
Ara duduk di bangku taman yang terletak disamping gedung tempat acara diselenggarakan. Hatinya sakit dan kembali merasa tak pantas di samping Gio setelah mendengar penutur papa Naumi tadi. Mata yang kini terlapisi air mata menatap eskrim yang dia pegang.
"Tadi pengen makan eskrim sama Gio tapi gak jadi," ujarnya pelan. Air mata yang sedari tadi menumpuk itu akhirnya menetes juga.
"Makan aja deh, dede bayi mau soalnya. Nanti dimarahin Gio kalau buang-buang makanan," lanjutnya langsung menyuapkan eskrim kedalam mulutnya. Bumil satu itu tampak seperti anak kecil yang sedang menangis tapi tetap memakan eskrim yang dia ambil tadi. Sesekali tangan Ara mengusap air matanya yang terus turun tanpa bisa dia kendalikan.
"Kok sakit banget sih, harusnya kan gak sakit. Kata Gio gak boleh dengerin omongan orang yang buat sakit hati," ujarnya lagi.
Perempuan dengan dress biru itu kembali menyeka air matanya lalu kembali memakan eskrimnya. Disisi lain, Gio sudah berdiri tak jauh dari tempat Ara duduk sekarang. Laki-laki itu memperhatikan setiap gerak gerik istrinya dan mendengar jelas apa yang Ara katakan.
"Dede bayi tadi gak dengar kan kata-kata om-om itu?" tanyanya mengelus perutnya yang masih rata.
"Jangan didengerin, jangan sakit hati, jangan nangis, nanti papa marah,"
"Kalau papa marah kan serem, banting-banting barang,"
"Mama gak nangis nih liat..." Ara mengusap air matanya dengan punggung tangan lalu tersenyum tipis.
"Gak nangis kan, dede bayi juga gak boleh nangis. Nih mama kasi eskrim," Ara kembali memakan eskrimnya lahap.
"Aaaa sakit banget, apa gak sepantas itu ya mama sama papa?" Ara meletakkan cup eskrimnya dengan kesal lalu kembali menangis. Sungguh, dia insecure setelah mendengar ucapan papa Naumi tadi padanya. Perempuan itu kembali menangis sesenggukan layaknya anak kecil yang kehilangan mainannya.
Disisi lain, Gio tersenyum tipis melihat tingkah menggemaskan istrinya. Sedari tadi Ara terus merengek mengingatkan diri sendiri bahwa Gio tidak akan suka jika dia menangis tapi istrinya itu tetap saja menangis membuat Gio terkekeh gemas. Tak tahan melihat istrinya menangis, Gio berjalan mendekat lalu duduk disamping Ara yang menutup wajahnya dengan kedua tangan sambil terus menangis.
"Sayang," panggil Gio teramat lembut.
"Liat sini dulu," perintah Gio meraih tangan Ara yang menutupi wajahnya.
"Kenapa ninggalin aku di dalam tadi?" tanya Gio mengusap air mata istrinya yang masih mengalir.
Mata bulat istrinya itu menatapnya sendu dan berkaca-kaca.
"Aku nangis lagi, maafin," ujar Ara parau.
Gio terkekeh pelan lalu memeluk istrinya dengan gemas. Sungguh, Ara makin menggemaskan setelah mengandung.
"Ayo cerita kenapa nangis gini?" ucap Gio tak menanggapi ucapan istrinya.
"Gak tau, sakit aja denger orang bilang gitu tadi. Aku insecure. Emang aku gak sepantas itu yaa ada disamping kamu?" tanya Ara yang dijawab gelengan tegas dari Gio.
"Rasanya mau nampar mulut bapak-bapak tadi, enak banget mau jodoh-jodohin kamu. Gak boleh, kamu kan punya aku sama dede bayi," cerocos Ara mengeratkan pelukannya.
"Kenapa gak ditampar?" tanya Gio terkekeh pelan.
"Gak boleh gitu sama orang yang lebih tua, gak boleh malu-maluin kamu sama ayah juga," jawabnya pelan.
__ADS_1
Gio tertawa mendengar penuturan Ara lalu melepas pelukannya dan menangkup wajah cantik istrinya, menghapus air mata yang sudah mulai berhenti turun.
"Dengerin baik-baik," ujar Gio dengan tatapan serius.
"Gak boleh insecure. Gak ada orang yang lebih pantas ada disamping aku selain kamu, gak ada orang yang lebih pantas melahirkan anak-anak ku selain kamu dan gak ada orang yang bikin aku bersyukur memiliki pasangan selain kamu. Kamu itu segalanya, kamu yang pertama dan akan jadi yang terkahir. Gak boleh ada yang misahin, gak boleh ada yang ninggalin dan gak boleh ada yang merusak hubungan antara aku sama kamu. Hanya kamu, hanya Ara yang bakal selalu ada disamping aku sampai aku mati nanti. Bahkan ketika kita ada di dimensi lain nantinya, kamu tetap jadi orang yang akan ada disamping aku," ujar Gio panjang lebar.
"Paham cantik?" tanya Gio.
Ara mengangguk dan kembali memeluk Gio dengan erat. Dia paham dan dia pun sama, hanya Gio satu-satunya.
