Perjalanan Cinta CEO Muda

Perjalanan Cinta CEO Muda
Part 15. Gadis kuat


__ADS_3

Setelah menyakinkan neneknya jika dia tidak apa-apa dan memastikan neneknya istirahat dengan baik, Ara melangkahkan kakinya menaiki tangga menuju kamarnya. Hari ini begitu melelahkan untuknya. Baru saja dia dibuat senang sekarang sudah dibuat menderita seperti ini.


Ara menutup pintu kamarnya dan berjalan lunglai menuju kasur setelah menyalakan lampu. Kamar dengan nuansa putih pink itu sudah cukup luas dan nyaman untuk Ara.


Ara mendaratkan tubuhnya pada kasar dan memeluk bonekanya erat. Ingatannya kembali ke kejadian beberapa menit yang lalu. Gadis cantik dengan balutan hoodie kebesaran itu menghela nafasnya berulangkali berusaha menghalau rasa sesak dihatinya. Dia tidak boleh menangis, dia harus kuat. Ara menatap foto ayah dan bundanya yang dia letakkan diatas meja samping tempat tidur.


"Ayah, bunda.. apa kalian liat Ara dari atas sana?", tanya Ara lirih.


"Ara hebatkan, Ara gak nangis", gumamnya lagi.


"Tapi dada Ara sesak, Yah. Bunda, kenapa mereka membenci Ara, apa Ara ada salah sama mereka ?", lanjutnya.


Saudara-saudara ibunya begitu membenci Ara entah kenapa. Ara jadi berfikir apakah saudara ayahnya juga membencinya, tapi sayang kata sang nenek ayahnya adalah anak tunggal. Dia ingin sekali ayahnya memiliki saudara dan menyayanginya.


"Apa Ara gak pantas disayang ?",


"Ara pengen kayak Aini sama Rania, disayang sama mereka", tanpa terasa setetes air mata sialan itu menetes walaupun sudah ditahan mati-matian.


Ara menghapus air matanya dan menghela nafasnya kasar, sesak di dadanya tetap saja masih terasa. Mungkin dengan tidur rasa itu akan hilang. Ara beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya sebelum istirahat.


"Kamu disini dulu, temani aku tidur nanti", kata Ara saat meletakkan boneka pemberian Gio diatas kasur dan benar-benar berlalu masuk kedalam kamar mandi.


Beberapa menit setelah membersihkan diri dan mengganti pakaiannya, Ara membaringkan tubuhnya diatas kasur dan hendak memejamkan mata. Namun ketukan pada jendelanya mengejutkan Ara dan membuat gadis itu refleks bangun. Ara menelan salivanya susah payah. Pikirannya juga tidak bisa berfikir positif sekarang. Bayangkan saja ini sudah hampir jam 10 malam dan tiba-tiba ada yang mengetuk jendela kamar mu. Dua perkiraan muncul di kepala Ara, jika itu bukan hantu berarti.... Dengan cepat Ara melompat dari kasurnya dan mencari benda apapun yang bisa dia gunakan untuk memukul orang itu nanti. Dengan memegang sapu, Ara mendekati jendela yang sedari tadi diketuk. Dengan hati-hati, Ara membuka gorden dan...


"Pergi kamu dari sini", kata Ara sedikit berteriak dan memukul sesuatu yang berdiri didepannya.


"Ini aku", balas orang itu berusaha menahan pukulan Ara.


Tunggu dulu, Ara seperti mengenal suara itu. Dengan perlahan Ara membuka matanya menatap orang yang kini tengah tersenyum canggung dihadapannya.


"Gio", kata Ara dengan mata membulat kaget.


Yaps orang itu adalah Gio, entah apa yang ada dipikirannya sampai-sampai datang kesini jam segini dan bahkan laki-laki itu masuk lewat jendela.


"Kok kamu disini ?", tanya Ara.


"Gak dipersilahkan masuk dulu, disini dingin", kata Gio mengusap lengannya.


"Hah ? Masuk ?", beo Ara.


Ara kembali menelan salivanya kasar, apa katanya tadi, masuk ? What ? Ini kan kamar dan mereka adalah orang yang berbeda gender, bagaimana jika----Ara menggeleng pelan membuang jauh-jauh pikiran buruknya lalu mengangguk ragu mempersilahkan Gio masuk.


"Kamu kok bisa disini ?", tanya Ara lagi setelah keduanya duduk. Ara yang duduk di kasur dan Gio yang duduk dikursi meja riasnya menghadap Ara.


