
...---Happy reading---...
Pagi ini menjadi pagi yang berbeda untuk Gio, bagaimana tidak, saat dirinya terbangun ada sosok wanita cantik yang juga terbaring disampingnya. Yaah, setelah adu mulut cukup lama, akhirnya Ara mengalah dan mau mengikuti keinginan Gio untuk tidur bersama. Hanya tidur, tak lebih dari itu. Dengan senyum yang tak hilang sedikit pun, Gio keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkapnya. Sedangkan Ara, gadis itu sedari tadi sibuk didapur setelah menjalankan kewajibannya berjamaah dengan Gio, subuh tadi. Tak hanya Gio, senyum Ara juga tak pernah hilang dari wajah cantiknya. Untuk pertama kalinya dia menjalin hubungan dengan seseorang dan itu tidak mengecewakannya. Gio benar-benar memperlakukannya seperti ratu. Bahkan semalam saja, meski tidur bersama tapi Gio tak melewati batasnya, dia hanya tidur dengan memeluk Ara persis bantal guling yang bahkan bukan hanya Gio yang merasa nyaman tapi Ara juga.
"Sayaaaaaang", teriak Gio dari arah kamar membuat Ara berdecak. Bisa tidak pagi-pagi seperti ini tidak usah berteriak.
"Aku didapur", sahut Ara ikut berteriak.
Gio berjalan mendekat kearah gadis yang kini sedang menata makanan di meja makan. Gadis yang mengenakan kaos oversize dan hotpants berwarna abu-abu itu terlihat cantik dengan rambut yang diikat asal membuat anak rambutnya terjuntai begitu saja.
"Asik banget", sahut Gio.
Laki-laki yang sudah siap dengan setelan jas itu duduk dikursi meja makan tepat dihadapan Ara.
"Hari ini gak ke kantor ?", tanya Gio.
"Masuk kok, kenapa ?", tanya Ara menatap Gio sekilas.
"Mandi gih, makanannya biar aku yang siapin. Nanti kita makan bareng", sahut Gio.
Ara mengangguk dan bergegas menuju kamar dan segera melakukan ritual mandinya setiap pagi.
30 menit berlalu, Ara belum juga menampakkan diri membuat Gio berdecak kesal, biasalah perempuan jika bersiap pasti akan lama. Gio berjalan menuju kamar yang tertutup rapat dan langsung mengetuk pintu kamar.
"Sayang, udah belum?", tanya Gio yang tak mendapat balasan.
"Sayang", panggil Gio sekali lagi diiringi dengan ketukan.
Detik berikutnya, pintu terbuka dan menampilkan sosok gadis cantik dengan kemeja putih dipadukan dengan rok span sebatas paha dan dengan tangan menenteng blazer hitamnya. Rambut yang digerai membuat gadis itu terlihat begitu manis.
"Masya Allah, cantik banget calon istri", gumam Gio tanpa sadar.
"Ayo, sarapan dulu. Nanti telat", suara Ara membuat lamunan Gio buyar, laki-laki itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal lalu mengangguk kaku. Keduanya berjalan beriringan menuju meja makan dan sarapan bersama.
Setelah menyelesaikan sarapan mereka, keduanya bergegas pergi meninggalkan apartemen untuk memulai hari. Namun, langkah Ara terhenti saat hendak membuka pintu. Tangan kekar Gio menahannya membuatnya kembali berbalik. Gadis itu menatap Gio dengan tatapan bertanya.
"Kenapa ?", tanya Ara saat Gio hanya diam saja.
"Cium dulu", pinta Gio.
"Giooo....", tegur Ara.
Gio berdecak kesal lalu tanpa aba-aba mendekat wajahnya pada wajah Ara dan langsung mencium bibir cantik gadisnya. ******* lembut yang Gio berikan membuat Ara terbawa suasana dan membalas meski sedikit kaku. Setelah dirasa cukup, Gio melepas tautannya dan kembali mencium seluruh wajah Ara, mulai dari kening, mata, pipi, dagu, hidung dan berakhir dibibir.
"Berasa punya istri beneran", celetuk Gio membuat Ara terkekeh gemas. Gio menarik Ara kepelukannya.
__ADS_1
"Gak mau pisah", kata laki-laki itu.
"Nanti juga ketemu lagi", sahut Ara.
Gio mengerucutkan bibirnya lucu, menatap Ara dari atas. "Mau kayak gini terus", kata Gio.
"Gak mau banget pisah", kata Ara tertawa kecil.
"Iyalah", sahut Gio.
"Gemesnya", kata Ara sambil mencubit pipi Gio gemas.
