Perjalanan Cinta CEO Muda

Perjalanan Cinta CEO Muda
Part 34. rencana


__ADS_3


...---Happy reading---...


Dengan motor matic Vespanya yang baru saja dia ambil dari bengkel, Ara berkeliling kompleks hanya untuk menikmati udara dingin setelah hujan tadi. Malam ini Gio memberitahunya jika dia akan lembur, itu sebabnya dia memutuskan untuk me time. Biasanya jika Gio tidak ada kerjaan laki-laki itu akan menjemputnya untuk jalan-jalan atau hanya sekedar apel kerumahnya.


Dengan iringan lagu dari headsetnya, Ara menyusuri jalan disekitar kompleksnya. Dia berniat membeli martabak didekat lampu merah nanti.


"Meski bibir ini tak berkata bukan berarti ku tak merasa ada yang berbeda diantara kitaaa", Ara bernyanyi kecil mengikuti musik yang keluar dari headset berwarna pinknya itu.


Tepat dipertigaan depan, Ara membelokkan stir motonya ke kiri dan tepat sekali mobil putih dari arah berlawanan hampir menabrak Ara jika gadis itu tidak cepat-cepat menarik rem motornya.


"Huuuh hampir saja", kata Ara menghela nafas pelan. Ara menarik headset nya lalu memasukkan kedalam saku hoodienya.


Saat melihat mobil putih berhenti tepat didepan motornya, Ara memicingkan mata lalu menatap dengan kesal kendaraan besar dihadapannya. Ara turun dari motor dan langsung menggebrak kap depan mobil dengan keras.


"Keluar", kata Ara berkacak pinggang.


Tak cukup satu menit, pengendara mobil itu keluar dengan senyum tipisnya. Ara terkejut saat mengetahui siapa yang hampir saja menabraknya itu.


"Galak banget neng", sahut orang itu.


Ara mendengus dengan tatapan tajamnya, "kamu ngapain malam-malam gini keluar?. Bukannya kamu bilang lembur ?", tanya Ara.


"Kamu juga ngapain malam-malam gini keluar ?", tanya orang itu.


"GIOOOOO kalau di tanya tuh jawab, jangan nanya balik", kesal Ara. Benar, orang itu tidak lain Gio yang hendak menemui Ara.


Gio menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, Ara jika dalam mode galak begini terlihat menyeramkan tapi juga menggemaskan dalam waktu yang bersamaan.


"A-anu sayang....",


"Anu apa ?", tanya Ara.


"Iish kok jadi marah-marah", kata Gio cemberut.


Ara berfikir sejenak. Benar juga, kenapa dia jadi marah-marah seperti ini.


"Kamu sih, tadi kalau beneran ketabrak gimana ?", tanya Ara masih dengan mode kesalnya. Oke perempuan selalu benar, ingat itu.


"Gak sengaja sayang", sahut Gio menatap Ara teduh. Ini yang paling Ara suka, jika Gio bersamanya dan berbicara padanya, laki-laki itu selalu menatap matanya.


"Kenapa gak pake helm ?", tanya Gio melihat Ara yang berkendara tak menggunakan helm.


"Heheheh deket juga kan", kata Ara cengengesan. Kini bergantian dia yang akan jadi bahan amukan Gio.


Gio menyentil kening Ara membuat gadi itu meringis pelan.


"Iih kdrt", sahut Ara mengusap keningnya pelan membuat Gio tertawa pelan.


"Bahaya tau gak", kata Gio.


"Iya kapan-kapan pake kok", sahut Ara.


"Ya udah, kamu mau kemana ?", tanya Ara mengalihkan pembicaraan.


"Ketemu pacar", jawab Gio.


"Emang pacarnya kemana ?", tanya Ara jahil.

__ADS_1


"Gak tau", sahut Gio.


"Iiih ngeselin", kata Ara memukul pelan lengan Gio.


"Mau jalan gak, cantik?", tanya Gio membuat Ara berfikir sebentar lalu melirik jam tangannya. Jam baru menunjukkan pukul 8, oke tidak ada salahnya jalan-jalan sebentar.


"Ah kelamaan mikir", sahut Gio menarik tangan Ara pelan menuju motor gadis itu.


"Naik motor aku ?", tanya Ara.


"Ya iyalah, emang mau jalan kaki?", tanya Gio. Demi apapun, Ara begitu suka dengan Gio yang sekarang, banyak bicara dan begitu cerewet.


"Mobilnya, mas mau kemanakan?", tanya Ara menatap Gio yang sudah duduk anteng diatas jok motornya.


"Gak papa, disitu aja. Nanti ada yang jemput", sahut Gio.


"Ayo mbak. Sesuai aplikasi kan ?", tanya Gio lagi. Ara terkekeh pelan lalu ikut naik. Setelah dirasa siap, Gio menyalakan mesin motor dan menarik gas melaju dengan kecepatan sedang, tak menyadari seseorang yang kini menatap mereka dari jauh.


