
"Hidup perihal datang dan pergi, setiap manusia pasti akan merasakan itu, tinggal bagaimana cara kita untuk menyikapinya sebijak mungkin"
_blueSky
...-Happy Reading-...
Seorang laki-laki dengan balutan pakaian serba hitam duduk termenung didalam kamarnya yang begitu minim pencahayaan. Setelah kematian gadisnya, hidupnya begitu berubah. Tak ada lagi sinar dalam hidupnya. Sumber cahaya yang selalu menghiasi harinya sudah pergi beberapa tahun yang lalu. Dia ditinggal sendirian.
Laki-laki itu menatap kosong kearah jendela yang menampilkan keadaan langit diluar sana. Mendung, langit tertutup awan hitam yang siap menumpahkan air ke muka bumi. Bahkan langit seolah mengerti kekalutannya setiap kali dia mengingat gadisnya.
Laki-laki itu menghela nafas kasar lalu menatap dinding kamarnya yang terdapat dua buah foto yang selalu dia tempel disana. Foto gadisnya dan foto dua orang laki-laki yang membuatnya seperti sekarang ini.
Dengan amarah yang kembali memuncak, laki-laki itu mengambil pisau buah yang ada di atas meja lalu melemparnya mengenai tepat pada salah satu foto yang berisikan dua laki-laki tampan yang tersenyum kearahnya.
"Kalian berdua harus ikut menderita," desisnya.
"Kalian harus merasakan apa yang selama ini gue rasakan," ucapnya geram mencengkram kuat-kuat rambutnya.
Detik berikutnya, laki-laki itu bangkit dari duduknya lalu melempar vas bunga pada cermin besar di kamarnya hingga dua benda itu saling bertabrakan dan pecah menghasilkan bunyi yang memekakkan telinga. Tak puas sampai disitu, dia mengacak kamarnya, tak membiarkan satu barang pun lolos dari jangkauannya.
Sudah sering dia seperti ini, jika emosinya kembali memuncak, dia tidak akan segan-segan membanting apapun yang ada didekatnya. Sudah hampir lima tahun dia seperti ini, semua berawal saat gadisnya meninggalkan dirinya.
Sudah hampir lima tahun ini juga dia menyusun rencana untuk menghancurkan orang-orang yang sudah menyakiti gadisnya. Sudah cukup, ini semua sudah terlalu lama untuknya dia harus bergerak cepat dan dia harus menyelesaikan ini semua untuk segera membalas dendamnya dan juga dendam gadisnya.
...🖤🖤...
Ken menatap Veronica yang sedang sibuk dengan alat masaknya. Laki-laki dengan balutan jas kerjanya itu melangkah mendekat dan memeluk istrinya dari belakang. Veronica dibuat terkejut dengan tingkah Ken yang selalu tiba-tiba seperti ini.
"Udah siap?" tanya Veronica lembut.
Ken hanya mengangguk dan mengelus perut istrinya yang kini mulai membuncit. Dia suka sekali. Entah apa yang membuatnya seperti ini tapi yang jelas dia sudah dibuat semakin jatuh cinta dengan istrinya itu. Sejauh ini, Veronica berhasil membawanya bangkit dari keterpurukan masa lalunya yang kelam. Dia berhasil kembali berdiri, mencintai tanpa melupakan dia yang pernah singgah di hatinya. Hanya satu yang belum hilang dari Ken, dendamnya pada sangat sahabat. Namun semua itu dia simpan sendiri. Dia tidak ingin Veronica atau siapapun itu mengetahuinya.
Belum lagi selama kehamilannya, Veronica begitu manja padanya dan jangan ditanya lagi, kadar kecantikan istrinya semakin meningkat.
"Duduk dulu, ini udah mau selesai," perintah Veronica.
Ken menggeleng pelan tak mau melepaskan pelukannya. Veronica kadang heran dengan Ken yang semakin ke sini semakin manja saja.
"Enggak mau," jawabnya pelan.
Tangan laki-laki itu masih setia mengusap perut buncit istrinya. Veronica tak lagi menghiraukan Ken, membiarkan laki-laki itu melakukan apa yang dia mau.
__ADS_1
"Aku hari ini pulangnya telat ya," izin Ken.
"Kenapa?" tanya Veronica.
"Bantu Arsal nyari Ara," jawab Ken tanpa kebohongan sama sekali.
"Belum ketemu juga?" tanya Veronica.
Jika ditanya Veronica marah atau tidak mengetahui suaminya ikut terlibat dalam mencari sosok wanita yang pernah dia cintai, jawabannya adalah iya, dia marah atau lebih tepatnya cemburu. Siapa yang tidak marah dan cemburu mengetahui orang yang kita cinta masih terlibat dengan orang dimasa lalunya, terlebih orang itu pernah dicintai suaminya. Namun balik lagi, ini hanya karena rasa kemanusiaan saja. Setelah Arsal menjelaskan bahwa dia meminta tolong Ken dan pengertian dari Ken sendiri, dia berusaha ikhlas menerima. Tak perlu ada yang terlalu dikhawatirkan juga bukan, Ken sekarang sudah menjadi suaminya dan sebentar lagi dia akan menjadi ayah dari anaknya, Ken juga terlihat begitu mencintainya lalu apa lagi yang harus dia khawatirkan.
Ken hanya menggeleng menjawab pertanyaannya dari istrinya. Setelahnya, tidak ada lagi suara yang terdengar. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Baby kapan checkup lagi?" tanya Ken kembali memecah keheningan.
"Dua hari lagi. Kamu anterin kan?"