"Raa...",
"Hmmm".
"Besok nikah yuk",
...---🌻🌻🌻---...
Rania sedari tadi termenung mengingat apa yang Ken katakan tadi malam. Benarkah itu ? Bagaimana bisa ?. Banyak sekali pertanyaan yang muncul di kepala Rania. Dia tidak percaya karena menganggap Ken hanya salah sebut nama akibat mabuk, tapi dari apa yang sudah terjadi kembali membuatnya ragu. Ara pernah bekerja di cafe milik Gio dan neneknya mengatakan jika Ara sudah pindah kerja sebagai guru les privat adik bosnya. Bukankah bos Ara sebelumnya adalah Gio. Dan lagi, Gio sudah mengatakan jika dia memiliki pacar. Arsal pun membenarkan.
Rania menghela nafas kasar saat kemungkinan-kemungkinan itu muncul tiba-tiba dipikirannya. Ini tidak boleh terjadi, dia harus mencari tahu sendiri kebenarannya. Jika itu benar dia harus bisa memisahkan Gio dan Ara. Dia tidak mau Gio dimiliki siapapun kecuali dirinya.
"Ganggu aja", kata Rania kesal.
"Agaknya lagi badmood nih", tebak Naumi yang sama sekali tidak melenceng.
"Gio udah punya pacar", kata Rania dengan lesu.
"WHAT", pekik Naumi.
"Berisik", sahut Rania memukul kepala sahabatnya itu.
"Gak mungkin, orang cuek kayak dia tuh susah ditaklukin. Lo aja belum bisa", kata Naumi sedikit mengejek.
"Tapi emang itu kenyataannya, dia sendiri yang bilang. Arsal juga bilang gitu", kata Rania dengan muka masamnya.
"Lo percaya ?", tanya Naumi menggebu-gebu.
"Gak juga. Gue belum cari tau", sahut Rania.
Gadis itu meletakkan kepalanya diatas meja kantin kampus dengan lesu. Kabar yang dia dapat berhasil membuat moodnya rusak dan semangatnya menurun.
"YA MAKANYA CARI TAU", kata Naumi tidak santai sambil kembali menggebrak meja.
__ADS_1
"Santai aja dong", kata Rania kesal.
"Gue bakal cari tau", lanjutnya lagi.
"Lo harus gerak cepat, tikung kalau perlu. Belum nikah juga kan", kata Naumi.
"Lo bener. Gue harus gerak cepat. Gue bakal dapatin dia dengan cara apapun".
...---🌻🌻🌻---...
Arsal menatap saudara laki-lakinya itu dengan sengit. Kejadian kemarin masih begitu membekas diingatannya. Arsal tidak suka jika ada orang yang berbuat tidak baik dengan sahabatnya yang satu itu termasuk saudaranya yang begitu keras kepala dan egosi ini.
"Kenapa lo?", tanya Ken yang sadar akan tatapan Arsal. Keduanya kini tengah berada diruang keluarga.
"Berhenti mengusik hidup Ara dan Gio", sahut Arsal kurang bersahabat.
"Urusannya sama lo?", tanya Ken dengan kening berkerut.
Arsal menatap Ken dengan penuh peringatan. Ken yang keras kepala, egois dan ingin menang sendiri tidak pernah berubah dari dulu. Apa yang dia inginkan harus menjadi miliknya, tidak peduli jika itu sudah menjadi milik orang lain.
"Kalian teman, harus kalian selalu perang dingin gitu ?", tanya Arsal membuat Ken mendengus.
"Dia bukan temen gua", sahut Ken malas, dia paling tidak suka jika pembahasan sudah menyangkut Gio.
"Apa yang buat lo segitu bencinya sama temen sendiri?", tanya Arsal bingung. Entahlah, dia tidak tahu alasan jelas Ken begitu membenci Gio.
"Lo masih tanya ?", sahut Ken.
"Lo udah tau nggak usah nanya lagi", katanya.
"Dia gak seperti apa yang lo pikir", sahut Arsal.
"Lo tau apa ?", tanya Ken menahan amarah. Pembahasannya sedikit sensitif.
"Gue tau segalanya, bahkan lebih tau dari lo", jawab Arsal.
"Semua yang terjadi dimasa lalu bukan salahnya, justru dia yang jadi korban. Termasuk korban kebencian lo yang gak beralasan", lanjut Arsal.
"Omong kosong", kata Ken.
"Lo emang keras kepala dan egois",.
"Setelah lo tau kebenarannya nanti, gue pastiin lo bakal nyesel",
...---To Be Continued---...
__ADS_1