Rania Maheswari, gadis itu menatap dua orang yang sedang berboncengan motor dengan tatapan benci sekaligus terluka. Tadi saat hendak menemui Ara dan menanyakan semuanya, tak sengaja gadis itu melihat dua orang yang sedang berdiri ditengah jalan sepi. Awalnya Rania tidak begitu peduli tapi saat melihat motor yang begitu dia kenali, Rania berhenti dan terus memperhatikan keduanya. Dan yang paling membuat hatinya berdenyut nyeri adalah saat menyadari laki-laki yang bersama Ara. Laki-laki yang selalu dia kejar dan laki-laki yang begitu dia sukai. Apalagi saat mendengar percakapan keduanya dan Gio menyebut Ara dengan panggilan 'sayang'. Rania ingin membantah semuanya tapi apa yang dia lihat dan dia dengar sudah begitu menjelaskan ada apa diantara keduanya.


Rania kembali masuk kedalam mobilnya dan berlalu dari sana. Semuanya sudah jelas, ucapan Ken malam itu terus terngiang di telinganya bahkan kejadian tadi juga tidak hilang begitu saja dari ingatannya. Rania memukul stir mobilnya cukup keras. Dia tidak akan membiarkan seseorang mengambil apa yang sudah menjadi miliknya.


"Permainan dimulai", gumamnya pelan.


...---🌻🌻🌻---...


Ara menikmati suasana malam ini, dia suka hujan dan dia suka suasana setelah hujan seperti ini. Sepertinya mulai hari ini hujan akan sering datang menyapa penduduk bumi.


Ara mengeratkan pelukannya pada Gio. Keduanya dengan enteng berkeliling, sebenarnya Gio sudah menawari Ara untuk mampir di salah satu cafe langganannya, bahkan sudah memaksa tapi gadis itu selalu menolak dengan alasan dia hanya ingin berkeliling bukan mencari cafe atau sebagainya. Sedari tadi, keduanya hanya keliling komplek, bahkan Gio dengan berani masuk jalan raya tanpa menggunakan helm *jangan ditiru yaa guys*, untung tidak ada polisi yang berpatroli lagipula hanya sebentar, hanya membeli jajanan lalu kembali berkeliling dengan kecepatan sedang. Jajanan yang mereka beli pun sudah habis mereka makan dimotor tadi.


Gio menghentikan laju motonya lalu menepi dan memarkirnya saat hujan mulai kembali deras. Gio dan Ara berteduh di depan minimarket bersama beberapa orang juga. Gio menarik Ara agar lebih dekat dengannya. Bahkan laki-laki berdiri tepat dibelakang Ara membuat punggung Ara dan dada bidang laki-laki itu bersentuhan. Ara mendongak menatap Gio yang memperhatikan hujan.


"Kenapa ?", tanya Ara melihat tingkah Gio.


"Posesif yaa masnya", ledek Ara lalu kembali menatap kedepan.


Gio hanya terkekeh pelan dan semakin merapatkan tubuh mereka, lalu tanpa melepas jaket denim yang melekat ditubuhnya, Gio memeluk Ara dari belakang membuat tubuh mungil gadis itu ikut tenggelam dalam jaketnya.


"Iiish malu diliatin orang", kata Ara berbisik pelan.


"Ngapain malu", sahut Gio acuh.


Hujan semakin deras membuat Gio mengeratkan pelukannya agar gadisnya itu tidak kedinginan. Cuaca malam sedikit lebih sejuk ditambah hujan seperti ini akan semakin sejuk. Gio meletakkan dagunya dipuncuk kepala Ara tanpa malu sedikit pun, padahal ada beberapa orang yang sedari tadi memperhatikan mereka.


"Sayang", panggil Gio yang dibalas gumaman oleh Ara.


"Dingin gak? ", tanya Gio.


"Enggak, kan dipeluk sama kamu, pake hoodie juga jadi tambah hanget deh", jawab Ara.


"Raa", panggil Gio lagi.


"Apa sayang ?", jawab Ara pelan.


"Kamu bisa gak kejar kelulusan secepatnya?", tanya Gio membuat Ara mengerutkan keningnya bingung.


"Memangnya kenapa ?", tanya Ara sedikit memiringkan kepalanya untuk menatap Gio.


"Aku juga lagi usaha bisa lulus secepat mungkin, setelah itu aku lamar kamu", sahut Gio.

__ADS_1


"Mau ya ?", tanya Gio penuh harap yang dibalas anggukan kecil dan disertai senyum manis dari Ara.


Pembahasan ini bukan untuk yang pertama kalinya bagi Ara, beberapa kali Gio membahasnya lewat telfon, entahlah Ara juga tidak mengerti mengapa Gio ngebet menikah dengannya.


