Perjalanan Cinta CEO Muda

Perjalanan Cinta CEO Muda
Part 12. Jalan-jalan


__ADS_3

"Naik motor, gak papa kan ?", tanya Gio.


Setelah berbagai alasan, laki-laki itu akhirnya berhasil mengajak Ara jalan-jalan meski dengan sedikit paksaan. Keduanya kini berada dihalaman rumah Gio, entah kenapa Gio hari ini ingin sekali memakai motornya yang sudah lama menganggur digarasi rumah.


"Gak papa kali, kayak apa saja", jawab Ara tersenyum.


Saat hendak menaiki motor, Gio mengamati penampilan Ara dari atas sampai bawah. Gadis itu hanya menggunakan baju dress sederhana selutut yang sedikit tipis. Gadis itu memang belum mengganti pakaiannya sedari kuliah tadi.


"Tunggu. Ikut aku dulu", kata Gio kembali turun dari motor besarnya lalu menarik Ara memasuki kembali rumah besarnya.


Laki-laki itu membawa Ara menuju kamarnya yang belum pernah dimasuki perempuan selain bunda dan adiknya.


"K-kita m-mau ngapain kesini ?", tanya Ara gugup karena matanya menatap ruangan luas didepannya setelah Gio membuka pintu.


"Ganti baju, ngak mungkin kan kamu pake baju itu seharian, pasti lengket", kata Gio lalu menarik gadis itu masuk kedalam kamarnya.


"I-iya t-tapi....", mata Ara menatap kamar Gio yang terbilang sangat luas itu. Warna hitam, putih dan abu-abu sangat mendominasi disana.


"Udah gak papa. Gea kayaknya pernah naruh celananya disini, kamu bisa pake kaos dan hoodie aku juga", kata Gio sambil melangkah kearah lemari dan memeriksa isi lemarinya.


Benar saja, celana milik adiknya masih tersimpan rapih disana, Gio mengambil celana cargo berwarna hitam itu lalu mengambil kaos putihnya dan juga hoodie dengan warna senada dengan kaos yang dia ambil tadi.


Gio menatap pakaian yang dia keluarkan tadi, lalu menatap Ara yang nampak gugup didepannya.


Ini mah style Gea, bukan Ara, batin Gio.


Melihat Ara dengan sifat feminimnya, berbanding terbalik dengan baju yang dia keluarkan.


"Eeeem, ini gak papa kamu pake baju kayak gini ?", tanya Gio.


Kening Ara berkerut mendengar penuturan Gio.


"Memangnya kenapa kalau pakai itu, gak pantas yah ?", kata Ara balik bertanya.


"Bukan gitu", balas Gio cepat. "Hanya saja, k-kalau aku liat kamu suka pake dress gitu tapi aku ngasihnya baju kayak gini, emang nanti bakal nyaman ?", tanya Gio mengusap tengkuknya.


Ara tertawa pelan setelah mengerti maksud Gio, dia memang suka memakai dress tapi bukan berarti dia tidak nyaman memakai celana seperti itu, dia memang tipe cewek feminim tapi bukan berarti dia tidak biasa memakai pakaian yang terkesan tomboi seperti itu.

__ADS_1


"Gak papa kali, sini aku ganti. Jangan permasalahin soal baju, nanti jalannya kemalaman", kata Ara menyahut baju yang ada ditangan Gio.


"Ini kamar mandinya dimana ?", tanya Ara.


Gio tersenyum simpul lalu menunjuk pintu yang tepat berada dibelakang gadis itu.


"Aku ganti baju dulu", pamitnya yang diangguki Gio.


***********


Setelah Ara selesai mengganti pakaiannya, keduanya turun menuju pintu utama. Belum juga sampai, suara dari ruang tengah menghentikan langkah keduanya.


"Mau kemana ?", tanya Vio menatap keduanya bergantian.


Vio yang sedang menonton acara TV diruang tengah tak sengaja melihat keduanya berjalan beriringan. Kebingungan Vio semakin menjadi-jadi saat dengan entengnya Gio memasukkan seorang gadis kedalam kamarnya yang bahkan dia dan Gea saja kadang dilarang masuk jika tidak memiliki keperluan penting.


"Jalan-jalan, bund", jawab Gio santai.


Vio menatap Ara dari atas sampai bawah membuat gadis itu menunduk takut sekaligus gugup. Dia bukan takut dimarahi atau sejenisnya, dia hanya takut direndahkan karena dia yang berasal dari keluarga kalangan bawah dengan beraninya memakai pakaian yang Gio berikan tadi.


