
Gio sejak tadi entah kenapa sama sekali tidak mau lepas dari Ara barang sedikit pun. Laki-laki itu bahkan memaksanya mandi bersama saking tidak mau berjauhan dari istrinya. Entahlah Ara juga bingung. Gio memang manja jika bersamanya namun entah kenapa hari ini manjanya laki-laki itu sedikit berbeda, tak melihat Ara 5 menit saja membuatnya uring-uringan sendiri.
Keduanya masih berada di desa dan akan berencana jalan-jalan sebentar sebelum pulang nanti. Namun, tingkah Gio yang tak mau lepas membuat Ara sedikit kewalahan.
"Ayo jalan-jalan," ajak Ara yang sudah berdiri di depan Gio yang duduk di sofa.
Laki-laki itu mendongak menatap lamat pada wajah cantik istrinya. Tangannya terulur mengelus perut buncit sang istri.
"Bentar yaa," sahut Gio mencium perut Ara.
"Kenapa sih, dari tadi kayak gelisah terus. Ada yang ganggu pikirannya?" tanya Ara mengelus rambut Gio.
Gio hanya menggeleng pelan, masih dengan aktivitasnya. Dia sendiri juga tidak tahu ada apa dengan dirinya sampai membuatnya seperti ini. Dia hanya tidak bisa jika tidak melihat istrinya sebentar saja, ada sesuatu yang mengganjal di hatinya dan itu membuatnya tidak enak.
"Kamu gak papa kan?" tanya Ara kembali memastikan.
Gio hanya mengangguk sebagai jawaban. Dia tidak ingin membebani istrinya dengan perasaan tidak nyaman yang entah apa alasannya.
"Kamu jangan jauh-jauh dari aku. Harus tetap disamping aku dan jangan pernah lepas tangan aku. Paham," perintah Gio.
"Emangnya kenapa?" tanya Ara.
"Ya jangan aja. Pokoknya kamu harus dengerin aku," sahut Gio.
Ara menghela nafas pelan dan mengangguk kecil. Lebih baik iyakan saja daripada terus bertanya dan membuat bayi besarnya itu kesal. Gio kalau sudah kesal ribet urusannya.
Cukup lama membiarkan Gio berada di posisinya, Ara akhirnya bernafas lega saat Gio melepaskannya dan mengajaknya berjalan-jalan sebentar. Iya, hanya sebentar karena mereka harus pulang. Walau sebenarnya Gio belum mau pulang tapi karena paksaan Ara akhirnya Gio mengalah dan mengikuti kemauan istrinya untuk pulang nanti.
Kini keduanya berjalan di tepi jalan menikmati indahnya hamparan kebun teh dan pegunungan yang berjejer. Udara sejuk menerpa kulit wajah Ara yang kini tersenyum bahagia. Untuk sementara dia melupakan kebisingan kota yang selalu dia hadapi setiap hari. Pun dengan Gio yang selalu berhadapan dengan laptop dan juga berkas setiap harinya.
"Senang?" tanya Gio yang sedari tadi menggenggam tangan istrinya.
"Seneng banget. Dulu, aku sering jalan-jalan kesini sama kak Aura. Setiap selesai checkup, dia ngajak aku jalan-jalan. Udara disini sejuk jadi bisa bikin tenang banget. Beda sama di kota," ujar Ara dengan binar dimatanya.
Melihat sang istri bahagia. Keduanya kini berada di bangku tepat pinggir jalan menghadap hamparan kebun teh milik warga. Beberapa orang yang lewat sesekali menyapa mereka yang dibalas senyum keduanya.
Tangan Gio kembali terulur mengelus perut buncit sang istri, entahlah dia suka sekali melakukan itu dan yang pasti dia selalu dibuat gemas oleh tingkah calon anaknya yang selalu merespon setiap kali dia memberi sentuhan pada perut Ara.
"Baby bakal mirip siapa ya, aku atau kamu?" celetuk Gio tiba-tiba.
"Ya akulah kan aku yang ngandung dia," jawab Ara.
"Tapi aku yang buat,"
"Eits, atas kerja sama berdua loh, kalau kamu lupa,"
Gio tertawa mendengar ucapan Ara, istrinya ini benar-benar sudah tidak malu-malu lagi padanya. Syukurlah, Gio menyukai itu.
"Udah siapin nama?" tanya Ara.
"Udah,"
"Siapa?" tanya Ara penasaran, menatap Gio yang juga menatapnya.
"Rahasia, nanti aja kalau baby udah lahir," jawab Gio tersenyum tipis, mencuri satu kecupan di pipi gembul istrinya.
"Dihhh main rahasia-rahasiaan," ujar Ara kesal mengalihkan tatapannya.
Gio terkekeh pelan lalu menangkup wajah Ara dan menguyel-unyelnya dengan gemas. Pipi istrinya semakin berisi membuatnya gemas sendiri.
"Ututututu mamanya marah nih," ledek Gio.
"Iish apaan sih," Ara memukul lengan Gio dengan bibir mencebik.
