jadi Ara-nya Gio yang ceria, cerewet dan kuat", kata Gio.


"Bisa ?", tanya Gio.


Dengan senyum manis Ara mengangguk penuh keyakinan, "Bisa".


"Apapun yang kita hadapi kedepannya, tetap sama aku. Stay with me. Bisa?", tanya Gio semakin membuat senyum Ara mengembang. Tangan gadis itu terangkat membalas pelukan Gio lalu kembali mengangguk.


"Bisa", katanya penuh keyakinan.


"Selalu ingatin kalau salah. Kalau aku ada salah kamu boleh maki aku, kamu boleh marah, kamu boleh pukul tapi kamu gak boleh ninggalin aku", kata Gio lagi.


"Kamu adalah rasa pertama dan akan jadi yang terakhir", ujar Gio mencium lama kening Ara.


"Kita berjuang sama-sama", sahut Ara.


"Aku sayang banget sama kamu, Raa", katanya lalu kembali memeluk Ara erat membuat jantung gadis itu berdetak kencang setelah mendengar penuturan Gio.


Hari ini bisa dikatakan hari paling membahagiakan untuk Ara dan dia berharap kedepannya akan seperti ini. Jawaban bisa yang keluar dari mulutnya tadi itu sungguh-sungguh, tidak ada keraguan dan dia berjanji akan selalu menemani laki-laki yang tengah memeluknya ini. Tanpa mereka sadari seseorang melihat dan mendengar apa yang sedari tadi mereka katakan. Orang yang berjanji akan menghancurkan segalanya. Bagi Ara dan Gio kedepannya akan mereka buat kisah paling bahagia tapi mereka lupa beberapa orang diluar sana siap menghancurkan segalanya, mencari celah untuk masuk dan memporak-porandakan hubungan mereka.

__ADS_1


...---To Be Continued---...


__ADS_2