"Cantik", celetuk Vio.


"Ini udah sore banget bang, hampir magrib, sholatnya nanti gimana, makan malamnya juga gimana ?", tanya Vio menatap putranya. Meskipun sudah besar, Vio tidak pernah bosan mengingatkan anak-anaknya untuk menunaikan kewajiban mereka sebagai seorang manusia.


"Bisa sholat dijalan, bisa makan dijalan juga. Udah ah, Ara harus abang antar pulang cepat nanti jadi sebelum itu Ara sama abang mau jalan-jalan dulu", jawab Gio.


"Nanti kemalaman", lanjutnya.


"Ya sudah sana", kata Vio kembali mengalihkan pandangannya pada tv didepannya.


Tapi sebelum itu, suara Vio kembali menghentikan langkah keduanya.


"Abang sini dulu deh", panggil Vio. Wanita paruh baya yang masih begitu cantik itu mengkode putranya agar sedikit mendekat padanya.


"Apa lagi bunda ku sayang", decak Gio tapi tetap mendekati bundanya.


"Baru kenal tapi udah berani ngajak jalan. Bagus juga star kamu", kata Vio berbisik.

__ADS_1


Mendengar itu, pandangan Gio beralih menatap Ara yang sedang sibuk mengamati beberapa bingkai foto yang terpajang di dinding ruang tengah itu.


"Kan katanya bunda suka, abang juga suka jadi mulai pendekatannya sekarang aja", sahut Gio.


"Bagus, bunda doakan yang terbaik", kata Vio masih dengan berbisik.


"Harus bunda, abang butuh doa dan restu bunda", sahut Gio terkekeh pelan.


"Atau mau sekalian bunda lamarkan besok",


******


Setelah cukup lama, diperjalanan dan sempat singgah untuk melaksanakan kewajibannya sholat magrib, kini keduanya sudah sampai di tempat tujuan.


Malam ini Gio membawa Ara kesebuah pasar malam. Gio suka kebisingan ? Sebenarnya tidak tapi mendengar Ara mengatakan jika dia ingin mengunjungi pasar malam sekali-kali itulah alasan kenapa Gio membawanya kesini sekarang. Tidak jauh dari pasar malam, tepatnya ditaman yang bersebrangan dengan tempat mereka sekarang, ada acara pentas seni kecil-kecilan membuat area ini semakin ramai.


"Ayo", aja Gio setelah turun dari motornya.


"Sebentar, ini pengaitnya susah dilepas", sahut Ara yang masih berusaha melepas pengait helm yang dia gunakan.


Tanpa pikir panjang, Gio membantu Ara melepas helmnya. Nafas Ara tercekat, dengan jantung yang berdebar kencang. Posisi yang begitu dekat dengan Gio membuat jantungnya tidak bisa dikondisikan. Dia hanya berharap suara detakan jantungnya tidak didengar oleh laki-laki dihadapannya ini.


Dengan posisi sedekat ini, Ara dapat melihat wajah tampan dan tegas laki-laki yang baru beberapa hari ini dia temui. Wajah seriusnya saat membantu Ara terlihat jelas. Bulu mata lentik, alis tebal, mata tajamnya yang berwarna kecoklatan, hidung mancung, bibir yang tidak terlalu tebal dengan rahang tegas membuat makhluk ciptaan Tuhan yang satu ini begitu sempurna dimata Ara.


"Udah puas mandanginnya?", tanya Gio dengan senyum mengejek.


Ara mengerjakan matanya beberapa kali lalu mengalihkan tatapannya malu kepergok memperhatikan wajah laki-laki dihadapannya ini. Gio terkekeh pelan lalu menggandeng tangan Ara untuk masuk lebih dalam ke area pasar malam setelah meletakkan helm Ara.


"Ayo", ajaknya sambil melangkah dan menggandeng tangan gadis itu.


"Aku emang ganteng, gak usah diliatin sampai segitunya", kata Gio sambil terus melangkah beriringan dengan Ara. Sedangkan Ara, gadis itu hanya tersenyum simpul dengan pipi memerah malu membuat Gio jadi gemas sendiri, ditambah lagi hoodie kebesaran yang dia pakai semakin menambah kesan menggemaskan pada gadis itu.


"Gemas banget sih", katanya sambil mencubit pipi Ara pelan.


Bundaaa jantung Ara mau copot, batin Ara menjerit.


"Nanti kalau udah nikah, kamu bebas liatin kapan aja", lanjutnya.

__ADS_1


...----------------...


...**see you soon**...


__ADS_2