Perjalanan Cinta CEO Muda

Perjalanan Cinta CEO Muda
Part 40 Menjelaskan


__ADS_3

...---Happy reading---...


Gio terbangun dari tidurnya karena tenggorokannya yang terasa kering. Saat hendak beranjak bangun, gerakannya terhenti saat melihat sebuah tangan mungil yang setia menggenggam tangannya. Ara tertidur disampingnya dengan posisi duduk. Gio menghela nafas pelan, melihat Ara mengingatkannya pada kejadian tadi siang membuat amarahnya kembali memuncak. Dia benci sekali jika sudah di bohongi. Melihat Ara yang menemaninya tidur membuat Gio sedikit tidak tega, terlebih saat mengingat Ara yang menenangkannya tadi. Mata Gio beralih pada jam dinding yang menunjukkan pukul 8 malam, membuatnya lagi-lagi menghela nafas pelan. Bersama Ara tidurnya jauh lebih tenang.


Gio bergerak pelan melepas genggaman Ara dan hendak mengangkat tubuh gadis itu menuju kamar untuk istirahat. Namun, belum juga Gio menyentuhnya, Ara sudah lebih dulu bangun dan menatap Gio yang kini berjongkok disampingnya.


"Keganggu ya ?", tanya Gio lembut mengusap pipi Ara.


Ara diam menatap lama pada Gio yang berlaku lembut padanya. Apa Gio tidak marah lagi.


"Kok melamun?", tanya Gio menatap Ara teduh.


Tanpa banyak bicara, Ara memeluk Gio melingkarkan tangannya erat pada pinggang Gio membuat laki-laki itu bingung.


"Kenapa ?" tanya Gio mengusap lembut rambut Ara.


"Aku minta maaf", cicit Ara pelan.


"Buat ?",


"Aku udah bohongin kamu. Aku gak maksud, Gii", jawab Ara.


Tangan Gio yang sedari tadi bergerak mengusap rambut Ara berhenti bersamaan dengan Ara yang melonggarkan pelukannya dan menatap Gio penuh rasa bersalah.


"Duduk, jelasin dulu", kata Gio beranjak duduk di atas sofa diikuti Ara. Wajah datar laki-laki itu membuat Ara sedikit takut. Gadis itu menunduk memainkan jarinya sedangkan Gio terus menyorot Ara dengan tatapan datarnya. Ara menghela nafas pelan berusaha memberanikan diri membalas tatapan Gio.


"Aku minta maaf udah bohong sama kamu. Tadi siang aku pulang bareng Ken. Dia datang mohon-mohon sama aku, terus dia bilang kalau aku mau pulang sama dia hari ini kedepannya dia gak akan ganggu aku lagi. Ya aku mau kan lumayan biar dia pergi jauh-jauh dari aku dan gak ganggu aku lagi, soalnya aku gak suka", kata Ara pelan menatap mata Gio.


Sedangkan Gio menatap Ara dengan tatapan tidak percaya, apa sepolos itu pacaranya. Itu hanya sebuah alasan, dia percaya Ken tidak akan menepati apa yang dia katakan. Gio benar-benar tidak percaya Ara akan menuruti keinginan Ken karena percaya pada ucapan Ken.


Gio mendengus kasar melihat kelakuan Ara yang ternyata 11 12 dengan kelakuan adiknya. Sama-sama polos menyenggol bego.


"Deketan", kata Gio membuat Ara menggeleng pelan.


"Gak mau",


"Kenapa ? Maunya sama Ken ?", tanya Gio sinis.


"Bukan", sahut Ara menggeleng cepat. "Kamu masih marah, aku takut", cicit Ara.


"Deketan Ara", kata Gio menekankan pada kata-katanya.


Dengan memberanikan diri, Ara bergeser sedikit membuat Gio gemas sendiri.


"Lebih dekat", kata Gio kesal.


Ara semakin merapatkan tubuhnya pada Gio karena takut laki-laki itu semakin marah. Tanpa banyak bicara, Gio langsung memeluk Ara berusaha meredam amarahnya yang masih tertinggal saat mengingat kejadian tadi.


