
Dibaca pelan-pelan yaa biar feelnya dapat.
Jangan lupa like dan komennya
...Happy reading...
Suasana ruang tamu rumah besar itu begitu sunyi tanpa suara siapapun, padahal mereka semua masih berkumpul dan duduk diposisi masing-masing. Hanya Ara dan Gio yang masih berdiri berdampingan. Hanya ada suara jam yang mengisi kesunyian yang tercipta akibat orang-orang yang masih menutup mulut dengan pikiran masing-masing.
Gio, Ken dan Arsal menghela nafas panjang mengetahui jawaban dari semua masalah yang menimpa mereka selama ini. Ken tak menyangka ternyata serumit ini dan orang yang begitu dia percayailah yang jadi dalang dari semua ini, terlebih lagi Gio dan Arsal menyembunyikan kenyataan darinya. Ah dia tak lagi menyalahkan Gio karena memang dirinya yang tidak mau mendengar penjelasan Gio, dia hanya mengambil kesimpulan sepihak.
Sedangkan Kevin dan Albi diam-diam menghela nafas kasar. Mereka tak menyangka, kejadian dimasa lalu membuat hidup anak-anak mereka jadi rumit seperti ini, tapi demi apapun mereka tidak bersalah, mereka hanya mencari keadilan untuk mereka sendiri dan disini Bagas yang memang bersalah, mereka tidak memfitnah sama sekali. Apa yang dilakukan Raisa hanyalah bentuk dendam karena tidak terima suaminya dipenjara dan bunuh diri didalam tahanan. Dia tidak mau menerima kenyataan hingga berbuat sejauh ini.
"Ayah," panggil Gio memecah keheningan. Kevin menatap kearah putranya yang masih berdiri di hadapannya. Tatapan mata Kevin datar dan dingin membuat Gio paham ayahnya pasti marah karena dia sudah menyembunyikan masalah sebesar ini.
"Abang mau minta izin, Yah," ucap Gio berjalan mendekat kearah ayahnya. Duduk bersimpuh menatap ayahnya yang masih diam menatapnya.
"Sebelumnya abang minta maaf. Abang minta maaf udah merusak putri ayah, abang minta maaf udah bohong sama ayah dan abang minta restu untuk menikah sama Ara besok," ucapnya membuat semua orang terkejut memandang Gio dengan mata melotot termasuk Ara.
"Abang gak maksud merusak Ara sebelum dia jadi istri abang, Yah. Abang tau abang salah, abang minta maaf. Abang juga tidak bermaksud menyembunyikan Ara tapi abang kesusahan menemukan dia saat bangun dari koma," lanjutnya.
"Abang paham abang salah, tapi abang juga izin menikahi Ara. Sudah cukup dua tahun abang sama dia pisah, gak mau lagi, Yah," ucapnya menunduk menyembunyikan matanya yang berkaca-kaca.
Melihat reaksi Kevin yang hanya diam saja membuat Gio semakin merasa tak nyaman, dia tahu jawaban ayahnya jika sudah seperti ini, tapi dia tidak akan menyerah. Apapun dia lakukan untuk bisa bersama Ara kembali.
"Ayah gak kasi restu," ucap Kevin tegas.
Gio memejamkan matanya sejenak, sudah dia duga. Sedangkan Ara menatap Kevin dengan cepat. Ara tak habis pikir kenapa Kevin jadi seperti itu. Bukankah semuanya sudah jelas hanya salah paham lalu apa yang membuat Kevin jadi tidak merestui mereka.
"Tapi kenapa, Yah?" tanya Gio pelan.
__ADS_1
"Kamu tidak bertanggung jawab, Gio. Kamu merusak anak ayah, lalu meninggalkannya begitu saja. Kamu pikir sendiri apa yang Ara rasakan saat dia mengandung tanpa adanya kamu," ucap Kevin murka.
"Ayah, abang gak ninggalin Ara, ini semua salah paham. Abang sudah cari,"
"Kalau kamu cari dia, kenapa kamu justru pindah keluar negeri dengan alasan pekerjaan, kenapa kamu bohong, Gio. Ayah gak pernah ngajarin kamu berbohong seperti ini. Ayah gak pernah mengajari kamu menjadi laki-laki brengsek seperti ini,"
Gio menggeleng pelan, dadanya sesak saat untuk pertama kali ayahnya memaki dirinya, mengatakan jika dia tidak bertanggung jawab dan brengsek. Sungguh, selama dia hidup, Kevin belum pernah memarahinya seperti ini.
Kevin berdiri dari duduknya hendak pergi, namun tangan Gio langsung memeluk kaki ayahnya erat agar Kevin tak beranjak. Gea, bunda Vio, Arsal dan juga Ara mengalihkan tatapan mereka tak sanggup melihat Gio yang kini menangis memohon pada ayahnya untuk sebuah restu. Untuk pertama kali dalam hidupnya Gio berbuat seperti ini, layaknya anak yang tak dibelikan mainan yang diinginkan, Gio menangis dan memohon pada ayahnya.
"Sekali ayah bilang tidak jawabannya akan tetap tidak, Gio. Lepas," ucap Kevin tak mau menatap putranya. Kevin kecewa dengan sikap putranya, dia tidak menyangka Gio akan berbuat seperti itu, menghamili Ara tanpa ikatan yang jelas lalu pergi meninggalkan Ara begitu saja. Apa masih pantas Gio disebut laki-laki bertanggung jawab. Ara sudah Kevin anggap sebagai anak sendiri, bagaimana sakitnya hati seorang ayah saat anak perempuannya diperlukan seperti itu, apalagi yang melakukan hal sebejad itu adalah putranya sendiri. Sungguh, hatinya sakit.
