Perjalanan Cinta CEO Muda

Perjalanan Cinta CEO Muda
Part 39. Menenangkan


__ADS_3

...---Happy reading---...


Gio melangkahkan kakinya masuk kedalam apartemennya dengan lesu. Kejadian dimana Ara membohonginya masih terekam jelas didalam otaknya. Setelah membersihkan diri, Gio membaringkan tubuhnya diatas kasur dan menatap langit-langit kamarnya. Hari ini begitu melelahkan untuknya, di perusahaan tadi dengan kurang ajarnya sepupu yang menjabat sebagai CEO tempat dia magang menyuruhnya mengerjakan begitu banyak pekerjaan, ditambah lagi beban pikirannya tentang kejadian tadi mengurus tenaganya. Dia lelah, dia ingin tidur namun harus berfikir dua kali untuk melakukan itu, dia sedang tidak ingin bertemu dengan mimpi buruknya itu.


Gio menghela nafas pelan menatap layar ponselnya yang tak berhenti berkedip karena pesan masuk dari seseorang, namun dia abaikan. Panggilan dari adiknya membuat Gio beranjak duduk dan langsung menggeser tombol hijau.


"Abang dimana ?", tanya dari seberang.


"Udah pulang kantor belum ?", tanya Gea lagi.


"Udah, Abang di apartemen, kenapa ? Mau dijemput ?", tanya Gio.


"Bukan, bang. Gea mau nanya, nanti abang pulang gak ?", tanya Gea lagi.


"Kayaknya enggak. Malam ini abang nginap di apartemen, bilangin bunda", jawab Gio.


"Kenapa sih nanya-nanya?", tanya Gio.


"Kirain pulang, tadi Gea mau nitip martabak. Ya udahlah nanti Gea minta ke kak Zian aja, ya udah abang baik-baik, nanti Gea bilangin bunda", kata dari seberang lalu setelah mengucapkan salam Gea memutuskan sambungan teleponnya.


Gio beranjak keluar kamar dan memilih duduk disofa sambil memainkan ponselnya. Pesan dari Ara sedari tadi tidak berhenti masuk menanyakan keberadaannya. Gio mengabaikan itu, dia masih marah. Dia bukannya bersikap kekanakan dengan mengabaikan Ara seperti ini, namun itu sudah menjadi kebiasaannya. Jika marah, dia lebih memilih menenangkan diri sampai moodnya kembali baik. Dia buka tipe orang yang jika marah akan koar-koar atau mengamuk karena dia paham betul dengan dirinya. Dia takut jika dia marah dan banyak bicara, dia malah menyakiti hati orang lain dengan perkataannya atau lebih parahnya tidak bisa menahan amarahnya sendiri. Dia pernah menyakiti adiknya satu kali karena marah dan berakhir memaki Gea. Dia tidak ingin itu terulang lagi, terutama pada Ara.


Gio meletakkan ponselnya asal lalu memilih menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa, berusaha memejamkan mata berharap dia dibiarkan tidur dengan tenang kali ini. Hari ini dia benar-benar lelah dan ingin tidur sebentar saja.


Sedangkan Ara setelah mendapat kabar dari Gea dimana keberadaan Gio, gadis itu bergegsa menuju apartemen Gio, tidak peduli dengan hujan deras yang sedari tadi mengguyur bumi. Bahkan jam yang menunjukkan pukul 5 sore pun tak Ara hiraukan. Dia harus bertemu Gio. Lagipula dia sudah menghubungi Tante Ani jika dirinya akan pulang terlambat.


Setelah sampai didepan pintu apartemen Gio, Ara merapikan penampilannya terlebih dahulu, rambut yang lembab dan baju yang sedikit basah Ara biarkan saja. Mengetuk pintu berharap seseorang membukakan pintu tapi nihil, beberapa kali mencoba hasilnya tetap sama. Ara berusaha mengingat sandi apartemen Gio lalu berusaha menekan-nekan angka yang tertera disana, beberapa kali percobaan akhirnya terbuka. Tanggal lahir adiknya yang Gio gunakan. Apa Gio sebucin itu pada adiknya, entahlah Ara tak mau memikirkan itu karena dia tahu bagi Gio, adiknya adalah segalanya. Sesayang itu dia pada Gea.


Ara masuk mencari Gio setelah mengganti sepatunya dengan sendal berwarna putih. Belum juga mencari Gio, Ara sudah menemukan laki-laki itu tidur disofa dengan posisi duduk. Ara mendekat perlahan tidak ingin membangunkan Gio. Ara paham, Gio pasti lelah. Semakin Ara mendekat semakin terlihat wajah Gio yang sepertinya terganggu dalam tidurnya.


"Mimpi buruk lagi", gumam Ara yang sudah duduk disamping Gio, mengusap kening Gio yang berkerut dan dilapisi keringat.


"Apa sih yang buat kamu jadi gini ?", tanya Ara sangat pelan.


