Perjalanan Cinta CEO Muda

Perjalanan Cinta CEO Muda
Part 41. Bertemu


__ADS_3

...---Happy reading---...


Gio bersandar disamping mobilnya yang kini terparkir di depan gedung besar dan menjulang tinggi itu. Laki-laki yang masih mengenakan stelan jas itu sudah menunggu Ara setengah jam yang lalu. Untung hari ini tak terlalu banyak kerjaan dan sepupu kurang ajarnya itu pun sedang baik padanya. Sembari memainkan ponselnya, Gio masih menunggu Ara dengan tenang. Banyak karyawan yang kebetulan lewat memandang Gio dengan berbagai tatapan. Tatapan kagum sekaligus bingung karena pemilik perusahaan lebih memilih diluar daripada menunggu didalam. Gio melirik jam tangannya, Jam sudah menunjukkan hampir pukul 4 sore tapi Ara belum juga keluar. Ini sudah jam pulang kerja bahkan sebagian karyawan sudah pulang sedari tadi.


"Ck Ara mana sih", decak Gio. Ini sudah waktunya pulang, belum lagi cuaca sedang tidak bagus, selalu mendung sedari tadi siang.


"Apa selalu pulang telat gini", tanya Gio pada dirinya sendiri.


"Kantor sudah sepi", gumamnya.


Saat hendak menelfon Ara, gerakannya terhenti ketika orang yang sedari tadi dia tunggu muncul di pintu masuk dan menatapnya dengan senyuman manis dan mata berbinar.


"Gio..", teriak Ara girang dan berlari menuju Gio.


"Jangan lari-lari nanti jatuh", peringat Gio yang bahkan tak di dengar Ara.


"Ehh...", Gio sedikit terhuyung karena menahan tubuh Ara yang langsung menerjangnya dan terkekeh pelan. Entahlah sejak kejadian kemarin Ara jadi lebih manja padanya.


"Udah lama ?", tanya Ara mendongak menatap Gio dengan tangan yang masih memeluk pinggang Gio.


"Emmm hampir sejam", jawab Gio santai.


"Baru hampir, bukan sejam", kata Ara membuat Gio tersenyum gemas.


"Kangen", lanjut gadis itu memeluk erat tubuh Gio, menenggelamkan wajahnya didada bidang laki-laki itu.


"Kok jadi manja gini ?", tanya Gio sedikit bingung dengan perubahan Ara tapi juga senang.


"Gak tau, mau aja", sahut Ara.


"Mau pulang atau pelukan disini sampai malam ?", tanya Gio.


"Sebentar", jawab Ara kembali mengeratkan pelukannya.


Terjadi keheningan beberapa saat, sibuk dengan pikiran masing-masing. Gio mengusap lembut rambut panjang Ara, sesekali mencium puncak kepala gadis itu. Setelah beberapa menit berlalu, Ara melepaskan pelukannya dan beralih menggenggam tangan Gio.


"Ayo pulang", ajak Ara.


Gio mengangguk saja lalu beralih membukakan pintu mobil untuk Ara. Setelah memastikan Ara duduk tenang, Gio berputar dan ikut masuk kedalam mobil. Tak menunggu lama, Gio melajukan mobilnya membela jalanan kota yang sedikit padat tak menyadari sedari tadi keduanya diamati diam-diam dari kejauhan.


"Mereka kok tambah lengket aja", celetuk Rania.


Hari ini entah bagaimana caranya dia tiba-tiba bersama Ken. Laki-laki itu tiba-tiba memaksanya bertemu hingga akhirnya disinilah mereka sekarang.


"Kalau gini mah mereka makin susah dipisahinnya", kata Rania lagi.


"Biar gimana pun, mereka tetap bakal susah dipisahin", celetuk Ken yang kini ikut melajukan mobilnya.


"Kenapa ?", tanya Rania menoleh menatap Ken.


"Gio bukan tipe laki-laki seperti itu. Dia laki-laki yang sekali sayang ke orang akan terus dia jaga dan gak akan pernah dia lepas", jawab Ken datar.


"Terus gimana ? gue gak mau ya kak mereka bersatu", kata Rania.


"Bukan cuma lo tapi gue juga. Sampai kapanpun, gue gak bakal biarin Gio ambil punya gue", sahut Ken.


"Kalau Gio gak bisa ninggalin Ara, kita buat Ara yang ninggalin Gio", lanjut laki-laki itu. Bahkan saat ini dia terlihat lebih tenang.


"Gimana caranya, sedangkan Ara aja udah sayang banget sama Gio", tanya Rania penasaran.


"Berhenti menganggu mereka kedepannya....", ucapan Ken terpotong saat Rania langsung menyela begitu saja.


"Kalau gitu mereka gak bakalan jauh, malah makin lengket dan susah dipisahin nantinya", celetuk Rania kesal.

__ADS_1


Ken menghela nafas pelan berusaha tidak emosi dengan gadis disampingnya ini.


"Baiklah, lakukan apa yang lo mau tapi jangan pernah menyakiti Ara. Setelah gue, Ara dan Gio wisudah, gue bakal kasi tau lo apa yang harus kita lakukan", kata Ken.