"Lebih baik Ayah menjodohkan Ara dengan laki-laki yang lebih bertanggung jawab daripada harus dengan kamu," ucap Kevin membuat Gio dan Ara menggeleng keras, menolak.
"Enggak, Yah. Enggak, Ara gak boleh sama orang lain," ucap Gio cepat karena panik.
"Ara harus sama abang. Gak boleh sama orang lain,"
Mendengar itu, Gio melepas kaki Kevin lalu menangkupkan tangannya memohon pada Kevin.
"Ayah, abang mohon jangan lakukan ini," ujarnya dengan air mata yang sudah tak bisa ditahan. Persetan dengan orang-orang yang ada disana, Gio tidak peduli.
"Ayah mau apa. A-abang balikin semuanya," ucap Gio merogoh saku celananya mengeluarkan dompet dan kunci mobilnya.
"Abang balikin mobil abang, kartu kredit abang, semuanya Yah, abang balikin. Abang juga gak akan kerja di perusahaan ayah lagi, abang akan mengundurkan diri, rumah abang juga bakal abang kasi. Ambil semuanya Yah asal jangan Ara," ucap Gio meletakkan barang-barangnya diatas meja.
Ara yang berdiri di belakang Gio kembali menangis melihat Gio yang rela memohon bahkan melepas segala kemewahannya hanya untuk dirinya, hati Ara sakit melihat Gio yang selemah ini sekarang.
"Ayo, Yah, ambil semuanya tapi abang mohon jangan ambil Ara dari Gio. Abang gak bisa," ucapnya lirih dengan tangis yang tak bisa dia bendung lagi.
__ADS_1
Tak ada respon dari Kevin, dia hanya menatap putranya dengan datar. Gio terdiam sejenak lalu detik berikutnya beralih menatap adiknya yang sudah menangis. Gio bergeser kedepan adiknya. Menggenggam tangan Gea erat.
"Ayah paling dengerin adek kan, bilang sama ayah, dek. Bujuk ayah biar gak ambil Ara dari abang. Ayo bilang, ayah pasti mau kalo adek yang minta," ujar Gio memohon pada adiknya.
Air mata Gea semakin deras, keadaan Gio benar-benar kacau, Gio yang tegas, dingin dan berwibawa seketika hilang entah kemana saat dirinya memohon pada adik perempuannya itu.
"Adek mau kan bantu abang?" tanya Gio lirih.
"Bilang sama ayah, dek. Abang gak bisa tanpa Ara, jangan pisahin lagi. Gak mau," ucapnya memohon dan merengek sekaligus.
Gea yang sudah tak tahan lalu berdiri dan menuntun Gio ikut berdiri disamping. Perempuan itu lalu menatap ayahnya dengan mata memerah habis menangis.
"Kenapa ayah jadi keras seperti ini?" tanya Gea pelan.
"Dia tidak bertanggung jawab, dek," jawab Kevin cepat.
"Tak bertanggung jawab seperti apalagi, ayah. Abang berhasil jaga Gea sampai Gea nikah, abang berhasil bantu ayah di perusahaan. Abang pindah bukan tanpa alasan, dia pindah karena mau nyari putri ayah. Orang-orang suruhan itu yang mengatakan jika kak Ara pindah itu alasannya abang juga ikut pindah buat cari kak Ara" ujar Gea pelan. Dia masih tau bicara dengan sopan pada ayahnya.
"Selama ini abang gak pernah minta apapun pada ayah dan sekarang dia cuma minta restu, ayah gak kasih?" tanya Gea.
Kevin diam menatap putra dan putrinya bergantian. Gio juga ikut diam menatap ayahnya dengan tatapan penuh harap.
"Zian jauh lebih tidak bertanggung jawab kalau itu soal tanggung jawab, Yah. Menyakiti putri ayah, lalu memintanya kembali tapi ayah tidak sekeras itu ke Zian tapi kenapa ayah begitu keras ke Gio," Zian ikut angkat suara. Laki-laki itu berdiri tepat di belakang sangat istri. Sedangkan yang lainnya hanya diam tak tahu harus berbuat apa.
"Ini semua cuma salah paham om dan saya yang salah. Bukan keinginan Gio untuk merusak Ara tapi itu karena ulah saya," ucap Ken dari tempat duduknya, berusaha membantu. Sesekali laki-laki itu meringis merasakan sakit pada tubuhnya akibat pukulan Gio.
"Lihat putri ayah," tunjuk Gea pada Ara yang berdiri menunduk sambil menangis.
"Ayah tanya sama dia, apa dia mau pisah sama bang Gio," ucap Gea lagi.
__ADS_1
Ara menggeleng pelan, perempuan itu mengangkat kepalanya menatap Kevin yang juga menatapnya. Tanpa bicara apapun, Ara mendekat kearah Gio dan menggandeng tangan laki-laki itu. Sungguh, dia juga tidak ingin bersama orang lain. Melihat itu Kevin semakin diam, lalu detik berikutnya laki-laki itu berbalik meninggalkan semua orang. Sementara Gio menatap punggung ayahnya dengan tatapan sendu. Apa ayahnya benar-benar tidak mau merestui mereka.
...-To be continued-...