"Aaarrrggghhhh," teriakan itu tiba-tiba terdengar begitu keras dari mulut Ara saat Gio menggigit pipinya dengan gemas.
__ADS_1
"Kamu jangan main gigit-gigit aja. Sakit tau," kesal Ara menjauhkan wajahnya dari Gio yang menampakkan wajah tanpa dosanya.
"Iiiish kanibal," celetuk Ara lagi membuat Gio semakin tertawa dan langsung memeluk Ara dengan gemas.
"Gemesin banget calon mama," ujar Gio mencium pipi istrinya berkali-kali.
"Iiiihhh Gioooo, iler kamu nempel," ujar Ara mengusap-usap pipinya, hanya bercanda.
"Biasa juga berbagi," celetuk Gio berhasil mendapat pukulan dipunggungnya.
"Mulutnya," kesal Ara mencubit perut suaminya.
"Ampun sayang ampun. Iya, enggak lagi. Lepasin ihh sakit tau," Gio yang tertawa antara sakit dan geli berusaha menjauhkan tangan istrinya.
"Peluk aja gini," pintanya kembali memeluk Ara.
"Peluk-peluk mulu, gak bosan apa,"
"Enggak lah, yang dipeluk kan kesayangan,"
"Gombal,"
Keduanya kembali tertawa, menikmati setiap moment mereka berdua yang selalu memberi kehangatan di keluarga kecil mereka. Gio selalu mampu membuat Ara jatuh cinta padanya setiap hari dengan hal-hal kecil yang diberikan. Sedangkan Gio, jangan tanyakan lagi besarnya rasa sayang laki-laki itu pada istrinya. Dari dulu sampai sekarang, rasa itu benar-benar tidak pernah hilang atau surut bahkan seluruh bertambah setiap harinya. Jika masih ada kata diatas cinta, masih ada kata diatas syukur dan masih ada kata diatas beruntung mungkin itulah yang bisa menggambarkan perasaan Gio sekarang ini. Tuhan sangat-sangat baik padanya. Bersama Ara, perlahan tapi pasti Gio berhasil keluar dari gelapnya masa lalu. Sungguh, Gio menyanyangi Ara tanpa batas. Bahkan jika diberi pilihan untuk menukar nyawa mereka pun akan Gio lakukan, untuk Ara, wanitanya.
Sibuk menikmati suasana dan saling berbagi cerita, keduanya dikejutkan dengan kehadiran seseorang yang tiba-tiba muncul di hadapan mereka.
"Ara..." panggilan itu membuat bukan hanya Ara yang menoleh tapi Gio juga.
Melihat siapa yang mendatangi mereka, sepasang suami istri itu beranjak berdiri dengan Gio yang sudah memeluk erat pinggang Ara menunjukkan pada orang yang ada dihadapannya ini bahwa Ara adalah miliknya.
"Hai Aldi," sapa Ara.
Yah, orang itu adalah Aldi. Ara tidak tahu kenapa laki-laki itu ada disini yang jelas ini pertemuan ketiga mereka setelah Ara menikah. Ara menatap laki-laki tampan itu dengan senyum kecil sedangkan Gio hanya menatapnya datar seolah tak berminat.
"Suami kamu?" tanya Aldi melirik Gio.
"Aku mau minta maaf...."
"Gak masalah, aku udah lupain kok. Jangan dia bahas lagi. Kamu sejak kapan disini?" tanya Ara langsung memotong ucapan Aldi begitu saja. Dia tidak mau membahas hal yang kemarin membuat mereka berdebat kecil, malas rasanya jika harus membahas masa lalu. Toh, Ara sudah tak mempermasalahkannya lagi.
"Udah seminggu. Lagi pengen pulang aja, kangen bunda," jawab Aldi menggaruk tengkuknya canggung.
"Emmm aku pamit yaa, ada urusan bentar," Aldi memilih segera beranjak dari sana. Dia tidak enak pada Ara terlebih Gio yang sedari tadi hanya diam.
"Ya udah, salam buat dokter Anin," ucap Ara.
"Pasti. Aku pamit, sampai jumpa dan bahagia selalu Ra," setelah mengatakan itu, laki-laki berkulit putih itu langsung beranjak dan meninggalkan pasangan yang terdiam menatap punggungnya.
"Pulang yuk," jaka Ara.
"Hmm," Gio hanya bergumam mengiyakan.
"Kok marah," Ara mendongak menatap Gio yang juga menatapnya dengan kening berkerut.
"Siapa yang marah?" tanyanya.
"Kamu lah,".
" Enggak, aku gak marah. Kamu mah aneh-aneh aja. Ayo pulang,"
"Jangan ngegas juga dong,"
"Enggak sayang ku," ujar Gio lembut lalu mengecup pipi istrinya dengan gemas.
...💔💔...
