Perjalanan Cinta CEO Muda

Perjalanan Cinta CEO Muda
Part 92. Teror


__ADS_3

Ara duduk diam di atas brankarnya. Menatap jendela ruang rawatnya dengan tatapan kosong. Genap sudah tiga hari dia menginap di klinik dan hari ini dia sudah boleh pulang dengan beberapa syarat dari dokter Anin yang diantaranya harus banyak istirahat, makan-makanan yang bergizi serta memperbanyak minum air putih. Ara hanya mengangguk mengiyakan. Setelah kejadian kemarin, Ara lebih banyak diam dan melamun. Tak banyak kata yang dia keluarkan. Dia hanya berbicara seperlunya. Bahkan jika ditanya dia hanya akan mengangguk atau menggeleng sebagai jawaban. Helaan nafas berat entah sudah berapa kali dia hembuskan. Rasanya begitu sesak setiap kali mengelus perutnya yang kembali rata. Ibu mana yang akan baik-baik saja setelah kehilangan anaknya. Apalagi anak itu adalah satu-satunya yang dia punya.


Atensi Ara teralih pada sosok perempuan dengan balutan dress rumahan masuk kedalam ruangannya. Siapa lagi jika bukan Aura. Hanya dia yang ada untuk Ara selama beberapa hari ini dia dirawat. Aura tak pernah lelah atau hanya sekedar mengeluh. Dia terlihat begitu menikmati waktunya menjaga Ara.


"Udah makan?" tanya Aura setelah sampai didepan Ara.


Ara hanya mengangguk dan kembali menatap jendela ruang inapnya. Aura menghela nafas pelan melihat Ara yang sekarang jadi pendiam. Meski perempuan itu bukanlah perempuan yang cerewet, tapi tetap saja Ara tak sependiam itu.


"Kita pulang sekarang atau masih mau nginap semalam?" tanya Aura sambil membereskan beberapa barang-barang Ara.


"Sekarang," jawab Ara datar terus memperhatikan pergerakan Aura yang membantunya memberikan barangnya.


"Kak,"


Aura menoleh menatap Ara saat perempuan itu memanggilnya. Aura tersenyum tipis dan berjalan mendekat. Berdiri dihadapan Ara yang duduk di brankarnya. Ara mendongak menatap Aura yang juga menatapnya dengan senyum tulus.


"Terima kasih," ujar Ara menatap Aura.


"For what?" tanya Aura.


"Segalanya. Terima kasih karena selalu peduli sama aku, walaupun aku bukan siapa-siapanya kakak tapi kakak selalu bantu aku, selalu nolong aku dan selalu ada buat aku," jawab Ara.


Senyum tipis terukir dibibir ranum perempuan itu. Elusan lembut pada kepala dirasakannya.


"Kamu udah kakak anggap seperti adik aku sendiri. Jadi, sebagai kakak, aku harus selalu ada buat adik aku gimanapun keadaannya," ujar Aura tulus.


"Ayo ah, kenapa jadi mellow gini. Let's Go, kita pulang. Aku gak suka disini, bau obat," lanjut Aura terkekeh pelan lalu menggenggam tangan Ara, menarik pelan perempuan itu untuk bangkit dan segera pulang.


Keduanya berjalan beriringan hendak keluar dari dari ruangan itu, namun langkah keduanya terhenti saat mereka berbalik dan menatap seseorang yang sedang berdiri diambang pintu menatap keduanya dengan senyum tipis.


"Aldi," panggil Ara pelan.


"Udah bisa pulang ternyata, aku antar ya," tawar Aldi yang langsung diangguki Aura dengan semangat.

__ADS_1


"Let's Go, mari pulang," ujar perempuan itu semangat.


Ara menoleh pada Aura yang menyengir lebar pada Aldi yang hanya menatapnya malas. Apa mereka berdua sudah sedekat itu, batin Ara.


Ara hanya mengangguk lalu merangkul lengan Aura mengajaknya untuk pergi dari sana, meskipun sebenarnya tidak perlu repot-repot karena klinik dan rumah Ara tidak terlalu jauh. Selama perjalanan pulang, Ara sama sekali tak bersuara. Dia hanya diam memperhatikan suasana diluar lewat kaca mobil. Suasana didalam mobil hanya diisi oleh suara Aura yang bernyanyi kecil mengikuti alunan lagu dari radio mobil Aldi. Sedangkan Aldi juga ikut terdiam dan sesekali mengamati Ara yang duduk di kursi belakang dengan raut datar dan tatapan kosongnya. Aldi menghela nafas pelan, bisa dipastikan dia akan semakin sulit membuka pintu hati Ara sekarang.


...💔💔...


Ken dan Arsal duduk saling berhadapan diruang kerja Ken. Keduanya sibuk membaca lalu menandatangani beberapa dokumen yang memang perlu untuk ditandatangani. Arsal sebenarnya sudah diberi kantor sendiri untuk dia kelola, namun dia lebih memilih bekerja bersama Ken entah apa alasannya.


"Ck, ini kertas cuma kertas yang sekali tarik langsung sobek tapi bikin pusing minta ampun," gumamnya mengamati dokumen yang dia pegang.


"Ini juga. Gunanya apa sih, cuma angka-angka doang. Udah tau otak gue gak nyampe kalau hitung-hitung begini. Kalau ngitung uang langsung, gue jagonya," celetuknya lagi saat berpindah pada dokumen laporan keuangan perusahaan bulan ini.