"Aku usahain", balas Ara. Hanya itu yang bisa dia katakan karena memang dia juga ingin segera lulus dan bekerja. Dia ingin membahagiakan neneknya dulu, setelah itu baru akan menikah.


"Setelah nikah nanti aku janji gak bakal membatasi kamu, bahkan kamu bisa bantu aku kerja diperusahaan", kata Gio membuat Ara tersenyum senang karena Gio benar-benar pengertian padanya.


"Tapi jangan dipaksain juga, aku bakal tunggu kok", sahut Gio.


Laki-laki itu sebenarnya ingin segera membawa hubungan mereka ke jenjang lebih serius tapi saat pertama kali mengatakan niatnya pada Ara, gadis itu mengatakan akan menyelesaikan kuliahnya dulu. Dan Gio setuju saja karena dia juga tidak ingin mengganggu pendidikan Ara saat ini. Bukan tanpa alasan Gio melakukan itu. Karena dalam agama pun tidak baik menunda rencana baik bukan dan melihat kepribadian Ara membuatnya semakin yakin dengan perempuan ini, terlebih lagi saat mengetahu sahabatnya Ken menginginkan Ara. Dia tidak mau kehilangan dan dia tidak mau orang lain mengambil Ara darinya.


"Ngebet banget pengen nikah", kata Ara tersenyum tipis.


"Biar kamu gak diambil orang", sahut Gio santai tapi berpengaruh besar untuk jantung Ara. Pipi Ara memanas membuat gadis itu kembali mengalihkan pandangannya kedepan.


Dia juga ingin hubungan mereka tidak jalan ditempat saja tapi apakah ini tidak terlalu cepat, apakah Gio yakin akan hal itu. Ara sedikit ragu, bukan ragu dengan perasaan Gio tapi ragu untuk melangkah dan menatap apa yang terjadi kedepannya. Untuk sekarang, dia hanya bisa berharap hubungannya tetap seperti ini, berjalan dengan baik. Meskipun dia paham pasti akan ada badai yang menerpa mereka nantinya, dia berharap bisa selalu bergandengan tangan dengan Gio untuk melewati itu semua.


Hujan mulai reda, hanya menyisakan gerimis kecil. Gio memutuskan membawa Ara pulang, dia tidak ingin gadisnya masuk angin karena terlalu lama diluar.


...---🌻🌻🌻---...


"Ngapain lo ngajak gue ketemuan ?", tanya Ken pada seorang gadis yang hanya menatapnya datar. Keduanya berada di salah satu cafe tak jauh dari kampus Rania.


"Gue mau ngomong sesuatu", sahut Rania.


Setelah meninggal kawasan rumah Ara tadi, gadis itu menghubungi Ken untuk bertemu, ada hal penting yang harus dia bicarakan dengan laki-laki ini dan sepertinya dia bisa menggunakan Ken untuk membantunya.


"Kemarin gue bilang mau bantu lo kan ?", tanya Ara. Ken mengangguk sekali sebagai jawaban.


"Gue berubah pikiran", lanjut gadis itu membuat Ken mengerutkan keningnya bingung tak mengerti maksud Rania.


"Ya udah, gue juga gak terlalu berharap lo bantu gue", sahut Ken kemudian.


"Bukan. Bukan itu maksud gue", sahut Rania menggeleng pelan.


"Terus ?", tanya Ken.


"Gue gak mau bantu lo, tapi gue mau kita bekerja sama", jawab Rania semakin membuat Ken bingung.


"Apa sih maksud lo. Bicara yang jelas, gue gak suka bertele-tele", sahut Ken sedikit ketus dan mengalihkan pandangannya keluar cafe.


"Lo suka Ara kan ?", tanya Rania, Ken mengangguk malas. Dia sudah tau kenapa masih bertanya.


"Gue juga suka Gio", lanjut gadis itu membuat Ken dengan cepat menatapnya.


"Maksud lo..."


"Ya, gue juga udah lama suka sama Gio. Sama seperti lo yang udah lama kejar Ara tapi gak pernah dilihat, itu sama kayak gue dan Gio. Singkatnya kita punya masalah yang sama", potong Rania cepat.


"Gue mau kita kerja sama pisahin mereka dan yaa keuntungannya bukan cuma buat gue tapi juga buat lo. Kalau kita berhasil lo dapatin Ara dan gue dapatin Gio, adil bukan ?", tanya Rania.


Ken menatap Rania tidak percaya, sungguh permainan semesta begitu mengejutkan, bagaimana bisa dunia mereka bisa sesempit itu.


"Gue setuju tapi dengan satu syarat", sahut Ken.


"Apa ?",


"Gak ada yang boleh menyakiti satu sama lain. Lo gak boleh nyakitin Ara begitupun gue gak bakal nyakitin Gio, kita cuma pisahin mereka, gimana ?", tanya Ken.

__ADS_1


"Deal", sahut Rania tersenyum tipis.


...---To Be Continued---...


__ADS_2