Terkejut dengan respon Gio, Ara hanya mematung dia pikir Gio akan memakinya tapi ternyata tidak, justru malah memeluknya.


"Lain kali kalau ada apa-apa bilang yang sebenarnya, aku gak suka kamu bohong", kata Gio lembut.


"Aku jelas akan marah tapi akan lebih marah lagi kalau kamu bohong kayak gitu", lanjut Gio.

__ADS_1


"Gimana kalau kamu kenapa-kenapa, gimana kalau Ken lakuin kayak yang kemarin lagi", tanya Gio beruntun.


"Aku marah karena khawatir sama kamu, aku takut kamu kenapa-kenapa", kata Gio pelan.


Gio sama sekali tidak mendengar Ara membalas ucapannya, gadis itu hanya memeluk Gio erat dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang Gio.


"Huaaaaaaaaa hiks", gadis itu justru menangis keras membuat Gio kaget.


"Kok nangis", tanya Gio melonggarkan pelukannya dan menangkup pipi Ara.


"Hey. Kenapa ?", tanya Gio panik sendiri.


"Hiks sedih, aku pikir hiks kamu mau marah-marah", kata Ara sesenggukan.


"Aku udah buat salah tapi kamu masih bisa lembut kayak gitu ke aku hiksss", kata Ara semakin menangis membuat Gio terkekeh gemas.


"Udah iih, jangan nangis", tutur Gio lembut.


"Kalau nangis jelek", kata Gio berusaha menghibur Ara.


Ara mengusap air matanya lalu mendongak menatap Gio.


"Aku sayang kamu, Gii. Sangat", kata Ara pelan.


...---🌻🌻🌻---...


Pagi-pagi begini, Gio sudah di buat kesal oleh Arsal yang sudah datang merecokinya di apartemen. Bukannya berangkat kantor, dia justru datang menganggunya. Demi apapun, Gio ingin sekali menyumbat mulut Arsal yang tak henti-hentinya bercerocos bertanya ini dan itu padanya. Gio malas sekali harus menjawab setiap pertanyaan yang Arsal lontarkan. Bukannya apa, pertanyaannya benar-benar bukan hal yang penting. Bicara soal semalam tentang masalahnya dengan Ara, semuanya sudah beres. Keduanya sudah berbaikan dengan catatan Ara tidak boleh berbohong lagi, jelas Ara akan menyetujuinya tanpa ragu.


"Lo tau gak, mama tadi malam hampir gantung gue gara-gara Ken yang ngadu kalau gue mukul dia padahal mah enggak", lanjut Arsal menatap Gio dengan mulut yang terus menguyah cemilannya. Saudaranya itu memang minim akhlak, hanya karena Arsal masuk kamarnya tanpa permisi membuat Ken marah dan mengadu pada Mamanya. Bahkan berani membuat cerita bohong jika Arsal sempat memukulnya. Sudah biasa dengan tingkah Ken, Arsal hanya mampu mengusap dada sabar.


"Dia yang bentak-bentak gue kok malah gue yang diadui mukul",


"Sal..", panggil Gio membuat Arsal menatap Gio.


"Perlu gue beliin jarum jahit gak ?", tanya Gio dengan wajah datarnya.


"Ajarin gue jadi cowok kalem dong, Gii", celetuk Arsal yang justru tak menghiraukan pertanyaan Gio yang menurutnya tak bermutu.


"Diam", jawab Gio singkat.


"Nah itu masalahnya", kata Arsal menjentikkan jarinya. "Gue gak bisa diam-diam aja", kata Arsal lagi.


"Rasanya kalau gue diam tuh, dunia lagi gak baik-baik aja", celetuk Arsal.


Gio mendengus pelan menatap Arsal yang justru menampilkan wajah menyebalkan.


"Emm ngomong-ngomong soal Ken. Kapan lo mau bicara sama dia?", tanya Arsal mulai serius. Gio yang tadi hendak beranjak dari duduknya kini kembali duduk tenang menatap Arsal.


"Mungkin enggak", jawab Gio santai.