"Kapan kamu bisa tenang, sekali aja gak bisa ?",


"Aku kasian liat kamu yang selalu kurang istirahat tapi selalu memaksakan diri bekerja. Apa kamu sama sekali gak mikirin kesehatan kamu ?", monolog Ara.


Tangannya masih mengusap kening Gio yang semakin berkerut dalam membuat Ara semakin bingung apa sebenarnya yang terjadi pada Gio. Saat hendak menggenggam tangan Gio, bersamaan dengan itu mata Gio terbuka lebar dengan nafas memburu.


"Hey..", panggil Ara lembut menatap Gio teduh.


Gio diam masih menetralkan nafasnya lalu berdecak kesal. Rasanya dia ingin menghancurkan apa saja yang ada didepannya. Apa tidak bisa dia tenang sebentar saja.


"Aarrrrgggghhh", Gio menjambak rambutnya sendiri dan berteriak keras membuat Ara terkejut. Detik berikutnya, pas bunga yang ada di meja Gio lempar ke dinding membuat suara pecahan menusuk telinga Ara. Gadis itu terkejut bukan main, kejadiannya begitu cepat membuatnya syok.


Gio menutup wajahnya dengan kedua tangan dan beberapa detik berikutnya terdengar suara isakan kecil yang membuat Ara kembali ditarik kealam sadarnya. Gadis itu merapatkan tubuhnya pada Gio lalu membawa laki-laki itu kedalam dekapannya.


"Tenang Gii, ada aku", kata Ara lembut mengusap punggung yang biasanya terlihat tegap itu kini merosot lemah.

__ADS_1


"Jangan dipikirin terus, dia bakal pergi sendiri kok", kata Ara berusaha menenangkan meskipun tidak tau apa yang harus dia lakukan. Dia hanya mampu memberi pelukan hangatnya untuk menenangkan Gio.


Ara tak pernah menyangka, laki-laki yang dilaur terlihat tegas dan keras ini ternyata menyimpan luka sendiri yang bahkan sekarang pun dia tidak tau apa penyebabnya. Gio menyimpannya sendiri, bahkan keluarganya tidak ada yang tahu keadaannya yang lemah seperti ini.


"Gue mau mati aja", kata Gio disela isakan kecilnya.


Ara melepas pelukannya paksa dan menatap Gio sengit saat telinganya mendengar ucapan itu. Ara merasa dejaVu. Kejadian seperti ini pernah terjadi, bedanya Ara yang berada di posisi Gio sekarang.


"Gak boleh ngomong gitu, Gii", kata Ara lembut berusaha memahami Gio, meski tidak dipungkiri dalam hatinya yang paling dalam dia merutuki Gio karena mengucapkan kalimat itu.


"Gue capek. Gue mau tenang sebentar saja tapi gue gak tau caranya", kata Gio sedikit berteriak.


"Apa dia gak mau liat gue tenang, sedikit saja. Apa dia gak kasian sama gue yang gak tau apa-apa tapi gue yang nanggung semuanya sendiri. Gue pengen dia pergi, gue pengen tenang", racau Gio menjambak rambutnya. Ara diam menatap Gio membiarkan laki-laki itu mengeluarkan unek-uneknya.


"Dulu gue sayang dia bahkan gak pernah nyakitin dia tapi kenapa sekarang gue yang dia siksa gini", teriak Gio. Demi apapun, dia lelah.


Raut wajah dan tatapannya sudah cukup menjelaskan bahwa dia lelah, ingin pergi dari keadaan seperti ini, keadaan dimana dihantui rasa bersalah yang entah ujungnya sampai kapan.


"Gue gak salah sama sekali", lirih Gio.


Ara diam tak tau harus merespon seperti apa karena dia pun tak tau keadaan seperti apa yang pernah Gio alami sampai membuatnya seperti ini. Dadanya sedikit sesak saat mendengar Gio mengatakan dia sayang seseorang. Ara berusaha berfikir positif tak ingin semakin menambah beban pikiran Gio.


"Gue capek, Raa", adu Gio menjatuhkan kepalanya pada bahu Ara.


Ara menghela nafas pelan saat Gio akhirnya diam tak meracau lagi, dia membiarkan Gio tenang sambil mengusap punggungnya. Bermenit-menit berlalu, Ara mendengar deru nafas Gio yang sudah teratur.


Ara membantu Gio berbaring di sofa, lalu menatap lama wajah sembab Gio. Tangannya terulur merapikan rambut Gio.


Ara menghela nafas pelan lalu beranjak menuju kamar mengambil selimut dan menyelimuti Gio, sedangkan dia duduk disamping sofa sambil terus menatap wajah tenang Gio.


...---🌻🌻🌻----...


"Dari mana lo ?", tanya Arsal yang melihat Ken baru pulang di jam seperti ini.


"Perlu gue jawab ?", tanya Ken.


Arsal menghela nafas pelan saudaranya itu kenapa semakin hari semakin keras saja.