"Jangan nangis terus doang mama, nanti dede bayi juga ikut sedih," Gio mengecup kening istrinya yang sedang mendongak menatapnya dengan mata sembab.
"Bentar lagi punya bayi, kok masih sering nangis," ledek Gio.
"Enggak nangis kok," sahut Ara.
"Masa sih,"
"Iyaa Gii, gak nangis,"
Gio tertawa pelan lalu mengecup setiap sudut wajah istrinya.
"Mau pulang?" tanya Gio setelah mengecup sekilas bibir sang istri.
"Iya tapi pamit dulu sama yang lain," jawab Ara.
Ara mengangguk lalu meraih tangan Gio dan menggandengnya dengan erat. Keduanya memilih pulang. Bukan karena tak nyaman tapi Gio tidak ingin melihat istrinya menangis lagi jika harus kembali masuk dan mendengarkan ucapan menyakitkan dari papa Naumi.
...🍒🍒🍒...
Ara mengerutkan keningnya bingung saat Gio berhenti didepan sebuah rumah besar berlantai dua yang dominan warna putih dan gold. Ara tidak mengerti mengapa Gio membawanya kesini padahal ini hampir tengah malam.
"Ini rumah siapa?" tanya Ara begitu penasaran.
"Ayo," tanpa menjawab pertanyaan Ara, Gio melangkah keluar dari mobil lalu berputar dan membukakan Ara pintu.
Ara semakin dibuat bingung saat tangan besar suaminya menarik tangannya mendekat dan masuk kedalam rumah itu.
"Mulai hari ini kita tinggal disini," ujar Gio menjawab semua kebingungan Ara tadi.
"Tapi kan...."
"Apartemen biarkan saja seperti itu. Nanti kalau baby udah besar dan milih tinggal sendiri, dia yang akan tinggal disana," potong Gio cepat.
"Ayo, kita naik terus istirahat. Kamu pasti cape," ajak Gio dan tanpa aba-aba langsung menggendong Ara dan berjalan menaiki tangga menuju kamar.
__ADS_1
Ara dibuat terpekik dengan gerakan spontan Gio. Dengan erat dia melingkar tangannya di leher Gio.
"Kapan kamu belinya?" tanya Ara disela langkah Gio.
"Kemarin," jawabnya.
"Terus keperluan kita gimana, baju dan yang lainnya?" tanya Ara.
Gio membuka pintu kamar utama dan berjalan masuk setelah menutup pintu. Meletakkan Ara ditepi tempat tidur dan bergerak mengambilkan Ara pakaian.
"Udah semua. Kamu ganti baju dulu baru istirahat," perintah Gio.
"Tapi Gio...."
"Besok pagi aku kenalin ke pekerja yang bakal bekerja disini," lagi, Gio memotong ucapan Ara. Dia tahu istrinya itu akan protes.
Gio memang sudah dari kemarin menyiapkan ini semua, membeli rumah dan mengisi rumahnya agar istrinya tak perlu lagi repot-repot mengurus semuanya sendiri, apalagi Ara sedang mengandung.
Ara menatap sekeliling kamar. Satu kata yang menggambarkan kamarnya sekarang, luas. Yah kamar mereka luas dengan nuansa putih dan abu-abu. Ara tau pasti Gio yang memilihnya karena laki-laki itu memang tidak terlalu menyukai warna cerah. Dari interior dan furniture yang Ara liat sepanjang dia memasuki rumah tadi, sudah menjelaskan berapa harga rumah yang Gio beli kali ini, yang jelas tidak semurah yang Ara pikirkan.
"Ganti baju sayang," perintah Gio lagi saat melihat Ara tak bergerak sama sekali.
Sedangkan bumil itu menghela nafas pelan lalu mengambil baju yang disodorkan Ara dan beranjak menuju kamar mandi. Gio menunggu istrinya sampai selesai lalu setelah itu dia bergantian membersihkan diri.
Kini keduanya sedang berada di kasur dengan Gio yang menyenderkan punggungnya pada kepala kasur dan Ara yang memeluknya erat, menyandarkan kepalanya pada dada bidang Gio, menikmati setiap usapan lembut dari suaminya.
"Kamu gak lapar?" tanya Gio dibalas gelengan dari Ara.
"Gak ada keinginan apa-apa gitu?" tanya Gio lagi.
"Harusnya aku yang bertanya begitu, kamu gak mau makan apa-apa atau gak lapar, dari tadi pagi makanannya kamu muntahin terus," ujar Ara.
"Enggak kok," jawab Gio. "Lagi gak pengen apa-apa," lanjutnya.
"Istirahat sayang. Bumil gak baik begadang terus," ujar Gio memperbaiki posisi mereka sampai berbaring sempurna.
"Temani," rengek Ara.
"Iya sayang, ini ditemani,"
"Peluk,"
Gio terkekeh pelan lalu mengecup bibir istrinya sekilas, mengeratkan pelukannya pada Ara.
"Tidur yaa,"
__ADS_1
Ara mengangguk sebagai jawaban. Setelahnya, keheningan menyapa mereka hingga Gio ikut menyusul istrinya ke alam bawah sadarnya.
...-To be Continued-...