"Pasti, nanti aku cancel semua jadwal aku,"
Sibuk dengan aktifitas mereka, keduanya tidak menyadari kehadiran seseorang yang berdiri di pintu masuk dapur menatap mereka dengan tatapan antara sedih dan bahagia. Dia tidak tahu harus berekspresi seperti apa. Disatu sisi dia bahagia melihat kehidupan Ken yang sudah menemukan kebahagiaannya tapi disisi lain dia juga sedih akan satu hal yang membuat dirinya kebingungan akhir-akhir ini. Arsal terus menyorot keduanya dengan tatapan yang sulit diartikan lalu sedetik kemudian senyum miring tercetak dibibirnya.
Arsal melangkah mendekati meja makan lalu duduk di kursi meja makan dengan sangat hati-hati tanpa menimbulkan suara agar dua orang yang kini sibuk bercanda itu tak menyadari kehadirannya. Setelah cukup lama menonton kakaknya yang tak kunjung menyadari keberadaannya, Arsal menghela nafas kasar lalu mengambil ancang-ancang untuk berteriak.
"BUCIN TERUS," teriaknya menggelegar berhasil mengagetkan kedua orang itu.
"Bisa gak sih, gak usah bucin depan gue. Mentang-mentang kalian udah nikah. Tau tempat juga dong," protesnya ketus.
Ken mendengus kesal sedangkan Veronica hanya terkekeh kecil. Percayalah meski tak pernah berbicara lembut dua orang itu saling menyayangi dengan cara mereka sendiri. Selama menjadi istri Ken dan masuk di keluarga Leondra, Veronica mendapat banyak hal dari sana yang sama sekali tak dia dapat dari keluarganya. Bicara tentang keluarga Veronica, Ken benar-benar melarang istrinya itu berhubungan lagi dengan mereka. Bukan apanya, Ken hanya tidak ingin Veronica kembali disakiti apalagi dalam kondisinya yang tengah mengandung. Keluarga istrinya itu sudah sering datang minta maaf, hanya saja Ken sudah tak memberi akses mereka bertemu. Ken tahu, keluarga gadis itu hanya menginginkan sesuatu dari istrinya.
"Makanya nikah," balas Ken.
Laki-laki itu mencium bibir istrinya sekilas lalu berjalan mendekat pada Arsal yang sudah menatapnya dengan tatapan julidnya.
"Nyenyenye, kemarin-kemarin aja sok gak cinta. Sekarang lihat, siapa yang bucin akut," balas Arsal menggebu-gebu. Sepertinya dia memang memiliki dendam pada kakaknya itu.
"Gimana gak cinta, dikasi jatah mulu," jawab Ken acuh.
Arsal dan Veronica kompak menatap Ken dengan tatapan horor saat mulut laki-laki itu tak bisa dikontrol. Bisa-bisanya dia berbicara sefrontal itu didepan Arsal.
Ken mengerjapkan matanya menatap Arsal dan Veronica dengan tatapan polosnya.
"Ada yang salah?" tanyanya dengan wajah polos.
__ADS_1
Arsal memukul meja keras-keras membuat Veronica dan Ken terlonjak kaget. Laki-laki dengan balutan kemeja biru itu bangkit dari duduknya, menatap Ken dengan sinis dan dada yang naik turun menahan emosi.
"Gue kesini mau minta bantuan lo nyariin Ara ya, bukan buat dengar hal yang merusak kepolosan otak gue," ujarnya kesal.
"Emang apanya yang salah, emang gitu kok. Gue dikasi jatah," sahut Ken kelewat polos. Dia masih tak mengerti situasi.
"Ken.." panggil Veronica pelan namun tajam.
"Apa sayang, kan emang gitu," jawabnya lagi menggaruk kepalanya bingung.
Arsal kembali memukul meja kesal. Menatap Veronica yang hanya cengengesan tak enak dengan Arsal.
"Udahlah lo...."
"Makanya nikah biar tau rasanya. Cobain deh,"
Belum sempat Arsal menyelesaikan ucapannya, Ken langsung menyambar begitu saja semakin membuat Arsal kesal. Cemburu lebih tepatnya. Pasalnya dia juga ingin segera menikah, dia lelah setiap hari harus melihat kakaknya menebar keuwuan didepan matanya sendiri tapi pacarnya, Kanaya belum mau karena masih sibuk dengan skripsinya.
"MAMA, ARSAL MAU NIKAH," teriak Arsal berlari keluar dapur membuat Ken dan Veronica saling pandang.
...-To be continued-...
Hai Hai...
Selamat pagi kalian...
Hari ini Author update pagi,, maaf yaa jam updatenya gak bisa selalu sama. Author gak netapin waktu buat update.
Untuk kalian semua yang masih setia nunggu cerita ku, Terima kasih banyak. Gak tau lagi mau bilang apa selain Terima kasih ❤, tetap tungguin updatenya soalnya masih banyak yang belum terpecahkan.
Siapa laki-laki itu, siapa yang mengetahui keberadaan Ara, dimana Gio setelah kejadian penusukan waktu itu, siapa dalang dibalik kekacauan hidup Gio, Ara dan Ken. Ada yang bisa tebak ?? Siapa hayooo, coba koment di bawah, menurut kalian siapa orang itu.
Author tunggu jawaban kalian.
Terima kasih banyak
Jangan lupa like dan komennya.
Jaga kesehatan kalian dimana pun kalian berada, istirahat yang cukup dan makannya jangan di skip.
Sayang kalian semua❤
__ADS_1
See you di part berikutnya😘