"Duduk dulu, gue mau cerita", kata Arsal berusaha melunakkan saudaranya itu. Meski selalu bertengkar tapi dalam hati kecil Arsal dia merindukan masa dimana dia sering berbagi cerita dan keluh kesa dengan abangnya itu


"Gue capek", kata Ken hendak melangkah, namun kembali dia tahan saat ibunya datang dan duduk di samping Arsal.


"Abang kok baru pulang", kata wanita paruh baya itu.


"Tadi abang mampir di cafe dulu, Ma", sahut Ken lembut. Hanya dengan mamanya dia bersikap lunak seperti itu. Sedangkan ke Arsal dan ayahnya sama saja, keras.


"Ken kekamar dulu, ma", pamit Ken lalu melangkah menjauh setelah mendapat anggukan dari ibunya.


"Arsal susul abang dulu ya, Ma", Arsal ikut bangkit dari duduknya.

__ADS_1


"Mau ngapain ?", tanya Rini, mamanya.


"Biasalah, Ma. Anak muda", kata Arsal terkekeh pelan.


"Jangan bertengkar lagi", peringat Rini.


"Siap mama Rini. Kalau gak khilaf", kata Arsal berlari pelan menaiki tangga.


"Khilaf terus kalian tuh", sahut Rini membuat Arsal tertawa. Wanita paruh baya itu juga tak tahu alasan kedua putranya sering sekali bertengkar dan adu mulut. Dulu mereka tak seperti ini, tapi setelah selesai di masa abu-abu semuanya berubah, lebih tepatnya saat gadis itu tidak ada.


Arsal masuk tanpa izin dan melihat Ken yang duduk di pinggir kasur sambil menatap figura yang terpasang di dinding kamarnya. Arsal mendengus, katanya benci tapi foto mereka masih terpajang di sana.


"Ekhmmm", Arsal berdehem membuat Ken menatap saudaranya sengit. Selalu saja seperti ini.


"Gue udah bilang berapa kali, jangan pernah masuk kamar gue", peringat Ken.


"Mau sampai kapan sih lo hidup di masa lalu terus", kata Arsal duduk di sofa dekat kasur.


"Gak usah ikut campur", kata Ken ketus.


"Gue perlu ikut campur, karena gue juga bagian dari kalian", sahut Arsal santai.


"Semua orang punya masa lalu termasuk gue, tapi bedanya gue gak mau terus-terusan hidup di masa lalu sedangkan lo benar-benar enggan beranjak", celetuk Arsal.


"Lo tau apa sih, Hah ?", tanya Ken tersulut. Entahlah pembahasannya seperti benar-benar berhasil memancing amarahnya.


"Lo membenci orang tanpa alasan yang jelas. Gue lebih tau dari apa yang lo tau tapi karena dasarnya lo yang memang keras kepala dan egois, jadi gak pernah mau dengerin penjelasan orang lebih dulu", kata Arsal panjang lebar, menatap Ken dengan tatapan mengejek.


"Lo ingat apa yang pernah dia lakuin buat lo, ingat apa yang pernah dia perjuangin buat lo, ingat dia sahabat lo yang selalu ada. Satu kesalahan yang sebenarnya tidak dia lakukan bisa buat lo lupain semua kebaikan dia ?", tanya Arsal tersenyum miring.


"Otak lo mana ?", tanya Arsal lagi.


"Apa sih salah dia ?", tak henti-hentinya Arsal menyerang Ken dengan pertanyaan yang sebenarnya hanya itu-itu saja membuat Ken muak sendiri.


"Udah bertahun-tahun loh, bang", kata Arsal berusaha membuat Ken melunak namun tetap saja usahanya itu selalu gagal. Ken benar-benar keras kepala. Ingin rasanya Arsal menimpuk kepala Ken dengan batu besar.


"Gue gak akan biarin dia rebut milik gue untuk yang kesekian kalinya", desisi Ken menatap tajam Arsal yang duduk tau jauh darinya.


"Gak ada yang rebut milik lo, Ken", timpal Arsal santai. Kembali memanggil Ken tanpa embel-embel abang.


"Lo coba deh, buka pikiran lo. Mikir dikitlah, dikasi otak tuh di pake, jangan cuma buat jadi pajangan", kata Arsal terkekeh pelan.


"Keluar", bentak Ken.


"Gue sebenernya kesini mau ngembaliin fungsi otak lo tapi karena lo bentak-bentak, gak jadi deh takutnya gue bonyok lagi", kata Arsal berdiri dari duduknya dan beranjak keluar.


"Cari tau sebelum membenci, Ken. Sebelum lo ngelakuin hal lebih jauh dan semakin menambah penyesalan lo nantinya", kata Arsal yang berdiri diambang pintu . Setelah mengatakan itu, Arsal benar-benar pergi meninggalkan Ken yang terdiam.


"Memangnya kenapa ? Dia memang salah",

__ADS_1


...---To Be Continued---...


__ADS_2