
Pagi-pagi sekali, Gio sudah siap dengan setelan jasnya dan tengah berkendara menuju rumah kekasihnya. Yaa hari ini adalah hari pertama kembali bekerja setelah liburan kemarin. Gio sedikit menyesali waktu liburannya yang sedikit, tapi tidak papa dikantor pun dia bisa berduaan dengan kekasihnya yang sekarang menjabat sebagai sekretaris pribadinya. mengingat itu, lengkungan manis di bibir laki-laki itu spontan tercipta. Hanya dengan mengingat wajah Ara sudah membuat moodnya begitu baik.
Gio yang tengah fokus mengendarai mobilnya itu tiba-tiba mengernyit saat melihat dipertigaan tepat jalanan sepi, sebuah mobil terparkir atau lebih tepatnya sengaja diparkir untuk menghalangi jalan. Gio berdecak kesal, pagi-pagi begini sudah membuat moodnya kembali rusak. Padahal dia harus sampai dirumah Ara secepatnya. Dia tidak mau membuat kekasihnya menunggu lama.
Gio terpaksa menghentikan laju mobilnya lalu menekan klakson pertanda memberitahu sangat pemilik mobil untuk menyingkir Namun hampir lima menit melakukan itu, tidak ada tanda-tanda mobil hitam itu akan bergerak. Dengan perasaan dongkol setengah mati, Gio memilih turun dan mendekat. Namun belum sempat melangkah semakin dekat, seseorang memukulnya dari belakang membuatnya hampir terhuyung ke depan.
Lagi dan lagi Gio berdecak kesal. Seseorang mengajaknya ribut pagi-pagi begini, yang benar saja. Gio berbalik dan menatap dua orang berbaju serba hitam dan penutup kepala. Gio tak mengenali mereka tapi Gio yakin mereka adalah orang-orang suruhan.
"Siapa kalian?", tanyanya datar. Dalam hitungan menit, seketika aura disekeliling mereka berubah lebih mencekam.
Gio dengan santainya memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana sambil menatap dua orang itu dengan datar tak takut sama sekali, justru dia yang lebih mengintimidasi dua orang itu.
"Ck minggir, jangan menghalangi jalan", kata Gio lagi.
"Banyak bacot", sentak salah satu dari mereka.
Perkelahian tan dapat Gio hindari lagi, daripada babak belur lebih baik dia melawan kan, dengan decakan sebal Gio menangkis serangan dari dua orang sekaligus. Dia malas sekali, Bibi kesayangannya dirumah sudah capek-capek menyetrika bajunya untuk bekerja dan orang-orang ini malah membuatnya kucel.
Dua lawan satu, namun Gio sama sekali tak terlihat kewalahan. Gio menendang perut laki-laki yang bertubuh tinggi itu dengan keras sampai membuatnya tersungkur ketanah, lalu memukul rahang laki-laki yang satunya juga dengan keras. Pukulan Gio tak main-main, membuat kedua orang itu serasa kebas dan merintih kesakitan. Pukulan-pukulan yang Gio layangkan, benar-benar membuat dua orang itu tak bisa lagi berkutik.
Setelah beberapa menit, Gio akhirnya bisa menuntaskan keduanya. Bahkan dua orang itu sekarang sudah kabur dengan mobil hitamnya.
Gio lagi-lagi berdecak sebal dan memperhatikan pakaiannya.
"Tuh kan lecek", gumamnya.
Namun seketika, dia teringat Ara. Dengan tergesa-gesa, Gio kembali memasuki mobilnya dan langsung melesat menuju rumah Ara yang sudah tak terlalu jauh dari sana.
Sedangkan di tempat lain, lebih tepatnya rumah yang ditujukan Gio sedang terjadi perkelahian hebat antar keluarga tersebut. Ara yang awalnya diam, kini sudah diambang batas kesabarannya melihat kelakuan om dan tantenya. Apalagi melihat Muti yang sedari tadi menangis membuat amarah Ara tersulut seketika.
"CUKUP", teriak Ara tak tertahankan.