"Apaan cuma ngitung angka gini, uangnya gak kelihatan. Istilahnya tuh gini, gue ngitung uang goib," monolognya.


Arsal terus berceloteh tanpa mengalihkan tatapannya dari dokumen yang dia pegang. Setiap berpindah ke dokumen yang lain, mulut julidnya itu tak pernah berhenti mengomentari dan mencaci kertas-kertas yang dia pegang.


"Halah, surat persetujuan. Apaan, kantor emang butuh banget apa yang kek gini, mending persetujuan nikah, yee kan,"


"Nanti gue kalau udah nikah sama Naya gimana ya?" tanyanya mengelus dagunya sok berfikir.


"Naya kan polosnya kebangetan. Bego malah, kalau malam pertama dia mau gak ya langsung gue gas, gimana kalau gak mau. Dia kan gak ngerti apa-apa soal gituan. Atau gue ajarin aja dulu sebelum menikah, nah setelah menikah dia paham deh dan bisa langsung gue gas,"


"Anak gue sama Naya nanti gimana ya, pintar kayak gue atau goblok kayak Naya. Tapi yang jelas kalau dia cowok pasti tampanlah kayak gue, kalau cewek yaa cantiklah kayak emaknya,"


Arsal terus berceloteh. Benar-benar random pemikiran laki-laki itu. Awalnya dari dokumen sampai dibentuk anaknya nanti.


"Goblok," ucapan singkat itu membuat Arsal mendongakkan kepalanya menatap Ken yang duduk dihadapannya, masih fokus membaca beberapa dokumen yang akan dia bawa untuk meeting hari ini.


Meskipun sedari tadi diam, tapi bukan berarti dia tidak mendengar semua ucapan random adiknya yang tak pernah diam itu. mengumpat mengatakan jika kekasihnya bego padahal dia sendiri pun sama, Sama-sama bego.


"Lo yang goblok, dari tadi diam mulu," kesal Arsal.

__ADS_1


"Daripada gue ngomong sendiri kayak orang bego," jawab Ken pedas.


"Perasaan gue ngomong dalam hati, kok Ken bisa dengar," gumamnya sangat pelan.


Arsal hanya mendengus kesal pada Ken yang datarnya minta ampun jika bersamanya seperti ini. Diantara ketiganya, Ken dan Gio lah yang paling kaku sedangkan dirinya yang paling aktif. Arsal menghela nafas pelan, mengingat Gio membuatnya jadi rindu sahabatnya itu. Entah bagaimana keadaannya sekarang, Arsal tak pernah mendapat kabarnya lagi. Dan karena itu pula, kegiatannya mencari Ara sudah dia hentikan beberapa waktu lalu. Semuanya kembali seperti tak pernah terjadi apa-apa meski sebenarnya dia merasa ada yang mengganjal dari semua rentetan kejadian yang menimpa mereka.


Keduanya kembali fokus pada pekerjaan masing-masing, hingga suara pintu ruangan Ken diketuk beberapa kali mengalihkan atensi mereka. Ken berteriak menyuruh orang itu untuk masuk namun beberapa menit menunggu, orang itu tak kunjung masuk. Justru ketukan pada pintu ruangannya kembali terdengar dan seperti seseorang yang terburu-buru. Ken berdecak sebal lalu menatap Arsal yang menatapnya penuh permusuhan. Dia tahu pasti sebentar lagi Ken akan mengeluarkan satu kata yang membuatnya jengkel bukan main.


"Buka,"


Sudah Arsal katakan, bukan? Dan benar saja, Ken dengan seenak jidat menyuruh Arsal yang bodohnya langsung berdiri menuju pintu meski dengan mulut yang terus mengomel.


Ken mengerutkan keningnya menatap Arsal yang kembali setelah membuka pintu. Hal yang semakin membuatnya bingung adalah adik laki-lakinya itu membawa sebuah kotak berukuran sedang yang langsung diletakkan diatas mejanya dengan kesal.


"Noh paket lo, dibuka katanya dari istri lo," kata Arsal lalu kembali duduk dan fokus pada kerjaannya.


Sedangkan Ken menatap kotak itu dan benar saja ada surat yang tertempel di atas kotak tersebut dan nama yang tertera adalah nama istrinya. Ken semakin bingung, istrinya baru saja mengatakan sedang dalam perjalanan menuju kantornya lalu untuk apa dia mengirim paket seperti ini.


Setelah berfikir cukup lama, Ken memilih membuka kotak itu. Dia juga penasaran apa isi dari kotak tersebut. Setelah membuka kotak tersebut, Arsal dibuat kaget saat ken tiba-tiba membuang kotak itu hingga isinya berserakan ke lantai. Sebuah boneka dengan organ tubuh yang terpisah-pisah dan lumuran darah yang menjadi kado untuk Ken hari ini. Apa maksud dari semua ini.


Ken menatap Arsal yang juga menatapnya dengan tatapan yang mengisyaratkan tanya besar dikepala keduanya.


"Ini maksudnya apaan, siapa yang neror lo?" tanya Arsal.


"Gak tau," jawab Ken yang masih syok.


"Kok ada gituan, lo sering diteror seperti ini?" tanya Arsal lagi. Ken hanya menggeleng sebagai jawaban.


"Baru kali ini dan gue gak tau ini ada apa. Gue gak merasa memiliki musuh," jawab Ken setelah lama terdiam.


"Ada yang gak beres," gumam Arsal pelan.


...-To be continued-...

__ADS_1


__ADS_2