
Sudah seminggu ini Arsal mencari Ara yang tidak tahu keberadaannya. Arsal dibuat pusing sendiri. Bahkan sama sekali tidak ada kabar baik dari Rania dan Bisma yang kini juga ikut turun tangan mencari gadis itu.
Arsal mencarinya bukan tanpa alasan. Dia butuh bicara dengan Ara. Banyak hal yang perlu mereka bicarakan tapi sejauh ini Arsal yang sudah mencari Ara kemana-mana tak menemukan gadis itu.
Arsal menghela nafas pelan saat mendapat kabar dari Rania dan Bisma. Tak berbeda dari biasanya, hanya kabar yang tidak diinginkan yang harus dia terima. Mereka bertiga sedang berada di cafe milik Gio, tempat Ara bekerja dulu.
"Harus cari dimana lagi?" tanyanya mengacak rambutnya frustasi.
"Ada apa sih sebenernya, dimana Gio dan kenapa Ara bisa hilang kayak gini?" tanya Bisma. Pertanyaan itu sudah ratusan kali dia pertanyakan namun Arsal sama sekali tidak mau menjawab. Dia juga bingung karena keberadaan Gio tiba-tiba menghilang begitu saja.
"Ara di culik atau gimana?" tanya Rania.
"Gue rasa gak di culik, dia yang pergi sendiri," jawab Arsal.
"Tapi kenapa? Dia ada Gio disini, lalu kenapa bisa pergi?" tanya Rania lagi.
Arsal menghela nafas kasar, menggeleng pelan dan membuang pandangannya ke arah jendela yang menampilkan keadaan jalanan yang cukup padat. Dia juga tidak tahu alasan dibalik semua ini, yang jelas dia ingin segera bertemu Ara.
"Bukan hak gue buat jawab pertanyaan-pertanyaan kalian. Gue cuma mau ketemu Ara secepatnya," jawab Arsal.
Rania dan Bisma makin-makin dibuat bingung dengan tingkah Arsal. Ada apa sebenarnya? Rania khawatir dengan keadaan Ara sekarang. Entah gadis itu sehat atau tidak, sudah makan atau tidak, Rania tidak tahu. Meskipun dulu membenci Ara, tapi sekarang Rania belajar memaafkan dan perlahan ingin memperbaiki hubungannya dengan kakak sepupunya itu.
Dilain tempat saat semua orang sibuk mencari Ara, gadis yang di cari keberadaannya kini sedang berada di sebuah tempat yang sama sekali orang lain tidak ketahui, kecuali satu orang dan Ara berharap orang itu tidak akan mencarinya.
"Kandungannya sehat. Sudah empat minggu, jangan banyak fikiran dan perbanyak istirahat," jelas seorang dokter perempuan yang masih terlihat cantik itu. Dokter yang dari awal sudah menjadi dokter kandungan tetap Ara di klinik desa ini. Namanya dokter Anin. Dokter yang kira-kira seumuran dengan bunda Gio, ah Ara jadi mengingat laki-laki itu lagi.
"Terima kasih, dok," ucap Ara.
Setelah bercakap beberapa saat, Ara keluar dari ruangan dokter Anin hendak pulang. Seminggu ini dia lebih cepat lelah dari biasanya. Tepat di depan klinik itu, Ara tak sengaja menabrak seseorang yang membuatnya hampir saja jatuh menghantam lantai klinik jika laki-laki itu tak sigap menangkap tubuhnya.
"Maaf," kata Ara membungkuk sopan.
"Gak papa," sahut laki-laki itu.
Ara mendongak saat sebuah tangan terulur dihadapannya. Ara mengerutkan keningnya bingung menatap laki-laki yang sedang tersenyum kecil melihatnya.
"Kenalan," ujarnya menjawab kebingungan Ara.
Ara mengangguk sekali lalu membalas jabatan tangan laki-laki didepannya. "Ara," sebut gadis itu dengan senyum kecil.
__ADS_1
"Aldi," sahut laki-laki dengan paras yang Ara akui dia tampan.
Hidung mancung, alis tebal dan senyum manisnya sudah bisa menjelaskan bahwa laki-laki itu memang tampan. Sedangkan laki-laki itu juga terpana melihat paras cantik Ara.