Semua orang memandang kaget pada Ara. Baru kali ini gadis itu meninggikan suaranya pada Bimo dan Arini yang notabenenya saudara kandung bundanya.
"UNTUK APA OM DAN TANTE PAGI-PAGI KESINI NGACAK-NGACAK RUMAH ARA", dengan mata memerah menahan tangis dan amarah, Ara menyentak kasar dua orang yang sudah cukup membuatnya lelah.
Pagi-pagi sekali dua keluarganya itu datang entah apa tujuannya, membentak neneknya bahkan sampai kembali mengacak rumahnya. Ara yang hendak pergi ke kantor pun terpaksa mengurungkan niatnya. Lihat, bahkan rumahnya kini tak jauh berbeda dari kemarin, seperti kapal pecah.
__ADS_1
"Kemarin, tante Aini. Sekarang om Bimo juga ikut-ikutan", bentaknya.
"Apa sih yang kalian cari? HAH?. UANG? IYA?. ARA DAN NENEK GAK PUNYA APA-APA", teriaknya di akhir kalimat. Cukup sudah kesabarannya selama ini. Dia sudah tidak mau lagi diinjak-injak sepeti ini.
Semua orang masih menatap Ara terkejut, terutama gadis yang berdiri disisi sofa. Rania Maheswari, untuk pertama kalinya dalam hidup dia melihat Ara marah sampai berteriak seperti itu.
"Ara gak punya apa-apa, untuk makan Ara sama nenek pun, Ara harus kerja banting tulang. Lalu apa yang kalian cari?. Ini rumah Ara, kalian gak berhak bertindak seenaknya seperti ini", ucap gadis itu melemah.
"Kalian tau kondisi Ara. Pernah gak sih kalian mikirin Ara dikit aja? Ara ini keluarga kalian juga, tapi kenapa Ara diperlakukan seolah Ara bukan siapa-siapa", ujarnya lagi.
"Kalau kalian gak bisa perhatiin Ara layaknya keluarga yang semestinya, tolong jangan perlakukan Ara seperti ini", pinta gadis itu menatap satu persatu anggota keluarganya.
Dimata Ara, bahkan dia tak melihat raut kasian sedikitpun dari Bimo, Arini, Rania dan kedua ipar bundanya itu.
Bimo berjalan mendekat dan berhenti tepat didepan Ara, menatap Ara dari atas sampai bawah.
"Kamu tau kenapa kami begitu membenci mu?", tanya Bimo pelan membuat Ara mendongak menatap Bimo dengan mata memerah.
"Karena kamu anak dari laki-laki kurang ajar yang sudah merusak adik ku. Kau itu anak yang tidak diinginkan Ara. Kehadiran mu hanya membuat bunda mu tersiksa dan setelah ada kamu, bunda dan ayahmu meninggal. Bukankan kau itu pembawa sial", kata Bimo begitu tenang tapi menusuk hati Ara.
Ara mengepalkan tangannya kuat-kuat menahan emosinya. Dia tidak terima ayahnya disebut seperti itu.
"Bukankah memang seperti itu, Bu", ujar Bimo masih menatap Ara dengan remeh.
"Ayah ku bukan laki-laki seperti itu", sentak Ara keras, tidak terima.
"Kenyataannya Kaiyara Zoe. Kau ada dirahim bundamu sebelum mereka menikah. Karena ayahmu yang sialan itu merusak adikku lebih dulu sebelum menikahinya dan itu yang paling saya benci", lanjut Bimo semakin membuat hati Ara teriris. Benarkah semua ini? demi apapun, Ara terkejut bukan main.
"Anak haram", sentak Bimo membuat Ara terkejut dan refleks menampar omnya itu. Semua orang terkejut dengan aksi Ara dan itu berhasil menyulut emosi Bimo. Saat tangan laki-laki hendak menampar Ara balik, teriakan dari pintu utama menghentikan tindakannya.
"ANDA MENYENTUH CALON ISTRI SAYA SEDIKIT SAJA, ANDA BERURUSAN DENGAN SAYA",
Ara terkejut dengan teriakan itu dan langsung berbalik menatap laki-laki dengan stelan jas hitamnya sedang menatap Bimo dengan mata elangnya. Yah laki-laki itu sudah melihat dan mendengar segalanya. Dia sudah berdiri disitu saat Ara berteriak pada Bimo tadi.