Gio mengusap tengkuknya, bingung mau menjawab apa. Tadi saat baru sampai dirumahnya, pikirannya tak bisa lepas dari Ara apalagi mengingat kejadian tadi, ada apa dengan Ara ? Siapa mereka tadi ? Kenapa menampar Ara ? Kenapa sekasar itu dengan Ara ? Apa Ara sering mendapat perlakuan seperti ini ? dan pertanyaan yang membuatnya makin bingung adalah ada hubungan apa Ara dan Rania, gadis yang selalu merecokinya. Entah mengapa ada rasa marah dan tidak terima Ara diperlakukan seperti itu.

__ADS_1


Setelah berada dikamarnya, Gio melepas hoodienya, pikirannya tentang Ara semakin membuatnya pusing. Tiba-tiba sebuah benda jatuh dari dalam saku hoodie Gio mengalihkan pandangannya. Sebuah kalung berbandul kunci dan gelang berbandul gembok. Gio menepuk jidatnya pelan, astaga dia lupa memberikannya pada Ara. Buru-buru Gio memasukkannya kembali ke tempatnya dan berlalu pergi, tujuannya sekarang adalah rumah Ara.


Setelah beberapa saat berkendara, disinilah Gio sekarang, rumah minimalis milik Ara yang terlihat sangat sepi, Gio yakin orang rumah sudah istirahat dan hanya ada satu kamar yang lampunya masih menyala. Gio yakin itu kamar Ara, laki-laki itu akhirnya memutuskan masuk lewat jendela dengan memanjat pohon yang tepat disamping balkon kamar Ara, sampai akhirnya disinilah dia sekarang duduk menghadap gadis yang sedari tadi menatapnya bingung.


"Kamu mau ngapain kesini malam-malam gini, bukannya istirahat malah keluyuran", kesal Ara.


Gio hanya cengengesan tidak jelas, ditangannya terdapat paper bag berwarna pink putih yang entah apa isinya.


"Aku kesini mau ngasih ini", sahut Gio memperlihatkan barang ditangannya.


Ara mengerutkan kening bingung, benda apa itu dan dalam rangka apa gio memberikannya barang. Sedangkan Gio menunduk tak berani menatap Ara, dia takut Ara tidak suka dengan kedatangannya kesini. Dia tidak bohong, dia kesini memang ingin memberikan barang itu dan ingin memastikan keadaan Ara setelah kejadian tadi. Gio mengangkat kepalanya menatap Ara yang sedari tadi menatapnya.


"Kan bisa besok, kenapa harus sekarang ?", tanya Ara ketus.


"Maaf kalau aku datang kesini, gak suka yah", sahut Gio tidak enak.


Melihat itu, Ara jadi gelagapan sendiri, tidak, tidak, dia bukannya tidak suka Gio datang kesini hanya saja ini sudah malam dan Gio juga butuh istirahat, jika hanya memberinya barang kan masih ada besok, pikir Ara.


"Bukannya gitu tapi....", ucapan Ara menggantung tidak tahu harus mengatakan apa.


"Aku kesini cuma mau kasi ini dan liat keadaan kamu", sahut Gio membuat Ara mengerutkan keningnya bingung.


"Liat keadaan aku ?", tanya Ara memastikan yang hanya dibalas anggukan kecil oleh Gio. "Kita kan baru aja ketemu, aku baik-baik aja kenapa harus liat keadaan aku?", tanya Ara lagi.


Gio menghela nafas pelan, apa dia harus mengatakan jika dia melihat semuanya tadi, apa itu tidak apa-apa. Dalam keheningan, Ara tersadar satu hal.


Gio diam tidak tahu harus mengatakan apa dan dari diamnya itu membuat Ara menghela nafasnya pelan, mengapa harus ada orang lain yang tau terlebih lagi ini Gio.


"Kamu bawa apa ?", tanya Ara dengan tersenyum mengalihkan pembicaraan.


Gio menatap Ara yang berusaha menghindari topik itu, kenapa Ara harus terlihat baik-baik saja jika keadaannya memang tidak baik, kenapa Ara harus tersenyum jika hatinya menginginkan air matanya mengalir, tidak tahukah gadis ini jika Gio benci melihat Ara yang seperti ini.


"Ini", Gio menyerahkan paper bag yang dia bawa.


Ara langsung menerimanya dan mengecek apa yang Gio bawa, sebenarnya dia agak sungkan tapi demi menghindari topik itu Ara terpaksa melakukannya. Ara tidak mau Gio bertanya lebih jauh lagi.


Mata Ara membulat saat menemukan kalung tergeletak begitu saja didalam paper bag itu bersama sebuah hoodie cantik berwarna pink baby. Ara mengangkat kalung itu lalu menatap Gio dengan tatapan bingung.