"Kelamaan", sahut Rania kesal.


"Gue gak mau ganggu kuliah Ara dulu, biar semuanya selesai dan kita fokus misahin mereka", kata Ken. Dia paham akan keinginan gadisnya itu dan sebisa mungkin dia tidak akan menganggungnya.


"Tinggal 1 sampai 2 bulan kedepan Rania, sabar. Setelah hari itu gue pastikan bukan Gio yang melepas Ara, tapi Ara sendiri yang akan pergi dan saat itulah kita berperan penting", jawab Ken. Sebenarnya laki-laki ini jengah dengan Rania yang tidak pernah sabar dalam hal ini, selalu menerornya meminta agar menjauhkan Ara dari Gio. Apa dia pikir semudah itu.


"Lo punya rencana lain ?", tanya Rania menatap Ken dengan tatapan menyelidik.


"Kita tinggal tunggu tanggal mainnya", sahut Ken tersenyum miring.


...--🌺🌺🌺--...


"Kita makan dulu, terus temani aku ke supermarket baru setelah itu aku antar pulang", kata Gio yang kini sudah berdiri disamping mobilnya yang terparkir di parkiran apartemennya.


Yaah Gio membawa Ara kesini untuk ganti baju, niatnya mau makan bersama di apartemen tapi bahan makanan sudah habis.


"Ya udah, ayo", ajak Ara.


Keduanya masuk kedalam mobil dan berlalu meninggalkan apartemen dengan kecepatan sedang.


"Gimana sama hari ini, ada cerita apa?", tanya Gio fokus pada jalanan. Satu tangan laki-laki itu sudah menggenggam tangan Ara dengan erat.


"Not bad. Semuanya baik-baik aja, pekerjaan lancar, aku juga makin bisa berbaur", kata Ara penuh semangat. Percayalah, hanya sesederhana itu tapi apa yang Gio lakukan mampu membuat Ara bahagia luar biasa.


"Kalau kamu gimana ?", tanya Ara menatap Gio dengan tatapan berbinar.


"Sama aja", sahut Gio pendek.


"Abang kamu gak ngasih kerjaan lebih lagi ?", tanya Ara.


Abang yang Ara maksud adalah Aresal, kakak sepupu kekasihnya. Gio memang memanggilnya abang karena umurnya yang lebih tua satu tahun dari Gio. Gadis itu sedikit tahu tentang magang Gio setiap hari karena laki-laki itu yang biasanya bercerita padanya. Bahkan hal-hal kecil selalu Gio ceritakan pada Ara setiap malam sebelum tidur.


"Lagi bahagia kali dia, makanya gak nyiksa aku dulu", lanjut laki-laki itu masih fokus pada jalanan.


Sepupunya itu sepertinya memang kekurangan akhlak, bisa-bisanya dia menyuruh Gio yang notabenenya karyawan magang untuk mengerjakan pekerjaannya sebagai CEO dan dia enak-enakkan pacaran dengan sekertarisnya yang memang tunangannya itu.


"Emang gak ada akhlak sih dia", celetuk Gio lagi membuat Ara memukul lengan laki-laki itu keras.


Gio menoleh menatap Ara yang juga menatapnya horor, "tuh kan kdrt mulu", kata Gio.


"Siapa yang ajarin ngomong kayak gitu ?" tanya Ara menyelidiki.


"Arsal", jawabnya santai.


"Emm gak heran sih Arsal kan emang rada-rada..."


"Iih jangan ngomongin dia, ntar telinganya panas", potong Gio membuat tawa Ara pecah.


Sedangkan yang menjadi bahan ghibahan pasangan itu, tengah duduk anteng didepan tv sembari menonton film kartun spons berwarna kuning kesayangannya.


"Kok telinga gue panas", gumam Arsal mengusap telinganya.


"Gak salah lagi, Gio lagi ghibahin gue nih pasti",


...---πŸ’—πŸ’—πŸ’—---...


"Beli sayur ya", kata Ara menatap Gio. Keduanya kini berada di supermarket setelah makan tadi.


Gio hanya mengangguk mengamati Ara yang sedari tadi sibuk memilih bahan makanan yang akan mengisi lemari es di apartemennya.

__ADS_1


"Jangan kebanyakan beli yang instan, gak baik buat kesehatan kamu", kata Ara lagi. Matanya fokus memilih bahan makanan tapi mulutnya tak henti berbicara ini dan itu hanya sekedar bertanya atau mengingat Gio hal-hal kecil seperti ini.


"Beli sayur aja, daging, atau ikan. Jangan selalu makanan siap saji atau instans kayak gitu. Dikulkas juga masih banyak makanan instan", gadis itu tak henti-hentinya bercerocos meski Gio sama sekali tidak menyahut.


"Kamu kan bisa masak, kenapa harus makanan siap saji yang selalu kamu makan", kata Ara lagi. Dia tahu Gio bisa memasak karena beberapa hari yang lalu dia melihat sendiri Gio berkutat dengan alat dapur di apartemen.