"Kenapa ?, Bukannya bagus kalau lo nemuin dia dan jelaskan semuanya", kata Arsal mengerutkan keningnya bingung.


"Apa dia mau menemui gue, apa dia bakal percaya. Gue rasa enggak", sahut Gio.

__ADS_1


"Lo gak mau nyelesain ini semua ?", tanya Arsal pelan.


"Siapa sih yang gak mau, Sal. Tapi semuanya begitu rumit", kata Gio.


"Semuanya gak bakal rumit kalau salah satu dari kalian ada yang mau mengalah", balas Arsal.


"Kalian yang sama-sama egosi dan keras kepala disatukan seperti ini memang gak akan selesai kalau kalian gak nurunin ego masing-masing. Ibaratnya gini, batu ketemu batu ujungnya akan pecah", lanjutnya.


"Gue udah nurunin ego, mau bicara baik-baik tapi dia begitu keras dan anggap semuanya salah gue", balas Gio.


"Gue gak salah tapi harus nanggung semuanya sendiri, itu gak mudah bagi gue", kata Gio lagi sambil menundukkan kepalanya lelah.


"Gue capek, pengen lepas dari semua ini", cicit Gio pelan.


"Soal mimpi, masih sering mimpi buruk?", tanya Arsal lagi.


"Bukan sering, selalu", jawab Gio.


"Ayolah Gii. Temui dia, jelaskan semuanya", bujuk Arsal.


Gio sejenak diam. Dia bukan tidak ingin hanya saja dia yakin Ken tidak akan pernah mau mendengarkannya. Dulu Gio pernah nekat menemui Ken dan hendak membicarakan semuanya tapi tetap berujung mereka yang adu jotos, bukannya membuat masalah selesai justru akan semakin memperburuk segalanya.


"Dia juga gak bakal percaya", sahut Gio lalu pergi meninggalkan Arsal yang hanya mampu menghela nafas pelan.


...---🌻🌻🌻---...


Ara menatap tidak enak pada Rania yang sedari tadi berdiri dihadapannya. Saat hendak menuju kantor, Rania datang menghadangnya. Bisa ditebak apa yang dibahas dengan Ara sekarang. Yap, tentang Gio.


"Ara ayolah", bujuk Rania menggoyang pelan lengan Ara.


"Nanti yah, aku mau kerja dulu", kata Ara berusaha lepas dari Rania. Jika begini terus, Ara bisa telat ke kantor, mana tadi dia sudah bilang jika Gio tak perlu menjemputnya.


"Tapi harus janji", kata Rania.


Ara sedikit heran dengan sikap Rania yang sepertinya perlahan berubah seperti dulu yang begit manja padanya. Meski begitu tak dipungkiri jika Ara senang Rania kembali ke sikapnya yang dulu.


"Aku gak janji, Nia. Kami beda kantor, aku jarang ketemu dia. Lagi pula aku gak bisa terlalu ikut campur urusan kalian berdua" kata Ara berusaha memberi pengertian.


"Tapi kenapa ?, Bukankah kalian dekat. Dan bukankah lo jadi guru les privat adiknya", kata Rania mengejutkan Ara, darimana Rania tau.


"Kamu tau dari mana ?", tanya Ara.


"Nenek", jawab Rania singkat.


"Aku gak bisa, aku mau selesaikan magang dan kuliah dulu jadi aku gak bisa bantu kamu banyak", jawab Ara pelan.


"Aku harus berangkat, Nia. Kamu juga harus ke kampus, sana gih jangan bolos", kata Ara mendorong pelan tubuh Rania menuju mobilnya. Lalu gadis itu berjalan menjauh dari rumahnya hendak mencari kendaraan umum.


Rania memandang Ara dalam diam, ada rasa marah yang Rania pendam saat mendengar penuturan Ara tadi, jelas mereka memiliki hubungan tapi Ara berbohong dan mengatakan jika jarang bertemu.


"Gua bakal ambil apa yang harusnya jadi milik gue",


...---To Be Continued---...

__ADS_1


__ADS_2