__ADS_1
Setelah puas berjalan-jalan, Ara meminta untuk segera pulang. Gio yang menolak untuk pulang karena hari sudah sangat sore terpaksa mengiyakan saat ibu hamilnya itu merajuk dan tidak mau berbicara padanya. Yah, Gio lemah jika Ara sudah seperti itu dan apapun yang Ara inginkan akan dikabulkannya jika sang calon mama sudah merajuk.
Setelah berpamitan pada Aura dan beberapa karyawan disana, Ara dan Gio langsung pulang. Keduanya kini berada didalam mobil dengan Ara yang bersandar sambil mengelus perutnya. Lagu dengan judul favorit girl milik Justine bieber mengiringi perjalanan mereka. Gio dan Ara sama-sama bungkam setelah beberapa menit yang lalu Ara berceloteh panjang lebar. Perempuan itu sepertinya sudah lelah berbicara terus menerus.
"Tidur aja sayang. Nanti kalau udah sampai aku bangunin," ujar Gio membuat Ara menggeleng.
"Aku gak ngantuk. Lagian ini udah dekat kok, bentar lagi sampai," jawabnya.
Gio hanya mengangguk pelan dan kembali fokus menyetir. Sesekali laki-laki itu menghela nafas pelan tanpa sepengetahuan Ara. Hal itu dilakukannya untuk meredam rasa sesak sekaligus rasa gelisah dan tidak nyaman yang sedari tadi menyerangnya.
Gio menoleh sekilas pada istrinya yang sedang duduk sambil mengamati jalanan luar. Senyum kecilnya terbit lalu kembali fokus ke jalanan berharap dia segera sampai dirumah.
"Pegel gak, sayang?" tanya Gio.
"Lumayan," jawab Ara terkekeh pelan.
"Gii..."
"Apa sayang?" tanya Gio menoleh sekilas lalu kembali menatap jalanan.
"Kalau seandainya aku gak bisa sama-sama kamu terus, aku gak papa kalau kamu nikah lagi biar kamu ada yang ngurusin. Sekalian jagain baby," ucap Ara tiba-tiba membuat Gio menoleh cepat dan berhenti mendadak, untung jalanan sedang sepi.
"Kok bicaranya begitu," ujar Gio kesal. Ucapan Ara semakin membuatnya gelisah bukan main.
"Enggak Gii, aku cuma..."
"Jangan ngomong gitu lagi, kalau kamu pergi aku juga ikut pergi. Gak ada wanita lain, gak ada nikah lagi. Kamu satu-satunya dan akan selalu seperti itu sampai aku gak bisa nafas," tegas Gio.
"Jangan ngomong gitu lagi, sayang. Aku gak suka," ucap Gio dengan tatapan sendunya.
Ara menghela nafas pelan lalu mengangguk mengiyakan. Dia jadi tidak tega melihat sorot sendu dari mata suaminya.
"Ya udah, ayo jalan lagi," perintah Ara yang diangguki Gio. Sebelum melajukan kembali mobilnya Gio mencium kening Ara dengan sayang.
Gio kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sedangkan Ara memiringkan duduknya dan menatap lamat-lamat pada wajah sang suami yang memang sangat tampan itu. Tak ada obrolan yang terjadi, Gio fokus kejalanan dan Ara fokus pada wajah suaminya. Rasanya sangat bersyukur hidup dan menjadi milik laki-laki itu. Bukan masalah fisik tapi hati dan cara Gio memperlakukannya yang membuat dia sungguh sangat mengagumi dan menyanyinya.
"Kenapa sayang?" tanya Gio yang melirik sekilas pada Ara yang sibuk memperhatikannya.
"Aku sayang kamu Gii," ucap Ara pelan dan terdengar begitu tulus.
Gio tersenyum kecil mendengar pengakuan itu. Jika tidak sedang menyetir, Gio sudah pastikan Ara tidak akan dia lepas sedetikpun. Saat hendak membalas ucapan istrinya, Gio dibuat terkejut saat sebuah mobil putih melaju kencang kearahnya membuatnya refleks membanting stir mobilnya ke kiri. Dan....
BRAKKK
Suara hantaman yang cukup keras terdengar membuat beberapa warga keluar melihat apa yang sedang terjadi.
...-To be continued-...
Hai Hai para kesayangan.
Gimana kabarnya??
Author balik lagi xixixixi
Maaf yaa baru bisa update sekarang, Terima kasih karena masih setia menunggu dan membaca cerita ku. Ohhh iya, Kisah Gio dan Ara sebentar lagi akan ending.
Kalian tim happy end atau sad end nih???
Jawab yaaa.
Setelah kisah Gio dan Ara selesai, Author akan buat cerita baru lagi yang masih merupakan bagian dari Ara dan Gio. Ada yang tau cerita siapa??? Nanti yaa setelah ending dan extra part PERJALANAN CINTA CEO MUDA. Dan cerita itu akan sedikit berbeda dan tentunya semakin menarik dari cerita CEO tampan kita.
TUNGGUIN TERUS YAAA.
BUAT YANG PUASA, SELAMAT MENJALANKAN IBADAH PUASANYA
SEE YOU
__ADS_1
🤍🤍🤍🤍