"Habis periksa ya?" tanyanya.
"Iya. Kalau gitu, aku permisi," jawab Ara lalu pamit pergi meninggalkan Aldi yang menatap punggungnya dengan senyum tipis. Ara malas basa basi dan dia lelah, dia ingin segera sampai dirumahnya dan segera istirahat.
"Bunda," panggil Aldi pada dokter yang berjalan menuju pintu keluar klinik.
"Kamu ngapain disini? Kapan datangnya, ya ampun bunda kangen banget," tanya dokter Anin sambil memeluk putranya itu.
Yah, Aldi adalah putra dari dokter Anin yang kebetulan datang menjemput bundanya. Jam memang baru menunjukkan pukul 12 siang tapi dijam seperti ini, klinik akan tutup untuk istirahat para tenaga medis yang bekerja disana. Dan hari ini Aldi baru saja tiba di kampung halamannya jadi dia ingin menghabiskan waktu bersama bundanya.
"Ayo bund, kita makan siang," jawabnya.
Meninggalkan ibu dan anak itu, kini Ara sudah berada di sebuah rumah yang sangat sederhana. Rumah kecil tapi begitu nyaman untuknya. Ara suka berada disini karena udaranya yang bersih, jauh dari hiruk-pikuk ibukota yang sibuknya minta ampun. Setelah malam itu, Ara memutuskan tinggal sendiri disini, kampung halaman sangat kakek, orang tua dari ayahnya. Tidak ada yang tahu tempat ini kecuali dirinya. Ara berharap tidak ada yang mencarinya atau bahkan menganggunya lagi. Dia sudah memutuskan untuk hidup berdua dengan anaknya kelak. Untuk biaya hidupnya disini, Ara membuka tokoh kue kecil-kecil dari uang tabungannya selama bekerja bersama Gio. Dia memiliki satu karyawan dan tokoh kuenya itu berada tepat disamping rumah minimalisnya.
Ara duduk termenung dihalaman belakang rumahnya yang luas. Saat berada disana, mata akan dimanjakan dengan keindahan pegunungan yang membentang serta kebun-kebun teh dan sawah milik warga. Angin sore menerpa wajah Ara dan menerbangkan beberapa helai rambutnya.
Ara mengusap perutnya lembut, tak menyangka di umurnya yang sekarang ini, dia harus mengandung tanpa didampingi siapa-siapa. Jangankan suami, Ara bahkan sadar betul dia belum menikah tapi sudah berbadan dua. Ara tak menyesali dan menyalahkan bayi itu karena kejadian itu bukanlah hal yang disengaja. Dia pun tak menyalahkan Gio, hanya saja hatinya terlanjur sakit dan kecewa dengan apa yang Gio perbuat dibelakangnya. Didepan Ara, Gio bisa terlihat begitu mencintainya tapi nyatanya dibelakang sana Gio asik dengan orang-orang luar. Ara sadar diri, dia memang bukan siapa-siapa dan tidak memiliki apapun yang harus dia banggakan tapi apa Gio memiliki hak menyakiti seperti ini? Apa Gio harus menyakitinya sedalam ini?. Orang yang Ara kira akan menjadi penyembuh lukanya justru menjadi penyumbang luka paling besar dihidupnya.
"Dede bayi harus kuat karena papa gak bisa dampingi kita," lanjutnya dengan dada yang sesak dan mata yang berkaca-kaca.
"Bukan papa yang pergi, tapi mama. Mama gak kuat liat papa, mama gak bisa kalau sama papa terus,"
"Maafin mama harus jahuin kamu sama papa,"
Ara menghela nafas pelan. Ternyata anaknya memiliki nasib sama sepertinya, ada sebelum ayah dan bundanya menikah. Tapi, dirinya lebih beruntung karena tumbuh dengan dua orang tua yang lengkap meski hanya sebentar. Sedangkan anaknya kelak, hanya akan tumbuh dan memiliki satu orang tua. Ara harus menyiapkan jawaban dari sekarang jika kelak anaknya menanyakan keberadaan sang ayah.