"Kau siapa berani ikut campur", bentak Bimo.
Laki-laki itu berjalan dengan tenang dan berhenti disamping Ara, mengulurkan tangannya hendak berkenalan.
__ADS_1
"Gio Pratama Ananda. Putra sulung Kevin Ananda. Calon suami Ara", jawabnya. Namun merasa uluran tangannya tak juga dibalas, Gio menarik kembali tangannya dan langsung menggenggam tangan gadisnya.
Terkejut. Satu kata yang menggambarkan ekspresi orang-orang yang ada disana. Terlebih Rania. Gadis itu menatap Gio dengan tatapan terluka.
"Saya peringatkan pada anda. Ini untuk pertama dan terakhir saya melihat anda mengusik hidup calon istri saya. Jika tidak... ", Gio menggantung ucapannya lalu menatap satu per satu orang yang ada disana.
"Kalian semua yang akan saya hancurkan", lanjutnya dengan wajah dingin dan tatapan datarnya.
"Gio...",
"Dan lo", potong Gio cepat saat Rania hendak angkat bicara.
"Ara kakak lo, apa lo gak punya sopan santun sedikit buat dia", kata Gio menusuk tepat dihati Rania. Rasanya begitu sakit saat melihat orang yang kita cintai membela orang lain.
"Jaga bicara mu",
"Jangan berteriak. Calon istri saya ketakutan", sahutnya tenang lalu mengalihkan tatapannya pada Rania.
"Gue udah pernah kasi peringatan sama lo dan ini peringatan kedua. Jangan pernah ganggu milik gue", kata Gio menatap dingin Rania dan menekan setiap kata-katanya.
Bimo muak sekaligus takut. Siapa yang tidak takut dengan orang berpengaruh seperti Gio. Bahkan hanya dalam hitungan menit, perusahaannya bisa hancur ditangan laki-laki itu.
Dengan amarah yang meledak-ledak, Bimo menarik putrinya keluar dari rumah Ara diikuti beberapa orang yang juga ikut keluar.
Setelah kepergian orang-orang itu,, Ara melepas genggaman tangan Gio. Laki-laki itu menatap Ara yang kini menatap lurus kedepan dengan tatapan kosongnya. Gio paham, Ara pasti terkejut dan syok dengan apa yang barusan dia ketahui. Sedangkan Muti perlahan mendekat dengan kursi rodanya lalu menggenggam tangan Ara lembut.
Ara tersentak kaget saat merasakan seseorang menggenggam tangannya, mata bening yang kini terlapisi cairan itu menatap Muti seolah meminta penjelasan. Muti hanya diam membuat Ara paham, apa yang dikatakan Bimo tadi benar adanya. Perlahan gadis itu melepas genggaman tangan Muti lalu berjalan mundur sambil menggeleng pelan. Air mata yang sudah sedari tadi dia tahan kini mengalir juga.
Perlahan tapi pasti, Ara menjaga jarak dari dua orang itu lalu dengan cepat berbalik dan berlari keluar rumah. Dengan gerakan cepat, Gio juga ikut mengejarnya. Kenyataan yang baru saja dia dapat sungguh menyakitinya. Jadi ini alasan kenapa dia dibenci. Tapi apa salahnya, dia tak pernah meminta dilahirkan seperti ini.
"Araa.... ",
Teriakan Gio pun bahkan tak dia pedulikan. Dia berlari tanpa tujuan, demi Tuhan, dadanya sesak sekali. Tepat di taman yang begitu sepi, langkahnya perlahan memelan dan berhenti tepat disebuah bangku taman. Tubuhnya sudah tidak kuat diajak berlari lagi.
Ara terduduk dan memukul dadanya, rasa sesak itu benar-benar membuatnya hampir tak bisa bernafas.
"Kenapa harus Ara, bunda", gumamnya menangis sesenggukan.
__ADS_1
...---To be continued---...