Ara berjalan menyusuri beberapa rak yang terdapat berbagai macam cemilan, tanpa sadar sudah meninggalkan Gio yang sedari tadi hanya memperhatikannya.


"Hai, Ra. Kita ketemu lagi", sapa seseorang membuat Ara berbalik lalu detik berikutnya matanya membulat sempurna mengetahui siapa yang datang menemuinya. Mereka, Ken dan Rania. Entah bagaimana caranya mereka bisa bertemu ditempat ini.


"Kamu sama siapa kesini ?", tanya Ken basa basi, padahal dia tahu Ara datang kesini dengan siapa.


"Sayang, udah belum", kata seseorang yang datang berjalan mendekat, mendahului Ara yang hendak menjawab pertanyaan Ken.


Menyadari ada orang yang berdiri bersama Ara sekarang membuat tatapan datar dan dingin laki-laki itu menyorot kedua makhluk yang ada didepan Ara.


"Udah semua ?", tanya Gio mengambil alih keranjang yang sedari tadi Ara pegang. Laki-laki itu tanpa ragu sedikitpun menggenggam tangan Ara seolah tak ada orang lain disana.


"Hai Gio, long time no see. Gimana kabar lo?", tanya Ken yang bahkan tak dipedulikan Gio sama sekali, laki-laki itu sibuk menatap Ara yang menatap Rania dan juga Ken bergantian.


"Mau pulang sekarang ?", tanya Gio lembut.


"Aku....", lagi-lagi ucapan Ara terpotong, kali ini Rania yang angkat bicara.


"Kalian berdua pacaran ?", tanya Rania, meski sudah tau jawabannya.


Gio menoleh dan menatap kedua orang itu dengan datar.


"Kalau iya kenapa ?", kata Gio santai.


"Ohh jadi ini alasan lo gak mau tadi pagi ?", tanya Rania beralih menatap Ara. Dapat Gio rasakan, genggaman tangan Ara mengerat.


"Aku udah pacaran sama Gio hampir sebulan ini", kata Ara berusaha jujur pada Rania.


"Sebulan ? Waw, lo gak tau aja gue udah berusaha ngejar dia hampir dua tahun belakangan", kata Rania ketus membuat Ara mematung ditempatnya.


"Ternyata gini tingkah lo sekarang?", kali ini Ken yang bertanya pada Gio.


"Mencampakkan orang yang berjuang buat lo dan merebut punya orang", kata Ken tersenyum miring.


"Setau gue Gio adalah orang yang menghargai orang lain terutama perempuan tapi sekarang apa?", tanya Ken lagi.


"Punya orang ?, Maksud lo pacar gue punya orang lain ?", tanya Gio santai.


"Gue gak pernah merasa merebut siapapun atau apapun dari orang lain", lanjut Gio menatap Ken dingin.


"Kalau kalah saing, bilang", celetuknya. Entahlah sepertinya virus Arsal sudah berhasil menular padanya. Mendengar celetukan Gio, Ara berusaha menahan agar tidak tertawa, bukan apanya, lihat saja penampilan Gio yang cuek dan dingin lalu tiba-tiba berceletuk seperti itu. Ini terdengar lucu untuk Ara.


"Ohh satu lagi, gue cuma menghargai orang yang juga menghargai gue. Lo belum tau seperti apa gadis ini, kalau lo tau apa yang udah dia lakuin ke adik lo, gue jamin lo bakal nyesel baik sama dia", kata Gio membuat Ken sejenak terdiam. Dia paham betul siapa yang Gio sebut dengan 'adik', yah orang itu adalah Gea. Percaya atau tidak, Ken juga begitu menyayangi gadis itu bahkan meski dia membenci Gio tapi rasa sayangnya pada Gea sama sekali tidak berkurang.


Kini tatapan Ken beralih pada Ara yang sedari tadi hanya diam sembari menggenggam tangan Gio erat.


"Lo emang bisa hidup sama seseorang yang selalu dibayang-bayangi sama masa lalunya ?", tanya Ken membuat Ara mengerutkan keningnya.


"Lo tau, Gio cuma jadiin lo pelarian karena gak bisa lepas dari masa lalunya", lanjut Ken berhasil memancing amarah Gio.


"Jangan asal bicara, emang lo tau apa?", tanya Gio.


"Gue tau semuanya Gio....",


"Banyak hal yang anda tidak tau Tuan muda Kenneth Leondra. Lo cuma sok tau", kata Gio tajam memotong ucapan Ken.


"Lo mending introspeksi diri sebelum lo jatuhin gue. Kalau gak tau apa-apa jangan sok tau segalanya", pandangan Gio beralih pada Rania yang masih menatapnya.

__ADS_1


"Dan lo, gue udah bilang jangan pernah ganggu hidup gue lagi. Gue rasa alasannya udah jelas, jadi jangan merasa paling tersakiti disini", kata Gio tajam lalu beralih menarik tangan Ara meninggalkan Ken dan Rania yang masih terdiam karena ucapannya. Gio memilih pergi bukan karena takut tapi dia rasa sudah terlalu banyak mengeluarkan kata-kata untuk dua orang itu, dia muak sekali.


...---To Be Continued---...


__ADS_2