...💔💔💔...
Malam ini Ara duduk sembarai mencatat apa saja yang sudah habis di tokoh kue sederhananya. Gadis dengan balutan hoodie putih dan celana training hitam itu fokus pada buku yang ada dihadapannya sampai dia tidak sadar sedari tadi seseorang sudah berdiri dan menatapnya hampir 5 menit.
"Hai," sapa orang itu.
Ara mendongak dan terkejut melihat siapa yang ada dihadapannya. Laki-laki yang tadi dia tabrak di depan klinik. Ara berusaha mengingat namanya.
"Aldi?" sebut Ara membuat laki-laki itu mengangguk.
__ADS_1
Laki-laki dengan balutan jaket denim berwarna biru itu duduk di hadapan Ara yang menatapnya. Ara menghela nafas pelan, dia sebenarnya enggan terlalu berbaur dengan orang-orang disini, tapi mau bagaimana lagi dia adalah makhluk sosial dan hidup berdampingan dengan manusia lainnya. Mau tidak mau Ara harus melakukan ini semua. Bukannya apa, Ara membatasi diri dari lingkungan sosial karena tidak ingin kehidupannya terlalu terekspos keluar. Sudah cukup dia dikenal sebagai cucu kesayangan kakeknya, untuk hal lain sebaiknya tidak perlu orang lain tahu. Warga disini pun sudah tahu jika dirinya sedang mengandung karena beberapa kali warga melihatnya keluar dari rumah dokter Anin yang memang notabennya dokter kandungan. Jika ditanya, Ara hanya menjawab bahwa suaminya sudah meninggal kecelakaan seminggu setelah kabar kehamilannya. Itu cukup membuat orang-orang disana mengerti. Dia tidak ingin orang tahu bahwa dirinya sebenarnya tidak memiliki suami.
"Kamu ngapain, tokoh ini punya kamu kan?" tanya Aldi sopan sambil melihat-lihat tokoh Ara yang sederhana tapi tentunya nyaman.
"Iya," jawabnya sambil mengangguk dan kembali mencatat dibukunya.
"Ra, udah ada pacar belum?" tanya Aldi to the point membuat Ara mendongak menatapnya bingung.
Dari awal bertemu, Aldi memang sudah tertarik dengan Ara. Selain cantik, aura positif dari seorang Kaiyara Zoe membuat siapa saja akan tertarik padanya, termasuk Aldi. Terlebih tatapan teduh miliknya yang selalu menenangkan saat menatap mata perempuan itu.
"Suami lebih tepatnya," sahut Ara acuh.
Aldi terkejut tapi sebisa mungkin menetralkan ekpresinya. Aldi menatap Ara tak percaya, sepertinya gadis dihadapannya ini berbohong.
"Bohong kan, kalau udah ada suami, dimana?" tanya Aldi.
"Udah mati," jawab Ara lagi.
Aldi menghela nafas pelan, menatap Ara yang sudah menutup bukunya dan membalas tatapannya.
"Ada apa, ada yang bisa saya bantu?" tanya Ara.
"Mau pesan kue buat bunda, katanya dia suka banget kue disini," jawab Aldi.
"Malam ini gak ada, bahannya habis. Sedianya besok. Maaf," jawab Ara.
"Ya udah besok aku balik lagi," kata Aldi beranjak dari duduknya diikuti Ara.
"Kamu mau gak berteman sama aku?" tanya Aldi menatap Ara dengan alis terangkat.
Ara menghela nafas pelan, sebaiknya dia iyakan saja daripada urusannya panjang. Maka dari itu Ara mengangguk membuat Aldi tersenyum senang lalu mengacak rambut Ara pelan.
"Besok aku datang lagi," pamitnya lalu beranjak pergi.
Ara hanya menatap punggung Aldi hingga laki-laki itu tak lagi terlihat. Kembali, Ara menghela nafas pelan lalu berbalik menuju rumahnya.
"Teman?" gumamnya.
"Mungkin itu satu langkah yang bagus untuk memulai semuanya dari awal lagi. Mencari teman," gumam Ara lalu menutup pintu rumahnya pelan.
__ADS_1
...--To be continued--...