"Ini buat siapa ?", tanya Ara memasukkan kembali kalung itu dan menyerahkan kembali pada Gio.


"Buat kamu. Gak suka yah", sahut Gio.


"Buat aku ?", tanya ulang Ara yang dijawab anggukan Gio.


"Bukan gak suka tapi ini terlalu berlebihan, kenapa ngasih ini ?", tanya Ara bingung.

__ADS_1


Mereka baru kenal beberapa hari dan Gio memberikannya barang-barang seperti ini. Apa ini tidak terlalu berlebihan.


"Berlebihan", beo Gio.


"Iya, Gio. Kamu berlebihan", sahut Ara.


"Kita baru kenal beberapa hari dan kamu ngasih itu semua buat aku, untuk apa ? aku yakin harganya gak murah", sahut Ara sebelum Gio berbicara. Ara memang sempat melihat kalung itu tadi, terlihat sederhana tapi Ara tidak salah lihat itu emas dan ada berlian yang menghiasi bandul kalung berbentuk kunci itu.


Gio mendengus mendengar penuturan Ara, memangnya penting masalah harga dan mereka memang baru kenal tapi apa salahnya, toh Gio menyukainya, aiih sayangnya Ara belum tau itu dan apa sekarang Gio harus mengatakannya


"Tadi dipasar malam aku lupa, niatnya mau kasi kamu kalau kita udah naik biang lala, tapi ternyata gagal", sahut Gio.


Gio menggeser kursinya semakin dekat pada Ara membuat jantung gadis itu berpacu lebih cepat.


"Aku ngasih itu ada alasannya jadi jangan mikirin harga", kata Gio ketus, dia sedikit tidak nyaman saat Ara mengatakan soal harga, memangnya itu penting.


"Kamu terima yah, kalau gak diterima buang aja", kata Gio lagi membuat Ara menatap Gio horor. Apa katanya tadi ? dibuang, yang benar saja bahkan harganya bisa buat makan Ara beberapa bulan kedepan dan dengan entengnya laki-laki ini mengatakan 'buang aja'.


"Kalau gak suka ya udah sini aku yang buang", lanjut Gio hendak merebut paper bag itu namun langsung dijauhkan Ara.


"Iya iya aku terima. Makasih", sahut Ara mengalah pada akhirnya.


Gio tersenyum senang, akhirnya Ara menerima pemberiannya juga. Senang ? Tentu saja.


"Raa...", panggil Gio pelan sambil meraih tangan gadis itu. Gio menggenggamnya lembut dan menatap manik mata Ara.


"Gak mau cerita?", tanya Gio pelan dengan suara beratnya. Siapapun tolong selamatkan Ara sekarang juga, bisa mati ditempat dia jika seperti ini, jarak yang begitu dekat dan tangan yang digenggam lembut membuat jantungnya benar-benar ingin melompat dari tempatnya. Seketika Ara menjadi gugup. Rasa hangat pada telapak tangan Gio berpindah pada telapak tangan Ara yang dingin.


"Aku bakal dengerin, mulai sekarang jangan anggap aku orang lain. Kalau kamu ada masalah cerita sama aku, sebisa mungkin aku bakal bantu dan ada buat kamu", kata Gio lagi.


Tatapan Gio yang menatapnya teduh membuat kecemasan dan rasa sesak Ara sedikit berkurang. Selain dengan neneknya, Ara juga merasa begitu disayang dan diperlakukan dengan baik jika bersama Gio, itu yang membuat Ara nyaman ada didekat laki-laki ini.


"Gii...", panggil Ara dengan menunduk malu.


"Hmm",


"B-boleh minta sesuatu?", tanya Ara ragu. Dia sedikit ragu Gio akan menurutinya dan sedikit malu karena laki-laki dihadapannya ini baru dikenalnya beberapa hari tapi dia sudah begitu lancang meminta sesuatu.


"Emm.. gak jadi, gapapa", sahut Ara cepat. Dia begitu malu sekarang.


"Apa ? bilang aja gapapa. Aku usahain bisa", sahut Gio meyakinkan.


Ara menatap Gio yang juga menatapnya teduh, salahkan Ara berharap pada laki-laki dihadapannya ini ? Salahkah Ara jika menyukainya ? Apa Ara salah menempatkan diri ?. Lagi dan lagi status sosial dan derajat yang bertolak belakang menampar Ara dan menjatuhkannya jauh didasar bumi.


"A-aku, boleh peluk kamu ?"

__ADS_1


...---To Be Continued---...


__ADS_2